Ibadah Khusus: Apanya yang Khusus? Ah, Hanya Sekadar Berbeda …

Setelah ada Ibadah Minggu yang dilakukan sore hari jam enam dengan format baru, barulah dua minggu yang lalu aku mendapat tugas pelayanan. Tanggal 11 September aku mendapat tugas sebagai kordinator ibadah, lalu 25 September yang lalu menjadi liturgis. Karena “format baru” (setelah ada desakan untuk mengubahnya daripada sekadar mengganti liturgi yang semula 100% berbahasa Indonesia dengan Agenda yang sama dengan Ibadah Minggu pagi), aku pun memberikan perhatian khusus untuk mempelajarinya. Saat sermon parhalado Kamis sore sebelumnya “yang berbeda” langsung terasa dengan pemberitahuan Inang pendeta Melva Sitompul, “Ini tata ibadahnya, amang. Semua sudah ada di sini, Amang tinggal membacanya saja”, seraya menyodorkan beberapa lembar kertas hasil print-out yang segera aku baca bahwa di dalamnya sudah tertera semua urutan pembacaan agenda: votum, firman Tuhan, hukum Taurat, dan lagu-lagu yang dikombinasikan antara Kidung Jemaat dan lagu-lagu rohani “bebas” (dalam artian bukan dari Kidung Jemaat dan atau Buku Ende HKBP). Tidak ada yang berbahasa Batak. Bahasa Indonesia, dan sedikit bahasa Inggeris. Karena lagu pertama dalam urutan tata ibadah, sesuai kebiasaan, aku pun menyanyikan lagu yang berbahasa Inggeris ini saat memimpin persiapan pelayanan ibadah di konsistori yang tidak semuanya menyanyikannya dengan fasih …). Minggu lalu itu karena berfungsi hanya “sekadar” kordinator ibadah, aku ‘nggak terlalu dalam melihat isi lembaran kertas tersebut.   

Usai ibadah, selesai menghitung kolekte dan mencatatnya bersamaan dengan jumlah hadirin dalam arsip, sebelum kembali ke Bandung, aku pun menyempatkan diri berdiskusi dengan Inang Pendeta di konsistori. Berdua saja, karena para pelayan yang lain sudah lebih dahulu pulang. Saat koster masuk dan menutup pintu konsistori, aku pun segera mencegahnya, dan meminta agar semua pintu terbuka (ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, bukankah di gereja iblisnya banyak juga dan lebih tinggi tingkatan kemampuannya?)

Sebagai orang yang sangat menginginkan perbaikan pelayanan, aku pun memberikan saran kepada sang pendeta perempuan muda tersebut (dengan harapan bahwa yang usia muda akan lebih mudah memahami dan menerima perubahan, walau bukan ini yang pertama kali aku bicarakan tentang hal yang sama dengan beliau …) yang sepertinya diberikan tugas khusus dalam mengatur ibadah Minggu sore tersebut. Beberapa hal yang aku sampaikan yang kelihatannya bisa diterima oleh beliau:

(1)   Slide yang menayangkan gambar dari LCD-projector harus dimanfaatkan secara maksimal untuk kenyamanan pelayanan, antara lain untuk menayangkan bacaan yang meminta jemaat untuk lebih interaktif. Misalnya pembacaan firman Tuhan secara responsoria, pengakuan iman Kristen, dan tuntunan lainnya (kapan harus berdiri, kapan harus duduk …). Bahkan khotbah pun sebaiknya memanfaatkan alat yang memang dapat membantu banyak hal (hal ini pernah aku lakukan saat berkhotbah di partangiangan wejk di konsistori dengan juga menampilkan video clipt yang sangat menggairahkan anggota jemaat yang hadir pada menjelang tengah malam itu …). Aku tidak rela kalau LCD-projector yang relatif mahal tersebut (kami membelinya dengan urunan beberapa pelayan yang punya perhatian terhadap peningkatan pelayanan kepada jemaat, dua kali, karena gereja tidak punya uang, dan yang pertama kami beli hilang dari rumah dinas pendeta …) hanya dipakai sekadar menayangkan lagu-lagu. Saat itu, aku “menantang” beliau bahwa saat bertugas dua minggu berikutnya semuanya akan seperti yang aku sampaikan, sekaligus menawarkan diri (karena dua minggu cukup bagiku untuk mempersiapkannya) untuk menyiapkan slide dengan teks lagu yang bergerak (karena terpisah jarak, aku berjanji akan mengirimkannya melalui e-mail); bahkan berkhotbah secara interaktif (dan saat itu sang pendeta muda menyanggupi untuk menyampaikannya kepada pendeta resort dan secepatnya mengabari aku, yang sampai saat ini pun setelah Minggu tersebut berlalu belum ada pemberitahuan kembali kepadaku …).

(2)   Suasana ibadah harus benar-benar berbeda daripada ibadah pagi yang sangat “ortodok” HKBP. Pemusik dan pemimpin lagu harus ekspresif, dan dinamis sesuai tuntutan lagu dan teks yang dibacakan. Masak lagunya sudah berirama rock, namun  pemusik dan pemimpin lagu berlagak “seperti tidak ada apa-apa” alias copy-paste ibadah pagi … Bahkan, saat itu aku bilang, “Bila perlu, pemain musiknya berdiri dan bergoyang sesuai hentakan musik …”.  

Sampailah Minggu, 25 September 2011. Aku bertugas sebagai pemimpin ibadah alias liturgis alias paragenda. Tidak berkhotbah, karena tidak ada kabar lebih lanjut dari inang pendeta. Bahkan sampai detik ini … Lembaran urutan tata ibadah pun aku terima beberapa menit menjelang pelaksanaan ibadah. Beliau mengatakan bahwa tata ibadah sudah die-mail namun tidak sempat aku lihat karena terlanjur pulang dari kantor Sabtu sore dan tidak buka lagi e-mail sampai Minggu sore itu. Artinya, apa yang sudah aku sampaikan tidak satu pun yang terwujudkan. Sayang sekali. Sia-sia? Mudah-mudahan saja tidak (karena tidak ada yang sia-sia dalam kehidupan ini, ‘kan?).

Oh ya, menjelang ibadah sore itu, aku sempat ‘ngobrol dengan Amang Pendeta yang bertugas membawakan khotbah pada ibadah Minggu sore tersebut. Saat ini belaiu bertugas di HKBP Suprapto Jakarta dan “mengklaim” bahwa gereja kami dulunya belajar dari mereka yang sudah menjalankannya bertahun-tahun (dan benar-benar sangat berbeda daripada ibadah Minggu sore kami, apalagi ibadah Minggu pagi … wah, bagai bumi dan langit!). Dan aku juga menyampaikan bahwa sesuatu yang aneh bagi jemaat kami yang terletak di tengah kota Jakarta dan dikepung oleh banyak gereja non mainstream, namun tidak melakukan perubahan sesuai tuntutan kebutuhan umat yang tentu saja berubah dengan perubahan zaman.

Hal ini pernah aku sampaikan saat pembekalan parhalado partohonan dua tahun yang lalu dengan menyajikan presentasi yang didukung data kuantitatif internal yang mengarah pada kesimpulan bahwa sudah terjadi penurunan pada jemaat, dengan parameter: partisipasi ibadah, kolekte, dan pengucapan syukur. Bahkan dibandingkan dengan jumlah warga jemaat yang terdaftar, senjangnya sangat jauh dibandingkan dengan rata-rata yang hadir pada ibadah rutin. Dan saat itu aku mengingatkan bahwa ada sesuatu yang sudah tidak pas lagi pada pelayanan jemaat, dan saatnya kita mengevaluasi. Namun jawaban yang aku terima saat itu dari salah seorang penatua senior, “Angka itu salah. “Nggak mungkin sejelek itu.”. Saat aku tantang, “Kalau ini salah, mohon tunjukkan mana yang benar?”. Sayang sekali, sampai hari ini ketika beliau mulai sakit-sakitan sehingga jarang hadir di gereja, data yang benar versi beliau tidak pernah ada …

Saat sermon parhalado Kamis lalu, karena pembahasan materi khotbah mengarah kepada pelayanan yang semakin menurun, aku kembali mengingatkan presentasiku dua tahun yang lalu (judulnya Di Dia do Hita Saonnari?) sekaligus mengingatkan tentang sudah mendesaknya untuk melakukan perubahan, tak kusangka jawaban pak pendeta resort sangat mengejutkan, “Kita tidak harus menuruti apa yang dimaui oleh jemaat apalagi untuk merubah apa yang selama ini sudah kita kerjakan. Kalau begitu, kita jadi berubah-ubah terus sesuai selera jemaat. Gereja tidak boleh mengikuti selera jemaat …”. Suatu pernyataan yang sangat aneh bagiku. Yesus memang tidak berubah dari zaman purbakala sampai zaman akan berakhir, namun cara menyampaikan kabar baik-Nya tidaklah harus sama dari zaman purbakala sampai hari kiamat, bukan? Sangat aneh, dua orang pendeta di jemaat kami yang dua-duanya berumur lebih muda daripada aku dan sudah lama melayani di Jakarta, ternyata sangat sulit untuk berubah. Bagaimana pula mau berharap mereka yang akan memimpin perubahan? Jadi beda tipis dengan salah seorang penatua senior yang sampai sekarang menolak melayani ibadah Minggu sore karena menggunakan liturgi yang berbeda dengan ibadah Minggu pagi … Menyedihkan, memang!

Kembali kepada tugas pelayananku sebagai pemimpin ibadah Minggu sore 25 September 2011 yang lalu. Setelah menerima lembaran tata ibadah dari inang pendeta, aku pun memeriksanya dengan teliti sebagai bagian dari kewajibanku untuk memastikan bahwa aku akan menjalankan tugasku dengan baik. Begitu tiba pada Votum, Doa Pembuka, lalu Doa Penghapusan Dosa dan Janji Pengampunan Dosa, dengan jelas terlihat sangat berbeda dengan Agenda yang sudah aku pelajari sejak beberapa hari sebelumnya di rumah. Tidak satupun yang sesuai dengan Almanak HKBP untuk Minggu itu! Tentu saja aku bertanya kepada inang pendeta yang menyiapkan acara itu, dan dengan enteng dijawab, “Wah, itu sama dengan urutan yang ada di komputerku, Amang yaitu materi yang aku dapatkan dari gereja HKBP Suprapto dalam mempersiapkan tata ibadah khusus di gereja kita ini. Setiap Minggu selalu begitu, koq”.

            “Jadi, tidak inang periksa dan cocokkan dengan Almanak yang sekarang?”, tanyaku penasaran karena tidak biasa dengan pekerjaan di luar standar seperti ini.

            “Enggak, Amang …”.

            “Wah, jadi ‘nggak ‘nyambunglah dengan thema Minggu ini. Aduh, koq begitu caranya”.

Tiba-tiba ‘nyeletuk amang pendeta yang mau berkhotbah pada ibadah Minggu sore itu, “Kalau ‘nggak salah, yang kami kasih dulu itu buatan tahun 2006, inang. Sekarang sudah ‘nggak kami pakai lagi karena tuntutan perubahan dari jemaat. Kalau masih itu yang dipakai inang untuk gereja ini, wah sudah ‘nggak sesuai lagilah …”.

Owalah … begitulah salah satu kualitas pekerjaan hamba Tuhan di jemaat kami. Aku berdoa, semoga cuma kali itu saja pekerjaannya asal-asalan …

Iklan

2 comments on “Ibadah Khusus: Apanya yang Khusus? Ah, Hanya Sekadar Berbeda …

  1. Kita sepikir kak.. Bolehkah ak tau hal2 yg kaka sampaikan di presentasi kaka? Saya sangat rindu mindset setiap kita dibenarkan.

    • Ada koq, ito. di salah satu tulisanku jauh hari sebelumnya. Judulnya: “Di Dia Hita Saonnari?”. Melayani di jemaat juga, ito? Bolehlah kita berdiskusi. Aku melihat perubahan di jemaat kami ini bagai air menitik ke batu. Faktor utamanya adalah memang dari sisi pelayan tahbisan alias parhalado yang sebagian besar merasa nyaman dengan pelayanan yang sekarang ini dan merasa pelayanannya sudah bagus sehingga tidak mau (dan takut) berubah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s