Konser Batak Music in Harmony: Yang Kedua atau Ketiga? Mana HKBP? Maju, Tapi …

Senin, 12 September 2011 yang lalu aku kembali “terpanggil” menghadiri pertunjukan musik Batak. Tahun 2009 yang lalu aku sudah hadir dan menikmati acaranya. Benar-benar bisa menjawab kerinduan akan konser musik Batak yang bermutu, dengan penampil yang berkelas: Victor Hutabarat, Jack Marpaung (keduanya tidak tampil kali ini) dan pemusik kondang lainnya. Sempat juga aku sedikit terganggu dengan “serial”. Di tiket pertunjukan disebutkan sebagai 2nd Batak Music in Harmony – yang berarti kelanjutan dari 1st Batak Music in Harmony yang tahun 2009 diselenggarakan di Sanctuary Hall Menara Kuningan, Jakarta – namun disampaikan oleh Indra Jaya Sihombing bahwa yang pertama adalah Januari 2006 (dan hal yang sama tertulis juga di buklet pertunjukan).

Diselenggarakan di Balai Sarbini Jakarta, menunjukkan bahwa konser Batak tidak seharusnya kampungan. Siapa yang tidak tahu kelasnya Balai Sarbini? Banyak pertunjukan musik berkelas diselenggarakan di gedung yang megah ini. Konstruksinya pun tentu saja mendukung tata-suara yang benar-benar mendukung pertunjukan (cuma, sayangnya telingaku sempat terganggu di awal pertunjukan malam itu karena speaker yang mendenging keras dan beberapa orang yang duduk di sekitarku memegang telinga masing-masing untuk menahan gangguan kenyamanan yang sempat terjadi, yang untungnya menjadi lebih baik di kemudiannya …).

Pembawa Acara: Siapa namanya? “Apa Sudah Siap?”, dan “Jangan Pulang Dulu!”

Memasuki gedung pertunjukan – yang kalau ‘nggak salah, baru kali ini aku berada di sana walau bertahun-tahun tinggal di Jakarta (hal yang sama terjadi dengan tiga orang kawanku lainnya yang bersamaku datang malam itu – penonton disuguhi tayangan iklan rokok Djarum Super di layar pada panggung yang besar. Berulang-ulang, dan persis yang sering terlihat di layar televisi di rumah. Mulai membosankan, sehingga ada yang ‘nyeletuk, “Mentang-mentang sponsor …”, yang segera juga aku timpali, “Ah, kita juga pasti begitu kalau sudah jadi sponsor. Bahkan mungkin bisa lebih rakus daripada mereka ..”. segera saja menimbulkan derai tawa dari yang lainnya, kawan-kawan sekantor yang memang punya pengalaman mensponsori acara yang seringkali rakus untuk menguasai banyak hal. Memang kecil-kecilan, tapi kelakuannya pastilah ‘nggak jauh-jauh dari keinginan menguasai segalanya …

Oh ya, pastilah berkat sponsor juga yang memungkinkan pertunjukan kali ini bisa terselenggara di gedung yang mentereng ini. Yang sederhana saja, kali ini ada buklet tentang pertunjukan yang tahun 2009 yang lalu aku tidak mendapatkannya. Hidup dan berjayalah sponsor!

Sesuatu yang baru: acara dibuka dengan Gondang Mula-mula. Mengingatkanku pada pesta pembangunan di gereja selaku parhalado yang diberikan kehormatan dalam pembukaan seremonial sebelum dilanjutkan dengan untaian acara-acara manortor lainnya. Oh ya, sebelumnya ada seseorang yang kelihatannya berperan sebagai pembawa acara. Perempuan, berpakaian rapi yang terbuat dari ulos. Sampai acara berakhir aku ‘nggak tahu siapa namanya – bahkan boru apa pun aku ‘nggak tahu … – karena seingatku perempuan muda tersebut tidak pernah memperkenalkan diri. Beberapa kali kehadirannya terasa mengganggu. utamanya karena seringkali melontarkan pertanyaan – berulang-ulang – kepada penonton, “Sudah siap menyaksikannya?” yang jujur saja aku ‘nggak tahu apa relevansinya, karena penonton pastilah selalu siap untuk menyaksikan acara selanjutnya (kalaupun ‘nggak siap, apakah suguhan acara dihentikan?). Karena berulang-ulang mengajukan pertanyaan yang sama, aku jadi bercuriga – dan memang terbukti – jangan-jangan pengisi acara yang belum siap … dan beberapa kali terjadi, ada senjang beberapa menit untuk menantikan kedatangan (tepatnya: kemunculan) dan penampil benar-benar siap untuk memulai suguhan …

Mungkin itu trik yang dipergunakan MC untuk mengatasi masalah itu dan berusaha interaktif dengan penonton. Namun, sebaliknya aku sempat berpikir mendingan tidak ada MC karena masing-masing penampil biasanya setelah usai dengan suguhannya, memanggil pengisi acara selanjutnya. Dan itu biasanya lebih menarik, daripada si MC yang berusaha menjelaskan tampilan berikutnya tapi salah … Hal ini erlihat ketika memanggil Triniti Choir yang disampaikannya ada tiga judul lagu yang akan dibawakan, namun hanya mampu memberi tahu dua judul saja. Faktanya? Lebih dari tiga judul lagu yang dinyanyikan!

Masih ada lagi: berulangkali MC meneriakkan supaya penonton jangan pulang karena akan banyak penampil bagus akan muncul di panggung malam itu. Bayangkan saja, sejak awal sudah dicekoki dengan “himbauan” seperti itu, apa yang akan muncul di benak penonton? Bisa jadi ada yang berpikiran bahwa acara ini tidak bagus-bagus amat sehingga harus “memaksa” penonton untuk tetap duduk di kursi sampai menit terakhir …

Yang Rendah Hati yang Memberikan Penghargaan

Sambutan pembukaan dari Indra Jaya Sihombing mengesankan sebagai ungkapan perasaan dari orang yang rendah hati. Aku suka dengan cara beliau curhat tentang betapa sulitnya menjual tiket kepada orang-orang Batak (yang aku pahami sebagai “orang-orang besar” …) dan mengajak mereka berpatisipasi menyukseskan acara ini. Aku sempat berpikir mengapa HKBP sebagai gereja (yang mengklaim dirinya) besar dan sangat identik dengan Batak, tidak mengambil bagian. Tayangan yang melatarbelakangi beberapa suguhan acara berulangkali menampilkan gereja di Tapanuli (Huta Dame) yang jelas-jelas adalah HKBP. Saat itu aku sempat berandai-andai: andai aku jadi Eforus, atau Sekjen, atau Praeses, atau pun “sekadar” Pendeta Resort, pastilah mudah bagiku menggerakkan umat gembalaanku untuk berpartisipasi aktif (membeli tiket dan hadir) pada acara yang memang bagus ini. Atau, sebaliknya, kenapa Panitia tidak menggarap segmen umat HKBP ini, ya? Di beberapa jemaat yang sempat aku layani belakangan ini, kabar konser musik Batak ini sama sekali tidak terdengar. Sayang sekali …

Untunglah, ada juga kabar gembira. Pak Indra Jaya menyampaikan bahwa tiket terjual habis. “Meskipun kursi-kursi masih banyak yang kosong, mungkin disebabkan oleh mereka masih dalam perjalanan sepulang dari kantor”, demikian ucapan beliau yang membuatku sedikit lega. Puji Tuhan, hal itu kemudian terbukti karena semakin lama semakin banyak saja yang hadir dan menikmati suguhan acara.

Ada satu suguhan di awal yang membuatku terharu, yaitu pemberian penghargaan kepada Nortier Simanungkalit, penggubah besar orang Batak dalam sejarah kehidupan bangsa ini. Sudah sangat sepuh dan didorong di kursi roda – dan menyampaikan pesan yang sangat menggugah melalui tayangan di layar lebar yang walau kurang jelas nada bicaranya – pesan untuk seniman Batak agar mencipta hal-hal yang bernilai bagi “bangsa” Batak jelas sangat tajam, mungkin beliau prihatin dengan kecenderungan seniman masa kini yang hanya “sekadar mencipta”. Penghargaan (kalau tidak salah sebesar Rp 25 juta) yang disampaikan oleh pak Indra Jaya didampingi pak Sanggam Hutapea dan pengacara Hotma Sitompul menjadi lebih besar nilainya, karena diberikan pada event seperti ini. 

Tayangan Selingan untuk Bupati Masa Depan?

Selain menayangkan iklan sponsor, layar lebar di panggung biasanya dimanfaatkan untuk memperindah penampilan di panggung. Video clipt adalah salah satu medianya. Tayangan kehidupan di Tapanuli (jemaat meninggalkan gereja usai ibadah Minggu, anak-anak berlompatan berenang di Danau Toba, misalnya) memang membantu memperindah tampilan artis di panggung. Sayangnya, karena terjadi pengulangan (dan berkali-kali), kekuatannya menjadi berkurang. Kurang kaya dengan koleksi lain yang bermutu, itulah kesan yang aku tangkap.

Masih ada lagi. Penampilan pak Sanggam Hutapea yang dicantumkan sebagai pengurus yayasan (apa namanya, aku ‘nggak tahu, karena ‘nggak terlihat dari tempatku duduk saat itu …) dengan pesan bermutu, menjadi mengganggu. Selain berulang-ulang – bahkan pernah sampai tiga kali berturut-turut – saat penayangannya juga seringkali ‘nggak pas. Alangkah indahnya kalau ditayangkan (satu kali saja) dan ‘nyambung dengan lagu dan atau musik yang sedang ditampilkan di panggung.

Pak Sanggam Hutapea yang mungkin sebagian besar orang Batak tahu bahwa beliau pernah mencalonkan diri sebagai Bupati Tapanuli Utara (dan menurutku mungkin calon terbaik sebenarnya, namun masih kalah karena faktor lainnya …), bisa terkesan sebagai “memaksakan diri” agar dikenal oleh masyarakat Batak …     

Ulos Batak Hanya Sekadar Asesoris?

Batak identik dengan ulos, sebagai pelengkap penampilan setiap orang Batak. Dahulu kala dipakai ke mana pun orang Batak pergi, namun kini peranannya sudah semakin seringkali jauh dari falsafah yang dikandung olehnya. Lihatlah penampilan artis-artis pendukung acara ini. Beberapa aku lihat menyandang ulos yang bukan “jenis” yang pas untuknya. Ruli Tampubolon pakai sedum, yang lainnya dilingkarkan di leher (bukan disandang di bahu), aduh … aku jadi sedih membayangkan betapa sulitnya inanguda-ku di Tarutung martonun ulos untuk menyambung hidupnya. Selain faktor ekonomis, tentulah beliau berharap agar ulos dipergunakan sesuai dengan falsafahnya.

Koq Boru ni Raja Kurang Raja?

Masih berhubungan dengan penampilan pakaian artis pendukung acara. Kalau penampil pria aku lihat semuanya berpakaian yang rapi dan sopan. Berbeda halnya dengan artis perempuan. Hanya Cassandra yang aku ingat yang benar-benar berpakaian dengan tubuh terbalut kain yang pantas. Juga Triniti Choir yang mungkin biasa tampil di lingkungan gereja yang lebih menuntut kepantasan berpakaian. Yang lainnya, alamakkk

Serba tanggung, menurutku. Mau persis jadi Diva – yang menuntut tampil berpakaian glamour sehingga seringkali “terpaksa” harus ada yang “terbuka”, selain suaranya yang memang sudah sangat bagus – tapi ketradisionalannya memaksa penampil malam itu terkesan “malu-malu” sehingga masih berupaya agar terlihat sopan dalam berpakaian. Contohnya, Mega Sihombing – yang malam itu dideklarasikan sebagai nyonya Mauro Goia sehingga berubah nama menjadi Mega Mauro – tampil dengan celana jins bahu terbuka yang berusaha ditutupi dengan blus transparan, malah terlihat aneh. Menurutku, karena ini adalah pertunjukan Batak yang masih menjunjung tradisi Batak yang sangat ketat dengan aturan sopan santun, sebaiknyalah berpakaian rapi. Kehebatan kemampuan sesorang tidaklah ditentukan dengan keglamorannya dalam berpakaian. ‘Nggak tahu juga kalau penampilan berbusana seperti itu ada dipengaruhi oleh penonton yang mengharapkan penampilan ala diva … (oh ya, dibanding tahun 2009 yang lalu, pertunjukan malam itu relatif banyak dihadiri oleh orang-orang asing).

Koreografi Menunjukkan Apa?

Ada juga yang baru, yakni koreografi yang mengiringi beberapa lagu terpilih. Aku tidaklah terlalu paham dengan dunia pertunjukan, namun sebagai penikmat pertunjukan aku merasa tidak nikmat dengan koreografi yang ditampilkan. Tidak kena dengan thema lagu yang sedang disenandungkan dan gerakan tari yang sedang ditampilkan juga tidak menarik untuk dilihat.

Mega yang melantunkan Ramba Dia diiringi tarian yang dinamis yang sesuai dengan rentak lagunya yang memang dinamis. Tarian (entah apa judulnya, ‘nggak ada yang pernah memberi tahu …) yang ditampilkan lebih mirip dengan tarian Papua bila menilik kostum penarinya. Pernah ada yang agak mendingan, yaitu Sihol di mana seorang ibu dengan ulos membalut tubuhnya dan juga tutup kepala dari ulos menampilkan gerekan manortor dengan seorang anak perempuan kecil. Tapi, apa makna tariannya dihubungkan dengan lagu, aku sama sekali ‘nggak tahu. Hampir sama dengan “kinerja” MC, koreografi yang ditampilkan masih lebih baik untuk disimpan saja dulu karena beberapa kali bahkan mengganggu kenikmatanku menikmati suguhan lagu dan musik (ada alunan suling Korem Sihombing dan Marsius Sitohang yang kedua-duanya memang luar biasa). Mungkin cita rasa seni yang aku miliki juga belum mampu menikmati koreografi yang bernilai “tinggi” seperti yang ditampilkan malam itu, entahlah …  

HKBP-ku Sayang yang Aku Sangat Sayangkan

Seperti aku sampaikan semula, aku turut prihatin mencerna sambutan pembukaan Indra Jaya khususnya menyangkut perhatian orang Batak untuk acara ini, sehingga jadi mengandai-andai menjadi “boss” di HKBP yang tentu punya pengaruh di HKBP. Bagiku, dalam menyemarakkan perayaan Jubileum 150 tahun HKBP (yang menurut banyak orang sebenarnya yang lebih tepat adalah 150 tahun kekristenan masuk di Tanah Batak …)  lebih tepat bila Kantor Pusat HKBP memasukkan konser musik Batak ini sebagai rangkaian dari perayaan besar tersebut.

Mungkin dukungan akan menjadi lebih luas lagi. Dan tidak tertutup kemungkinan bisa menggunakan Stadion Gelora Bung Karno di Senayan untuk menampung antusiasme warga HKBP (yang paling kental dikenal dengan kebatakannya) menyaksikan konser yang memang banyak menyinggung HKBP (yang memang sejarahnya sangat dekat dengan perkembangan kehidupan orang Batak.

Bobotnya akan menjadi lebih tinggi. Baik untuk acara konser ini sendiri, maupun kepada HKBP (dan mungkin juga “boss-boss” HKBP …) yang mulai sering dikritik kepemimpinannya yang nyaris babak belur …

Mendukung konser ini masih lebih baik daripada menghabiskan uang miliaran rupiah untuk seremonial yang dilakukan di seantero di mana ada jemaat HKBP yang puncaknya akan dilakukan di Senayan (mungkin mengundang presiden SBY untuk hadir yang juga citranya semakin babak belur belakangan ini, sehingga mulai ada ucapan sinis di kalangan jemaat: bagi boss-boss HKBP masih lebih penting mengundang SBY yang hadir daripada Tuhan Yesus sang kepala Gereja yang hadir … ).

Di Mana Batak yang Lainnya?

Malam itu aku mengajak kawan-kawanku untuk menonton. Lebih satu bulan sebelumnya – tatkala mengetahui ada konser ini – aku segera mengontak kawan-kawan Batak di perusahaan tempatku bekerja saat ini dengan “mempromosikan” kebagusan acara ini. Tampilan tahun 2009 yang memang bagus, aku jadikan sebagai referensi. Ada beberapa yang urung karena tidak cocok dengan jadual pekerjaan mereka. Selain aku yang Batak dari Tapanuli Utara, malam itu ada juga kawanku yang Batak Karo, dan Batak Simalungun yang mereka sangat antusias mengikutinya. Malam itu aku baru sadar bahwa bukan semua teman yang aku ajak adalah orang Tapanuli sehingga aku dengan murah hati menjelaskan tampilan yang sedang dipertunjukkan di panggung karena mereka tidak mengerti bahasa Tapanuli. Untuk menghibur yang dari Karo, aku bilang, Silih, ada juga yang pakai ulos Karo artisnya itu, ‘kan?”. Dan kawanku itu – yang sudah menyempatkan diri datang dari Purwakarta tempatnya bertugas saat ini – hanya bisa tersenyum kecil karena memang sampai akhir acara hanya Batak yang dari Tapanuli yang ditampilkan.

Sayang sekali …

Penutupan yang Mulai Membosankan

Aku sempat mendengar bahwa Amigos Band adalah salah satu grup musik Batak yang menjadi favorit. Terkenal dengan lagu-lagu yang dipopulerkan oleh mereka yang jujur saja, aku pun tidak pernah mengidolakan grup ini, tapi dari tepukan tangan dan siutan penonton yang mengiringi kemunculan mereka di panggung aku semula berharap mereka akan menampilkan suguhan yang sangat bagus. Hal yang akhirnya tidak aku dapatkan.

Lagu-lagu yang mereka dendangkan sama sekali tidak menarik bagiku. Selain memang bukan penggemar, lagu-lagu yang mereka ciptakan sendiri itu tentu saja menjadi tidak akrab bagiku. Upaya ketiganya bersenda gurau di panggung dengan joke sekenanya (mungkin tanpa skenario …) menurunkan ketertarikan pada konser malam itu. Mungkin juga pada penonton lainnya. Pasangan berumur yang duduk di depanku yang sedari tadi isterinya sudah tertidur di bahu kanan sang bapak, akhirnya memutuskan untuk pulang. Penonton yang lain juga, yang terlihat dari banyaknya orang yang berseliweran di depan kami.

Aku pun akhirnya mengajak rombongan kami untuk beranjak pulang. Ajakan manortor bersama di akhir acara sebagaimana disampaikan MC berulangkali menjadi tidak menarik lagi bagiku. Kebosanan yang mulai menghinggapi membuatku tidak lagi mempertimbangkan hal itu dan lebih memilih pulang ke Bandung malam itu.

Maju, Tapi …

Harus aku akui, bahwa dalam banyak hal, pertunjukan malam ini lebih baik daripada konser tahun 2009 yang lalu. Format acara (dibuka dengan gondang dan ditutup dengan tortor) adalah sesuatu yang baru dan sangat bagus. Penampil yang mendapat pujian adalah: BatakDIVO (yang aku ‘nggak ‘ngerti kenapa mesti ditulis seperti ini, dan kenapa pula mesti “latah” dalam memberikan nama …) dengan sopranos yang sangat bagus, Cassandra (penampil pertama yang sempat “menjanjikan” akan suguhan yang sangat bagus dari awal hingga akhir bagiku, namun sayangnya tidak menjadi kenyataan …), Triniti Choir (yang semula ditampilkan sebagai “sekadar” backing vocal, ternyata sangat bagus ketika diberikan kesempatan tampil secara mandiri), pesuling Korem dan Marsius (‘nggak usah dikomentari lagi, keduanya sangat bagus!), dan Dewi Marpaung (yang walaupun tidak menyandang kebesaran nama ayahandanya Jack Marpaung, bagiku tetaplah layak diacungi jempol …).

Yang lainnya? Tidak terlalu luar biasa, bagiku. Yeppi Romero tidak lebih bagus dibandingkan penampilannya dua tahun yang lalu. Ditambah lagi menampilkan dua orang perempuan muda Batak, malah membuatnya jadi kurang “menggigit” …

Konser kali ini yang mengusung New Paradigm of Batak Music sebagai thema hanyalah menjadi ajang unjuk gigi pasangan suami-isteri baru Mega Mauro. Gerak-gerik “kebanci-bancian” dan upaya Maurio dalam berbahasa Batak (plus Indonesia) terpatah-patah membuatnya aneh sekaligus memancing tawa hadirin. Lainnya? Tidak terlalu istimewa, karena memadukan antara musik tradisional dengan musik modern bukanlah hal yang baru kali ini terdengar. Yang lain sudah mulai melakukannya sejak lama …

Malam itu ketika di jalan menuju ke Bandung bersama kawan yang adalah Batak Simalungun yang sebenarnya setengah “terpaksa” hadir karena aku mengajaknya, aku menimbang-nimbangi apa yang sudah aku dapatkan dari konser itu. Penampilannya secara keseluruhan memang bagus (bahkan beberapa di antaranya sangat bagus, di antara artis lain yang ala kadarnya sehingga mengurangi bobot pertunjukan malam itu …). Pengorbananku yang harus cuti khusus supaya bisa ke Jakarta untuk menonton dengan tidak terlambat dan ditambah dengan potongan diskon 50% untuk harga tiket rombongan, masihlah sepadan dengan apa yang aku dapatkan malam itu. Menjelang pergantian hari aku sampai di rumah, dan disambut dengan pertanyaan oleh isteriku tentang pertunjukan malam itu (yang mereka tidak bisa hadiri karena boru-ku si Auli masih akan mengikuti ulangan di sekolah besok harinya …), aku jawab singkat, “Bagus … rugi kalau ‘nggak menontonnya”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s