Andaliman – 144 Khotbah 25 September 2011 Minggu XIV setelah Trinitatis

Percayalah pada Yesus, dan Hiduplah sebagai Anak-anak Allah dengan Hidup Menurut Roh (bukan Daging)

Nas Epistel:  Roma 8:12-17

8:12 Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging.

8:13 Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Nas Evangelium: Markus 1:40-45

1:40 Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.”

1:41 Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: “Aku mau, jadilah engkau tahir.”

1:42 Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir.

1:43 Segera Ia menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras:

1:44 “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapapun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.”

1:45 Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Alangkah membanggakannya! Menjadi anak Allah – sehingga berhak memanggil ya Abba, ya Bapa pada Allah – dengan menjadi ahli waris kerajaan Allah. Bukan lagi diwarisi roh perbudakan yang lebih banyak menimbulkan rasa takut. Itulah pesan yang bisa aku lihat pada nas perikop Minggu ini, yang sekaligus juga adalah benang merah antara Ep dan Ev.

Membaca hukum-hukum yang diatur dalam Taurat (hampir semuanya mengatakan “Jangan” yang berarti larangan yang menurutku sudah tidak begitu pantas lagi dengan zaman sekarang yang cenderung “kerjasama” daripada “perintah”. Taurat itu sangat membelenggu kehidupan jemaat mula-mula sebagaimana surat ini ditujukan oleh Rasul Paulus, yang mengatur dengan sangat ketat (yang melanggar pasti akan dihukum!) larangan dalam kehidupan sehari-hari. Hukuman itu yang membuat orang-orang hidup dalam kungkungan ketakutan: takut berbuat salah dan takur mendapatkan hukuman (yang biasanya adalah sangat berat, baik berupa denda maupun hukum badan …).

Dan Paulus mengatakan bahwa orang-orang percaya adalah anak-anak Allah bilamana hidup dalam pemeliharaan Allah: menjauhkan diri dari keinginan daging dan beralih pada kehidupan yang dipimpin oleh roh. Itu menghilangkan rasa takut, sebaliknya menimbulkan keberanian dengan keyakinan bahwa Allah yang memberikan kekuatan.

Keberanian seperti itulah yang mendorong laki-laki berpenyakit kusta ini dalam usahanya mendapatkan kesembuhan dari Tuhan. Sebagai pengidap kusta, dia adalah orang terisolasi dan kehilangan banyak haknya dalam kehidupan masyarakat pada saat itu. Pemahaman masyarakat Yahudi pada saat itu bahwa penderita kusta adalah orang yang berdosa, najis (sehingga diharuskan berteriak “Najis!, najis!, najis!” setiap berada di keramaian …), tidak boleh bersentuhan dengan orang-orang yang bukan penderita kusta, dan hal-hal lain yang tidak manusiawi. Tentang hal ini aku sempat berpikir, bagaimana pandangan masyarakat Yahudi saat ini dengan telah diketahuinya bahwa penyebab penyakit kusta adalah bakteri mycobacterium leprae yang tentu saja sangat sulit dipahami punya kekerabatan dengan perbuatan dosa … 

Keberanian yang luar biasalah (yang aku yakini sebagai kekuatan yang didorong oleh roh …) yang membuat si kusta berani datang kepada Yesus. Bisa dibayangkan bagaimana tanggapan dan tatapan orang-orang di sekitarnya saat itu. Mungkin ada juga yang berusaha menghalang-halanginya untuk mendekat kepada Yesus. Dan Yesus benar-benar menunjukkan keluarbiasaan-Nya. Tanpa takut (masak Tuhan takut, ya?) Dia berdialog bahkan menjamahnya dan menyembuhkannya dengan tuntas.

Semula dia terkesan ragu – dengan mengatakan “kalau Engkau mau …” – namun Yesus menepis keraguannya dengan mengatakan: “Aku mau …” . Menurutku, si kusta bukan ragu, melainkan menunjukkan kerendahan hatinya (yang ditunjukkan dengan posisi berlututnya di hadapan Yesus). Bukan hanya sakit fisik, Yesus bahkan menyucikannya (mentahirkan) dari dosa. 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Dosa. Itulah yang membelenggu kita. Membuat kita diliputi rasa takut. Dan itu ditegaskan kembali dalam nas Ep ini, adalah buah karya si iblis yang selalu merongrong kita (dan memperbudak kita dengan tawaran nafsu duniawi alias keinginan daging) dan menjauhkan kita dari kasih karunia yang diwariskan oleh Allah Bapa. Nas ini dengan tegas menyatakan bahwa kita adalah ahli waris kerajaan surge, dan berhak akan kekekalan bersama-sama dengan Kristus sebagaimana kita juga dituntut untuk kuat menahan penderitaan bersama-Nya.

Oh ya, ada pertanyaan yang menggelitik: kenapa sih Yesus melarangnya untuk menyampaikan tentang kesembuhannya kepada orang-orang? Bukankah itu juga merupakan suatu kesaksian tentang kemuliaan Allah? Jawabnya: belum waktunya karya keselamatan Allah disebarluaskan, karena Kristus belum dimuliakan dengan kebangkitan-Nya dari kematian. Satu lagi: resiko orang yang baru menerima hidup baru cenderung akan meluap-luap semangatnya dalam menyebarluaskan berita kesukaan yang sangat berpotensi membuatnya menjadi “sombong rohani”. Hal itu akan menjadi penghalang bagi Yesus dalam menyebarluaskan ajaran kasih karunia karena akan dihambat oleh orang-orang yang tidak menyukainya (bahkan berencana untuk membunuh-Nya …). Ahli-ahli Taurat dan kaum Farisi adalah termasuk di dalamnya.

Kuasa penyembuhan itu masih berlangsung sampai saat ini. Tidak sim salabim lagi seperti yang dilakukan Yesus dengan di kusta, melainkan Tuhan bisa memakai orang-orang di sekitar kita sebagai jalan kesembuhan dan perpanjangan tangan-Nya. Dokter, perawat, dan pendoa adalah alat yang sering dipakai oleh Tuhan pada zaman ini. Satu lagi, tidak semua penyakit harus disembuhkan oleh Tuhan (‘nggak ada peraturan yang seperti itu, ya …). Sembuh dan atau tidak sembuh adalah hak istimewa Tuhan. Kita hanya bisa meminta: meminta untuk disembuhkan, dan meminta untuk diberikan kekuatan dalam menahan penderitaan yang ditimbulkan oleh penyakit. Jadi, jangan pernah memaksa Tuhan untuk menyembuhkan sakit penyakit karena sikap seperti itu menunjukkan kita lebih berkuasa daripada Tuhan karena kita yang mengatur Tuhan. Teologi seperti ini – menurutku, ini sangat menyesatkan! – yang mengatakan bahwa Tuhan pasti menyembuhkan, dan harus menyembuhkan karena anak-anak Tuhan tidak akan menderita sakit penyakit, harus diwaspadai. Hati-hati!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s