Andaliman – 150 Khotbah 06 November 2011 Minggu XX setelah Trinitatis

Nuh, Model Tentang Kelayakan Bagi Tuhan

Nas Epistel:  Mika 6:6-8

6:6 “Dengan apakah aku akan pergi menghadap TUHAN dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun?

6:7 Berkenankah TUHAN kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri?”

6:8 “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Nas Evangelium: Kejadian 8:18-22 (bahasa Batak 1 Musa)

8:18 Lalu keluarlah Nuh bersama-sama dengan anak-anaknya dan isterinya dan isteri anak-anaknya.

8:19 Segala binatang liar, segala binatang melata dan segala burung, semuanya yang bergerak di bumi, masing-masing menurut jenisnya, keluarlah juga dari bahtera itu.

8:20 Lalu Nuh mendirikan mezbah bagi TUHAN; dari segala binatang yang tidak haram dan dari segala burung yang tidak haram diambilnyalah beberapa ekor, lalu ia mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah itu.

8:21 Ketika TUHAN mencium persembahan yang harum itu, berfirmanlah TUHAN dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya, dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah Kulakukan.

8:22 Selama bumi masih ada, takkan berhenti-henti musim menabur dan menuai, dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.”

Israel ini adalah bangsa yang tegar tengkuk. Bahkan seringkali sinis. Hampir sama dengan banyak orang sekarang ini … (mungkin aku juga termasuk di dalamnya, walaupun cenderung bersifat insidensial …). Lihatlah nas perikop Ep Minggu ini, ayat 6 dan 7 benar-benar “menggemaskan”. Dengan gaya yang kelihatannya seolah-olah ketulusan, mereka menjawab melalui tiga pertanyaan khusus, dengan intensitas yang kian meningkat (ini gaya bahasa klimaks namanya, kalau masih ingat pelajaran Bahasa Indonesia waktu masih bersekolah dulu …): “Dengan apakah aku akan pergi menghadap Tuhan?”. Sangat terkesan, mereka (bangsa Israel itu) menantang Tuhan.

Padahal, andai keselamatan dapat dibeli seperti itu, dengan memberikan barang-barang materi sebagai pendamaian bagi dosa, maka semua umat manusia akan berusaha keras untuk mendapat keselamatan. Mereka ‘nggak tahu, bahwa keselamatan yang benar adalah penyerahan roh. Mereka telah melupakan hukum Tuhan mengenai penebusan anak sulung (Keluaran 13:12-13) dan pengalaman Abraham (Kejadian 22). Untunglah Tuhan kita bukan materialistis (karena Tuhan memang ‘nggak membutuhkan harta dan materi, apalagi suapan, ‘kan?), sehingga keselamatan bukan hanya hak monopoli orang-orang kaya.

Dan ayat 8 menegaskan bahwa Tuhan menuntut untuk berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Hal ini berlaku bagi semua manusia sepanjang masa, secara terus-menerus, dan tak dapat berubah. Kalau masih ingat dengan khotbah Minggu lalu tentang kelayakan orang-orang percaya yang akan masuk ke dalam bait Tuhan, tuntutannya ‘nggak jauh berbeda.

Syarat yang diminta sebagaimana disebutkan di atas itulah yang dimiliki oleh Nuh sehingga Tuhan berkenan padanya, dan memakainya untuk menyelamatkan bumi dari kehancuran yang amat sangat dengan air bah yang sangat dahsyat (sebagai orang yang pernah lama tinggal di Aceh, aku masih gemetar membayangkan apa yang terjadi saat tsunami yang lalu dengan hanya melihat sisa-sisa kemahadahsyatan bencana alam itu ketika datang kembali ke sana …).

Dan yang dilakukan oleh Nuh setelah diselamatkan dari air bah, adalah memberikan persembahan dan memuji Tuhan. Mendirikan mezbah, artinya meninggikan Tuhan. Sejalan dengan itu adalah mempersembahkan korban bakaran, suatu kata yang berasal dari akar katanya yang berarti “naik”. Ini berasal dari situasi yang terjadi manakala korban bakaran dipersembahkan, asapnya naik ke atas menuju Allah, dalam arti tertentu membawa ucapan syukur dan penyembahan orang yang mempersembahkan tersebut. Korban itu benar-benar merupakan korban perdamaian yang dipersembahkan dalam penyembahan yang tulus, ungkapan rasa bersyukur yang mendalam. Karena itu Allah yang abadi bersukacita. Nuh sangat berkenan bagi Allah.

Bagaimana dengan aku? Engkau? Kita?

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Masih berhubungan dan terkesan sebagai kelanjutan perikop Minggu lalu, nas kita Minggu ini masih bercerita tentang kelayakan. Tokohnya adalah Nuh, orang yang diperkenan Allah. Apa yang dilakukannya, patutlah kita tiru dalam kehidupan kita saat ini. Hidup yang penuh dengan cobaan, tantangan, dan kesulitan. Siapa yang tidak pernah mengalami permasalahan dalam kehidupan yang memang semakin sulit dari ke hari?

Kehidupan Nuh juga pasang surut sesuai situasi kehidupan yang sedang dialaminya. ‘Nggak beda dengan kita juga, ‘kan? Kemampuannya juga menurutku ‘nggak jauh-jauh amat dibandingkan dengan kita. Bedanya – mungkin, ma’af sekali lagi mungkin … – adalah Allah berkenan kepada Allah. Untuk hal ini, kita juga bisa, ‘kan? Bagaimana supaya berkenan kepada Allah? Ya, melakukan apa yang dituntut dari orang-orang percaya. Karakter dan sikap seperti yang dicantumkan dalam nas perikop di atas adalah di antaranya.

Bisa? Pastilah bisa … Ayo!

Iklan

One comment on “Andaliman – 150 Khotbah 06 November 2011 Minggu XX setelah Trinitatis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s