Andaliman – 150 Khotbah 06 November 2011 Minggu XX setelah Trinitatis

Nuh, Model Tentang Kelayakan Bagi Tuhan

Nas Epistel:  Mika 6:6-8

6:6 “Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun?

6:7 Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?”

6:8 “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Nas Evangelium: Kejadian 8:18-22 (bahasa Batak 1 Musa)

8:18 Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya.

8:19 Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu.

8:20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.

8:21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.

8:22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”

Israel ini adalah bangsa yang tegar tengkuk. Bahkan seringkali sinis. Hampir sama dengan banyak orang sekarang ini … (mungkin aku juga termasuk di dalamnya, walaupun cenderung bersifat insidensial …). Lihatlah nas perikop Ep Minggu ini, ayat 6 dan 7 benar-benar “menggemaskan”. Dengan gaya yang kelihatannya seolah-olah ketulusan, mereka menjawab melalui tiga pertanyaan khusus, dengan intensitas yang kian meningkat (ini gaya bahasa klimaks namanya, kalau masih ingat pelajaran Bahasa Indonesia waktu masih bersekolah dulu …): “Dengan apakah aku akan pergi menghadap Tuhan?”. Sangat terkesan, mereka (bangsa Israel itu) menantang Tuhan.

Padahal, andai keselamatan dapat dibeli seperti itu, dengan memberikan barang-barang materi sebagai pendamaian bagi dosa, maka semua umat manusia akan berusaha keras untuk mendapat keselamatan. Mereka ‘nggak tahu, bahwa keselamatan yang benar adalah penyerahan roh. Mereka telah melupakan hukum Tuhan mengenai penebusan anak sulung (Keluaran 13:12-13) dan pengalaman Abraham (Kejadian 22). Untunglah Tuhan kita bukan materialistis (karena Tuhan memang ‘nggak membutuhkan harta dan materi, apalagi suapan, ‘kan?), sehingga keselamatan bukan hanya hak monopoli orang-orang kaya.

Dan ayat 8 menegaskan bahwa Tuhan menuntut untuk berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Hal ini berlaku bagi semua manusia sepanjang masa, secara terus-menerus, dan tak dapat berubah. Kalau masih ingat dengan khotbah Minggu lalu tentang kelayakan orang-orang percaya yang akan masuk ke dalam bait Tuhan, tuntutannya ‘nggak jauh berbeda.

Syarat yang diminta sebagaimana disebutkan di atas itulah yang dimiliki oleh Nuh sehingga Tuhan berkenan padanya, dan memakainya untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran yang amat sangat dengan air bah yang sangat dahsyat (sebagai orang yang pernah lama tinggal di Aceh, aku masih gemetar membayangkan apa yang terjadi saat tsunami yang lalu dengan hanya melihat sisa-sisa kemahadahsyatan bencana alam itu ketika datang kembali ke sana …).

Dan yang dilakukan oleh Nuh setelah diselamatkan dari air bah, adalah memberikan persembahan dan memuji Tuhan. Mendirikan mezbah, artinya meninggikan Tuhan. Sejalan dengan itu adalah mempersembahkan korban bakaran, suatu kata yang berasal dari akar katanya yang berarti “naik”. Ini berasal dari situasi yang terjadi manakala korban bakaran dipersembahkan, asapnya naik ke atas menuju Allah, dalam arti tertentu membawa ucapan syukur dan penyembahan orang yang mempersembahkan tersebut. Korban itu benar-benar merupakan korban perdamaian yang dipersembahkan dalam penyembahan yang tulus, ungkapan rasa bersyukur yang mendalam. Karena itu Allah yang abadi bersukacita. Nuh sangat berkenan bagi Allah.

Bagaimana dengan aku? Engkau? Kita?

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Masih berhubungan dan terkesan sebagai kelanjutan perikop Minggu lalu, nas kita Minggu ini masih bercerita tentang kelayakan. Tokohnya adalah Nuh, orang yang diperkenan Allah. Apa yang dilakukannya, patutlah kita tiru dalam kehidupan kita saat ini. Hidup yang penuh dengan cobaan, tantangan, dan kesulitan. Siapa yang tidak pernah mengalami permasalahan dalam kehidupan yang memang semakin sulit dari ke hari?

Kehidupan Nuh juga pasang surut sesuai situasi kehidupan yang sedang dialaminya. ‘Nggak beda dengan kita juga, ‘kan? Kemampuannya juga menurutku ‘nggak jauh-jauh amat dibandingkan dengan kita. Bedanya – mungkin, ma’af sekali lagi mungkin … – adalah Allah berkenan kepada Allah. Untuk hal ini, kita juga bisa, ‘kan? Bagaimana supaya berkenan kepada Allah? Ya, melakukan apa yang dituntut dari orang-orang percaya. Karakter dan sikap seperti yang dicantumkan dalam nas perikop di atas adalah di antaranya.

Bisa? Pastilah bisa … Ayo!

Iklan

Yang Kaya dan yang Miskin, Semuanya Pasti Mati!

“Bahwa sesungguhnya kematian adalah ‘hak’ semua orang hidup, maka oleh sebab itu ‘monopoli’ hak hidup haruslah dibebaskan dari kehidupan ini … “. Demikianlah satu kalimat yang bisa aku buat dengan menyitir (persisnya: memelesetkan) naskah alinea pertama Pembukaan UUD 1945, yang berhubungan dengan kematian. Bukan suatu kebetulan (karena aku bukanlah orang yang percaya pada kebetulan, sebab mengimani bahwa segala sesuatu kejadian di dunia ini adalah campur tangan Tuhan, dan bagi Tuhan tiada yang berlaku secara kebetulan), minggu lalu selama dua hari aku habiskan dengan menghadiri pemakaman.

H. L. Sihombing, San Diego Hills, Karawang

Yang pertama adalah pemegang saham perusahaanku tempat bekerja saat ini. Orang Batak, berusia 63 tahun, anak tertua almarhum (yang kemudian menjadi pemegang saham) adalah mantan atasanku sebelum beliau mengundurkan diri sebagai karyawan. Dimakamkan di San Diego Hills di Karawang, sebuah komplek pekuburan yang sangat berbeda dengan pekuburan pada umumnya. Konsepnya ala real estate. Memasuki komplek pekuburan, jangan berharap ada suasana menyeramkan sebagaimana layaknya pekuburan (apalagi bila kita sudah sangat terpengaruh dengan sinetron dan film nasional yang semakin didominasi dengan kisah hantu yang sangat tidak mendidik …). Di pintu gerbangnya kita sudah disambut dengan keramahan petugas berseragam yang akan mengarahkan kita ke tempat yang akan kita tuju. Itu adalah suatu kemutlakan mengingat betapa luasnya komplek pekuburan ini. Dan suasananya yang sangat berbeda, tentunya. Di komplek pekuburan untuk umat Kristen (untuk agama lainnya juga ada disediakan di lokasi dengan cluster yang berbeda) ada chapel dan patung-patung putih yang meneduhkan. Apalagi melihat danau buatan yang sangat indah yang diapit oleh perbukitan yang hijau. Cafetaria dan minimarket, semakin menambah kelengkapan bahwa ini adalah pekuburan mewah. Hanya orang kaya yang berhak menempati fasilitas yang disediakannya.

Sambil menunggu rombongan keluarga yang berdukacita dari Jakarta – yang kemudian datang dengan bis-bis mewah dan mobil-mobil yang sangat menyamankan penumpangnya – aku sempat ‘ngobrol dengan petugas pekuburan. Tarif satu lubang seperti yang dipesan untuk almarhum tarifnya 30 juta (harganya akan jadi lebih “murah” bila beli dua, yakni “cuma” 50 juta …). “Harga itu untuk seumur hidup, pak?”, tanyaku menanggapi pernyataan sang petugas yang mengatakan bahwa harga Rp 30 juta sudah all in, artinya tidak ada lagi kutipan selanjutya (sesuatu yang biasa dalam hidup di republic yang kita cintai ini, dalam setiap sendi kehidupan hampir selalu ada kutipan, ‘kan?). “Bukan seumur hidup, tapi sampai ke kekekalan, pak”, jawabnya yang membuatku tersenyum karena kemudian memahami apa yang dimaksudkannya …

Melongok ke lubang yang sudah disediakan untuk memasukkan mayat, aku melihat ada beton concrete layaknya bak mandi persegi panjang (sehingga peti mayat tidak menyentuh ke tanah). Lalu ada penutup – setelah peti dimasukkan nantinya – yang juga terbuat dari bahan beton concrete. Di situ terdapat mesin katrol, sehingga semua proses pemasukan peti mati ke lubang tanah sudah mekanistis, “Prosedur dan fasilitas di sini meniru pemakaman tempat Michael Jackson dimakamkan, pak”, sambung sang petugas tadi dengan bangga.

Dengan tarif sebesar itu, almarhum, eh … keluarga yang ditinggalkan, sudah terima beres saja. Tenda yang luas (yang kemudian ternyata tidak cukup menampung pelayat karena sangat banyak, dan ada seorang ibu yang duduk di belakangku ‘nyeletuk dengan bahasa Batak yang sangat pas, “Tentu saja banyak yang datang karena yang mati adalah orang kaya, eda. Coba orang miskin, belum tentu banyak yang mengaku sebagai keluarganya …”) dan bagus dengan kursi-kursi yang nyaman, bunga tabur dan bunga hiasan, mobil pengantar jenazah dan kereta penarik mayat, bahkan tisu dengan kemasan eksklusif (yang kemudian dijadikan sebagai bukti kehadiran di pemakaman oleh beberapa orang dengan cara membawanya dan menunjukkan kepada oknum yang berkepentingan …) sudah tersedia.

Bahkan pak pendeta yang melayankan ibadah pemakaman (yang baru kali itu aku dengar nama gerejanya yang “aneh”: berbahasa Batak tapi bukan HKBP …) cukup mengambil sekepal tanah kering yang sudah disediakan petugas pemakaman dalam baskom eksklsuif saat memulai acara penguburan dengan menyebutkan nama almarhum. Demikian juga keluarga dan kerabat, sehingga menurutku kurang “sakral” karena ‘nggak terdengar bunyi khas tanah yang dilempar mengenai peti mati …

Sintua T. M. Pasaribu, Tanah Kusir, Jakarta

Almarhum adalah teman sepelayananku di HKBP Immanuel Kelapa Gading di Jakarta. Hampir pensiun sebagai penatua, berusia 63 tahun, dan sudah hampir setahun ini tidak aktif melayani di jemaat karena sakit yang dideritanya. Kami sudah beberapa kali melakukan ibadah di kediaman almarhum untuk menguatkannya dan keluarganya dalam menghadapi masa-masa yang penuh tantangan, tentunya.

Sudah menjadi tekadku untuk berusaha keras menghadiri ibadah pelepasan jenazah sesama pelayan di gereja. Penghormatan terakhir yang dilakukan oleh teman sesama pelayan bapakku ketika ibadah yang sama di gereja beberapa tahun yang lalu di Medan ketika beliau meninggal, benar-benar menginspirasiku karena adegan tersebut sangat menyentuh hatiku. “Dumenggan do mandohoti ulaon habot ni roha sian pesta las ni roha, lae …”, jawabku kepada seorang teman ketika dia “kaget” atau “heran” melihatku jauh-jauh datang dari Bandung pada siang hari itu.

Biasanya aku tidak sampai mengantar ke kuburan. Alasannya adalah supaya tidak kemalaman sampai ke Bandung. Namun kali itu, aku tidak bisa menolak permintaan pak pendeta karena cuma kami berdua (dengan penatua Tobing yang lain) yang punya kendaraan, sementara penatua ibu-ibu sangat mengharapkan adanya tumpangan. Selain itu, aku mengira lokasi pekuburannya tidaklah jauh dari Kelapa Gading, sehingga menduga, sore pasti sudah selesai pemakaman aku bisa langsung pulang ke Bandung.

Memang rombongan datang tepat waktu (berbeda dengan keluarga almarhum penatua beberapa bulan yang lalu yang tiba di gereja sudah menjelang sore sehingga pemakaman dilakukan menjelang malam hari), namun jauhnya lokasi dan kemacetan lalu lintas karena hujan, membuat semuanya menjadi tertunda.

Komplek pemakaman relatif baik. Ada petugas parkir (tak berseragam resmi …) yang mengarahkan kami ke komplek pekuburan Kristen yang tersembunyi, yang sangat berbeda dengan pekuburan Islam yang terletak di depan. Ada tenda sederhana untuk pelayat. Ada beberapa petugas (satu orang memakai kaos bertuliskan Front Betawi Rempug, salah satu ormas yang seringkali “berseberangan” dengan kegiatan gereja …). Tanah becek,  sehingga aku sempat berujar kepada pak pendeta yang membungkus sepatu yang dipakai di kakinya dengan plastic, “Jaga, Amang … so tung sanga tarsulandit”.  Waktu meninggalkan komplek pemakaman pun aku sempat berkata, “Porlu do ra diparade hurianta sipatu bot laho pangkeon molo adong ulaon di udan si songon on …”

Upacara pemakaman berlangsung secara normal. Ada suara ‘dugh … dugh …” ketika pak pendeta melontarkan tanah basah dengan cangkul dan tanah jatuh menimpa peti putih dengan asesori lukisan perjamuan terakhir. Lagu-lagu yang dinyanyikan dan agenda yang dipakai membuat rasa “kehilanganku” ketika menghadiri pemakaman “semi-HKBP” sehari sebelumnya jadi terpuaskan.

Nasa Jolma Ingkon Mate …

Dalam perjalanan pulang ke Bandung yang disupiri oleh office boy, aku sempat merenung. Semuanya pasti akan menghadap Tuhan untuk mempertanggungjawabkan kehidupannya di dunia ini. Tiada seorangpun yang mampu menolaknya. Dari perenungan itu, aku pun mengunduh status di facebook-ku dengan menyitir lagu dari Buku Ende HKBP, “Nasa jolma ingkon mate … Na pogos nang na mora pe …”.

Selamat jalan, para pendahulu …

Andaliman – 149 Khotbah 30 Oktober 2011 Minggu XIX setelah Trinitatis

Siapa yang Layak …

Nas Epistel:  Lukas 1:67-80

1:67 Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya:

1:68 “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,

1:69 Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,

1:70 –seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus–

1:71 untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita,

1:72 untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus,

1:73 yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita,

1:74 supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut,

1:75 dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.

1:76 Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya,

1:77 untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka,

1:78 oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi,

1:79 untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”

1:80 Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.

Nas Evangelium: Mazmur 15:1-5 (bahasa Batak Psalmen)

15:1 Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?

15:2 Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,

15:3 yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;

15:4 yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;

15:5 yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.

Nas perikop Minggu ini menceritakan tentang Zakaria, yang semula dihukum oleh Tuhan karena ketidakpercayaannya akan janji yang disampaikan malaikat Tuhan ketika gilirannya sebagai imam di bait Allah bahwa isterinya Elisabet akan mengandung anak baginya. Sesuatu yang sulit aku bayangkan jika hal itu terjadi padaku: di doaku saat bertugas di bilut parhobasan, Tuhan menjawab bahwa Dia akan mengabulkan permohonan yang sudah sangat lama aku rindukan, namun aku tidak percaya …. Ada apa dengan keimananku? Jika di gereja pun ada jawaban Tuhan dan disampaikan oleh “wakil Tuhan”, namun tetap aku meragukan semuanya. Sekali lagi, ada apa dengan keimananku? Zakaria dibikin bisu sampai anaknya (memang benar-benar) lahir.

Siapakah Zakaria, sehingga ia benar-benar layak menerima kuasa untuk bernubuat? Ia penuh dengan Roh Kudus, artinya dilengkapi dengan kelengkapan yang luar biasa untuk maksud ini. Mendapat ilham dari surga. Allah bukan hanya mengampuni ketidakpercayaan dan kesangsiannya, tetapi juga sebagai contoh anugerah melimpah yang disediakan bagi orang-orang percaya. Alangkah luar biasanya Allah. Luar biasa kebaikan-Nya. Ketidakpercayaan Zakaria masih diberi “ganjaran” dengan kuasa Roh Kudus yang memampukannya untuk bernubuat (aku membayangkan dalam kegoyahan imanku, namun Tuhan tetap menjawab kerinduanku dengan berkat-Nya yang melimpah setelah melewati ujian yang berat …)

 Hal pertama yang diucapkan oleh Zakaria adalah pujian bagi Tuhan. Begitulah orang yang dipenuhi Roh Kudus, apa yang keluar dari panca inderanya dan perbuatannya adalah hanya kemuliaan bagi Tuhan. Tidak sedikit pun ia menyebut-nyebut kepentingan pribadi dan keluarganya. Sebaliknya, dalam nyanyian ini ia sepenuhnya berbicara mengenai kerajaan Mesias dan berkat bagi orang banyak.

Kelayakan tersebut jugalah yang dipesankan oleh Mazmur dalam nas perikop Ev Minggu ini. Orang-orang yang layak tinggal di bait Allah, artinya orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Orang-orang yang layak tinggal bersama Allah dan menerima upah di dalam kerajaan kekal. Antara lain disebutkan: berlaku tidak bercela, adil, mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, tidak menyebarkan fitnah, tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya, memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi, tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. 

‘Gimana, layak? Masih layak?

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Minggu ini adalah hari peringatan akan Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther yang menampilkan dalil-dalil yang memprotes Gereja pada masa itu yang kemudian melahirkan Protestan. Dan hal-hal yang melayakkan sebagaimana dicantumkan dalam Mazmur yang menjadi nas perikop Ev Minggu ini adalah merefleksikan tindakan Luther yang memperjuangkan kembalinya Gereja kepada “khittah-nya”, yakni Gereja yang menjadikan Kristus sebagai kepalanya dengan semboyan yang populer sampai sekarang tentang keselamatan dengan istilah sola Fide (hanya karena iman), sola Gratia (hanya oleh kasih karunia belaka), dan sola Scriptura (oleh karena firman semata).

Sebagai orang Kristen (Batak, dan HKBP pula …), semangat Luther haruslah kita bawa dan terapkan dalam kehidupan kita saat ini. Dalam setiap sendi kehidupan. Dalam situasi kehidupan di negara kita yang sangat kacau (bacalah di koran dan majalah serta media massa lainnya dan saksikan di televisi yang sangat banyak saat ini bermunculan dengan memanfaatkan alam kebebasan berpendapat …) yang sangat sulit mendapatkan model yang layak dijadikan panutan, dengan menjalankan criteria tersebut di atas, pastilah kita akan menjadi orang yang sangat berbeda dengan dunia ini. Dengan perbedaan yang mencolok, tentulah orang-orang akan melihat kita yang berbeda tersebut: menjadi teladan Kristus sekaligus saksi Kristus dalam kehidupan kita saat ini.

Atau, malah sudah? Puji Tuhan, kalau memang sudah!

Penahbisan Penatua dan Pembaptisan Anak di HKBP Resort Bandung Riau, “Jemaat Perjuangan” …

Memenuhi undangan yang disampaikan Minggu sebelumnya, kemarin aku menghadiri ibadah di salah satu jemaat HKBP di Bandung yang sedang berjuang (itulah sebabnya aku lebih suka menyebutkannya sebagai “jemaat perjuangan” …). Dulunya mereka bergabung di HKBP Jalan Riau, lalu pergi mendirikan jemaat seperti sekarang ini. Karena tidak tercantum di Almanak HKBP, maka tidak ada pendeta sebagai pelayan tetap sebagaimana jemaat-jemaat “normal” lainnya. Aku ‘nggak paham dengan sejarahnya (bukankah sejarah biasanya dibuat oleh para pemenang?) dan ‘nggak mau terlalu mengurusi hal-hal di masa lalu, karena yang penting bagiku adalah masa kini dan masa depan …

Dari beberapa kali menghadiri ibadah di jemaat ini – dan beberapa kali menjadi pelayan saat ibadah Minggu – biasanya yang hadir tidak lebih dari 100 orang. Meminjam ruangan di Bagian Keuangan Kodam Siliwangi di jalan Sumatera, ibadah dilakukan setelah ruangan tersebut “dialih-fungsikan” menjadi “gereja” dengan menempelkan salib hitam yang lumayan besar di dinding dan podium yang dijadikan mimbar khotbah dengan asesori salib. Oh ya, juga meja di depan diberikan ulos sebagai penutup taplaknya yang menambah kesan “kehakabepeannya”. Di atas meja tersebut diletakkan kantung persembahan yang terbuat dari rotan dan  berwarna emas. Meja itu pula yang sangat membantuku kala menjadi pemimpin ibadah sebagai tempat meletakkan Bibel dohot Buku Ende HKBP bergantian dengan Agenda HKBP yang selalu aku pegang.

Enam Calon, Dua Yang Jadi …

Minggu pagi itu aku sempat kaget manakala berada di pintu gerbang markas tentara di jalan Sumatera tersebut. Di pinggir jalan sudah penuh dengan motor dan mobil yang parkir. Kendaraan juga ‘nggak diperbolehkan masuk ke halaman gedung yang biasanya dipakai sebagai tempat ibadah. Ternyata halaman bangunan tersebut sedang ada kegiatan perayaan hari ulang tahun tentara.

Sudah jam sembilan kurang beberapa menit. Auli dan mak Auli di mobil pun sempat bertanya-tanya. Apakah ‘nggak ada ibadah? ‘Nggak mungkin, pikirku. Apalagi hari Minggu ini dijadualkan penahbisan penatua dan pembaptisan anak. Untungnya aku masih menyimpan nomor telepon salah seorang aktivis jemaat, dan segeralah aku tahu bahwa ibadah Minggu dipindahkan ke Lembaga Farmasi Kodam yang terletak di jalan Gudang Utara. Penjemputan yang semula ditawarkan oleh inang sintua tersebut (dan kami kurang berkenan dengan “keistimewaan” tersebut …) untungnya kemudian ‘nggak kami perlukan, karena melihat ada seorang inang sintua yang juga mengalami nasib yang sama dengan kami yang kemudian menumpang di mobil kami untuk sama-sama ke tempat acara ibadah yang sudah dipindahkan lokasinya tersebut.

Setelah sempat “‘nyasar” ke satu gedung pertemuan di lokasi yang berseberangan – karena melihat ada acara adat Batak yang ternyata ada pesta – kami pun sampai ke gedung Lembaga Farmasi dimaksud. Ruangannya lebih baik daripada yang di jalan Sumatera yang selama ini dipakai untuk ibadah Minggu. Ada AC, jadi ruangannya sejuk walaupun saat itu banyak hadirin.

Setiap orang yang aku salami pagi itu, selalu pertanyaan yang pertama meluncur dari mereka adalah, “Kenapa ‘nggak bawa jubah?“. Tentu saja aku ‘nggak bawa jubah karena tidak berugas melayani ibadah Minggu. Lagian, ‘nggak ada permintaan sebelumnya untuk ikut prosesi dengan “jubah kebesaran penatua” tersebut. Itu pulalah sebabnya aku bertahan untuk tidak menerima tawaran untuk memakai satu jubah baru yang ternyata ada seorang calon sintua yang ‘nggak bisa hadir untuk ditahbiskan karena sedang tugas di luar Bandung. Beliau adalah seorang komisaris polisi yang masih aktif …

Hari itu ada dua orang calon sintua yang ditahbiskan oleh Amang Pendeta Anson R Tambunan, STh, MA. Dua-duanya bermarga Sinaga. Padahal, Minggu sebelumnya diwartakan bahwa ada 6 calon penatua yang akan ditahbiskan menjadi penatua (walaupun saat itu ada yang spontan mengambil mik dan menyampaikan bahwa dirinya ‘nggak mau disebut sebagai “calon sintua” yang belakangan aku dapat info bahwa isterinya belum bersedia menjadi nyonya sintua …). Ke mana yang 4 lagi yang Minggu saat hari-H tersebut ‘nggak kelihatan? Selain pak polisi yang sedang tugas luar kota, yang lainnya “tanpa kabar berita” …

Amang Sintua Tobing Salah Satu Inspirator …

Usai ibadah, ada acara bersalam-salaman sekaligus menyampaikan selamat bagi penatua yang baru dilantik dan selamat bagi keluarga yang hari itu anaknya dibaptis, kami  mendapat giliran terakhir maju ke depan. Ini sesuai dengan prinsip yang aku anut dan coba aku ajarkan pada keluarga, yakni selalu mendahulukan orang lain … Aku terkejut ketika seorang penatua yang baru dilantik tersebut membalas ucapan selamat menjadi pelayan jemaat dariku dengan berkata (dalam bahasa Batak), “Amang juga yang menjadi salah seorang pendorong sehingga saya mau menjadi penatua dan ditahbiskan di jemaat ini sekarang ini …“.

Semula aku mengira itu sekadar basa-basi (ini kayaknya berdasarkan pengalaman sendiri selama ini yang sering berbasa-basi, hehehe …), tapi ternyata hal serupa disampaikan beliau ketika mendapat kesempatan mandok hata. Bahkan pakai memintaku untuk berdiri segala pula supaya dilihat dan diketahui oleh orang-orang yang hadir saat itu. Meski salah dalam menyampaikan perusahaan tempatku bekerja saat ini, namun apa yang disampaikan beliau terasa mengejutkan, “Secara khusus saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Amang Sintua Tobing yang memberikan saya semangat untuk melayani dan menjadi sintua di jemaat kita yang kecil ini. Bukan saya ‘nggak bisa dan ‘nggak mau menjadi sintua di gereja yang besar tempat kita dulu berjemaat, tapi karena Tuhan menetapkan saya hari ini menjadi sintua di jemaat kita ini. Amang Sintua Tobing ini bekerja di PT Indofood di Bandung, namun masih terus melayani menjadi sintua di Jakarta dan bersedia melayani kita di Bandung ini kalau sedang tidak bertugas di Jakarta. Jarak yang sudah jauh tersebut bukan menjadi penghalang untuk tetap melayani. Bagaimana pula saya yang tinggal di Bandung, masak ‘nggak bisa dan ‘nggak bersedia menjadi sintua di Bandung …”.

Puji Tuhan kalau ternyata hidupku ini masih bisa menjadi inspirasi yang positif bagi orang-orang di sekitarku. Dan yang paling penting: bukan aku, melainkan untuk kemuliaan Dia yang mengutus aku menjadi pelayan di jemaat-Nya …

Andaliman – 148 Khotbah 23 Oktober 2011 Minggu XVIII setelah Trinitatis

Kasih, Sesuatu yang Luar Biasa. Tiada Banding, dan Tiada Tanding!

Nas Epistel:  1 Yohanes 4:17-21

4:17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.

4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

4:20 Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

4:21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

Nas Evangelium: Lukas 15:11-24

15:11 Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.

15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.

15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.

15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.

15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,

15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.

15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.

15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.

15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.

Tentang kasih. Yang satu – nas Ep – membiacarakan tentang prinsip kasih yang sangat mendasar, satunya lagi –nas Ev – menceritakan tentang kekuatan yang dimiliki oleh kasih dalam mengampuni. Keduanya sama luar biasanya! Dan keduanya menegurku dengan sangat keras!

Kasih tidak membiarkan ada rasa takut, Padahal aku masih seringkali diliputi rasa takut. Rasa takut akan beberapa hal. Utamanya masa depan yang seringkali tidak mengandung kepastian.

Kasih juga mengampuni. Adalah bohong kalau mengaku sebagai mengasihi Allah namun masih belum bisa berdamai dengan saudara-saudaranya. Jujur saja, hal ini membawaku pada membayangkan wajah beberapa orang saudaraku. Duh, betapa ‘nggak pantasnya aku ini …

Kasih yang mema’afkan adalah kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh kasih. Bagi yang pernah dilukai (seperti yang dialami oleh bapak yang ditinggalkan anaknya untuk berfoya-foya seperti dalam nas Ev Minggu ini …), maupun mengalahkan kecemburuan (sebagaimana tanggapan si abang terhadap adiknya yang pulang dan malah mendapat perlakuan istimewa dari bapaknya …). Sangat menyentuh … Membayangkannya saja aku merasakan ada getaran dalam diriku …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Dalam “lakon” yang berhubungan perlakuan kasih dalam keseharian kita, seringkali memosisikan diri kita sebagai oknum yang berbeda. Apakah sebagai sang bapak yang sangat bersukacita dengan kepulangan anaknya walaupun sudah pernah melukai hatinya dengan sangat dengan meminta warisan lalu pergi hidup berfoya-foya. Peran ini benar-benar melukiskan Allah Bapa sebagai pengampun dan selalu menantikan pertobatan kita dengan sukacita.

Atau sebagai sang anak bungsu yang merasa dirinya hebat, dengan cara meminta bagiannya lalu pergi bersenang-senang dengan hidup tanpa tujuan yang jelas dan berarti. Ini gambaran kita sebagai orang yang seringkali lebih memilih menjadi anak hilang. Namun, ada baiknya, yakni sang anak bungsu masih ingat pulang dan menyesali dirinya kepada bapaknya. Puji Tuhan, bilamana dalam setiap hidup kita yang tersesat kita masih selalu ingat kepada jalan yang benar, yaitu kembali ke pangkuan Bapa.

Atau malah sebagai anak sulung yang cemburu dan marah karena perlakuan bapaknya yang sangat bersukacita? Kita malah ‘nggak suka pada orang-orang yang bertobat dan mencemburui mereka karena kemudian memperoleh berkat yang melebihi kita. Atau bahkan marah kepada Tuhan karena merasa tidak pernah diperlakukan istimewa?

Pilihannya ada pada kita masing-masing. Pilihlah yang paling baik untuk dijadikan sebagai teladan dalam hidup. Karena salah memilih, berarti salah dalam hidup yang pada akhirnya hanya bisa disesali saja.