Andaliman – 146 Khotbah 09 Oktober 2011 Minggu XVI setelah Trinitatis

Kuasa Batu Penjuru dan Jadilah Batu yang Hidup …

Nas Epistel:  Kisah Rasul 4:5-12 (bahasa Batak Ulaon Apostel)

4:5 Pada keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem

4:6 dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar.

4:7 Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: “Dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah kamu bertindak demikian itu?”

4:8 Maka jawab Petrus, penuh dengan Roh Kudus: “Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua,

4:9 jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu kebajikan kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa manakah orang itu disembuhkan,

4:10 maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel, bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati–bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dengan sehat sekarang di depan kamu.

4:11 Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan–yaitu kamu sendiri–,namun ia telah menjadi batu penjuru.

4:12 Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”

Nas Evangelium: Mazmur 118:22-29 (bahasa Batak Psalmen)

118:22 Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.

118:23 Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.

118:24 Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!

118:25 Ya TUHAN, berilah kiranya keselamatan! Ya TUHAN, berilah kiranya kemujuran!

118:26 Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN! Kami memberkati kamu dari dalam rumah TUHAN.

118:27 Tuhanlah Allah, Dia menerangi kita. Ikatkanlah korban hari raya itu dengan tali, pada tanduk-tanduk mezbah.

118:28 Allahku Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu, Allahku, aku hendak meninggikan Engkau.

118:29 Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Batu yang dibuang, lalu jadi batu penjuru. Begitulah analogi yang dipakai oleh Injil menggambarkan keselamatan yang ditawarkan kepada orang Israel pada mulanya, ditolak oleh bangsa Israel ( = Yahudi) dengan ketidakpercayaan pada Yesus sebagai mesias (karena menganggap Yesus berbeda dengan konsepsi pemikiran Yahudi tentang juru selamat …), lalu disampaikan kepada semua bangsa di seluruh dunia. Andai keselamatan diterima oleh orang Israel langsung pada zaman Yesus, apakah keselamatan juga disampaikan kepada bangsa-bangsa lain? Dengan iman penuh, aku jawab: ya! Karena karya keselamatan adalah memang skenario Allah Bapa, ada atau tidak ada bangsa Israel, rencana tersebut pasti terlaksana! Dan tidak ada yang bisa menghalanginya …

Penantangan (bahkan cenderung kepada penentangan), itulah yang terjadi dengan para pembesar Yahudi sebagaimana diceritakan pada nas perikop Ep Minggu ini. Merasa paling berkuasa dari apa dan siapapun juga, mereka meragukan Yesus yang adalah Tuhan dan juru selamat. Dan tidak bisa menerima keberadaan-Nya yang memang “apa adanya”, akibatnya mereka kecewa, lalu pergi meninggalkan-Nya (bahkan kemudian membunuh-Nya).

Dengan sangat rendah hati, Yesus mengibaratkan semua hal itu sebagai batu-batu pembangun suatu bangunan. Dibuang, namun kemudian disusun-kembali menjadi suatu bangunan yang kokoh dan tidak roboh sampai berabad-abad. Bahkan sampai dunia berakhir …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Seringkali sesuatu terjadi jauh berbeda dengan apa yang kita pikirkan semula. Israel yang bertahun-tahun mengenal dan berinteraksi secara fisik dengan Yesus, secara langsung, muka dengan muka, ternyata bukan jaminan bersedia menerima keberadaan Yesus sebagai juru selamat yang berabad-abad sebelumnya sudah dinubuatkan oleh nabi-nabi Israel yang secara turun-temurun sangat dipercaya oleh mereka.

Sesuatu yang dipercaya berabad-abad, dinantikan sudah sangat lama – dari generasi ke generasi – dan begitu hadir dalam kehidupan … ternyata tidak diakui sendiri, karena tidak sesuai dengan gambaran yang selama ini terbentuk dalam pola pikir mereka! Hal yang sama mungkin berulangkali terjadi dalam kehidupan kita. Yang lama diidam-idamkan, namun setelah ada di pelupuk mata, ternyata membuat kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang digambarkan semula. Akhirnya membuat kita pergi meninggalkan dengan perasaan kecewa.

Dalam kehidupan sekarang, ini bisa terjadi dengan pekerjaan, keluarga (anak, suami, dan atau isteri), kehidupan perkawinan, dan bahkan gereja. Juga pelayanan, lho! Mari kita lihat:

(1)   Tamat kuliah, masuk kerja di perusahaan yang sudah kita idam-idamkan saat masih kuliah, eh … begitu benar-benar bekerja (dan tentu saja langsung mengalami situasi, kondisi, dan dinamika pekerjaan yang tentu saja tidak selalu menyenangkan …) kita menghadapi kesulitan, lalu kecewa. Meninggalkannya? Bisa saja, lalu pindah bekerja ke tempat lain …

(2)   Setelah berpacaran, lalu menikah, dan membayangkan yang indah-indah sebagaimana dirancang sebelum menikah. Seiring perjalanan waktu (dan tidak ada lagi yang “tersembunyi” …) berulangkali mengalami kehidupan yang pasang-surut, akhirnya kecewa. Meninggalkannya? Bisa jadi, lalu bercerai (tapi – sebagai hamba Tuhan – aku tidak menyarankannya …)

(3)   Berjemaat dan atau menjadi pelayaan jemaat, juga akan begitu. Semula membayangkan bahwa semua orang yang bekerja di ladang Tuhan pastilah orang-orang baik (atau orang baik-baik?). Namun, setelah benar-benar terjun ke dalamnya (yang tentu saja langsung melihat “apa adanya” …), suatu kali melihat “keberdosaan pelayanan” (karena memang di gereja adalah tempat-tempat orang yang penuh dengan dosa …), lalu menjadi kecewa. Meninggalkannya? Bagi yang tidak kuat, besar kemungkinan akan pergi ke jemaat yang lain. 

Perikop Minggu ini mengingatkan kita untuk kembali. Bukan kepada manusia, dan juga gereja. Melainkan kepada Kristus yang adalah Kepala Gereja. Menjadikan-Nya sebagai penguasa kehidupan kita. Dan yang paling penting, mengakui keberadaan-Nya dan kuasa-Nya dalam kehidupan kita …

Bukan yang lain …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s