Penahbisan Penatua dan Pembaptisan Anak di HKBP Resort Bandung Riau, “Jemaat Perjuangan” …

Memenuhi undangan yang disampaikan Minggu sebelumnya, kemarin aku menghadiri ibadah di salah satu jemaat HKBP di Bandung yang sedang berjuang (itulah sebabnya aku lebih suka menyebutkannya sebagai “jemaat perjuangan” …). Dulunya mereka bergabung di HKBP Jalan Riau, lalu pergi mendirikan jemaat seperti sekarang ini. Karena tidak tercantum di Almanak HKBP, maka tidak ada pendeta sebagai pelayan tetap sebagaimana jemaat-jemaat “normal” lainnya. Aku ‘nggak paham dengan sejarahnya (bukankah sejarah biasanya dibuat oleh para pemenang?) dan ‘nggak mau terlalu mengurusi hal-hal di masa lalu, karena yang penting bagiku adalah masa kini dan masa depan …

Dari beberapa kali menghadiri ibadah di jemaat ini – dan beberapa kali menjadi pelayan saat ibadah Minggu – biasanya yang hadir tidak lebih dari 100 orang. Meminjam ruangan di Bagian Keuangan Kodam Siliwangi di jalan Sumatera, ibadah dilakukan setelah ruangan tersebut “dialih-fungsikan” menjadi “gereja” dengan menempelkan salib hitam yang lumayan besar di dinding dan podium yang dijadikan mimbar khotbah dengan asesori salib. Oh ya, juga meja di depan diberikan ulos sebagai penutup taplaknya yang menambah kesan “kehakabepeannya”. Di atas meja tersebut diletakkan kantung persembahan yang terbuat dari rotan dan  berwarna emas. Meja itu pula yang sangat membantuku kala menjadi pemimpin ibadah sebagai tempat meletakkan Bibel dohot Buku Ende HKBP bergantian dengan Agenda HKBP yang selalu aku pegang.

Enam Calon, Dua Yang Jadi …

Minggu pagi itu aku sempat kaget manakala berada di pintu gerbang markas tentara di jalan Sumatera tersebut. Di pinggir jalan sudah penuh dengan motor dan mobil yang parkir. Kendaraan juga ‘nggak diperbolehkan masuk ke halaman gedung yang biasanya dipakai sebagai tempat ibadah. Ternyata halaman bangunan tersebut sedang ada kegiatan perayaan hari ulang tahun tentara.

Sudah jam sembilan kurang beberapa menit. Auli dan mak Auli di mobil pun sempat bertanya-tanya. Apakah ‘nggak ada ibadah? ‘Nggak mungkin, pikirku. Apalagi hari Minggu ini dijadualkan penahbisan penatua dan pembaptisan anak. Untungnya aku masih menyimpan nomor telepon salah seorang aktivis jemaat, dan segeralah aku tahu bahwa ibadah Minggu dipindahkan ke Lembaga Farmasi Kodam yang terletak di jalan Gudang Utara. Penjemputan yang semula ditawarkan oleh inang sintua tersebut (dan kami kurang berkenan dengan “keistimewaan” tersebut …) untungnya kemudian ‘nggak kami perlukan, karena melihat ada seorang inang sintua yang juga mengalami nasib yang sama dengan kami yang kemudian menumpang di mobil kami untuk sama-sama ke tempat acara ibadah yang sudah dipindahkan lokasinya tersebut.

Setelah sempat “‘nyasar” ke satu gedung pertemuan di lokasi yang berseberangan – karena melihat ada acara adat Batak yang ternyata ada pesta – kami pun sampai ke gedung Lembaga Farmasi dimaksud. Ruangannya lebih baik daripada yang di jalan Sumatera yang selama ini dipakai untuk ibadah Minggu. Ada AC, jadi ruangannya sejuk walaupun saat itu banyak hadirin.

Setiap orang yang aku salami pagi itu, selalu pertanyaan yang pertama meluncur dari mereka adalah, “Kenapa ‘nggak bawa jubah?“. Tentu saja aku ‘nggak bawa jubah karena tidak berugas melayani ibadah Minggu. Lagian, ‘nggak ada permintaan sebelumnya untuk ikut prosesi dengan “jubah kebesaran penatua” tersebut. Itu pulalah sebabnya aku bertahan untuk tidak menerima tawaran untuk memakai satu jubah baru yang ternyata ada seorang calon sintua yang ‘nggak bisa hadir untuk ditahbiskan karena sedang tugas di luar Bandung. Beliau adalah seorang komisaris polisi yang masih aktif …

Hari itu ada dua orang calon sintua yang ditahbiskan oleh Amang Pendeta Anson R Tambunan, STh, MA. Dua-duanya bermarga Sinaga. Padahal, Minggu sebelumnya diwartakan bahwa ada 6 calon penatua yang akan ditahbiskan menjadi penatua (walaupun saat itu ada yang spontan mengambil mik dan menyampaikan bahwa dirinya ‘nggak mau disebut sebagai “calon sintua” yang belakangan aku dapat info bahwa isterinya belum bersedia menjadi nyonya sintua …). Ke mana yang 4 lagi yang Minggu saat hari-H tersebut ‘nggak kelihatan? Selain pak polisi yang sedang tugas luar kota, yang lainnya “tanpa kabar berita” …

Amang Sintua Tobing Salah Satu Inspirator …

Usai ibadah, ada acara bersalam-salaman sekaligus menyampaikan selamat bagi penatua yang baru dilantik dan selamat bagi keluarga yang hari itu anaknya dibaptis, kami  mendapat giliran terakhir maju ke depan. Ini sesuai dengan prinsip yang aku anut dan coba aku ajarkan pada keluarga, yakni selalu mendahulukan orang lain … Aku terkejut ketika seorang penatua yang baru dilantik tersebut membalas ucapan selamat menjadi pelayan jemaat dariku dengan berkata (dalam bahasa Batak), “Amang juga yang menjadi salah seorang pendorong sehingga saya mau menjadi penatua dan ditahbiskan di jemaat ini sekarang ini …“.

Semula aku mengira itu sekadar basa-basi (ini kayaknya berdasarkan pengalaman sendiri selama ini yang sering berbasa-basi, hehehe …), tapi ternyata hal serupa disampaikan beliau ketika mendapat kesempatan mandok hata. Bahkan pakai memintaku untuk berdiri segala pula supaya dilihat dan diketahui oleh orang-orang yang hadir saat itu. Meski salah dalam menyampaikan perusahaan tempatku bekerja saat ini, namun apa yang disampaikan beliau terasa mengejutkan, “Secara khusus saya ingin menyampaikan terima kasih kepada Amang Sintua Tobing yang memberikan saya semangat untuk melayani dan menjadi sintua di jemaat kita yang kecil ini. Bukan saya ‘nggak bisa dan ‘nggak mau menjadi sintua di gereja yang besar tempat kita dulu berjemaat, tapi karena Tuhan menetapkan saya hari ini menjadi sintua di jemaat kita ini. Amang Sintua Tobing ini bekerja di PT Indofood di Bandung, namun masih terus melayani menjadi sintua di Jakarta dan bersedia melayani kita di Bandung ini kalau sedang tidak bertugas di Jakarta. Jarak yang sudah jauh tersebut bukan menjadi penghalang untuk tetap melayani. Bagaimana pula saya yang tinggal di Bandung, masak ‘nggak bisa dan ‘nggak bersedia menjadi sintua di Bandung …”.

Puji Tuhan kalau ternyata hidupku ini masih bisa menjadi inspirasi yang positif bagi orang-orang di sekitarku. Dan yang paling penting: bukan aku, melainkan untuk kemuliaan Dia yang mengutus aku menjadi pelayan di jemaat-Nya …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s