Andaliman – 141 Khotbah 04 September 2011 Minggu XI setelah Trinitatis

Pujilah Tuhan! Rendahkanlah Diri dan Bertobatlah …

Nas Epistel:  Mazmur 113:1-8

113:1 Haleluya! Pujilah, hai hamba-hamba TUHAN, pujilah nama TUHAN!

113:2 Kiranya nama TUHAN dimasyhurkan, sekarang ini dan selama-lamanya.

113:3 Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari terpujilah nama TUHAN.

113:4 TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.

113:5 Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi,

113:6 yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi?

113:7 Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,

113:8 untuk mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, bersama-sama dengan para bangsawan bangsanya.

Nas Evangelium: Matius 21:28-32

21:28 “Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.

21:29 Jawab anak itu: Baik, bapa. Tetapi ia tidak pergi.

21:30 Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.

21:31 Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?”* Jawab mereka: “Yang terakhir.” Kata Yesus kepada mereka: /”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.

21:32 Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal percaya kepadanya. Dan meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”

Nas perikop Ep Minggu ini adalah mazmur pertama dari kumpulan yang dalam Talmud (bagian dari penjelasan kitab suci Yahudi) dikenal sebagai “Hallel dari Mesir”. Sebutan ini muncul dari pemakaian berulang-ulang seruan berbahasa Ibrani Hallelujah (= puji Tuhan). Pemazmur mengawali dengan seruan kepada hamba-hamba Tuhan atau para penyembah dengan memuji karakter Allah yang dinyatakan dan manifestasi-manifestasi pribadi-Nya. Pujian itu adalah terus-menerus dan universal.

Sifat Tuhan yang tiada bandingnya dilukiskan melalui dua segi, yaitu sifat transenden-Nya dan imanensi-Nya. Dua aspek ini tidak disajikan secara dikotomis, melainkan saling melengkapi. Kendatipun tertinggi di antara bangsa-bangsa di bumi dan bala tentara surgawi, Allah merendahkan diri-Nya untuk memperhatikan kebutuhan umat manusia.

Sifat rendah hati Allah yang dikemukakan pemazmur dalam ayat-6, perlu diberi ilustrasi lebih lanjut. Orang-orang sebagaimana disebutkan, dipilih sebagai ahli waris pemeliharaan khusus Allah. Hal-hal ini disebutkan sebagai contoh dari semua kemurahan Allah terhadap anak manusia. Kalau Allah saja masih mau merendahkan diri-Nya, masakan aku yang manusia hina dina ini masih mampu untuk tidak merendahkan diri dan untuk menjadi orang yang rendah hati?

Dengan kerendahan hati yang diakibatkan oleh sikap merendahkan diri (bukan rendah diri, ya … keduanya sangat berbeda lho pengertiannya), itulah yang akan menghasilkan penyesalan yang kemudian mengarah kepada pertobatan. Menurut rujukan, perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus ini adalah menanggapi pernyataan dan pertanyaan Sanhedrin (golongan ahli taurat dan “orang suci” Yahudi) akan kekuasaan-Nya. Dan ini disampaikan sehubungan dengan tanggapan mereka atas ajaran Yohanes Pembaptis yang menyerukan tentang pertobatan.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Merendahkan diri, adalah salah satu sikap yang tidak mudah dilaksanakan dalam kehidupan saat ini yang semakin menuntut penampilan dan penonjolan diri. Allah Bapa adalah model yang paling ideal dan sejati untuk kerendahan hati. Sudah tahu, ‘kan? Beliau yang adalah Tuhan, bersedia merendahkan diri-Nya dengan menjadi manusia. Padahal untuk kebaikan manusia (Yesus itu juru selamat manusia, ‘kan?)

Semua bisa menjadi terbalik. Yang semula orang suci – karena kesuciannya yang mengarah kepada kesombongan (ingat perikop Minggu lalu …) – dan “lupa” berbalik (bertobat, maksudnya …), malah akan menjadi orang yang belakangan masuk ke dalam kerajaan surga. Sebaliknya, orang yang hina – diibaratkan sebagai pelacur dan pemungut pajak (jadi ingat Gayus Tambunan, ya …?) – karena kesadarannya sebagai orang yang hina, lalu cepat-cepat berbalik dan menjadi orang yang terdahulu masuk kerajaan sorga.

Sama seperti perikop pada Minggu sebelumnya, pilihan ada pada kita: mau jadi yang terdahulu, atau ‘ngotot jadi orang yang terkemudian? Atau, malah tidak ikut masuk sama sekali? Ah, janganlah ya …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s