Andaliman – 152 Khotbah 20 November 2011 Minggu Akhir Tahun Jemaat (Ujung Taon Parhuriaon)

Tidak Ada Lagi Perkabungan, Jangan Lakukan Hal yang Sia-sia!

Nas Epistel:  Wahyu 21:1-7 (bahasa Batak Pangungkapon)

21:1 Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi.

21:2 Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.

21:3 Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka.

21:4 Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.”

21:5 Ia yang duduk di atas takhta itu berkata: “Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” Dan firman-Nya: “Tuliskanlah, karena segala perkataan ini adalah tepat dan benar.”

21:6 Firman-Nya lagi kepadaku: “Semuanya telah terjadi. Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir. Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.

21:7 Barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya dan ia akan menjadi anak-Ku.

Nas Evangelium: Matius 12:33-37

12:33 Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal.

12:34 Hai kamu keturunan ular beludak, bagaimanakah kamu dapat mengucapkan hal-hal yang baik, sedangkan kamu sendiri jahat? Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.

12:35 Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.

12:36 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.

12:37 Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.”

Waktu masih kuliah di STT Jakarta – tentu saja masih sangat menggebu-gebu dalam mengejar pengetahuan teologi dan punya keinginan yang kuat dalam melakukan pelayanan sebagai sesuatu yang “baru” – aku berkeinginan untuk mempelajari kitab Wahyu ini secara lebih mendalam. Bahkan hampir menjadikannya sebagai “spesialisasiku”. Beberapa langkah sempat aku ambil – menghubungi beberapa kawan yang mempunyai kerinduan yang kuat untuk melakukan pelayanan yang “baru” dengan spesialiasasi yang berbeda denganku. Namun, semakin aku berusaha mempelajarinya untuk memperdalam pengetahuanku, semakin pula aku merasa ‘nggak mampu. Dan Tuhan punya rencana, dan punya jalan tentunya … kerinduan tersebut terkubur dengan situasi dan kondisi yang kemudian terjadi. Sampai suatu saat nanti Tuhan membukakan jalan-Nya …

Jujur saja, aku sangat tertarik dengan Wahyu ini. Sangat misterius … Itulah salah satu yang membuatku selalu haus untuk menyibak isi dari Wahyu ini. Selalu ada saja yang menggelitik perasaan dan pikiranku setiap kali diperhadapkan dengan bacaan kitab yang termasuk salah satu yang lama dipertentangkan untuk kemudian masuk dalam kanonisasi Alkitab pada berabad-abad yang lalu.

Sebagaimana Wahyu adalah penglihatan rasul Yohanes yang diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melihat masa depan, artinya akhir zaman untuk membekali orang-orang beriman. Dan itu menjadikan nas perikop ini menjadi sangat tepat untuk Minggu Akhir Tahun Jemaat (Ujung Taon Parhuriaon) yang secara tradisi dijadikan sabagai minggu peringatan bagi orang-orang yang sudah meninggal (parningotan di angka naung monding). Pada kebaktian Minggu ini akan dibacakan daftar nama orang-orang yang telah meninggal selama satu tahun jemaat. Bukan untuk “menyedih-nyedihkan diri”, apalagi mempertunjukkan kesedihan (= mempertontonkan kesedihan seperti yang belakangan ini seringkali diekspos oleh televisi dengan acara yang bagiku memuakkan, namun ternyata banyak disukai oleh pemirsa sehingga mendapatkan rating yang tinggi …), namun untuk memantapkan iman tentang kematian dan mempersiapkan diri bilamana tiba saatnya untuk menghadap Sang Pemberi Kehidupan.

Langit yang baru adalah kehidupan yang baru, setelah kehidupan yang ada saat ini. Itulah sebabnya dikatakan bahwa orang percaya hidupnya dua kali dan matinya satu kali, berbeda dengan “orang-orang biasa” yang hanya hidup satu kali dan matinya juga satu kali … Aku sangat terberkati dengan nas perikop Ep Minggu ini, dan semakin mempertebal pengharapanku akan kehidupan kemudian. Itulah upah, kompensasi yang kelak aku dapatkan kemudian setelah meninggalkan kehidupan di dunia yang fana ini.

Peristiwa saat bertemu Bapa menurutku adalah hal yang paling menyukacitakan. Di dunia saat ini, dan juga di akhirat kelak. Tidak ada lagi ratapan dan air mata, karena yang ada hanyalah sukacita di kehidupan yang baru kelak. Hal inilah yang aku tekankan pada diriku selama ini dalam menghadapi kematian orang-orang yang aku kasihi yang juga sudah mulai aku “tularkan” ke anak dan isteriku, bahwa kematian tidaklah sesuatu yang harus ditakuti dan tidak usah diratapi berlama-lama. Karena dengan kematianlah, orang yang mendahului tersebut punya jalan untuk mendapat sukacita abadi bersama Bapa di sorga.

Jangan sia-siakan hidup. Jangan sia-siakan waktu. Itulah yang menjadi pesan Minggu ini. Nas Ev memberi penguatan tentang kritikan Yesus kepada orang-orang munafik yang seringkali mengganggu-Nya dengan sikap yang seolah-olah adalah orang yang paling suci (sesuatu yang juga seringkali menggodaku bilamana terlibat dalam pelayanan, dan juga dalam kehidupan keseharianku …). Merasa orang yang paling suci? Akh, ternyata aku juga kadangkala menjadi orang yang paling dibenci Yesus … 

Samakan apa yang diucapkan dengan tindakan dan harus didasari oleh dorongan hati. Begitulah aku memahami nas perikop Ev Minggu ini. Bila hati baik, tentu saja ucapan menjadi baik. Dan kelakuan juga harus baik karena sesuai dengan hati dan ucapan. Jangan menjadi orang kebanyakan dalam kehidupan saat ini yang pintar bersandiwara. Jangan, janganlah menggunakan hari-hari yang masih tersisa dalam hidup ini dengan kehidupan seperti itu, yang sangat tidak disukai oleh Yesus.     

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Hari-hari kita sudah semakin sempit. Saat kepulangan kita kepada pencipta sudah semakin mendekat. Apa yang harus kita lakukan sekarang?

Bersiap-siaplah! Bersiap-siap dengan memikirkan dan menyimpan hal-hal yang baik dalam hati. Lalu mengucapkannya sesuai isi hati yang baik tersebut. Dan melakukannya pula yang tentunya akan sesuai dengan hati, pikiran, dan ucapan.

Jangan habiskan hari-hari yang tersisa dengan melakukan hal-hal yang malah menjauhkan kita dari hidup dalam langit yang baru yang sudah disiapkan oleh Tuhan bagi anak-anak-Nya yang keluar sebagai pemenang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s