Andaliman – 151 Khotbah 13 November 2011 Minggu XXI setelah Trinitatis

Dahulukan Tuhan, dan Lakukan Semuanya dengan Motivasi Iman

Nas Epistel:  Roma 12:12-21

12:12 Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!

12:13 Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!

12:14 Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk!

12:15 Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!

12:16 Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!

12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!

12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!

12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.

12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.

12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Nas Evangelium: Matius 10:34-39

10:34 “Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.

10:35 Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya,

10:36 dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

10:37 Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.

10:38 Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.

10:39 Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Sebagaimana pesan yang sering tertangkap saat membaca kitab Roma, Rasul Paulus banyak menitipkan pesan tentang kehidupan berjemaat melalui kitab ini. Kalau membaca nas perikop yang menjadi Epistel Minggu ini, pesan-pesan yang disampaikannya adalah hal-hal yang “mendasar” yang seharusnya menjadi pedoman bagi orang-orang Kristen saat ini. Dan juga sudah biasa didengar dan dibaca. Lihat saja satu per satu. Namun yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah: karena saking biasanya mendengar, apakah menjadi biasa melakukannya? Atau, malah biasa tidak melakukannya?

Bagiku, ini adalah ayat-ayat yang sangat menyentuh. Dan menginspirasiku dalam kehidupan bertahun-tahun belakangan ini. Dalam menghadapi hal-hal yang berhubungan dengan situasi yang terjadi dan diingatkan oleh Paulus – sukacita, sabar, hidup tertekan, berdoa dengan tekun, membantu, jangan membalas dendam, melakukan sesuai kemampuan, berdamai, dan memberkati – pesan-pesan ini akan teringat kembali secara otomatis. Apakah dengan demikian secara otomatis pula mematuhinya? Jujur saja, tidak selalu! Jika hati benar-benar dipernuhi dengan roh kebaikan – yang tentu saja mengalahkan roh-roh yang bertentangan lainnya – pesan ini akan dituruti sehingga amanat Paulus aku lakukan dalam menghadapi situasi tersebut. Jika tidak?

Lantas, apa bedanya dengan diriku yang sebelumnya bila situasinya ternyata berbeda dengan apa yang dipesankan oleh Paulus? Menurutku, pertama adalah kualitas pada saat aku melakukan apa yang semestinya aku lakukan menuruti nas perikop Epistel ini. Misalnya dalam hal memberikan bantuan. Jika sebelumnya lebih banyak didorong oleh keinginan agar terlihat baik, maka sekarang ini adalah termotivasi bahwa hal memberikan bantuan adalah kewajiban orang beriman. Lalu yang kedua, secara kuantitas. Kalau sebelumnya hanyalah sekadarnya saja (bahkan sisa-sisa yang masih tersisa, tentu saja …) sekarang aku memberikan dalam jumlah yang benar-benar “melukai” hatiku. Artinya, memberikan dalam jumlah demikian akan membuatku terasa berkorban karena aku harus menghadapi konsekuensi logisnya.

Nah, nas Ev Minggu ini kemudian memperkuatnya dengan mengatakan bahwa: lakukanlah itu semua karena menjadikan Tuhan sebagai yang utama. Bahkan harus “mengorbankan” orang-orang yang kita kasihi. Tapi, jangan salah sangka, ya … Bukan berarti harus membuat orang-orang yang dikasihi menjadi menderita. Bukan, bukan itu … Artinya adalah, pada suatu saat di mana diperhadapkan antara memilih Tuhan atau orang yang dikasihi, pilihan – dengan penuh kesadaran diri – harus dijatuhkan pada Tuhan.   

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Pesan yang dibagikan oleh nas perikop Minggu ini adalah mengingatkan kita tentang hal-hal yang mendasar. Dan hal-hal yang sebenarnya seringkali kita dengar dan baca sebelumnya. Bahkan mungkin juga di antaranya adalah “ayat emas” alias ayat favorit kita. Hal yang biasa, yang seharusnya membuat kita biasa untuk melakukannya.

Tapi, apa iya?

Dalam beberapa hal, sangat sulit untuk melakukannya. Apalagi selalu dan terus-menerus. Namun, jangan kecil hati, dimulai dengan mengingat, membiasakan untuk melakukannya dalam kehidupan, lalu meningkatkan kualitas dan kuantitasnya. Tuhan pasti membantu dan menguatkan kita dalam melakukannya. Percayalah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s