Jubileum Nasional HKBP? Untuk Yesus Kristus, atau Eforus, atau Politikus?

Setelah sempat tertunda seminggu, akhirnya jadi juga HKBP merayakan “jubileum”-nya di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada Minggu, 04 Desember 2011 yang lalu. Dihadiri Presiden SBY dan punggawa-punggawanya. Banyak yang bilang sukses, banyak pula yang bilang “biasa-biasa saja”. Tentu ini karena masing-masing punya ekspektasi dan ukuran yang berbeda. Bagiku? ‘Nggak punya pengaruh apa-apa!

Melupakan Pelayanan Jemaat, Karena “Berlarian” Bertemu Yesus, eh … Eforus, eh … SBY …

Hari Minggu itu aku bertugas di Ibadah Minggu di jemaat kami di Jakarta. Manjaha tingting, alias membaca warta jemaat sesuai sermon Kamis malam sebelumnya. Kesepakatan, karena pada jadual pelayanan ibadah semesteran yang sudah dibagikan berbulan-bulan yang lalu, untuk hari Minggu itu aku tidak bertugas. Namun, waktu pembagian tugas pelayan ibadah Minggu pagi (hanya pagi, karena ibadah sore ditiadakan mengingat betapa istimewanya jubileum nasional tersebut …) terasa sulit mencari pelayan yang mau bertugas. Sebagian besar sudah fokus ke ibadah di Senayan, termasuk kedua orang pendeta (pendeta resort dan yang diperbantukan) yang seharusnya masih sempat melayankan ibadah di jemaat, sudah kasak-kusuk “meminta izin” karena pagi-pagi sudah harus ke Senayan. Hal yang mengingatkanku pada politisi di negeri tercinta ini yang suka “tebar pesona”.  Jarak antara Kelapa Gading dengan Senayan tidaklah terlalu jauh. Apalagi hari Minggu, situasi lalu lintas tentulah tidak semacet hari-hari biasa. Menurutku, usai ibadah Minggu di jemaat pun, pendeta masih sempat menghadiri pesta besar di Senayan.

Hari Minggu pagi tersebut terjawab juga. Pagi-pagi sekali kami sudah sampai di komplek gereja dari Bandung (berangkat lebih pagi karena jalan tol Cipularang yang sedang diperbaiki sehingga harus diantisipasi kemacetan karena dua jam perjalanan selama ini seringkali bisa molor jadi tiga jam …). Di halaman parkir yang tidak jauh dari rumah kediaman pendeta resort, aku melihat pak pendeta sudah rapi dengan jas lengkap. Aku pun segera menyongsong, menyalam, menyampaikan selamat hari Minggu. Tak jauh dari beliau ada seseorang dengan jas lengkap juga yang baru turun dari mobil Kijangnya. Beliau memperkenalkan diri. Ternyata parhalado dari Kantor Pusat Pearaja Tarutung, yang segera mengingatkanku pada perdebatan di sermon parhalado beberapa minggu sebelumnya di mana mereka meminta bantuan kami parhalado huria untuk menyediakan lima juta rupiah untuk makan siang mereka (istilah makan siang ini memang yang dipakai pendeta saat menyampaikan kepada kami sehingga sempat menimbulkan pertanyaan keras dari bendahara huria yang akhirnya harus mengeluarkan dari kas jemaat untuk menutupi kekurangan dari urunan alias tekenles yang kami lakukan …).

“Nunga pasti ndang boi be iba dohot di jubileum na naeng ro, amang. I do binahen na niusahaon ro sian huta laho mandohoti acara di Senayan sadari on …”, kata sang tamu dari Kantor Pusat. Pesan yang kutangkap, acara di Senayan ini adalah segala-galanya bagi beliau. Mungkin juga bagi semua pelayan HKBP yang berprinsip seperti itu …

Sesuatu yang “luar biasa” terjadi. Hanya sintua di hari terakhir sebelum pensiun yang “diperbolehkan” berkhotbah pada Ibadah Minggu, namun hari itu sintua yang berkhotbah. Beliau adalah Ketua Dewan Koinonia yang akan segera mengakhiri periodenya, dan menyampaikan protes keras di sermon parhalado Kamis sebelumnya karena menganggap diberikan kesempatan berkhotbah karena ‘nggak ada orang lain …

Di bilut parhobasan, aku pun mempersiapkan diri untuk pelayanan hari itu. Setelah memastikan di dalam gereja – kantong persembahan, mikrofon, dan kertas warta – aku pun kembali mempersiapkan yang menjadi tugasku sebagai panjaha tingting. Ibadah hari itu menggunakan bahasa Batak sebagai pengantar, sehingga warta yang dibacakan adalah yang tertulis di Buku Besar Tingting na Marragam karena lembaran yang dibagikan kepada hadirin adalah dalam bahasa Indonesia.

Tentu saja aku terkejut ketika mengetahui bahwa tidak ada tercantum tingting hari itu di buku besar tersebut. Aku tanyakan ke sekretaris huria, yang dijawab bahwa beliau juga ‘nggak tahu-menahu karena menulis pengumuman di buku besar adalah tugas pendeta. Sintua yang akan berkhotbah juga geleng-geleng kepala, dan berusaha menuliskan warta dengan menerjemahkan ke dalam bahasa Batak dari lembaran untuk jemaat yang berbahasa Indonesia, yang juga segera menyerah setelah mencoba beberapa kalimat. Bendahara Huria langsung ‘nyeletuk, “Begitulah kerjaan pendeta kita. Kalau sudah urusan kantor pusat, apalagi mau jumpa eforus langsung terbirit-birit mendatangi untuk mencari muka. Urusan jemaat dan ibadah seperti ini pun terbengkalai …”. Puji Tuhan aku diberi kemampuan berbahasa Batak yang cukup memadai, sehingga saat membaca warta aku bisa langsung mengalihbahasakan yang aku baca dalam bahasa Indonesia ke bahasa Batak.

Untuk Yesus, Eforus, atau Politikus?

Sejak semula pun aku sudah ‘nggak tertarik dengan yang namanya “jubileum” ini. Melihat logonya sejak pertama kali yang katanya bentuk lidah api yang mencerminkan Roh Kudus ditambah pernik warna dominan Batak, ‘nggak pernah membuatku tergetar, atau pun sekadar merasakan “sesuatu”. Ditambah kemudian pemaparan kegiatan kepada jemaat yang umumnya ditanggapi kurang positif – yang juga seringkali membuatku geleng-geleng kepala – semakin membuatku ‘nggak mau banyak terlibat untuk “menyukseskan” “jubileum” ini. Hampir tidak satu pun kegiatan “jubileum HKBP” ini yang langsung menyentuh kepada kebutuhan pelayanan umat, selain meminta uang!

Manakala pendeta mengeluh bahwa warga jemaat tidak antusias – dengan hanya segelintir yang mendaftar untuk ikut ke Senayan – sambil sedikit menuduh karena sintua tidak menyemangati warga jemaat, membuatku bertanya dalam hati,“Apakah pak pendeta buta dan tuli?”.  Aku pernah sampaikan saat sermon parhalado bahwa pelayanan jemaat ini mirip dengan produk. Kalau produknya berkualitas, pasti akan dicari oleh konsumen. Kalau jelek, dilakukan segala hal juga belum tentu jadi disukai oleh konsumen. Begitu juga pelayanan di gereja, kalau sudah sangat buruk di persepsi oleh warga jemaat, bagaimana pun upaya para pelayan untuk mengajak, belum tentu mereka mau. Mendingan ke gereja lain, atau ke kegiatan lain yang lebih menarik dan lebih bermutu daripada memaksakan diri ikut kegiatan gereja yang membosankan!

Semula aku diminta menjadi kordinator di Senayan – dengan memakai jubah pelayan tahbisan! – yang puji Tuhan aku sudah punya jadual lain di hari tersebut yang menurutku lebih bermanfaat, sehingga aku menyampaikan maaf tentang ketidakbisaanku karena tidak bakal hadir di Senayan. Ternyata bukan hanya aku, bahkan Ketua Dewan Koinona dan Ketua Dewan Diakonia juga ‘nggak hadir di Senayan.

Dan benar juga dugaan banyak orang yang tidak begitu positif dengan kegiatan yang menghabiskan uang sangat banyak tersebut. Seharusnyalah kegiatan tersebut berupa ibadah syukuran kepada Tuhan untuk penyertaan Tuhan dalam perjalanan HKBP dalam melayani umat. Terlepas apakah memang benar HKBP yang berjubileum 150 tahun ataukah perayaan 150 tahun Injil yang masuk ke Sumatera Utara, sepatutnyalah acaranya berupa ibadah, bukan unjuk kekuatan. Dari banyak yang hadir, mereka menangkap kesan bahwa para pendeta lebih banyak yang memamerkan siapa dirinya, misalnya dengan menunjukkan jumlah warga jemaat yang datang, apa yang dimilikinya saat ini, dan hal-hal lain yang jauh dari kesan kerendahan hati …

Dan kemarin aku baru membaca di situs salah seorang pendeta HKBP, ternyata Eforus dalam pidatonya – setelah memuji-muji SBY, tentunya – meminta jatah kursi menteri untuk HKBP. Memalukan! Apalagi dengan menyebut nama-nama politisi yang jadi legislator saat ini … Aku bisa memastikan bahwa SBY tersenyum mengejek dalam hatinya. Terbukti bahwa kelakuan pendeta HKBP saat ini ‘nggak jauh berbeda dengan kelakuan politisi di negeri ini yang lebih banyak sifat buruknya (korupsi, manipulasi, skandal seks, penjudi) daripada sifat positif. Benarlah apa yang disampaikan beberapa sinodistan bahwa Sinode Godang tidak ada bedanya dengan legislator yang membuat malu. Tidak mengesankan pertemuan pelayan gereja yang (seharusnya) mengabdi kepada Yesus Kristus selaku Kepala Gereja.

Meminta jatah kursi menteri, adalah hal yang semakin sering kita dengar belakangan ini. Oleh partai politik yang cenderung bersedia “melacurkan diri” asalkan mendapat porsi kekuasaan. Sekarang Eforus melakukan hal yang sama. Sangat terlihat ada yang menyimpang dari semangat HKBP saat ini. Jangan-jangan ada titipan para legislator tersebut kepada Eforus untuk disampaikan kepada presiden. Atau, malah Eforus sedang “berinvestasi” ? Cuma Yesus Kristus Sang Kepala Gereja-lah yang paling tahu …

Masih ada lagi. Eforus juga meminta bantuan SBY agar mewujudkan Tapanuli sebagai provinsi baru di negeri ini. Entah apa maksudnya. Seperti ‘nggak punya agenda lain yang lebih penting yang lebih menyentuh kehidupan bergereja dan berjemaat. Yang paling aku rindukan saat itu adalah: Eforus menyampaikan keprihatinan kepada SBY tentang sulitnya gereja mendapat izin, pembubaran gereja dan pelarangan ibadah di banyak tempat. Itu saja fokusnya, jangan ada agenda lainnya.

Malah seharusnya ketiadaan warga HKBP – sudah Batak, Kristen pula! – duduk di kabinet SBY menjadi bahan koreksi bagi Eforus. Kenapa SBY tidak mempercayai seorang pun Batak Kristen menjadi menterinya. Mungkin saja SBY tidak memandang sebelah mata pun terhadap HKBP, karena HKBP ‘nggak punya potensi yang dapat menentukan jalannya pemerintahan di negeri ini. Jangan-jangan SBY tidak kenal (bahkan tidak tahu) siapa Eforus HKBP yang sekarang karena kalibernya belum memadai untuk bicara di aras nasional, apalagi internasional!

Untuk HKBP saat ini – di mana pendetanya masih didominasi oleh orang-orang yang gila kekuasaan duniawi dan tidak berhati hamba Yesus Kristus – jangan pernah berharap mampu menyuarakan suara kenabian …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s