Puasa dan Haleluya!


Kamis, 11 Agustus 2011 yang lalu aku bertugas di Cianjur. Distributor yang baru ditunjuk untuk wilayah Cianjur ini masih bergumul dengan persoalan internal mereka. Sebagai perusahaan berskala nasional (berpusat di Surabaya), ternyata birokrasi mereka lebih rumit bahkan daripada birokrasi di perusahaan kami sebagai prinsipal. Saking birokratisnya, staf di Cianjur nyaris tidak punya wewenang sama sekali. Apalagi orang-orangnya yang juga nyaris tidak punya inisiatif dalam artian tidak punya keberanian untuk melakukan terobosan. Satu yang membuatku merasa tidak nyaman: mengusulkan tambahan kerja (dan uang lembur …) untuk petugas pengiriman barang (karena banyak pelanggan yang mengeluh atas keterlambatan penerimaan barang yang sebelumnya 1×24 jam, ini bisa menjadi berhari-hari) yang aku minta untuk mengirimkan orderan yang sudah tertentu. Bila perlu bekerja pada hari Minggu (tokh mereka tidak ada yang pergi beribadah Minggu di gereja …).

Begitulah … usai kerja di lapangan (‘ngobrol dengan pelanggan di toko mereka masing-masing, mendengar keluhan mereka, dan berdiskusi dengan staf Distributor dan anggota timku untuk wilayah dimaksud) aku pun berinisiatif melakukan acara berbuka puasa bersama dengan semua karyawan Distributor. Sambil bekerja di luar kantor, aku sambil membeli kurma, minuman, dan makanan ringan untuk membatalkan puasa. Kepada orang kantor juga sudah aku pesankan untuk membeli makanan. Klop! Meeting sore, lalu dilanjut dengan berbuka puasa bersama … hablul minnannas dan hablul minallah, istilah mereka …

Usai berbuka – dan mendengarkan uneg-uneg mereka (di antaranya ada petugas supermarket yang mengeluhkan kekurangan gaji yang diterimanya pada Juli tahun lalu yang segera saja aku tindak lanjuti dengan menelepon boss-nya di Bandung dan meminta agar hal ini dapat segera dilaksanakan – aku minta diantarkan oleh anggota timku yang tinggal di Sukabumi ke penginapan. Jadi, dia juga sambil pulang ke rumahnya. Ada hotel yang baru direnovasi di Sukabumi yang jauh lebih bagus namun bagiku terlalu mahal kalau hanya untuk sekadar tidur, sehingga aku minta diantar ke hotel tempatku biasa menginap saja.

Untunglah masih ada tersedia satu kamar kosong buatku (yang juga kamar yang biasanya aku pakai kalau sedang menginap di hotel tersebut). Seperti biasa kalau menginap di luar kota, aku selalu menghidupkan teve (karena biasanya aku tertidur setelah menonton beberapa jenak, makanya aku tidak mau lupa berdoa sebelum menonton teve …). Karena menggunakan teve kabel dengan jumlah saluran yang terbatas (tidak seperti yang ada di rumah, he … he … he …), aku pun tertambat pada saluran rohani Kristen. Yang ini membuatku terkejut melihat acaranya yang untuk anak-anak sekolah Minggu (ada seorang ibu yang sudah tidak muda lagi membawa acara dongeng), padahal jam tayangnya sudah tengah malam!

Tiba-tiba aku terbangun karena pintu kamarku diketuk-ketuk dengan keras. Terkejut, segera aku raih iPhone yang terletak di sebelah tempat tidurku. Jam empat pagi! Berusaha mengingat-ingat di mana aku berada sejenak (yang segera saja tersadar sedang tidak tidur di rumah …), aku pun langsung cepat merespon: “Siapa?”

“Sahur, pak!”

Owalah … dasar kota syariat Islam, semua orang dianggap muslim! Ya sudahlah, tokh aku juga selama Ramadhan ikut berpuasa juga (meskipun lebih sering sahurnya jam delapan pagi …). Segera aku buka pintu, dan petugas hotel – yang sempat menunjukkan ekspresi heran mendengar suara teve yang sedang menyiarkan “Haleluya!” dan sekilas mungkin melihat buku yang mungkin belum pernah dilihatnya seumur hidupnya terletak di tempat tidurku dengan terbuka – menyodorkan satu talam untuk sahur: nasi goreng dengan telur dadar dan segelas teh manis hangat. Sangat sederhana. Karena sudah “terlanjur” bangun, maka aku pun menyantapnya dengan lahap (baru ingat bahwa malam sebelumnya tidak makan malam lagi setelah berbuka puasa bersama …). Untung saja siang harinya aku sudah membeli Koko Krunch dan Dancow, sehingga pagi dini hari itu aku pun mendapatkan tambahan nutrisi yang cukup dan lezat untuk berpuasa seharian …

Berpuasa? Bisa, koq!

Oleh karena situasi tersebut, jadilah aku berpuasa yang “sebenarnya”. Dan siang itu jam 12 aku mita diantar ke terminal bis untuk pulang ke Bandung. Sengaja aku minta jadual pulang ketika waktu sholat Jum’at, dengan harapan penumpang bis sedang tidak banyak sehingga aku pasti bisa memilih mau duduk di tempat yang lebih baik di bis. Ternyata oh, ternyata bisa lumayan penuh dengan penumpang sebagian besar laki-laki dewasa! Artinya, mereka tidak mengikuti sholat Jum’at di bulan yang (katanya) penuh barokah. Sudah selesai sholat, atau musafir? Entahlah, cuma merekalah yang tahu …

Dan hari itu aku benar-benar berpuasa sampai bedug maghrib terdengar bertalu-talu … Karena terkesan dengan hari itu, aku pun menulis di facebook: Alhamdulillah … Ternyata aku mampu bertahan puasa walaupun dengan sahur yang sangat ala kadarnya yang disediakan oleh penginapan subuh tadi di Sukabumi. Jangan-jangan, memang harus seperti itu yang namanya sahur (tanpa vitamin, tonikum, atau multivitamin penambah vitalitas lainnya …) seperti zaman nabi dahulu …”. Sengaja aku buat dalam bahasa Indonesia (biasanya aku membuat up-date dalam bahasa Batak …) agar tidak hanya dibaca oleh kalangan terbatas. Sampai hari itu berakhir, tidak satu orang pun memberi komentar (aku berharap ada kalangan muslim yang mengomentarinya …) selain tiga orang sekadar mengacungkan jempol (yang ketiga-tiganya sudah Batak, Kristen pula) …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s