Andaliman – 149 Khotbah 30 Oktober 2011 Minggu XIX setelah Trinitatis

Siapa yang Layak …

Nas Epistel:  Lukas 1:67-80

1:67 Dan Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, katanya:

1:68 “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya,

1:69 Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,

1:70 –seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus–

1:71 untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita,

1:72 untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus,

1:73 yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita,

1:74 supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut,

1:75 dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.

1:76 Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya,

1:77 untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka,

1:78 oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, dengan mana Ia akan melawat kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi,

1:79 untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.”

1:80 Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel.

Nas Evangelium: Mazmur 15:1-5 (bahasa Batak Psalmen)

15:1 Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?

15:2 Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,

15:3 yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;

15:4 yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;

15:5 yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.

Nas perikop Minggu ini menceritakan tentang Zakaria, yang semula dihukum oleh Tuhan karena ketidakpercayaannya akan janji yang disampaikan malaikat Tuhan ketika gilirannya sebagai imam di bait Allah bahwa isterinya Elisabet akan mengandung anak baginya. Sesuatu yang sulit aku bayangkan jika hal itu terjadi padaku: di doaku saat bertugas di bilut parhobasan, Tuhan menjawab bahwa Dia akan mengabulkan permohonan yang sudah sangat lama aku rindukan, namun aku tidak percaya …. Ada apa dengan keimananku? Jika di gereja pun ada jawaban Tuhan dan disampaikan oleh “wakil Tuhan”, namun tetap aku meragukan semuanya. Sekali lagi, ada apa dengan keimananku? Zakaria dibikin bisu sampai anaknya (memang benar-benar) lahir.

Siapakah Zakaria, sehingga ia benar-benar layak menerima kuasa untuk bernubuat? Ia penuh dengan Roh Kudus, artinya dilengkapi dengan kelengkapan yang luar biasa untuk maksud ini. Mendapat ilham dari surga. Allah bukan hanya mengampuni ketidakpercayaan dan kesangsiannya, tetapi juga sebagai contoh anugerah melimpah yang disediakan bagi orang-orang percaya. Alangkah luar biasanya Allah. Luar biasa kebaikan-Nya. Ketidakpercayaan Zakaria masih diberi “ganjaran” dengan kuasa Roh Kudus yang memampukannya untuk bernubuat (aku membayangkan dalam kegoyahan imanku, namun Tuhan tetap menjawab kerinduanku dengan berkat-Nya yang melimpah setelah melewati ujian yang berat …)

 Hal pertama yang diucapkan oleh Zakaria adalah pujian bagi Tuhan. Begitulah orang yang dipenuhi Roh Kudus, apa yang keluar dari panca inderanya dan perbuatannya adalah hanya kemuliaan bagi Tuhan. Tidak sedikit pun ia menyebut-nyebut kepentingan pribadi dan keluarganya. Sebaliknya, dalam nyanyian ini ia sepenuhnya berbicara mengenai kerajaan Mesias dan berkat bagi orang banyak.

Kelayakan tersebut jugalah yang dipesankan oleh Mazmur dalam nas perikop Ev Minggu ini. Orang-orang yang layak tinggal di bait Allah, artinya orang-orang yang berkenan kepada-Nya. Orang-orang yang layak tinggal bersama Allah dan menerima upah di dalam kerajaan kekal. Antara lain disebutkan: berlaku tidak bercela, adil, mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, tidak menyebarkan fitnah, tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya, memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi, tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. 

‘Gimana, layak? Masih layak?

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Minggu ini adalah hari peringatan akan Reformasi yang dilakukan oleh Martin Luther yang menampilkan dalil-dalil yang memprotes Gereja pada masa itu yang kemudian melahirkan Protestan. Dan hal-hal yang melayakkan sebagaimana dicantumkan dalam Mazmur yang menjadi nas perikop Ev Minggu ini adalah merefleksikan tindakan Luther yang memperjuangkan kembalinya Gereja kepada “khittah-nya”, yakni Gereja yang menjadikan Kristus sebagai kepalanya dengan semboyan yang populer sampai sekarang tentang keselamatan dengan istilah sola Fide (hanya karena iman), sola Gratia (hanya oleh kasih karunia belaka), dan sola Scriptura (oleh karena firman semata).

Sebagai orang Kristen (Batak, dan HKBP pula …), semangat Luther haruslah kita bawa dan terapkan dalam kehidupan kita saat ini. Dalam setiap sendi kehidupan. Dalam situasi kehidupan di negara kita yang sangat kacau (bacalah di koran dan majalah serta media massa lainnya dan saksikan di televisi yang sangat banyak saat ini bermunculan dengan memanfaatkan alam kebebasan berpendapat …) yang sangat sulit mendapatkan model yang layak dijadikan panutan, dengan menjalankan criteria tersebut di atas, pastilah kita akan menjadi orang yang sangat berbeda dengan dunia ini. Dengan perbedaan yang mencolok, tentulah orang-orang akan melihat kita yang berbeda tersebut: menjadi teladan Kristus sekaligus saksi Kristus dalam kehidupan kita saat ini.

Atau, malah sudah? Puji Tuhan, kalau memang sudah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s