Andaliman – 148 Khotbah 23 Oktober 2011 Minggu XVIII setelah Trinitatis

Kasih, Sesuatu yang Luar Biasa. Tiada Banding, dan Tiada Tanding!

Nas Epistel:  1 Yohanes 4:17-21

4:17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dalam dunia ini.

4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.

4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.

4:20 Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

4:21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

Nas Evangelium: Lukas 15:11-24

15:11 Yesus berkata lagi: “Ada seorang mempunyai dua anak laki-laki.

15:12 Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik kita yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka.

15:13 Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya.

15:14 Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan iapun mulai melarat.

15:15 Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang majikan di negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya.

15:16 Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorangpun yang memberikannya kepadanya.

15:17 Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan.

15:18 Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,

15:19 aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.

15:20 Maka bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

15:21 Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa.

15:22 Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya.

15:23 Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.

15:24 Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Maka mulailah mereka bersukaria.

Tentang kasih. Yang satu – nas Ep – membiacarakan tentang prinsip kasih yang sangat mendasar, satunya lagi –nas Ev – menceritakan tentang kekuatan yang dimiliki oleh kasih dalam mengampuni. Keduanya sama luar biasanya! Dan keduanya menegurku dengan sangat keras!

Kasih tidak membiarkan ada rasa takut, Padahal aku masih seringkali diliputi rasa takut. Rasa takut akan beberapa hal. Utamanya masa depan yang seringkali tidak mengandung kepastian.

Kasih juga mengampuni. Adalah bohong kalau mengaku sebagai mengasihi Allah namun masih belum bisa berdamai dengan saudara-saudaranya. Jujur saja, hal ini membawaku pada membayangkan wajah beberapa orang saudaraku. Duh, betapa ‘nggak pantasnya aku ini …

Kasih yang mema’afkan adalah kekuatan luar biasa yang dimiliki oleh kasih. Bagi yang pernah dilukai (seperti yang dialami oleh bapak yang ditinggalkan anaknya untuk berfoya-foya seperti dalam nas Ev Minggu ini …), maupun mengalahkan kecemburuan (sebagaimana tanggapan si abang terhadap adiknya yang pulang dan malah mendapat perlakuan istimewa dari bapaknya …). Sangat menyentuh … Membayangkannya saja aku merasakan ada getaran dalam diriku …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Dalam “lakon” yang berhubungan perlakuan kasih dalam keseharian kita, seringkali memosisikan diri kita sebagai oknum yang berbeda. Apakah sebagai sang bapak yang sangat bersukacita dengan kepulangan anaknya walaupun sudah pernah melukai hatinya dengan sangat dengan meminta warisan lalu pergi hidup berfoya-foya. Peran ini benar-benar melukiskan Allah Bapa sebagai pengampun dan selalu menantikan pertobatan kita dengan sukacita.

Atau sebagai sang anak bungsu yang merasa dirinya hebat, dengan cara meminta bagiannya lalu pergi bersenang-senang dengan hidup tanpa tujuan yang jelas dan berarti. Ini gambaran kita sebagai orang yang seringkali lebih memilih menjadi anak hilang. Namun, ada baiknya, yakni sang anak bungsu masih ingat pulang dan menyesali dirinya kepada bapaknya. Puji Tuhan, bilamana dalam setiap hidup kita yang tersesat kita masih selalu ingat kepada jalan yang benar, yaitu kembali ke pangkuan Bapa.

Atau malah sebagai anak sulung yang cemburu dan marah karena perlakuan bapaknya yang sangat bersukacita? Kita malah ‘nggak suka pada orang-orang yang bertobat dan mencemburui mereka karena kemudian memperoleh berkat yang melebihi kita. Atau bahkan marah kepada Tuhan karena merasa tidak pernah diperlakukan istimewa?

Pilihannya ada pada kita masing-masing. Pilihlah yang paling baik untuk dijadikan sebagai teladan dalam hidup. Karena salah memilih, berarti salah dalam hidup yang pada akhirnya hanya bisa disesali saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s