Lagi, Natal dan Adven: Versi Eforus HKBP

Pada sermon parhalado Kamis malam menjelang Adven minggu pertama, di akhir parsermonan tiba-tiba saja pendeta resort membacakan “surat penggembalaan” dari Eforus HKBP yang pada intinya mengatakan bahwa tidak ada salahnya bagi orang-orang yang ingin melakukan perayaan Natal pada minggu-minggu Adven. “Dengan surat Eforus ini kita tidak usah lagi ragu dalam menjawab pertanyaan yang datang dari warga jemaat tentang hal ini. Belakangan makin sering datang pertanyaan apakah merayakan Natal atau Adven. Misalnya perkumpulan perempuan distrik …”, kata pak pendeta sekaligus “memasang portal” agar tidak ada yang menanyakannya lagi, “Ndang pola adong be sungkun-sungkun sian hita. Na nidok ni Eporus on ma taihuthon!”.  Karena ‘nggak ada reaksi dari para penatua yang hadir, aku pun diam saja sambil menyimpan pertanyaan di dalam hati.

Hari Minggu Adven Pertama, aku berkhotbah di Bandung. Tentang pembaharuan diri dalam mempersiapkan menyambut kelahiran Yesus. Sengaja aku selipkan pernyataan, “Itulah makanya aku merasa kurang pas dengan surat edaran Eforus yang mengatakan bahwa tidak ada salahnya merayakan Natal walaupun masih di Minggu Adven.” Dan, reaksi hadirin menjadi negatif tentang surat edaran tersebut. Pada hari itu tidak ada dibacakan surat edaran Eforus dimaksud.

Kamis malam pada sermon parhalado berikutnya, Ketua Dewan Koinonia meminta bicara sebelum sermon ditutup pak  pendeta. “Kenapa langsung dibacakan di warta jemaat surat edaran dari Eforus. Ada warga jemaat yang mempertanyakannya. Sampai sekarang pun belum ada kesepakatan di kalangan pendeta HKBP tentang perayaan Natal di minggu-minggu Adven. Masih ada pro dan kontra. Sebaiknya, jangan terlalu mudah membacakan surat apapun di warta jemaat, karena sekali diwartakan itu berarti sudah persetujuan parhalado. Pak pendeta menjawab bahwa Eforus sekarang berpendapat seperti itu, ya itulah dulu yang kita patuhi. “Sebagai gereja yang masih menyandang nama HKBP kita harus tunduk pada pimpinan HKBP saat ini. Bisa saja berbeda pendapat Eforus kemudian, kita lihat sajalah nanti.” Jawaban seorang “pegawai HKBP”, pikirku dalam hati, sebagai pegawai yang baik tentulah harus patuh pada boss ….

Jujur saja, pemahaman tentang tidak dianjurkan merayakan Natal pada masa Adven sebenarnya dipicu oleh pandangan seorang pendeta senior HKBP yang sekarang menjadi anggota Majelis Pekerja Sinode (MPS) HKBP Pusat yang rajin menulis di blog beliau. Dan aku sependapat untuk menunda perayaan Natal sebelum 24 Desember karena itu mengacaukan pemahaman teologi Natal dan juga mengganggu konsentrasi persiapan menyambut Natal yang sebenarnya kesempatannya adalah pada minggu-minggu Adven (diberikan empat minggu supaya umat benar-benar siap dalam menyambut Natal). Sangat kontradiktif bila Minggu Adven pertama kita mendengar khotbah untuk persiapan diri menyambut kelahiran Yesus, tapi malamnya mengikuti perayaan Natal dengan khotbah bahwa Yesus sudah lahir di kandang domba, lalu Minggu Adven berikutnya kembali lagi mendengar khotbah untuk mempersiapkan diri menyambut kelahiran Yesus …

Selama kuliah di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta kami ‘nggak pernah merayakan Natal, melainkan perayaan Adven karena perayaannya memang dilakukan sebelum 25 Desember. Satu minggu sebelum Natal perkuliahan sudah diliburkan, dan kami mahasiswa diminta fokus pada ibadah perayaan Natal di jemaat masing-masing dari denominasi gereja yang mengutus kami untuk kuliah di STT Jakarta.

Pelaksanaan seperti itulah yang aku terapkan selanjutnya. Banyak juga yang mengernyitkan dahi manakala setiap kali aku menolak saat diminta untuk mengisi acara perayaan Natal sebelum 25 Desember dan usulku untuk menggantinya menjadi perayaan Adven ‘nggak disetujui panitia. “Makin kuliah di STT koq malah makin sesat?“, mungkin demikian yang ada dalam pikiran orang-orang tersebut yang tetap belum bisa memahami penjelasan yang aku sampaikan. Sebagian besar paham, namun belum punya keberanian untuk melakukan perubahan …

Lagian, kalau HKBP menyelenggarakan Natal pada minggu-minggu Adven, menurutku itu adalah pengingkaran terhadap Almanak HKBP yang dibuat oleh HKBP sendiri (ditulis dengan na pinatomutomu ni Ephorus HKBP …) yang seharusnya dipatuhi oleh semua perangkat HKBP. Almanak HKBP adalah salah satu karya yang bagus yang tidak dimiliki oleh gereja-gereja lain, berisi panduan ibadah – untuk di gereja, maupun pribadi dan keluarga – karena  di dalamnya sudah ditentukan nas khotbah, perikop bacaan, daftar lagu, pokok doa, dan thema setiap Minggu. Urut-urutannya setiap Minggu sudah mengacu pada kalender gereja sehingga membuat ada keteraturan dalam pelayanan ibadah di lingkungan HKBP. Nah, kalau Eforus saja yang “lupa” dengan “karyanya” sendiri (paling tidak, ada tercantum anak kalimat sebagaimana tersebut di atas), bagaimana pula anak buahnya, para pendeta, bijbelvrouw, dan yang lainnya yang adalah “pegawai HKBP”?

“Bah, kapan lagi kami dapat ucapan syukur yang lebih banyak kalau perayaan Natal dibatasi?”, kata seorang pendeta yang kelihatannya sangat “fanatik” dengan “jalang-jalang” dari warga jemaat, “Kalau habis Natal sudah Januari, itu saatnya marbona taon. Sudah beda lagi ceritanya …”. Wah, kalau motifnya sudah uang, yakni kesempatan untuk mendapatkan uang lebih banyak dari jemaat yang mengundang berkhotbah – lebih banyak perayaan Natal tentu lebih banyak “persembahan kasih” berupa uang – mau dibawa ke mana pelayanan ini?

Padahal, perayaan tetap bisa dilakukan, yakni perayaan Adven (sebagaimana kami lakukan saat di STT Jakarta). Perayaan Natal barulah kemudian dilakukan setelah 25 Desember sampai pertengahan Januari, yakni Minggu Epifani. Masih belum cukup? Alkitab mengatakan “cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan” …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s