Andaliman – 156 Khotbah 18 Desember 2011 Minggu Advent-IV

Janji Tuhan adalah Pasti. Terimalah dengan Rendah Hati dan Sukacita

 

Nas Epistel:  2 Korintus 1:18-22

1:18 Demi Allah yang setia, janji kami kepada kamu bukanlah serentak “ya” dan “tidak”.

1:19 Karena Yesus Kristus, Anak Allah, yang telah kami beritakan di tengah-tengah kamu, yaitu olehku dan oleh Silwanus dan Timotius, bukanlah “ya” dan “tidak”, tetapi sebaliknya di dalam Dia hanya ada “ya”.

1:20 Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.

1:21 Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi,

1:22 memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.

Nas Evangelium: Lukas 1:39-45

1:39 Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan langsung berjalan ke pegunungan menuju sebuah kota di Yehuda.

1:40 Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet.

1:41 Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabetpun penuh dengan Roh Kudus,

1:42 lalu berseru dengan suara nyaring: “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu.

1:43 Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku?

1:44 Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai kepada telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan.

1:45 Dan berbahagialah ia, yang telah percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.”

Alkitab banyak berisi janji-janji. Janji manusia, pun janji Tuhan. Dan iman kepercayaan memanglah pertaruhan, menurutku. Apa yang dihadapi saat ini selalu “dipertentangkan” dengan iman, utamanya hal-hal yang secara logika sudah ‘nggak masuk. Namun, jangan sampai salah, menurutku: iman tidak pernah bertentangan dengan logika, melainkan iman melampaui logika.

Hal janji inilah yang menjadi pokok bahasan dalam nas perikop Minggu ini, baik Ep maupun Ev. Inilah Minggu Adven yang terakhir untuk tahun ini, karena kita segera memasuki perayaan Natal. Nas perikop Ep menekankan bahwa segala sesuatu tentang Kristus adalah “ya” dan “amin”. Tidak ada yang perlu diragukan. Apa yang dijanjikan Kristus selama masa kehidupan-Nya di dunia ini adalah sesuatu yang pasti. Tinggal saat perwujudannya yang tidak seorang manusia pun yang mengetahuinya. Pasti akan terjadi, namun kapan, tidak seorang manusia pun yang tahu. Itulah misteri iman, yang jujur saja, membuatku penasaran. Dan rasa penasaran itulah yang membuatku masih tetap mempertahankan iman kepercayaanku kepada Kristus sampai saat ini.

Akan lain ceritanya jika memercayai sesuatu yang pasti dan aku sudah tahu kapan saatnya. Rasa penasarannya akan jauh berkurang. Persiapan untuk menyambut hari-H itupun akan ada batas maksimalnya. Misalnya mempersiapkan pesta perkawinan tanggal 13 Juli yang akan datang. Karena sudah tahu kepastiannya – akan terjadi dan tanggal pelaksanaan – maka semua persiapan akan dilakukan berdasarkan batas sampai 13 Juli. Nah, kalau hidup di dunia ini? Karena tidak mengetahui tanggalnya, tentu saja aku harus selalu bersiap dan bersedia setiap saat. Begitu, ‘kan? Itulah yang membuatku sehingga selalu bertahan dalam hidup, untuk selalu sejalan dengan kemauan Tuhan, dan bersedia menjadi pelayan-Nya yang setia. Sampai kapan? Sampai Beliau datang kembali menjemputku untuk bersama-sama dengan-Nya di kehidupan kekal kelak.

Yang menjadi tantangan kemudian adalah bagaimana menyikapinya sebelum hari-H itu. Maria, ibu lahiriah Yesus memberikan contoh teladan sebagaimana dicatat dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Dengan sikap rendah hati. Keistimewaannya menjadi ibu lahiriah Yesus tidak menjadikannya menjadi orang yang sangat mulia. Ucapan Elizabet yang menyebutnya sebagai “ibu Tuhan” tidak menjadikan Maria tinggi hati. ‘Nggak bisa aku bayangkan jika situasi tersebut menghampiri aku. Sedangkan menjadi sintua di jemaat yang kecil pun seringkali membuatku tergoda untuk menjadi orang yang sombong. Menuntut perlakuan yang istimewa dari jemaat sehingga lupa pada janji tahbisan untuk menjadi pelayan jemaat.

Duh, malunya aku pada Maria. Untunglah ada Maria dan nas perikop Ev Minggu ini yang menyadarkanku untuk kembali kepada sikap yang sebenarnya. Sifat tinggi hati dan ingin dilayani bukanlah suatu kepantasan bagi pelayan jemaat. Juga bagi anak-anak Tuhan … 

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jangan pernah ragukan janji Tuhan. Itu adalah sesuatu yang sangat pasti. Tidak ada yang “abu-abu”.  Ada sedikit manusia yang bisa dipegang janjinya, karena masih sering memenuhi janjinya. Namun janji manusia tetaplah bukan sesuatu yang pasti.

Janji Tuhan “ya” dan “amin”. Janji itulah yang menguatkan kita selagi hidup di dunia ini. Itulah yang memampukan kita untuk selalu bersukacita, baik atau tidak baik situasinya. Peganglah itu sampai Tuhan datang kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s