Mauliate ma di Debata. Salamat Ari Natal dohot Salamat Taon na Imbaru

Sama seperti tahun lalu, tahun ini aku berhasil melalui minggu-minggu Adven tanpa sekalipun menghadiri perayaan Natal. Sekali lagi, ini menegaskan komitmenku tentang keharusan mengikuti dengan disiplin ketentuan Adven dan Natal.

Tahun ini kami mendapat jatah pulang kampung dari kantor. Tak terasa sudah dua tahun bertugas di “perantauan” …

Kesempatan ini aku sekalian manfaatkan untuk menyampaikan mohon ampun dan mohon ma’af untuk ketidaksukaan dan hati yang terluka yang terakibatkan oleh tulisan-tulisan yang ada di situs yang sangat sederhana ini.

Tuhan memberkati!

 

Iklan

Andaliman – 157 Khotbah 25 Desember 2011 Minggu Pesta Perayaan Kelahiran Yesus Kristus

Sang Raja Sudah Lahir! Kita adalah Anak-anak Allah …

Nas Epistel:  Mika 5:1-5

(5-1) Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala.

5:3 (5-2) Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel.

5:4 (5-3) Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi,

5:5 (5-4) dan dia menjadi damai sejahtera. Apabila Asyur masuk ke negeri kita dan apabila ia menginjak tanah kita, maka kita akan membangkitkan melawan dia tujuh gembala, bahkan delapan pemimpin manusia.

5:6 (5-5) Mereka itu akan mencukur negeri Asyur dengan pedang dan negeri Nimrod dengan pedang terhunus; mereka akan melepaskan kita dari Asyur, apabila ia ini masuk ke negeri kita dan menginjak daerah kita.

Nas Evangelium: 1 Yohanes 3:1-6

3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

3:4 Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.

3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.

3:6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.

Aku tidak begitu mengenal salah satu toko Alkitab yang bernama Mikha ini. Namanya yang berarti “ siapakah seperti Tuhan” menunjukkan orang yang sangat berkharisma. Keberaniannya menyuarakan suara kenabian – yang sangat berbeda dengan situasi dan kondisi kehidupan yang sedang terjadi saat itu – menunjukkan bahwa Mikha bukanlah sembarang nabi. Yeremia pun kemudian terinspirasi oleh keberanian Mikha ini dalam menyuarakan suara kenabian. Hal yang sangat dirindukan saat ini mengingat betapa banyaknya manusia sekarang ini yang sudah ‘nggak punya nyali lagi dalam menyampaikan kebenaran. Apalagi memperjuangkannya! Menurutku, kebanyakan para pemimpin sekarang – yang seharusnya punya lebih banyak kesempatan dalam menegakkan kebenaran – malah berlaku hal yang sebaliknya. Sangat menyedihkan, memang …

Selain keberanian, hal luar biasa lainnya yang dimiliki oleh Mikha adalah dalam hal bernubuat, memandang jauh ke depan. Ini beda dengan meramal sebagaimana yang biasa akan bermunculan di layar televisi dan media massa lainnya menjelang akhir tahun seperti sekarang ini. Jujur saja, aku sendiri ‘nggak begitu yakin tentang siapa yang sebenarnya yang dimaksud dengan Mikha tentang pemimpin Israel yang akan muncul dari Betlehen Efrata, dusun yang sangat terpencil di Israel.

Apakah yang dimaksudkannya adalah Daud? Bisa jadi. Melihat bahwa ke-raja-annya sebagai orang yang selalu menang perang dengan pedang terhunus dan mengalahkan bangsa-bangsa dengan peperangan (secara harafiah, bukan rohaniah …), toloh yang dimaksud lebih mengarah kepada Daud, raja Israel yang tiada bandingnya. Atau keturunan Daud? Paling mungkin. Utamanya bila berusaha memahami nas perikop Ep Minggu ini sebagai pengertian rohaniah. Tentu saja yang dimaksud adalah Yesus. Dalam Perjanjian Baru kemudian nubuatan Mikha ini dpandang telah digenapi dengan kelahiran Yesus.

Kesederhanaan dan kerendahhatian. Itulah pesan yang dapat aku baca dari nas perikop Ep Minggu ini. Kota yang kecil yang dipakai Tuhan untuk menunjukkan kuasa-Nya. Sangat bertentangan dengan pikiran manusia. Siapa yang kepikiran bahwa seorang raja yang besar lahir dari dusun yang sangat terpencil? Meskipun sejarah republik ini memunculkan presiden adalah kelahiran dusun terpencil, namun hal-hal besar muncul dari sesuatu yang dipandang sebelah mata tetaplah mengejutkan bagi banyak orang …

Kelahiran Yesus di kandang domba – tempat yang paling hina dibandingkan kelayakan manusia biasa – menunjukkan betapa Allah dengan segala kerendahan hati datang kepada manusia melalui kelahiran anak-Nya ke dunia. Bukan di istana layaknya seorang raja dan putera mahkota. Sekali lagi: ini menunjukkan kesederhanaan dan kerendahan hati (itulah sebabnya aku selalu prihatin bilamana melihat perayaan Natal yang jauh dari semangat kesederhanaan dan kerendahan hati ini …).

Itulah pesan yang ingin disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Sebagaimana Yesus, anak-Nya yang tunggal yang datang ke dunia dengan kesederhanaan dan kerendahan hati, orang-orang percaya yang mengaku sebagai murid Yesus tentu saja harus menyerupai Yesus. Bukan profil secara fisik (berkumis, berjanggut, berambut gondrong …), melainkan karakter yang dimiliki dan ditunjukkan Yesus sebagaimana ketika Yesus hidup di dunia ini. Karena kita adalah anak-Nya, maka sepatutnyalah karakter kita menyerupai karakter Yesus. Yesus yang penuh kasih, dan selalu melakukan semua tindakan-Nya berdasarkan kasih.

Menjadi semakin menyerupai Yesus, itulah yang dimintakan kepada kita sebagai anak-anak Allah, sebagai orang-orang percaya. Dan empat Minggu Adven diberikan kepada kita untuk mempersiapkan diri dalam menyambut kelahiran-Nya. Dan Minggu ini adalah Natal – sesuatu yang baru kali ini aku mengalaminya dengan “penuh kesadaran” bilamana Natal tahun ini adalah hari Minggu sehingga menambah keistimewaan perayaan Natal tahun 2011 ini – salah satu momen terpenting dalam keimanan orang Kristen.

Saatnya kita bertanya, apakah kita sudah siap menyambut kelahiran Yesus? Kalau peristiwa nyata itu terjadi berabad-abad yang lalu nun jauh di negeri Israel, apakah juga nyata kelahiran-Nya di hati kita saat ini? Jawabannya ada pada diri kita sendiri.

Selamat hari Natal!

Bukan Jubileum 150 Tahun HKBP Ternyata …?

Pemikiran Tentang Batak Setelah 150 Tahun Agama Kristen di Sumatera Utara

Editor: Prof. Dr. Bungaran Antonius Simanjuntak

Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, 2011

Meskipun diterbitkan tahun ini, ternyata buku ini adalah hasil penulisan-ulang (menurut editornya adalah “lanjutan dari buku sebelumnya dengan judul yang sama”, meskipun ada lagi pernyataan bahwa buku ini adalah “pengembangan dan perluasan”). Sangat kental terasa ada salah satu alasan diterbitkan kembali tahun 2011 adalah memanfaatkan gembar-gembor yang didengung-dengungkan di HKBP sebagai tahun di mana akan dirayakan Jubileum 150 Tahun HKBP. Berisi pemikiran yang berhubungan dengan Batak, salah satu suku bangsa terbesar di nusantara. Dengan gereja terbesar di Asia Tenggara, konon HKBP pernah mengklaim demikian.

Bunga rampai dari penulis berkaliber dan handal di bidangnya masing-masing menjadikan buku ini lengkap sebagai rujukan. Lihatlah penulisnya. Ada mantan Eforus (yang ternyata tulisannya agak “berseberangan” dengan prinsip umum HKBP, organisasi yang pernah dipimpin oleh mantan ompu i ini, sehingga mengingatkanku dengan sindrom yang dialami oleh mantan pejabat di negeri ini yang baru kemudian berani bersuara berbeda setelah tidak lagi menjabat dan tidak lagi berkuasa …), guru besar teologi, pendeta dan dosen aktif di lingkungan pendidikan HKBP (sempat membuatku respek dengan kegigihannya membela “kaum lemah” di HKBP dan keberaniannya melakukan otokrtitik, namun sedikit berkurang rasa kagumku manakala melihatnya berkhotbah yang diiringi dengan “panorangion” yang cenderung memanas-manasi warga jemaat daripada sekadar menyampaikan kebenaran …), mantan pemimpin gereja, tokoh gereja dan tokoh adat Batak, serta sastrawan nasional. Kecuali orang bule, semuanya adalah Batak. Sekali lagi, benar-benar komplit.

Kata Pengantar dan Refleksi yang Menohok

Sebagaimana buku lainnya, buku ini juga diawali dengan kata pengantar. Prof BAS – demikian beliau suka menyingkat nama dengan hanya sekadar inisial – menyampaikan alasan singkat dan latar belakang munculnya buku ini. Secara eksplisit tidak disebutkan untuk menyambut jubileum HKBP sebagai salah satu alasannya, memang. Namun, masih di lembaran kedua pengantar, pak BAS sudah mempertanyakannya dengan hanya menyebutkan bahwa “… HKBP sendiri baru dikenal sesudah tahun 1932 dengan keluarnya pengakuan pemerintah …”.

Ada dua refleksi. Satunya dengan tegas dicantumkan bahwa penulisnya adalah Eliakim Sitorus dengan judul 150 Tahun Injil di Tapanuli.  Alinea pertama tulisan refleksi ini sudah menegaskan bahwa 7 Oktober 1861 adalah tanggal bersejarah di mana empat orang misionaris – Heine, Klammer, Betz, dan van Asselt yang kemudian dengan “sangat kreatif” huruf awal nama mereka disingkat menjadi HKBP … – melakukan rapat kordinasi penginjilan di Parausorat. Sejarawan gereja di Tapanuli kemudian menyebutkan rapat itu sebagai sinode pertama, lalu diklaim sebagai hari lahirnya gereja Batak pertama, yakni Huria Kristen Batak Protestan. Agak aneh memang, karena para misionaris itu masih membawakan organisasi pengutus mereka, yakni Rijnische Mission Gesselschaft (RMG) yang berkedudukan di Wuppertal, Jerman. Tentu saja belum sedikit pun “berbau” HKBP …

Tulisan refleksi kedua dengan judul tulisan yang sama dengan yang pertama – aku ‘nggak tahu siapa penulisnya – disebutkan di akhir sebagai “diterjemahkan oleh Bungaran Antonius Simanjuntak”. Lebih merupakan kilas balik singkat sejarah masuknya Injil di Tanah Batak. Lalu konflik yang terjadi di HKBP, yang puncaknya adalah dualisme kepemimpinan 1988-1994 di mana pada masa itu ada dua orang yang mengaku sebagai Eforus HKBP. Masa yang sangat kelam yang pernah aku alami sebagai warga HKBP. Sangat “membingungkan”, karena kedua belah pihak yang sama-sama dipimpin pendeta sama-sama mengklaim sebagai yang benar dan paling sah sebagai pemilik “merek” HKBP. Menjadi semakin membingungkan lagi karena kelakuannya sudah sangat mirip dengan premanisme yang “dipakai” (atau malah “memakai”?) untuk menguasai bangunan gereja. Dengan segala cara, tentu saja.

Juga sudah dicantumkan konflik di HKBP Banda Aceh paska tsunami. Bayangkan saja, di daerah “100% Islam” yang mengklaim dirinya sebagai serambi mekah dengan menjalan syariat Islam yang paling menyerupai zaman nabi di antara wilayah nusantara yang sudah menjalankan syariat Islam, masih juga terjadi konflik kepemimpinan yang kemungkinan besar adalah juga ada faktor kepemimpinan Kantor Pusat. Di wilayah yang seharusnya kita mengumandangkan syukur alhamdulillah hirabbal al’amin karena gereja masih bisa berdiri, koq “tega-teganya” dibiarkan tercipta perpecahan, bahkan dipertahankan perpecahan …

Dan yang terakhir adalah perilaku seksual yang menyimpang dari seorang pendeta aktif HKBP terhadap siswi-siswinya dengan melakukan pelecehan seksual yang sangat memalukan. Bahkan menjijikkan, menurutku. Lebih menjijikkan lagi adalah kesan HKBP (baca: pemimpinnya) yang melindungi dan membela sang pendeta laknat tersebut seakan-akan itu semua ‘nggak benar (walau sudah masuk ranah hukum publik dan sudah diputus oleh pengadilan). Aku jadi sempat bercuriga, jangan-jangan tindakan seperti itu sudah seringkali terjadi di lingkungan pendeta HKBP sehingga merupakan sesuatu yang biasa. Orang bijak mengatakan, air yang kotor jangan diharapkan untuk bisa membersihkan kekotoran. Betul juga …

Konfesi HKBP, oh … Pendeta Pelaksana Konfesi …

Ini adalah dua tulisan yang paling sering aku baca berulang-ulang. Keduanya tentang Konfesi HKBP, pengakuan iman yang dianut HKBP. Ditulis oleh guru besar, dan anak murid dari anak muridnya di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Sangat menyemangati ketika membaca tulisan Lothar Schreiner yang menginspirasi perjalanan HKBP dalam tahun-tahun kesejarahannya. Sebaliknya, keprihatinan yang amat sangat ketika membaca tulisan Dewi Sri Sinaga yang membahasnya dengan menjadikan peristiwa pelecehan seksual yang dilakukan oleh pendeta HKBP di Sekolah Bijbelvrouw HKBP di Laguboti.

Yang paling menyedihkan adalah tanggapan pemimpin HKBP yang menanggapinya secara dingin. Bukan melindungi para siswi korban pelecehan yang tentu saja tertekan secara psikologis, malah meneror para korban dan mengintimidasi dengan arogan. Bukan pemimpin, malah mereka menunjukkan sebagai penguasa HKBP yang bisa dengan semena-mena memamerkan kekuasaannya untuk melindungi korpsnya (atau kroninya, atau malah dirinya sendiri? Entahlah …).

Banyak hal-hal menarik yang bisa didapatkan dari buku yang lumayan tebal ini. Apalagi untuk memenuhi kerinduan tentang pemikiran kontemporer orang Batak. Sudah Batak, Kristen pula … Saranku, bacalah untuk menambah pengetahuan. Dan dengan kejernihan hati dan kejernihan berpikir. Itu semua akan menambah referensi kita dalam memahami Batak. Dan juga memahami HKBP bilamana masih berada di lingkungan HKBP. Karena selalu saja ada kemungkinan bahwa sejarah adalah sekadar siklus hidup. Jadi, apa yang terjadi pada HKBP saat ini tidaklah jauh dari apa yang ditabur oleh orang-orang yang berpengaruh pada HKBP pada masa-masa yang lalu.

Alangkah Indahnya …

Janganlah pernah berharap pada sesuatu yang benar-benar sempurna. ‘Nggak bakalan menemukannya selagi hidup di dunia yang fana ini. Begitu juga dengan buku ini. Baru di bab-bab awal, aku sudah seringkali terganggu dengan kesalahan tulis maupun penggunaan istilah yang seharusnya sudah baku. Misalnya kata teologi yang merupakan kata serapan yang sudah dibakukan dalam bahasa Indonesia, masih memakai teologia, dan bahkan teologies.   

Untuk membuatnya lebih bermanfaat, aku sarankan:

(1)     Membaca buku ini dengan penuh kerinduan akan perbaikan pelayanan di jemaat HKBP, bukan untuk mencari tahu kebobrokan HKBP

(2)     Cukup mendiskusikannya dengan warga jemaat yang sudah dewasa, bukan sekadar usia, namun juga pemahaman tentang jemaat

Buku ini pertama kali aku lihat di salah satu toko buku terkemuka dengan jaringan nasional di Serpong, Tangerang beberapa bulan yang lalu. Bersebelahan dengan hotel tempatku menginap saat menghadiri rapat di Kantor Wilayah di Jakarta, aku pun berkunjung ke toko buku tersebut usai makan malam. Tertarik membacanya dengan menyempatkan diri di kamar hotel menjelang istirahat tidur, aku pun memutuskan untuk membagikannya kepada pelayan gereja di lingkungan HKBP. Yang pertama kali aku berikan – dengan mengirimkannya via kurir dari Bandung – adalah pendeta resort tempatku berjemaat saat ini di Jakarta. Lalu mendiskusikan tentang tanggal jubileum sebagai salah satu isi dari buku yang akan aku kirimkan kepada beliau (saat itu aku “sekadar” menunjukkan buku yang aku beli pertama kali sambil berjanji akan membeli yang baru dan mengirimkannya karena buku pertama tersebut sudah aku corat-coret …):

Aku : Kalau aku Eforus, aku akan memberikan pengakuan kepada semua jemaat HKBP tentang kesalahan tanggal penetapan hari lahir HKBP. Lalu, mengajak semua gereja-gereja di Sumatera Utara dengan berbagai denominasi yang lahir karena penginjilan RMG Jerman untuk sama-sama merayakan Jubileum Injil di Sumatera Utara. Jadi, bukan Jubileum HKBP, amang.
Pendeta : Bukan itu yang penting sebenarnya, amang. ‘Nggak perlulah harus dipersoalkan lagi tanggal lahirnya HKBP karena kita akan berkutat di situ-situ terus. Kapan lagi kita punya waktu untuk memikirkan kemajuan HKBP kalau habis untuk berdebat tentang hal yang tidak prinsipil.
Aku : Bukankah kebenaran harus disampaikan, amang? Kalau memang lahirnya bukan tahun 1861, kenapa kita tidak jujur saja mengakuinya? Menurutku, warga jemaat sekarang sudah banyak yang pintar, dan kita patut bersyukur pada Tuhan tentang hal itu. Mereka akan menganggap kita berdusta karena ‘nggak menyampaikan hal yang benar. Memang untuk melakukan itu perlu kesadaran yang dalam dan kerendahan hati yang tidak semua orang memilikinya …

Usia sekali lagi tidak menentukan keluasan wawasan dan kesediaan menerima pembaharuan. Pendeta resort kawanku berbicara ini masih sangat muda. Usia beliau masih  di bawahku beberapa tahun. Waktu mulai bertugas di jemaat kami lima tahun yang lalu, aku sempat berharap banyak bahwa beliau akan membawa angin segar pembaharuan pelayanan di jemaat kami. Apalagi mengingat pengalaman beliau di mana sebelumnya adalah bertugas di jemaat di Jakarta yang jaraknya sangat dekat dengan jemaat kami sehingga ‘nggak butuh banyak penyesuaian dalam melayani jemaat yang sekarang. Lima tahun berlalu, secara umum menurutku adalah ‘nggak jauh dengan HKBP pada umumnya. Berjalan di tempat, kalau tidak mundur. Sangat kontras dengan agresivitas gereja-gereja di seputaran lingkungan gereja kami …

Aku kurang yakin apakah beliau memang benar-benar membaca buku yang aku kirimkan. Atau hanya sekadar melihat sekilas, lalu tahu isinya “bukan dari golongan kami”, lantas menyimpannya di suatu tempat yang disediakan bukan untuk dibaca kembali. Apalagi kecenderungan beliau yang lebih terkesan sebagai “pegawai HKBP” daripada pelayan jemaat yang sangat mendambakan peningkatan kerinduan untuk selalu datang ke gereja untuk bersekutu.

Andaliman – 156 Khotbah 18 Desember 2011 Minggu Advent-IV

Janji Tuhan adalah Pasti. Terimalah dengan Rendah Hati dan Sukacita

 

Nas Epistel:  2 Korintus 1:18-22

1:18 Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak “ya” dan “tidak”.

1:19 Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya”.

1:20 Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.

1:21 Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi,

1:22 memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Nas Evangelium: Lukas 1:39-45

1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.

1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.

1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,

1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.

1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.

1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Alkitab banyak berisi janji-janji. Janji manusia, pun janji Tuhan. Dan iman kepercayaan memanglah pertaruhan, menurutku. Apa yang dihadapi saat ini selalu “dipertentangkan” dengan iman, utamanya hal-hal yang secara logika sudah ‘nggak masuk. Namun, jangan sampai salah, menurutku: iman tidak pernah bertentangan dengan logika, melainkan iman melampaui logika.

Hal janji inilah yang menjadi pokok bahasan dalam nas perikop Minggu ini, baik Ep maupun Ev. Inilah Minggu Adven yang terakhir untuk tahun ini, karena kita segera memasuki perayaan Natal. Nas perikop Ep menekankan bahwa segala sesuatu tentang Kristus adalah “ya” dan “amin”. Tidak ada yang perlu diragukan. Apa yang dijanjikan Kristus selama masa kehidupan-Nya di dunia ini adalah sesuatu yang pasti. Tinggal saat perwujudannya yang tidak seorang manusia pun yang mengetahuinya. Pasti akan terjadi, namun kapan, tidak seorang manusia pun yang tahu. Itulah misteri iman, yang jujur saja, membuatku penasaran. Dan rasa penasaran itulah yang membuatku masih tetap mempertahankan iman kepercayaanku kepada Kristus sampai saat ini.

Akan lain ceritanya jika memercayai sesuatu yang pasti dan aku sudah tahu kapan saatnya. Rasa penasarannya akan jauh berkurang. Persiapan untuk menyambut hari-H itupun akan ada batas maksimalnya. Misalnya mempersiapkan pesta perkawinan tanggal 13 Juli yang akan datang. Karena sudah tahu kepastiannya – akan terjadi dan tanggal pelaksanaan – maka semua persiapan akan dilakukan berdasarkan batas sampai 13 Juli. Nah, kalau hidup di dunia ini? Karena tidak mengetahui tanggalnya, tentu saja aku harus selalu bersiap dan bersedia setiap saat. Begitu, ‘kan? Itulah yang membuatku sehingga selalu bertahan dalam hidup, untuk selalu sejalan dengan kemauan Tuhan, dan bersedia menjadi pelayan-Nya yang setia. Sampai kapan? Sampai Beliau datang kembali menjemputku untuk bersama-sama dengan-Nya di kehidupan kekal kelak.

Yang menjadi tantangan kemudian adalah bagaimana menyikapinya sebelum hari-H itu. Maria, ibu lahiriah Yesus memberikan contoh teladan sebagaimana dicatat dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Dengan sikap rendah hati. Keistimewaannya menjadi ibu lahiriah Yesus tidak menjadikannya menjadi orang yang sangat mulia. Ucapan Elizabet yang menyebutnya sebagai “ibu Tuhan” tidak menjadikan Maria tinggi hati. ‘Nggak bisa aku bayangkan jika situasi tersebut menghampiri aku. Sedangkan menjadi sintua di jemaat yang kecil pun seringkali membuatku tergoda untuk menjadi orang yang sombong. Menuntut perlakuan yang istimewa dari jemaat sehingga lupa pada janji tahbisan untuk menjadi pelayan jemaat.

Duh, malunya aku pada Maria. Untunglah ada Maria dan nas perikop Ev Minggu ini yang menyadarkanku untuk kembali kepada sikap yang sebenarnya. Sifat tinggi hati dan ingin dilayani bukanlah suatu kepantasan bagi pelayan jemaat. Juga bagi anak-anak Tuhan … 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jangan pernah ragukan janji Tuhan. Itu adalah sesuatu yang sangat pasti. Tidak ada yang “abu-abu”.  Ada sedikit manusia yang bisa dipegang janjinya, karena masih sering memenuhi janjinya. Namun janji manusia tetaplah bukan sesuatu yang pasti.

Janji Tuhan “ya” dan “amin”. Janji itulah yang menguatkan kita selagi hidup di dunia ini. Itulah yang memampukan kita untuk selalu bersukacita, baik atau tidak baik situasinya. Peganglah itu sampai Tuhan datang kembali.

Refleksi Akhir Tahun Pelayanan Jemaat: Parhalado (Ma’af) “Banci” …

Ma’afkanlah karena kali ini aku memakai istilah yang rada kasar. Sangat  kasar mungkin bagi beberapa orang. Tulisanku ini hanyalah sekadar ungkapan dari perasaan yang ‘nggak nyaman dengan apa yang aku alami kurang satu bulan belakangan ini. Khususnya yang berhubungan dengan pelayanan jemaat. Lebih khusus lagi sikap kami parhalado (= pelayan) yang sudah bersedia mempersembahkan diri untuk melayani jemaat Tuhan. Dan paling spesifik lagi adalah sehubungan dengan rapat-rapat yang banyak kami lakukan di lingkungan jemaat kami belakangan hari ini. Puncaknya adalah kemarin saat Rapat Jemaat.

Kenapa Banci?

Kita semua tentunya tahu dan mengenal sosok yang dinamakan banci. Analogi banci ini aku pergunakan setelah melihat apa yang belakangan ini kami lakukan yang ternyata ‘nggak jauh berbeda dengan kelakuan banci pada umumnya. Kami, maksudnya adalah parhalado yang terdiri dari sintua (= penatua) dan pendeta yang mengaku sebagai pelayan di jemaat HKBP tempat kami bertugas saat ini, gereja kecil yang (menurutku dan beberapa orang) memaksakan diri menjadi resort sejak lima tahun lalu. Memaksakan diri, karena ‘nggak punya pagaran (= jemaat naungan) sebagaimana resort normal lainnya. Jadilah jemaat kami sebagai resort khusus (yang ini memang ada diatur dalam Aturan & Peraturan HKBP 2002), yakni resort yang sekaligus sebagai sabungan dan pagaran.

Karena dalam banyak hal sebenarnya belum pantas sebagai resort – misalnya jumlah warga jemaat, kemampuan finansial, dan jemaat sekitarnya – sehingga mudah dianggap bahwa unsur “politisnya” lebih banyak daripada kerinduan untuk melayani yang lebih baik.  Dengan jumlah keluarga yang aktif ‘nggak sampai 100 kepala keluarga sebenarnya banyak juga yang bertanya kenapa mesti ada dua orang pendeta bertugas di jemaat yang seperti ini. Jumlah penatua yang hampir dua puluh orang, sebenarnya wajar jika warga jemaat berharap mendapatkan pelayanan yang sangat baik.

Pelayanan jemaat dan keinginanku (dan sedikit penatua) untuk melayani lebih baik, di situlah asal muasalnya tulisan ini.  Sebagaimana tahun-tahun lalu, akhir tahun ini kami disibukkan dengan pembentukan pengurus untuk periode pelayanan dua tahun (seksi-seksi) dan empat tahun (dewan-dewan, majelis perbendaharaan, dan verifikasi). Nah, dalam masa-masa ini aku melihat kelakuan dan sikap yang sangat mirip dengan banci.

Pertama, banci mengesankan ketidakjelasan dan ketidaktegasan. Abu-abu. Laki-laki secara lahiriah, namun tingkah laku cenderung perempuan. Begitulah kami dalam menentukan orang-orang untuk menjadi pengurus. Suatu kali dengan tegas harus mengacu kepada Aturan dan Peraturan HKBP 2002 (AP 2002), namun seringkali pula tidak memenuhinya dengan alasan “karena situasi dan kondisi jemaat”.  “Ndang boi bah, umur nasida nunga lobi 61 taon …”, itu diucapkan bilamana tidak menginginkan sesorang untuk menduduki pos tertentu, misalnya. Atau “Nunga dua periode nasida”, pokoknya selalu saja ada alasan untuk menggagalkan. Sebaliknya ada kalimat yang seakan sangat ampuh untuk melanggar AP 2002 dimaksud, misalnya: “Ala kondisi ni ruasta, jala ndang adong be na suman tu si, ba mardos ni roha ma hita, tu sahali on boi ma ndang pola marguru tu aturan i. Di huria na asing pe tarlumobi di huta-huta, ndang tarpatupa nasida songon na pinangido ni aturan i …”. 

Standar ganda, ‘kan? Kadang kaku menerapkan pasal-pasal AP 2002, namun ‘nggak lama kemudian melanggarnya jika tidak sesuai dengan keinginan … Banci, ‘kan?

Kedua, penakut. Sifat ini sangat dekat melekat kepada golongan banci. Yang paling sering kita lihat dan kita bayangkan adalah seringnya mereka berlarian terbirit-birit  ketakutan manakala dikejar oleh petugas ketertiban (= tramtib). Yang paling dekat dengan sifat penakut adalah pengecut. Mungkin ‘nggak banyak yang tahu bahwa di antara kaum banci ternyata ada segelintir laki-laki sejati. Benar! Laki-laki sejati yang katanya “terpaksa” menjadi banci supaya bisa mencari makan dengan berlenggak-lenggok di pinggiran jalan dan di lampu merah untuk meminta uang alias mengemis …

Kami parhalado juga bersikap penakut. Takut pada siapa? Umumnya kepada warga jemaat. “Bah, dihata-hata ruas ma hita annon”, “Boha do pandok ni ruas molo tabahen songon i, unang ma bah …”, dan banyak lagi kalimat lainnya yang menurutku itu semua refleksi dari orang-orang yang tidak mau bertanggung jawab. Lebih ekstrem lagi: tidak mau melakukan sesuatu, apalagi yang bersifat pembaharuan! Padahal, kenapa mesti takut kepada warga jemaat? Malah sebagai pelayan, penatua misalnya yang datangnya dari usulan warga jemaat ketika akan memulai pelayannya, seharusnya lebih dekat kepada warga jemaat.

Ketiga: ‘nggak tahu malu! Siapa lagi yang lahirnya adalah laki-laki namun bertingkah laku perempuan, bahkan melebihi perempuan dalam hal dandanan dan cara berpakaian berlebihan selain dari pada banci? Yang cenderung menunjukkan auratnya yang sebenarnya bukan yang asli?

Kami juga begitu, kurang punya rasa malu. Bahkan nyaris malu-maluin! Lihatlah pelayanan kami yang sangat jauh dari memuaskan. Begitu banyak warga gereja di wejk kami masing-masing yang sudah lama ‘nggak hadir beribadah di gereja. Lebih banyak lagi yang ‘nggak hadir di partangiangan wejk setiap Rabu malam. Tapi kami tenang-tenang saja, seakan itu merupakan hal yang biasa.

Yang paling terbaru adalah usulan dari wejk yang  semuanya mempertanyakan kualitas pelayanan yang secara spesifik disebutkan adalah dalam hal berkhotbah.  Jujur saja – bukan untuk membela korps penatua – kualitas berkhotbah pendeta juga ada yang mempertanyakan. Tapi apa tanggapan kami pelayan jemaat? Kalau begitu maunya warga jemaat, penatua mulai tahun depan ‘nggak usah lagi berkhotbah! Alasannya: ‘nggak semua orang punya talenta untuk berkhotbah. Aku dan sangat sedikti penatua terkejut dan sangat prihatin. Memang ‘nggak semua orang punya talenta berkhotbah, namun bukan berarti penatua bisa “berlindung” pada azas pembenaran seperti itu! Bukankah ada dikatakan bahwa semua orang harus selalu siap menyampaikan firman Tuhan, baik atau tidak baik waktunya?

Terus terang, aku sangat malu dengan sikap yang ‘nggak malu dengan bersembunyi di balik ketidakpuasan warga jemaat terhadap khotbah kami pelayan jemaat.

Menurutku, seharusnya kami pelayan jemaat ini lebih mempersiapkan diri. Dengan cara belajar dan banyak membaca untuk menambah kemampuan. Semua ‘kan bisa dipelajari. Lagian, warga jemaat juga ‘nggak mengharapkan penatua bisa menjadi seperti pengkhotbah yang sering muncul di televisi yang sangat menggebu-gebu. Bukan! Dengan tidak tampil gemetaran dan teologi dasar yang sangat rapuh (yang mungkin ini yang sering ditemukan warga jemaat selama ini …), aku yakin warga jemaat menjadi puas dan mereka akan bisa memaklumi. Apalagi bila mereka sudah melihat kerasnya upaya yang sudah dilakukan pelayan dimaksud. Oh ya, hal ini menjadi kontradiktif karena di rencana anggaran 2012 dicantumkan Rp 23 juta sebagai alokasi untuk kegiatan pembekalan pelayan tahbisan dan non tahbisan. Banci, kan?

Bukan cuma penatua, bahkan pendeta yang diundang berkhotbah di mimbar pada ibadah Minggu juga beberapa kali kualitasnya sangat jelek. Bahkan ada yang terkesan ‘nggak punya persiapan. Yang aku lihat dan juga dirasakan oleh beberapa warga jemaat yang kritis adalah pendeta jemaat (yang sekarang berubah otomatis naik pangkat jadi pendeta resort …) sebagai pengundang pengkhotbah sedang berusaha membantu kawan-kawannya. Supaya ada “job” di hari Minggu, beberapa di antaranya yang “kebetulan singgah” (padahal mana ada yang kebetulan di dunia ini, menurutku …). Motivasi lainnya, bisa saja menanam jasa kepada kawan-kawan sesama pendeta. Sesuatu yang mulai sangat lazim belakangan ini di HKBP, apalagi menjelang Sinode Godang …  Bertolong-tolongan? Atau konsolidasi? ‘Nggak jelas juga …

Katua Parartaon dan Rapot Huria

Situasi yang terbaru adalah tentang syarat menjadi Ketua Parartaon (= majelis perbendaharaan) yang menurut AP HKBP 2002 pasal 4.5 ayat a butir (2) “sedikitnya sudah tiga tahun menerima penahbisan”. Calon yang ada dan disetujui rapat pelayan tahbisan ternyata belum sampai tiga tahun sejak ditahbiskan (kawanku seangkatan). ‘Nggak ada yang tahu sampai suatu hari aku menemukan ketentuan tersebut dan menyampaikan ke penatua lainnya. Sang calon bersedia menjadi ketua majelis perbendaharaan namun ‘nggak mau melanggar AP HKBP.

Lama berdebat saat sermon parhalado partohonan dan rapot parhalado partohonan Kamis lalu. Satu pihak ingin agar patuh pada ketentuan, satunya lagi mau melanggar ketentuan dengan alasan: “Kita ‘kan penatua, kitalah yang paling berhak menentukan. ‘Nggak usah diberitahu ke jemaat karena belum tentu juga mereka tahu” .  Betul, banci, ‘kan? Hehehe …

Karena aku rasa ‘nggak bakalan ada ketemu titik temu, aku pun angkat bicara, “Songon on ma i. Hita elekkon ma tu ruasta. Tapaboa ma haduan di rapot huria na adong songon on na masa di hita. Ndang denggan buni bahenon di angka ulaun na tangkas”. Disetujui akhirnya untuk disampaikan pada Rapat Jemaat.

Sampai Rapat Jemaat akan berakhir kemarin Minggu, 11 Desember 2011 ‘nggak ada dibicarakan tentang “mangelek” warga jemaat ini. Pak Pendeta sudah mau menyerahkan mik kepada notulis untuk membacakan hasil rapat, ketika aku tergerak bahwa aku berkewajiban akan hal itu. Lalu aku yang duduk di barisan paling belakang dan duduk di kursi yang paling sudut, segera beranjak mendatangi dan membisikkan untuk membicarakan tentang hal tersebut.

Lalu dilontarkan juga oleh pak pendeta untuk meminta pertimbangan warga jemaat utusan dari setiap wejk untuk menyampaikan pendapat tentang keinginan tetap menunjuk penatua yang belum cukup tiga tahun menerima tahbisan untuk menjadi ketua majelis perbendaharaan. Ada empat orang bapak (karena sebagian besar sudah pulang meninggalkan rapat …), yang menyampaikan pendapat. Semua setuju, hanya satu orang yang memberikan catatan: “Saya tidak keberatan untuk tetap menunjuk ketua majelis perbendaharaan yang belum tiga tahun menerima penahbisan tersebut. Tapi secara pribadi saya tidak suka, karena tadi saat membicarakan saya sebagai calon utusan ke Sinode Godang tidak disetujui pak pendeta karena melanggar aturan …”.

Belum sampai sepuluh menit perdebatan tersebut, kelihatannya pak pendeta ‘nggak sabaran (mungkin sudah letih karena yang semula dijadualkan sampai jam tiga ternyata sudah lewat jam lima rapat belum juga berakhir …), lalu spontan berdiri dan berujar, “Sudah, sudah … ‘Nggak usah lagi dibicarakan. Buang-buang waktu saja. Kalau jemaat ‘nggak menyetujui biar kami saja pelayan tahbisan yang membicarakannya kembali di rapat kami.” Aku sangat terkejut melihat respon beliau dan ‘nggak menyangka akan seperti itu karena aku malah melihat sesuatu yang positif. Banci lagi, ‘kan?

Begitulah. Sebenarnya aku sangat ingin menyampaikan hal ini saat rapot parhalado dalam waktu dekat ini. Sebelum 2012, karena ini mungkin bisa menjadi bahan refleksi bagi kami pelayan jemaat. Namun, kesempatan untuk itu belum bisa dipastikan. Kamis yang akan datang yang menjadi jadual sermon kami (tahun depan akan diganti menjadi Selasa) akan dipakai dengan berkunjung ke rumah pendeta diperbantukan yang baru melangsungkan perkawinannya bulan lalu. Pendeta diperbantukan? Benar, ada dua pendeta aktif yang melayani di jemaat kami yang kecil sekarang ini. Sejak tahun-tahun lalu jemaat kami mempunyai program menerima seorang calon pendeta untuk berpraktek sebelum ditahbiskan jadi pendeta. Setelah ditahbiskan jadi pendeta, maka orang tersebut akan digantikan oleh calon pendeta yang lain. Eh, yang kedua ini dengan “tiba-tiba” ada SK penetapannya sebagai pendeta diperbantukan di jemaat kami yang menjadi tanggungan jemaat yang kondisi keuangannya “selalu dicukupkan oleh Tuhan setiap bulannya” … Banci lagi, ‘kan?