Andaliman – 145 Khotbah 02 Oktober 2011 Minggu XV setelah Trinitatis

Upah Mengikut Kristus …

Nas Epistel:  Mazmur 78:32-35 (bahasa Batak Psalmen 78:32-35)

78:32 Sekalipun demikian mereka masih saja berbuat dosa dan tidak percaya kepada perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib.

78:33 Sebab itu Ia membuat hari-hari mereka habis dalam kesia-siaan, dan tahun-tahun mereka dalam kekejutan.

78:34 Apabila Ia membunuh mereka, maka mereka mencari Dia, mereka berbalik dan mengingini Allah;

78:35 mereka teringat bahwa Allah adalah gunung batu mereka, dan bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.

Nas Evangelium: Lukas 18:28-30

18:28 Petrus berkata: “Kami ini telah meninggalkan segala kepunyaan kami dan mengikut Engkau.”

18:29 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Kerajaan Allah meninggalkan rumahnya, isterinya atau saudaranya, orang tuanya atau anak-anaknya,

18:30 akan menerima kembali lipat ganda pada masa ini juga, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal.”

Sepertinya ada kontradiksi (tepatnya: ‘nggak ‘nyambung …) antara nas perikop Ep dan Ev Minggu ini (inilah yang masih seirngkali menjadi pergumulan bagiku bilamana benang merah antara Ep dan Ev tidak begitu terlihat relevansinya …). Aha! Akhirnya dapat juga setelah melihat thema Minggu ini yang dihubungkan dengan peringatan hari lahirnya HKBP.

Nas Epistel berbicara tentang sepak-terjang bangsa Yahudi, dinamika hubungan mereka dengan Allah (yang ‘nggak jauh beda dengan aku juga, menurutku …). Ada pasang, ada surut. Pernah mesra banget dengan Tuhan, pernah pula marah kepada Tuhan. Dalam titik nadir hubungan yang renggang dengan Tuhan, eh … ada pula suatu kekuatan yang mengingatkanku dan menarik untuk kembali ingat dan berserah kepada Tuhan. Benar, ‘nggak jauh beda dengan Israel, ‘kan?

Israel bangsa yang terpilih, aku juga ahli waris dan anak Allah, ‘kan? Sesuai dengan khotbah Minggu lalu, bukan? Dalam setiap situasi dan kondisi, Allah tetap memandang orang-orang yang dikasihi-Nya. Dan roh yang ada di dalam diri setiap orang-orang percaya, memang sudah di-install untuk tetap responsif terhadap seruan Tuhan. Bergantung pada sensitivitas masing-masing …

Petrus menanyakan tentang “jambar” yang akan didapatkannya dari mengikut Tuhan. Petrus adalah satu-satunya murid Yesus di antara yang 12 itu, yang sudah menikah. Tentang kekayaan materi, pastilah dia masih kalah kaya dibandingkan dengan Matius yang mantan pemungut cukai.

Menurutku, Petrus tergerak untuk bertanya karena ucapan Yesus sebelumnya yang mengatakan bahwa sangat sulit bagi orang kaya untuk masuk kerajaan sorga (bahkan lebih mudah seekor gajah masuk melalui lubang jarum …). Bah, bagaimana pula orang yang tidak punya? Begitulah, kalau berpikirnya sangat matematis (yang lebih besar tidak bisa, apalagi yang kecil …) dan materialistis (yang kaya tidak bisa, apalagi yang miskin …). Padahal, dalam kesempatan yang sama, Yesus juga berkata, “Tapi, bagi Tuhan tidak ada yang mustahil …”. Kalimat ini menjadi terlupakan Petrus karena lebih fokus pada situasi dan kondisi yang dihadapi oleh orang muda yang kaya yang datang bertanya kepada Yesus (lihat perikop sebelumnya …).

Puji Tuhan, Yesus menenteramkan hati Petrus (dan juga murid-murid lainnya, pastinya …), bahwa pengorbanan mereka tidak akan sia-sia, asalkan semuanya itu dilakukan dengan motivasi yang benar. Yaitu mengikut Kristus.

Setiap kali mengetahui ada orang meninggalkan jabatan dan profesi yang sudah sangat bagus lalu beralih menjadi pengikut Kristus (apalagi menjadi pelayan penuh-waktu) aku suka terheran-heran (memang heranlah pekerjaan Tuhan yang ajaib itu …). Koq mau? Sudah susah-susah mengejar jabatan dan kekayaan, koq mau-maunya meninggalkan itu semua? Kalau jadi pendeta yang kemudian kaya (sudah mulai banyak yang seperti ini, kan?) masih mendingan, tapi kalau jadi pendeta yang miskin (yang seperti ini semakin banyak pula jumlahnya …) sampai kedatangan Kristus yang kedua kali (he … he … he …), macam mana pula itu? Itulah misteri panggilan. Selalu saja ada tawaran yang lebih menarik bersama Yesus daripada “sekadar” kekayaan duniawi.

HKBP punya contoh teladan. Gereja-gereja Protestan di Sumatera Utara – supaya jangan terkesan monopolistis – juga punya contoh teladan yang sama, yaitu Inger Ludwig Nommensen. Apostel Batak – istilah ini lebih aku sukai, daripada Apostel HKBP  walaupun beliau kemudian dinobatkan menjadi Eforus HKBP yang pertama – bersedia meninggalkan sanak keluarga di Jerman untuk mengabarkan kabar baik ke suku bangsa Batak yang masih sangat primitif yang beliau tidak kenal sama sekali. Dan masih banyak lagi di dunia ini yang seperti beliau. Dan itulah yang seringkali menenteramkan hatiku bilamana suatu saat bertanya kepada diri sendiri, koq masih mau melayani jemaat di Jakarta sehingga harus seringkali bolak-balik Bandung-Jakarta-Bandung. Pengorbanan itu belum ada apa-apanya dibandingkan orang-orang lain yang jauh lebih banyak mengorbankan dirinya kepada pelayanan jemaat. 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Menuntut upah pelayanan? Sangat aneh bagi kebanyakan orang: koq jadi pelayan jemaat tapi mengharapkan upah alias pamrih? Namanya “tugas” di gereja, mana ada uangnya! Ada pelayan jemaat yang menuntut upah? Ada! Aku di antaranya, tapi – puji Tuhan – masih dalam taraf godaan, belum dalam tindakan. Dan juga datangnya godaan kadang-kadang, tidak sering-sering. Juga – puji Tuhan lagi – selalu bisa aku kalahkan. Haleluya!

Dalam kehidupan ini, kita pastilah seringkali menuntut upah dari mengikut Yesus. Jadi Kristen, koq masih susah? Jadi Kristen, koq tetap ‘nggak dapat pekerjaan yang baik? Jadi Kristen, koq belum dapat jodoh juga? Bahkan … jadi Kristen, koq masih dibiarkan teraniaya? (merujuk pada peledakan Gereja Bethel di Solo pada Minggu yang lalu, di antaranya …). Banyak lagi lainnya.

Pesan yang disampaikan Yesus melalui Ev Minggu ini jelas memberikan kelegaan bagi kita, bahwa upah kita yang melayani-Nya di bumi ini sudah disiapkan di sorga (“Upahmu besar di sorga …”). Melayani-nya bukan hanya di jemaat, melainkan semua segi kehidupan kita adalah “lahan yang basah” untuk ditanami kesaksian bahwa kita adalah anak-anak Allah yang sedang menyiapkan bekal di sorga. Berlipat-lipat, seperti yang dikatakan oleh Yesus. Oleh sebab itu, jangan berkecil hati, teruslah melayani dan bersaksi!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s