Andaliman – 147 Khotbah 16 Oktober 2011 Minggu XVII setelah Trinitatis

Batu dan Susu … (Masih Tentang Batu Penjuru …)

Nas Epistel:  1 Petrus 2:1-10

2:1 Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.

2:2 Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan,

2:3 jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan.

2:4 Dan datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormat di hadirat Allah.

2:5 Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.

2:6 Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu yang terpilih, sebuah batu penjuru yang mahal, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.”

2:7 Karena itu bagi kamu, yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan.”

2:8 Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan untuk itu mereka juga telah disediakan.

2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:

2:10 kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi yang sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi yang sekarang telah beroleh belas kasihan.

Nas Evangelium: Kolose 2:6-7 (bahasa Batak Kolosse)

2:6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.

2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Nas Ep Minggu ini masih sangat berhubungan dengan perikop Minggu lalu. Tentang Yesus yang menganalogikan diri-Nya sebagai batu yang dibuang oleh tukang bangunan yang kemudian menjadi batu penjuru. Ditolak oleh bangsa Israel sebagai juru selamat, malah kemudian menjadi juru selamat dunia.

Waktu membawakannya dalam partangiangan wejk di rumah kontrakan kami di Bandung (kawan-kawan dari Jakarta datang dan bermalam di rumah, alangkah membahagiakannya …) di screen yang aku tayangkan di dinding, topiknya aku beri judul “Batu dan Susu”.

Menjadikan seperti bayi yang baru lahir yang selalu haus akan susu yang murni, begitulah orang percaya yang baru “lahir kembali”. Layaknya bayi yang hanya hidup dari susu yang murni, demikianlah orang percaya harusnya hanya mengandalkan firman Tuhan sebagai landasan hidupnya. Bukan yang lain.

Dengan demikian, orang-orang percaya kemudian menjadi batu-batu pendiri gereja di mana Yesus adalah batu penjuru dan sekaligus kepala gereja. Gereja bukanlah gedungnya, bukan pula bangunannya. Diri orang percaya adalah juga gereja, bait Allah, bilamana menjadi imamat yang rajani. Berbeda dengan zaman Perjanjian Lama di mana hanya imam yang bisa berkomunikasi dengan Tuhan “secara langsung”, dengan kebangkitan Kristus maka tirai pembatas antara imam dan “warga jemaat biasa” sudah dikoyak, sehingga semua orang percaya dapat secara langsung berkomunikasi dengan Tuhan. Dengan Yesus sebagai perantara kepada Allah Bapa.

Dan perlu berhati-hati juga, karena ada potensi yang tersembunyi di balik itu semua, karena iman kepada Yesus sebaliknya bisa pula menjadi batu sandungan. Artinya, kalau hidup sebagai orang percaya malah menjadi kesaksian yang negatif bagi orang-orang di sekitar. Lihatlah para pembuat berita besar di Republik ini belakangan hari ini. Seringkali melibatkan orang Batak, Kristen pula. Sayangnya, kebanyakan tentang hal-hal negatif, yakni korupsi, manipulasi, dan hal-hal buruk lainnya. Apakah itu bukan berarti kekristenan yang mereka sandang malah menjadi kesaksian buruk tentang iman kristiani? Itulah sebabnya, suatu kali aku punya kerinduan – dan pernah aku sampaikan kepada kawan-kawanku – daripada bikin stiker yang biasa-biasa saja saat perayaan ulang tahun gereja, kenapa ‘nggak coba bikin stiker yang bertulisan: “Sudah Batak, Kristen Pula … Koq Masih Korupsi?”.

Sejalan dengan pesan yang ingin disampaikan oleh nas perikop Ev Minggu ini, orang-orang percaya yang teguh dan setia itulah yang kemudian menjadi saksi-saksi Kristus. Jadi, orang lain bisa melihat Kristus melalui kelakuan terpuji dari orang-orang percaya yang secara kasat mata dapat terlihat oleh mereka, Bukan harus melalui figur Yesus sebagaimana yang dikenal oleh orang kebanyakan saat ini: berhidung mancung, postur tubuhnya tinggi, bermata biru …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Menjadi saksi bagi Kristus dalam kehidupan sehari-hari, itulah tantangan nyata yang sebenarnya harus kita hadapi dan kita lakukan dalam hidup ini. Sebagai orang yang hidup dalam dunia heterogen (hampir susah menemukan tempat yang homogen sekarang ini di bumi ini …), bagaimana menerapkan nilai-nilai kekristenan sebagaimana Yesus lakukan selama hidupnya di dunia adalah merupakanan tantangan bagi kita sekarang ini.

Bukan hanya karena hidup di lingkungan “non-Kristen”. Bahkan di gereja pun kita harus mempersaksikan imam kristiani kita. Lho, kenapa? Bukankah bila di lingkungan gereja semua orangnya baik-baik sehingga menjadi lebih mudah diatur? Siapa bilang? Bahkan pertentangan dan hal-hal buruk relatif mudah kita temukan dalam kehidupan berjemaat.

Sebagai pelayan jemaat, pun sebagai warga jemaat biasa, tantangan untuk membuat lingkungan kita sebagai lahan yang subur untuk kesaksian yang bukan malah menjadi batu sandungan, harus kita wujudkan. Mulailah dengan lingkungan terdekat: keluarga, jemaat, dan meluas pada spectrum yang lebih luas. Dari waktu ke waktu, bukan hanya sewaktu-waktu …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s