Dinding Kaca Pamer

Bulan Juli yang lalu kontrakan rumah yang kami tempati sekarang ini diperpanjang untuk tahun kedua. Rumah yang sangat bagus, dan aku bersyukur kepada Tuhan untuk kesempatan menikmati tinggal di rumah yang menurutku sangat jauh dari kemungkinan aku bisa memilikinya (apalagi jika hanya mengandalkan kemampuan kemanusiaan yang aku miliki …).

Di tengah ruangan yang bersebelahan dengan ruang keluarga di lantai satu, sebenarnya ada disediakan taman terbuka dengan air terjun buatan. Namun, karena tidak sesuai dengan gaya hidup kami, taman berkolam itu tidak pernah kami hidupkan. Airnya dikeringkan, lalu diisi mak Auli dengan bunga-bunga di dalam pot. Nah, antara taman kolam tersebut dengan ruangan keluarga ada udara terbuka.

Kondisi terbuka tersebut sangat terasa mengganggu kenyamanan pada malam hari. Udara dingin masuk dari luar, langsung ke ruang keluarga yang sekaligus tempat menonton teve. Sejak awal sudah aku minta untuk ditutup, namun pemilik rumah tidak bersedia menutup dengan biaya sewa yang kami berikan. Oh ya, waktu masa Piala Dunia tahun lalu, aku terpaksa membawa selimut dan berkaus kaki  bilamana menonton siaran langsung. Selain hawa yang sangat dingin, juga semut yang besar jadi bebas berkeliaran di ruang tamu. Namanya semut, mungkin saja suatu kali menggigit orang-orang yang sedang duduk di ruang keluarga tersebut, yang puji Tuhan, sampai sekarang memang tidak pernah terjadi. Belakangan ada lagi gangguan lain: kelelawar sering ‘nyelonong dan hinggap di lampu di ruang keluarga tersebut. Jadi, aku sering kaget, ketika nonton teve tiba-tiba ada angin berhembus dan ada makhluk berkelebat tidak jauh di atas kepalaku …

Puji Tuhan, ketika memperpanjang kontrakan, ada kesepakatan dengan pemilik rumah untuk memasang kaca yang membatasi antara taman kolam tersebut dengan ruang keluarga. Setelah melalui proses beberapa hari (pencarian tukang kaca, penawaran harga, lalu keputusan dan konfirmasi dari pemilik rumah yang tinggal di luar Bandung tentang persetujuan harga), beberapa hari kemudian (di awal Ramadhan) pembatas yang terbuat dari kaca dengan ketebalan 5 mm tersebut jadi juga.

Dua hari kemudian (sesuai informasi dari tukang kaca diperlukan dua hari untuk memastikan bahwa perekatan antar-kaca sudah maksimal …), kami berdiskusi mau dibikin apa kaca pemisah yang bening tersebut. Masak dibiarkan polos seperti itu? Mirip akuarium, dong … Penawaran harga dari tukang kaca yang mengusulkan ditempeli stiker peredam getaran, kami tolak karena terlalu mahal dan terkesan pemborosan.

Tiba-tiba muncul ide spontan: menempel kaca tersebut dengan foto keluarga. Selama ini mak Auli tidak setuju kalau di dinding ruangan ada foto-foto. “Terlalu norak“, katanya setiap kali aku usulkan memajang foto keluarga, “cukup beberapa biji aja …”. Tapi, kalau print-an ditempel di kaca itu? “Bolehlah. Tapi, ‘gimana caranya?”. Usai makan siang di rumah hari itu, aku bergegas ke kantor untuk ‘nge-print koleksi foto-foto hasil jepretan di ponselku yang lama. Karena sangat banyak (paling banyak adalah foto Auli) aku pilih yang lucu-lucu dan menarik, tentu saja. Aku masukkan ke plastic folder yang masih tersisa di ruangan kantorku. Lumayan banyak juga.

Waktu pulang ke rumah, sengaja aku sembunyikan dari Auli yang belum tahu tentang rencana penempelan foto-foto di dinding kaca itu. Untuk kejutan. Waktu pulang sekolah, aku pun mendiskusikannya dengan Auli untuk bareng menempelkan foto-foto itu. “Ini memang Auli, pa?”, katanya seakan tidak percaya manakala melihat fotonya sedang mandi di dalam ember ketika masih bayi. Ada juga foto-foto lainnya yang selama ini tidak pernah dilihat karena tersimpang di laptop pribadiku yang lebih banyak tinggal di kantor daripada di rumah.

Hampir tengah malam, kami menyelesaikan proses penempelan. Bertiga dengan mak Auli kami memandang hasil pekerjaan yang ternyata mengasyikkan tersebut. Sambil menempel kami kembali mengingat-ingat situasi pemotretan yang sedang kami tempel. Di mana, Auli umur berapa saat itu, dan sedang ‘ngapain. Pokonya, asyik banget …

Sekarang, setiap tamu yang anggota keluarga datang ke rumah, pemajangan foto-foto itu pasti menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk dilihat dan dibicarakan. Rencanaku, saat ada waktu senggang (cuti minggu depan?) aku akan print lagi foto-foto lainnya sambil memperbaiki susunannya sehingga ada urutan yang dapat membantu penikmatnya lebih memahami snapshot yang sednag ditampilkan. Selain itu – untuk mengurangi kejenuhan – sekali tiga bulan akan aku ganti foto-fotonya dengan koleksi yang lain.

Kala lelah dan perasaan serta pikiran membebani, seringkali aku duduk di ruang keluarga tersebut sambil memandangi satu per satu foto-foto yang dipajang. Seringkali setelah mengingat-ingat kejadian dalam hidup yang sebagian diabadikan olh foto-foto tersebut, menjadi tersegarkan kembali. Yang utamanya adalah disebabkan oleh rasa syukur kepada Tuhan yang telah menyertai keluarga kami dan memberikan kami banyak berkat selama tahun-tahun yang sudah kami jalani bersama.

Iklan

One comment on “Dinding Kaca Pamer

  1. Wah kreatif juga pak, jadi engen bikin ruang kebuka di belakang rumah saya kyk begini. Habis berap adulu pak semuanya? Kalo dihitung / meter kena berapa tuh?

    Thx b4
    Adjie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s