Mas Anang, Sang “Pembaca Karakter”

Usai upacara adat perkawinan lae-ku di Jember, di sela-sela pembicaraan sambil menunggu acara manjangkon parumaen di rumah tulang-ku, tiba-tiba aku dipanggil tulang yang menjadi suhut pada hari itu, “Kamu ikut waktu jalan-jalan ke Denpasar saat itu, ‘kan? Tentu masih ingat dengan orang ini …” . Agak kaget, tapi aku cepat mengingat apa yang dimaksud oleh tulang tersebut: saat masih mahasiswa di Medan aku dan ito-ku pernah liburan ke Jember (di rumah tulang tersebut saat masih aktif di RSU Dr. Subandi, di Patrang). ‘Nggak ada rencana – persisnya karena ‘nggak punya uang – mendadak tulang tersebut menawarkan kami untuk naik kereta api malam ke Denpasar. “Ada keluarga nantulang-mu yang kawin dengan orang Bali dan tinggal di Denpasar, namanya Anang. Di sana aja kalian bermalam. Nanti tulang titipkan surat untuk diberikan kepada mereka“,  kata tulang malam itu sambil membuka dompet doreng ala tentaranya dan mengeluarkan uang pembeli karcis kereta api buat kami. Semuanya baru, mungkin dipinjam beliau dari koperasi pegawai. Itulah yang sangat membekas bagiku, bagaimana seorang tulang berupaya untuk menyenangkan hati kami, bere-bere-nya … Itu pula yang menginspirasiku sebagai tulang dalam menghadapi bere-bere-ku sekarang ini. Mengingat itulah, salah satu yang menjadi dasar pertimbanganku untuk “memaksakan diri” hadir memenuhi undangan perkawinan lae-ku anak tulang ini. Mengambil cuti, meninggalkan national meeting di Jakarta, dan berlelah-lelah naik kereta api karena ongkos pesawat yang sangat mahal. Sendirian pula dari Bandung.

Mas Anang, Hampir Dua Puluh Tahun yang Lalu

Kembali terbayang situasinya saat itu, dan betapa baik dan ramahnya keluarga mas Anang. Masih keluarga muda dan belum punya anak, beliau pegawai negeri di Departemen Perhubungan. Orangnya ceria, malah terkesan santai dan “‘nge-gampangin”. Dengan sepeda motornya kami dibawa jalan-jalan di Denpasar selama berhari-hari. Karena berempat, kami pun menyewa satu sepeda motor lagi agar bisa mengunjungi banyak tempat: Sangeh yang banyak monyet yang suka mencuri, ke Tanah Lot, dan pasar senggol di tengah malam menjelang dini hari (aku ingat, kami “ditawari” mencicipi babi guling yang baru selesai dimasak sehingga kami sangat kenyang tanpa harus membeli …).

Hari-hari yang sangat menggembirakan. Bangun dan tidur sesuka hati (namanya juga liburan kuliah …), sarapan sudah disediakan oleh isteri beliau (yang memang sangat patuh …), lalu jalan-jalan seharian untuk kemudian pulang untuk mandi dan istirahat.

Mas Anang 2011

Bertemu dengan orang seperti itulah yang aku bayangkan saat malam itu ketika kami kembali bertemu di Jember setelah puluhan tahun tidak bertemu sama sekali. Dan aku memosisikan diriku sebagai orang yang sangat bahagia bertemu dengan orang yang dulu sangat membahagiakan. Ternyata? Oh my God, sangat jauh berbeda!

“Saya sekarang punya keahlian. Sebelum pensiun, saya belajar meditasi sehingga sekarang saya punya ilmu khusus”, katanya agak dingin sambil melepaskan tanganku yang tadi bersalaman sebentar.

“Wah, hebat. Berapa lama, mas?”, tanyaku masuh tetap berusaha gembira.

“Selama empat tahun”.

“Lama juga”, pikirku sambil membayangkan betapa hebatnya ilmu yang dipelajarinya itu.

“Sampeyan mau saya lihat situasinya? Ada berapa orang teman sekamar di kantor? Siapa aja namanya? Saya akan beritahu karakter masing-masing orang dan bagaimana sikapnya terhadap sampeyan. Sebut saja namanya masing-masing”, katanya berusaha untuk meyakinkanku. Tentu saja yang seperti ini tidak menarik buatku. Tapi, untuk menghargai, tentulah ‘nggak sopan kalau aku menolak “budi baiknya”.

Lalu aku sebutkan satu per satu nama anak buahku di kantor. Sambil komat-kamit dengan telunjuk tangan kanan yang bergerak-gerak bolak-balik, kemudian beliau menyampaikan analisanya. Tentu saja sangat berbeda dengan fakta yang aku hadapi selama ini. Ketika melihatku tidak mempercayai analisanya, dia pun berujar, “Bagaimana, cocok kan? Kalau berbeda, berarti mereka selama ini berpura-pura pada sampeyan. Hati-hati dengan dua orang yang jahat ini. Sampeyan harus percaya dengan apa yang saya sampaikan dan harus menjawab dengan jujur karena ini urusan pribadi sampeyan dengan Tuhan ..”, katanya sambil menunjuk dua nama di antara tujuh yang aku tulis pada secarik kertas kuitansi kartu kreditku.

Agar tidak terlalu kelihatan tidak percaya, dengan serius aku bertanya, “Bagaimana caranya mas Anang bisa mengetahui karakter orang-orang hanya dari namanya saja? Sedangkan aku yang tiap hari ketemu sama mereka saja belum tentu tahu semua tentang sifat mereka.”.

“Oh, iya, itulah makanya saya lama mempelajarinya. Sampeyan tahu ari-ari? Itu pusat bayi yang dipotong dan dikubur. Walaupun dikubur, dia tetap bertambah besar. Dan setiap orang selalu diikuti oleh ari-ari itu kemana pun dia pergi. Nah, saya berbicara dengan ari-ari tersebut“, katanya sangat serius yang membuatku malah ingin tertawa sekeras-kerasnya kalau tidak aku tahan di dalam perut …

Karakter Auli yang Hampir Pas yang Membuatku Hampir Percaya …

“Anak sampeyan ada berapa, dan umur berapa? Mau saya baca karakternya?“, katanya lagi yang terkesan semakin berupaya menunjukkan kemampuannya untuk meyakinkanku. Lalu dia “membaca” karakter, dengan menyebutkan informasi yang dia terima tentang anakku. Sempat terkesima sejenak, karena ada beberapa yang sangat pas dengan sifat anakku, si Auli; namun aku segera tersadar bahwa pekerjaan seperti ini masih ada hubungannya dengan teori kemungkinan.

Berbagai karakter yang disampaikan, tentu saja ada satu – paling tidak – yang pas dengan obyek yang sedang “dibaca” (tepatnya diduga …). Dan itu pernah aku pelajari ketika masih sekolah dulu di mata pelajaran Matematika.

“Kalau membaca masa depan bisa, mas? Misalnya, kalau anak buahku ini sekarang nakal, lalu tahun depan apakah dia masih akan nakal?“, tanyaku untuk menjebaknya. Kalau dia jawab bisa, sudah mudahlah aku simpulkan bahwa dia bohong belaka. Namun jawabannya yang mengatakan tidak bisa, malah tetap membuatku semakin tidak percaya, karena jawabannya begini, “Oh, ‘nggak bisa kalau membaca karakternya yang akan datang karena dia juga akan berubah sesuai dengan lingkungannya …”. Dasar!

Pamungkas yang Membuatku Sangat Puas

“Sampeyan mau saya baca juga? Tentang keimanan juga”, katanya. Dheg! Ini membuatku kaget, benar-benar ‘nggak menyangka. “Kalau pak Tonga dan si mbak di rumah ini saya yakin imannya sangat bagus. Saya bisa lihat dari sini. Coba lihat ini ..”, katanya sambil menggerakkan tangan kanannya yang mengingatkanku saat latihan pukulan ketika ikut tae kwon do bertahun-tahun lalu. Kemudian terdiam, lalu dia berkata, “Wah … sampeyan ini sangat berat ibadahnya. Keimanan juga sangat tipis …”. Profil wajahnya menunjukkan kemenangan besar terhadapku, dengan bibir yang agak mencibir.

Tentu saja aku terhenyak dan hampir tersinggung! Namun, sifat koreksi diri sendiri yang selama ini aku latih dan sangat aku terapkan dalam menghadapi semua hal, membuatku bertanya dalam hati, jangan-jangan dia benar bahwa aku hanya “sekadar” beribadah sebagai suatu kebiasaan yang belum tentu didorong oleh iman. Tanpa sadar aku bertanya, “Maksudnya apa, mas?”

“Sampeyan belum mengerti, ya? Malas beribadah, malas berdoa, tidak pergi ke gereja. Hari Minggu dipakai untuk jalan-jalan …”

“Masak sih begitu …”

“Lihat ini tangan saya ini. Ini kalau yang punya rumah ini. Lihat tangan saya tertahan, ‘nggak bisa langsung lurus karena mereka beriman. Kalau sampeyan ini, lihat longgar sekali. ‘Nggak ada hambatan karena ‘nggak punya iman. Makanya kalau hari Minggu harus pergi ke gereja …” Lalu, bla … bla … bla … nasehatnya meluncur deras. Yang ini tentu saja membuat geli setengah mati. Masih di dalam hati, tentunya, supaya dia jangan tersinggung …

Langsung saja pikiran warasku bekerja. Kalau yang punya rumah (tulang dan nantulang-ku) bisa dia simpulkan sebagai orang yang baik – dan beriman, katanya – karena dia mengenal mereka dengan baik sebagai kerabatnya. Kalau aku? Ketemu aja baru kali ini setelah lama tidak bersua. Namun, dengan tetap berusaha tenang, aku pun berucap, “Wah, hebat mas Anang kalau begitu. Bisa sampai membaca iman segala. Bisa jadi orang terkenal seharusnya sampeyan. Tapi, tentang aku, silakan aja bertanya kepada pak Tonga dan si mbak-nya yang punya rumah ini. Mereka pasti bisa menjawab apakah yang disampaikan sampeyan itu benar, karena mereka sangat mengenal aku. Monggo, mas …”, kataku seraya beranjak pamit meninggalkannya duduk di tikar di ruang tamu malam itu. Tak lama kemudian aku lihat dia mendekati tulang dan nantulang-ku yang sedang duduk-duduk di luar kamar bagian belakang di dekat dapur.

Tak lama kemudian si mas Anang sang pembaca karakter permisi pulang bersama keluarganya yang akan kembali ke Denpasar malam itu. Aku saat itu duduk di kursi di teras menunggu jam keberangkatan kereta api yang jadualnya jam 01 dini hari. Mungkin sudah mendapat jawaban yang sangat mengejutkannya tentang aku, dia berlalu tanpa berucap sepatah katapun seakan aku adalah orang yang tidak dikenalnya, atau seakan dia tidak melihat aku ada di situ.

Mas Anang, oh … mas Anang …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s