Lagu “Boasa Ia Dung Botari” dengan Semangat Baru

Boasa Ia Dung Botari

Ciptaan: S. Dis

Dipopulerkan oleh Victor Hutabarat dalam Album Nostalgia Batak Populer PT Virgo Ramayana Record

Boasa Ia Dung Botari

Versi Minggu Adven-I “ … menyanyikan nyanyian baru …” (Wahyu 5:9)

suplemen khotbah St. Rodlany A. Lbn. Tobing, SE, MBA, MMin

Bandung, 27 November 2011

Adong huida sada bunga, rupana tung mansai uli

Sai marhabangan angka loba, naeng songgop tu bungana i

Di na laho ahu naeng mambuat, huida ndang di si be i

Mulak boti ahu jala marsak pasari-sari bunga i

Sai huranapi humaliang, mangalului si songon i

Hape di na so pangkiriman, huida ho di lambungki

Boasa ia dung botari, pajumpang ahu dohot ho

Sian na sogot sai hulului, rongkap ni tondi da ito

bunga = Barita Na Uli = Injil, kabar sukacita

-> berlomba-lomba orang mengejar keselamatan yang ditawarkan oleh Injil

-> terlambat menanggapi, berita keselamatan sudah disampaikan kepada orang lain yang lebih siap -> penyesalan karena kehabisan waktu

-> kembali mencari-cari jalan keselamatan

-> tersadar bahwa jalan keselamatan tidak berada jauh di sekitar

… ahu dohot Ho -> mengapa setelah siang baru bertemu dengan-Nya

-> lelah mencari jalan keselamatan dengan menghabiskan banyak waktu, jadikan Yesus sebagai belahan jiwa, karena kita adalah pengantin-Nya

Tahu lagu “Boasa Ia Dung Botari“? Tahulah, ya … Lagu lama ini salah satunya dipopulerkan oleh Victor Hutabarat. Suatu kali saat akan membawakan khotbah Adven aku mempersiapkan teks dan video clipt-nya, namun ketika baru saja dibagi bersamaan dengan kertas acara, beberapa orang warga jemaat yang sudah hadir langsung menyanyikannya dengan sungguh-sungguh sehingga saat berkhotbah aku pun ‘nggak perlu lagi memperdengarkan lagu tersebut. Sebaliknya, mengajak hadirin menyanyikannya bersama-sama …

Lagu Penyesalan? Lagu Selingkuh?

Aku suka lagu tersebut. Syairnya, pun iramanya. Namun bertahun-tahun aku sempat berpikiran negatif tentang lagu tersebut. Kalau ada yang menyanyikan lagu tersebut dalam suatu kesempatan, aku cenderung berpikiran negatif tentang orang yang sedang menyanyikan lagu tersebut. Jelek banget, ya?

Dan orang-orang juga semuanya yang sempat aku ketahui berpikiran yang sama bilamana mendengar lagu tersebut. “Wah, menyesal ya dengan isteri yang sekarang?”, begitu yang acapkali terungkap. Malah ada yang lebih “fatal”, “Wah, sudah mulai ‘macam-macam’ ya?”. Begitulah tanggapan yang sering aku dengar tentang lagu tersebut.

Namun beberapa tahun belakangan ini pikiranku tentang lagu tersebut menjadi berubah. Drastis! Karena aku sangat menyukainya. Aneh? Benar, karena aku semakin mendalami syairnya dan semakin aku merasa bahwa lagu tersebut bisa dipahami secara “rohaniah”. Yang syair aslinya (mungkin itu juga dimaksudkan oleh Ompung S. Dis ketika menciptakannya …) adalah penyesalan yang dialami oleh seseorang yang dikisahkan oleh lagu tersebut, karena bertemu dengan pujaan hatinya setelah memiliki pasangan yang sah. Atau bertemu dengan seorang perempuan muda setelah dianya berusia lanjut …

Aku paling menyukai refrein-nya. Sangat kena dengan perjalanan hidupku, khususnya perkawinanku. Aku memahami refrein tersebut adalah: kenapa (mesti)  jauh-jauh dan lama menghabiskan banyak waktu mencari isteri karena ternyata Tuhan menetapkannya bagiku yang jaraknya cuma sepelemparan batu. Benar-benar sepelemparan batu dalam makna yang sesungguhnya. Isteriku adalah tetangga berbeda lingkungan yang waktu pacaran aku cukup berjalan kaki kala martandang ke rumah orangtuanya. Dan kenapa kami harus bertemu setelah berumur “sedikit lanjut” karena ceritanya bisa berbeda kalau kami ketemunya lebih awal, ketika usia masih sama-sama belia … Itulah rencana Tuhan, ya …

Lagu Baru Versi Adven?

Ketika membaca nas perikop yang aku diminta untuk membawakannya dalam khotbah, aku dapat inspirasi untuk memasukkan lagu tersebut dalam bahan khotbahku. Semakin aku resapi syairnya sambil mendengarkan lantunan Victor Hutabarat, semakin aku yakin bahwa lagu ini akan sangat pas bila aku sertakan dalam khotbah. Pasti juga akan menjadi alat bantu mengalahkan kebosanan hadirin dengan khotbah satu arah yang sangat monoton (kalau ada kesempatan, biasanya selalu aku upayakan membawakan khotbah dengan menayangkan sesuatu di layar proyektor yang aku akui terbukti sangat efektif dalam menyampaikan firman …).

Apalagi saat ketemu dengan anak kalimat “… nyanyian baru”. Aha! Ini dia. Bukankah yang dimaksud bukanlah semata menyanyikan lagu-lagu yang baru diciptakan? Bisa repot kalau kita mengetahui bahwa lagu-lagu dalam Buku Ende adalah ciptaan berabad-abad yang lalu. Bukan, bukan harus ciptaan baru maksudnya. Menyanyikannya dengan cara yang baru, pemahaman yang baru, semangat yang baru, itulah yang paling penting! Dan itulah yang aku minta kepada hadirin saat itu untuk menyanyikan lagu tersebut dengan semangat dan pemahaman yang baru, yakni dengan sikap rohaniah alias alkitabiah. Untuk membantu, aku lampirkan teks aslinya dan di sebelahnya dengan “pemahaman baru” yang aku maksudkan.

Sangat membantu bagi warga jemaat yang hadir saat Ibadah Minggu itu. Mungkin bisa juga membantu engkau, kawanku …

Selamat Adven!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s