Andaliman – 163 Khotbah 05 Februari 2012 Minggu Septuagesima

Hanya Allah Saja, Tiada yang Bisa Menyamai-Nya …

Nas Epistel:   Markus 1: 29-39

1:29 Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas.

1:30 Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus.

1:31 Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka.

1:32 Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan.

1:33 Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu.

1:34 Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

1:35 Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.

1:36 Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia;

1:37 waktu menemukan Dia mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.”

1:38 Jawab-Nya: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.”

1:39 Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Nas Evangelium: Yesaya 40: 21-31

40:21 Tidakkah kamu tahu? Tidakkah kamu dengar? Tidakkah diberitahukan kepadamu dari mulanya? Tidakkah kamu mengerti dari sejak dasar bumi diletakkan?

40:22 Dia yang bertakhta di atas bulatan bumi yang penduduknya seperti belalang; Dia yang membentangkan langit seperti kain dan memasangnya seperti kemah kediaman!

40:23 Dia yang membuat pembesar-pembesar menjadi tidak ada dan yang menjadikan hakim-hakim dunia sia-sia saja!

40:24 Baru saja mereka ditanam, baru saja mereka ditaburkan, baru saja cangkok mereka berakar di dalam tanah, sudah juga Ia meniup kepada mereka, sehingga mereka kering dan diterbangkan oleh badai seperti jerami.

40:25 Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus.

40:26 Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.

40:27 Mengapakah engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel: “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hakku tidak diperhatikan Allahku?”

40:28 Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? TUHAN ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya.

40:29 Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.

40:30 Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung,

40:31 tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.

Tak terasa, sekarang sudah masuk bulan kedua tahun 2012 ini. Sudah mulai banyak yang terjadi pada tahun yang masih sangat “muda” ini. Sudah mulai banyak pula pengalaman yang aku jalani. Masih satu bulan, namun suhunya sudah bercampur aduk. Betul? Coba ingat, pengalaman apa yang engkau alamai selama satu tahun di 2011 yang belum terjadi sejauh ini? Ada?

Beberapa orang yang sempat aku tanyakan dan saat ‘ngobrol dengan mereka, menyatakan bahwa sulitnya tahun 2011 sudah mereka alami selama satu bulan yang baru dilalui. Tontonan peristiwa yang ditayangkan televisi satu bulan ini juga tidak jauh berbeda dengan rangkaian peristiwa yang terjadi tahun 2011 yang lalu.

Itu artinya, kesukaran hidup sehari-hari yang sudah dilalui bulan lalu adalah sesuatu yang “biasa” karena memang sudah dialami tahun lalu. Dan Tuhan memampukan untuk melewati semua yang sulit yang sudah terjadi. Karena Tuhan masih menyertai dan memberkati setiap pekerjaan. Juga menyembuhkan. Dan Dia masih melakukan hal-hal yang ajaib! Aku mengalaminya pada Januari yang baru saja berlalu.

Nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini menceritakan tentang keajaiban yang dilakukan Yesus dalam menyembuhkan mertua Simon yang sakit demam. Kesembuhan dan mujizat yang sama kemudian disebarluaskan ke tempat-tempat lain. Sampai ke seluruh penjuru dunia. Sampai ke sini, di sini, dan saat ini.

Dan Yesaya mengingatkan bahwa orang-orang percaya yang menanti-nantikan Tuhan dijanjikan tentang kekuatan yang sangat luar biasa dalam menghadapi tantangan. Sesuatu yang juga masih berlaku saat ini. Di dalam Tuhan, selalu ada kekuatan yang membuat tabah dan tegar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan dalam hidup.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Percayakah engkau pada mujizat? Aku percaya. Percayakah engkau bahwa sampai saat ini pun mujizat masih terjadi? Aku percaya sebagaimana Tuhan yang aku sangat mempercayai-Nya. Dan kuasa-Nya tidak dibatasi oleh jarak dan waktu.

Dan satu yang harus selalu kita ingat: hanya Dia sajalah yang layak dipercaya. Satu-satunya. Tiada yang lain!

Koinonia, oh … Koinonia

Aku ‘nggak pernah punya ambisi apapun untuk jabatan di gereja, selain hanya untuk pelayanan jemaat. Apalagi kalau sampai membangga-banggakan latar belakang pendidikan teologi yang pernah aku ikuti di Program Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Teologi Jakarta. Malah sebaliknya, salah satu yang mendorongku untuk mengikuti pendidikan tersebut adalah agar aku memiliki bekal yang cukup untuk terlibat lebih aktif dalam pelayanan jemaat. Bukan sekadar “cheque kosong” … Walaupun banyak yang bilang bahwa Tuhan akan melengkapi segala sesuatu yang dibutuhkan dalam pelayanan, prinsip bahwa Tuhan “sekadar” melengkapi. Artinya, aku juga harus memiliki – katakanlah “sekadar” – bekal sebelum kemudian Tuhan menambahkan hal-hal lain supaya membuatku semakin lengkap.

Sejak di Medan aku sudah terlibat sebagai aktivis jemaat. Mulai Sekolah Minggu sampai NHKBP.  Setelah kawin lalu merantau, maka aku bergabung dengan Koor Ama. Jadi, kehidupanku ‘nggak jauh-jauh dari kehidupan berjemaat. Salah satu pesan yang aku ingat dari mamakku adalah untuk selalu mencari rumah tinggal yang tidak jauh dari komplek gereja. meskipun saat itu pasti yang dimaksud oleh beliau adalah kedekatan secara geografis, namun sekarang aku lebih melengkapinya dengan pemahaman secara psikologis juga. Saat tinggal di Jakarta, bertahun-tahun kami masih bisa memenuhi “amanat” tersebut. Rumah kontrakan kami di Kelapa Gading Permai masih dekat dengan komplek Gereja HKBP Immanuel. Sehubungan dengan perubahan lokasi kerja dan kondisi yang diberikan oleh perusahaan, kami pun pindah ke Bekasi. Namun tetap berjemaat di HKBP Immanuel. Sampai sekarang …

Oh ya, selama tinggal di Kelapa Gading aku sempat ‘nggak aktif di jemaat. Alasannya: saat itu yang menjadi pendeta adalah lae-ku, yang kawin dengan salah seorang ito-ku. Begitu tahu beliau yang akan menjadi pendeta, aku segera bilang ke mak Auli isteriku, “Sebaiknya kita jangan banyak terlibat dalam jabatan di gereja selama masih lae yang jadi pemimpin jemaatnya”. Tujuannya cuma satu: jangan sampai terjadi “conflict of interest“. Hanya kurang lebih satu tahun, kemudian beliau pindah tugas ke jemaat lain di Jakarta.

Marturia: Masuk Rumah Tuhan Bersukaria

Empat tahun yang lalu – sebegitu tamat kuliah dari STT Jakarta – aku ditunjuk untuk menjadi Sekretaris Dewan Marturia. Nah, ini dia, pikirku. Kesempatan untuk melakukan perubahan dengan mempraktikkan pengetahuan yang aku miliki. Beberapa tahun di Koor Ama Josua membuatku mampu memetakan situasi jemaat. Dan mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa yang diharapkan oleh jemaat.

Rapat pertama Dewan Marturia aku sempatkan berpresentasi menyampaikan visi, misi, strategi, dan taktik yang harus dilaksanakan untuk memperbaiki pelayanan (yang ‘nggak ‘nyangka, ternyata yang hadir saat itu heran melihatku harus berpresentasi, yang membuat menjadi lebih heran, koq warga jemaat di tengah kota Jakarta masih belum biasa dengan cara kerja profesional seperti yang aku tunjukkan saat itu …).  Sebagai orang profesional dan berpengalaman di dunia pemasaran dan penjualan, tentu saja aku coba aplikasikan (bukankah kita harus membawa hal-hal baik dari luar ke lingkungan gereja?), salah satunya dengan memunculkan tag agar memudahkan komunikasi dan pemahaman jemaat tentang Marturia sebagai singkatan dari “masuk rumah Tuhan dengan bersukaria” yang memang sangat relevan karena Dewan Marturia “membawahi” seksi musik dan seksi kesaksian.

Gairah yang menggebu-gebu ternyata cepat menurun seiring dengan tanggapan lingkungan sekitar. Rapat dengan minutes yang rapi dan tindak lanjut yang selalu aku ikuti kepada masing-masing person in charge ternyata aku rasakan mengganggu kenyamanan para kawan-kawan aktivis lainnya yang sudah bertahun-tahun hidup dalam pelayanan yang ala kadarnya. Tanpa target tertentu, tanpa rasa tanggung jawab, tanpa evaluasi teratur, yah … pokoknya sekadar “mengandalkan Tuhan” …

Satu tahun bergaul dan bergumul dengan orang-orang seperti itu membuatku harus memutuskan untuk “mengundurkan diri”. Capek … Selalu saja ada orang-orang yang menarikku ke bawah saat aku akan naik, menarikku mundur saat aku akan maju. Saat itulah aku baru sadar kenapa pelayanan di jemaat ini sekadar jalan di tempat, kalau tidak mau dikatakan malah mundur. Sangat ironis bila dibandingkan lingkungan jemaat di mana sangat banyak gereja yang berdiri di Kelapa Gading (Jakarta Utara) bak jamur di musim hujan yang menawarkan berbagai hal menarik (yang terbukti efektif menarik warga jemaat, bahkan tidak sedikit yang meninggalkan HKBP …), yang tidak membuat para pelayan tidak bergeming. Seakan tidak ada masalah dengan pelayanan jemaat … Terakhir kali aku terlibat penuh adalah saat diminta menyiapkan strategi menyongsong Tahun Marturia.

Oh ya … di bilut parhobasan alias konsistori tercantum daftar nama aktivis. Di situ ada namaku. Mungkin orang lain bangga bilamana melihat namanya tercantum di situ, namun aku sebaliknya. Ada perasaan malu dan bersalah timbul dalam diriku setiap kali melihat daftar tersebut, karena merasa tidak bertanggung jawab dan tidak memberikan kontribusi yang memadai untuk pelayanan yang dipercayakan padaku.

2012, Apakah Akan Terjadi Lagi?

Sejak akhir tahun lalu sudah mulai dibicarakan tentang pengurus empat tahun ke depan karena periodisasi yang segera berakhir. Hampir sepuluh kali diadakan rapat, dan selalu terjadi perubahan daftar pengurus yang tercantum. Banyak hal yang menyebabkan keterlambatan ini yang mengesankan bertele-tele. Di bawah ini adalah beberapa yang dapat aku simpulkan:

(1) tidak semua peserta rapat (parhalado) memahami Aturan dan Peraturan yang mengatur tentant pengurus pelayanan ini. Jangankan memahami, tidak sampai lima orang yang membacanya, dan aku lebih yakin lagi bahwa kebanyakan tidak tahu di mana meletakkan buku Aturan dan Peraturan tersebut.

(2) ketidakkonsistenan peserta rapat dengan aturan yang dibuat, hal ini utamanya menyangkut pendeta sebagai uluan huria. Kadangkala mau kaku untuk mengikuti AP HKBP tersebut, namun ketika membicarakan jabatan lain dengan enteng mengatakan, “Tak perlu kaku dengan aturan, kita memyesuaikan diri saja“, sambil memberikan ilustrasi jemaat HKBP di pelosok Tapanuli yang membuatku geli melihat ketidakrelevan tersebut. Bagaimana membandingkan gereja di tengah kota Jakarta dengan gereja di kampung terpencil di Tapanuli?

(3) ketidakkonsistenan tersebut mudah membuat orang bercuriga bahwa ada “muatan” tertentu untuk menempatkan orang tertentu pada jabatan tertentu. Yang ini membuatku prihatin, seakan menempatkan gereja tidak jauh berbeda dengan dunia politik Indonesia yang sangat buruk saat ini.

(4) orang-orang yang ditempatkan pada jabatan tertentu umumnya sekadar memenuhi agar setiap penatua mendapat porsi pada kepengurusan. Menurutku ini sangat memprihatinkan, karena seringkali orang menempati jabatan tersebut menjadi tidak sesuai dengan kompetensinya.

(5) suasana rapat yang tidak kondusif berpotensi mengakibatkan keputusan yang diambil menjadi tidak berkualitas. Hampir dalam setiap rapat ada celetukan, “Ya sudah, putuskan saja. Sudah malam ini. Biar kita cepat pulang!“. Terus terang, ini membuatku sangat sedih. Koq beraninya atau teganya keputusan pelayanan di gereja Tuhan dianggap enteng oleh orang-orang yang mengaku dirinya sebagai hamba Tuhan? Tentang pulang malam, aku saja yang harus kembali ke Bandung (dan selalu tiba dini hari) tidak mengeluhkan tentang hal tersebut.

(6) mulai timbul di beberapa penatua yang sebenarnya memprihatinkan pelayanan dan sangat merindukan perubahan dan peningkatan pelayanan jemaat, namun dengan gaya kepemimpinan pendeta yang sudah lima tahun di jemaat (dan sudah dirasakan mulai tidak punya “greget” lagi …) akhirnya menjadi apatis. “Suka pendeta sajalah mau apa yang dibuatnya dengan gereja ini. Dia sudah ‘nggak mau mendengar masukan lagi. Yang penting, kita kerjakan saja apa yang baik menurut kita. ‘Nggak usah mau ribut-ribut …”.

Aku di Mana? Koinonia … oh, Koinonia …

Sejak awal rapat majelis tahbisan sudah mempersiapkanku untuk di Dewan Koinonia. Pembicaraan awal dengan semua yang masuk dalam pengurus DK juga sudah sepakat untuk memilihku menjadi Ketua DK. Sesuatu yang sejak awal aku sampaikan untuk mempertimbangkan keterbatasan jarak dan waktu karena aku tinggal dan bekerja di Bandung. Namun mereka tetap “memaksa” dengan alasan bahwa mereka melihat kesungguhanku untuk selalu berusaha hadir di Jakarta meskipun harus bolak-balik Bandung-Jakarta. Ya sudah, karena aku sudah berjanji pada Tuhan untuk mempersembahkan diriku dan hidupku pada-Nya melalui pelayanan jemaat, aku tidak pernah menolak permintaan tersebut. Oh ya, beberapa orang bahkan sudah memperkenalkanku sebagai “Ketua DK” yang membuatku tersenyum dalam hati …

Beberapa kali rapat pelayan tahbisan yang membicarakan pengurusan empat tahun yang akan datang, konstelasinya tidak berubah. Hanya Dewan dan Seksi lain yang cenderung berubah orang-orangnya. Sampai suatu kali aku menerima pesan-pendek bahwa 24 Januari akan dilakukan pemilihan ketua Dewan dan Seksi. Ini mengagetkan, karena sesuai AP HKBP yang berhak memilih Ketua dan Sekretaris Dewan adalah Rapat Anggota Dewan, bukan digabungkan dengan yang lainnya. Harus rapat tersendiri.

Sesuai jadual yang diberikan kepada semua pelayan tahbisan, tanggal 24 Januari 2012 adalah kebaktian awal tahun pelayan tahbisan dan keluarga (yang ini mudah memancing kecurigaan orang-orang tentang adanya agenda tersembunyi …), jadi bukan rapat penetapan pengurus. Dan aku ‘nggak bisa menghadiri rapat karena bertugas di Cianjur beberapa hari. Beberapa penatua “memaksa” agar aku bisa hadir untuk memastikan agar aku yang terpilih jadi Ketua DK. Sempat terkesan kekuatiran mereka terhadap “mau-maunya” pendeta, bahkan ada yang sempat menduga bahwa pendeta tidak setuju aku yang menjadi Ketua DK karena pendeta takut kalah populer. “Hanya yang di bawah kelasnya yang dikehendaki pendeta menjadi ketua dewan supaya bisa diaturnya sesuka-sukanya. Maklumlah, kita tahun bagaimana pendeta kita ini sekarang. Sudah lima tahun menjadi pimpinan jemaat dan kita sudah tahu kualitasnya, tapi dia merasa yang paling pintar dan paling tahu semuanya. Kita doakan sajalah supaya cepat-cepat saja dipindah dan penggantinya adalah orang yang benar-benar pantas menjadi pemimpin jemaat”.

Ada juga yang mengusulkan agar aku berkomunikasi kepada pendeta bahwa tidak bisa hadir, namun bersedia menjadi Ketua DK. Sesuatu yang tidak aku setujui karena terkesan aku “gila” jabatan. Yang aku mau adalah, benar-benar dipilih oleh peserta rapat. Lagian, berdasarkan pengalaman rapat selama ini, beberapa kali yang tidak hadirpun dapat dipilih menjadi pengurus. Bahkan suatu kali pendeta di depan peserta rapat menelepon sesorang untuk menjadi Bendahara Jemaat …

Karena memang ‘nggak punya ambisi tertentu dan ‘nggak pernah menganggap jabatan gereja sebagai pangkat yang harus diperebutkan (apalagi sampai diributkan, wah … ‘nggak pantas banget!). Dan aku juga ‘nggak bertanya kepada orang-orang tentang hasil rapatnya, sampai suatu kali ada seorang penatua yang mengirim pesan-pendek yang isinya menyampaikan bahwa beliau yang dipilih oleh peserta rapat menjadi Ketua DK. Meskipun menolak – karena merasa ‘nggak pantas – namun semua peserta memilihnya. Intinya, beliau meminta agar aku saja yang menjadi Ketua DK. Karena balasan pesan-pendek yang aku sampaikan bahwa kita semua harus tunduk pada keputusan rapat majelis, akhirnya beliau bertelepon yang intinya tetap memintaku menjadi Ketua DK. Karena sudah malam (dan di RS pula karena saat itu aku sedang membesuk ito-ku yang baru melahirkan di Cimahi) aku sampaikan untuk mengumpulkan semua anggota DK untuk mendiskusikan hal ini. Tapi, jangan aku yang mengundang.

Minggu, 29 Januari 2012 usai ibadah pagi, kami pun berkumpul di ruang Sekolah Minggu. Sebelumnya adalah rapat pemilihan pengurus kategorial kaum bapak. Pagi harinya saat bertemu dengan penatua terpilih sebagai Ketua DK, aku sampaikan bahwa pendeta harus tahu, yang dijawab beliau tidak usah. “Kita sajalah dulu yang ‘ngomong. Bagaimana hasilnya, itulah yang nanti kita sampaikan ke pendeta“.

Begitu rapat dimulai, ketua DK terpilih langsung mengarahkan agar semua bersedia memilih aku menjadi Ketua DK sekaligus meminta kesediaanku menerima jabatan Ketua DK tersebut. Segera saja aku menyela dengan mengatakan, “Ma’af, Amang Ketua. Ini adalah rapat di gereja, masa’ tidak kita buka terlebih dahulu dengan doa. Dan hari ini agendanya adalah kita berdiskusi. Seperti yang aku sampaikan melalui telepon, hari ini aku menyampaikan visi dan misi yang menurutku pas dengan Dewan Koinonia. Silakan Amang pimpin berdoa …”

Usai penyampaian presentasiku, beliau menyampaikan keinginannya kembali agar semua memilihku menjadi Ketua DK dan mempersilakan masing-masing menyampaikan pendapatnya. Dan semua yang hadir menyampaikan bahwa aku saja yang menjadi Ketua DK. Lalu, aku pun menjawab, “Kita harus realistis. Aku sekarang lebih banyak di Bandung yang sudah pasti akan terkendala dengan geografis yang sangat berpengaruh dengan pelaksanaan tugas sebagai Ketua DK. Namun, kalau kalian semua memaksa, aku tidak akan pernah menolak pelayanan di gereja. Aku meminta kesediaan Sekretaris DK sebagai penghubung aku yang ada di Bandung.” Dan semua kemudian setuju memilih beliau sebagai Sekretaris Dewan yang segera juga disanggupi. Beliau juga menyampaikan sukacitanya tentang keputusan tersebut, dan akan menyampaikan pengunduran dirinya pada sermon parhalado hari Selasa malam, 31 Januari 2012. Dan disepakati, Dewan Koinonia akan melakukan rapat pada Rabu malam, 01 Februari 2012 yang mengundang pendeta sebagai pimpinan jemaat untuk menetapkan aku sebagai Ketua DK dan beliau sebagai Sekretaris DK. Hari itu aku minta karena malam itu adalah partangiangan wejk bona taon yang dihadiri oleh semua warga jemaat, dan aku juga pas ada di Jakarta mengikuti rapat tahunan dari perusahaan. Klop-lah sudah …

Lho, Koq Jadi Begini …

Usai ibadah partangiangan bona taon di gereja, rapat DK pun dimulai di konsistori. Dihadiri oleh pendeta jemaat dan pendeta diperbantukan. Waktu membuka rapat, pendeta menyapa beliau dengan “Ketua DK”. Lalu beliau menyampaikan isi rapat kami Minggu sebelumnya bahwa DK telah menetapkan aku sebagai Ketua yang segera disela bapak pendeta yang kalimatnya ada yang membuatku geli karena terkesan dibuat-buat dan tidak konsisten, “Sebagai pemimpin jemaat, saya terkejut dengan apa yang mau kita bahas ini. Tadinya saya mengira kita akan berbicara tentang program kerja DK, karena sudah tidak relevan lagi membicarakan siapa yang menjadi ketua DK. Kita harus sepakati apa yang diputuskan oleh rapat tanggal 24 yang lalu. Saya meminta pendapat masing-masing utusan, tapi sebagai pimpinan jemaat sebaiknya kita tidak merubah keputusan lagi supaya jangan bolak-balik berganti-ganti.”.

Terpengaruh dengan “apa maunya” pak pendeta, masing-masing utusan menyampaikan pendapatnya bahwa tetaplah ketua DK terpilih menjadi ketua. ‘Nggak usah diganti lagi. Dalam hati aku merasa geli sendiri, karena ternyata semua orang sudah tidak punya pendirian lagi. Yang membuatku sempat merasa ‘nggak nyaman adalah pemahaman peserta rapat malam itu dikondisikan sebagai aku yang sangat berkeinginan menjadi Ketua DK. Bahkan ada yang mengira aku mau merebut jabatan Ketua DK karena merasa aku yang paling pantas. Duh, Tuhan …

Aku masih diam, sampai semua selesai menyampaikan pendapatnya, dan aku dipersilakan berbicara oleh pak pendeta. Aku pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjelaskan situasi yang sebenarnya. “Ma’af, jangan salah sangka. Pertama kali dihubungi amang ketua terpilih pun aku sudah menyampaikan bahwa kita semua harus patuh dan tunduk pada keputusan rapat pemilihan pengurus. Jangan diubah-ubah. Karena dipaksa oleh rapat Minggu lalu dan aku memahami bahwa tidak ada yang bersedia menjadi ketua, makanya aku bersedia. Itupun dengan catatan bahwa semua harus realistis dengan keterbatasan geografis kami karena tinggal di Bandung. Di jemaat HKBP yang memintaku melayani di Bandung pun aku sudah punya jadual pelayanan sebagai liturgis dan berkhotbah. Jadi, aku ‘nggak punya ambisi apalagi harus merebut menjadi ketua. Sampai tadi sebelum berangkat ke Jakarta, isteriku sudah memesankan agar aku jangan bersedia menerima jabatan ketua DK karena kami tinggal di Bandung. Membantu-bantu sajalah, kata boru ni raja i tadi. Dan pasti akan sangat senang kalau aku memang ‘nggak jadi ketua.“.

Ketua DK terpilih masih berkelit dengan mengatakan bahwa aku salah paham, yang membuatku malah menjadi heran dengan manuver yang sedang dilakukannya. Dan aku baru tahu malam itu, ternyata beliau tidak jadi menyampaikan pengunduran dirinya pada sermon parhalado Selasa malam sebelumnya. Owalah … mentalitas seperti ini ternyata masih ada menghinggapi pelayan jemaat, yang seharusnya berlaku jujur.

Diantarkan salah seorang anggota DK ke pangkalan taksi di depan Mal La Piazza, aku pun pulang ke Hotel Menara Peninsula. Di mobil yang aku tumpangi tadi, inang sintua yang memberikan tumpangan padaku menyampaikan uneg-uneg-nya, “Tak ‘ngerti aku apa maksudnya amang itu tadi. Plin plan, dan tak punya pendirian. ‘Nggak ada lagi yang berani berkata jujur, apalagi sama pendeta yang merasa dirinya paling pintar itu. Tiba-tiba saja aku tadi diajak rapat oleh amang itu. Tahu begini, ‘nggak mau aku ikut. Ada anggota DK yang ‘nggak setuju amang itu jadi ketua karena masalah perkawinan anaknya yang ‘nggak jelas, apakah sudah bercerai atau bagaimana … Namun dia ‘nggak sadar.”.

Sampai di hotel, aku sempat merenung sejenak. Berdoa pada Tuhan tentang apa yang aku alami hari itu, lalu tertidur di kursi di depan teve. Di kursi? Iya, benar di kursi. Karena dipan yang disediakan adalah single, maka aku pun merelakan untuk temanku sekamar yang dari Yogyakarta untuk menikmati tempat tidur yang cuma satu. Tapi hatiku senang, apalagi manakala ada jawaban dari mak Auli untuk pesan-pendek yang tadi aku kirimkan yang isinya menyampaikan bahwa Tuhan menjawab kerinduannya bahwa aku tidak jadi ketua DK … “Itu sudah tepat. Saatnya ada nanti”.

Andaliman – 162 Khotbah 29 Januari 2012 Minggu IV Setelah Epifani

Hanya Tuhan Sajalah yang Layak Dipercaya. Berhikmatlah, Jangan Jadikan Makanan sebagai Batu Sandungan

Nas Epistel:   Mazmur 111:1-10  (bahasa Batak Psalmen)

111:1 Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.

111:2 Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.

111:3 Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya.

111:4 Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang.

111:5 Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya.

111:6 Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan-Nya kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa.

111:7 Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh,

111:8 kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.

111:9 Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat.

111:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Nas Evangelium: 1 Korintus 8: 1-13

8:1 Tentang daging persembahan berhala kita tahu: “kita semua mempunyai pengetahuan.” Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.

8:2 Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu “pengetahuan”, maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya.

8:3 Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.

8:4 Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.”

8:5 Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga, maupun di bumi–dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian–

8:6 namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

8:7 Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya.

8:8 “Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan.”

8:9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.

8:10 Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai “pengetahuan”, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala?

8:11 Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena “pengetahuan” mu.

8:12 Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus.

8:13 Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.

Hal yang dibicarakan dalam nas yang menjadi perikop Ev Minggu ini adalah hal yang masih sangat relevan saat ini. Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat mula-mula tentang perlunya berhikmat. Janganlah pengetahuan yang sudah dimiliki membawa kepada kesombongan (sesuatu yang terjadi hingga saat ini …). Ini menunjukkan bahwa pengetahuan masih perlu harus dibarengi dengan hikmat agar membawa kepada kebaikan. Itulah sebabnya bisa terjadi bahwa orang pintar malah membawa kepada kerusakan. Karena tidak adanya hikmat dari Tuhan.

Ayat 10 pada nas perikop Ep ini mengingatkan bahwa perlunya hikmat dalam menjalani kehidupan, dan hikmat itu adalah berasal dari Tuhan. Dan itu semua membawa kepada tindakan yang menghasilkan puji-pujian kepada Tuhan saja.

Perbedaan latar belakang orang-orang percaya – yang dalam hal ini adalah budaya makanan – menghasilkan ketegangan pada jemaat mula-mula sebagaimana tercantum dalam nas perikop Ev Minggu ini. Jika tidak bijaksana dalam mengelolanya, maka akan berpotensi menjadi penghalang bagi orang-orang untuk lebih mengenal Tuhan.

Tidak jauh berbeda dengan situasi keberagaman orang-orang percaya saat ini, ‘kan? Semakin banyak saja orang yang “sombong rohani” dengan mengklaim bahwa dirinya sudah hidup baru dan menyatakan bahwa haram hukumnya darah dan rokok, misalnya. Lebih menyedihkan bilamana sampai-sampai menyatakan bahwa orang yang masih merokok adalah orang-orang yang sesat dan ‘nggak bakalan diselamatkan. Apalagi orang-orang pemakan darah, karena menyamakan darah dengan nyawa, sehingga orang-orang yang memakan darah (meskipun sudah dimasak dalam suhu yang sangat memadai …) disamakan dengan tindakan pembunuhan. Duh!

Aku sangat kagum dengan pernyataan seorang pendeta “hidup baru” (baca: bukan HKBP meskipun beliau adalah Batak) yang menyatakan dalam siaran radionya yang termasuk menjadi favorit pendengar Kristen, bahwa dia berhenti merokok dan tidak memakan darah adalah dengan alasan kesehatan. Dengan pemahaman bahwa menghisap tembakau dan mengonsumsi darah tidak baik bagi kesehatan. Suatu pemahaman yang berbeda dengan para pengikutnya yang malah lebih cenderung menghakimi bahwa perokok dan pemakan makanan yang berasal dari darah hewan adalah pendosa!

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Di kalangan jemaat HKBP pun mulai “terjangkiti”  pemahaman yang (menurutku, berdasarkan pemahamanku tentang firman Tuhan yang seringkali dijadikan bahan perbantahan …) mengatakan bahwa merokok dan memakan darah adalah dosa. Bagiku, keduanya tidak baik karena berpotensi merusak kesehatan. Bukan karena melanggar firman Tuhan.

Bukankah semua yang disediakan Tuhan di dunia ini adalah (harus) dimanfaatkan untuk kesenangan dan kebahagiaan manusia. Termasuk merokok dan memakan makanan olahan dari darah hewan. Namun, Tuhan juga mengingatkan untuk lebih berhikmat dalam memanfaatkan semua hal di dunia ini. Hal yang seharusnya mendatangkan sukacita, malah (jika berlebihan) akan dapat menimbulkan penderitaan dan dukacita. Semua hal yang dilakukan berlebihan, tentunya akan membawa kepada kerusakan.

Jangankan merokok dan memakan darah, memahami firman Tuhan yang berlebihan pun (sehingga menjadikan orang tersebut fanatik semu …) akan berakibat penyesatan!

Berhikmatlah!

Andaliman – 161 Khotbah 22 Januari 2012 Minggu III Setelah Epifani

Semuanya Seturut Kehendak-Nya. Hargai Panggilan Tuhan!

Nas Epistel:   Yunus 3:1-10 (bahasa Batak Jona)

3:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:

3:2 “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.”

3:3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.

3:4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.”

3:5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung.

3:6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu.

3:7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air.

3:8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya.

3:9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.”

3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.

Nas Evangelium: Mazmur 62: 6-13 (bahasa Batak Psalmen)

(62-6) Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku.

62:6 (62-7) Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.

62:7 (62-8) Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah.

62:8 (62-9) Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita. Sela

62:9 (62-10) Hanya angin saja orang-orang yang hina, suatu dusta saja orang-orang yang mulia. Pada neraca mereka naik ke atas, mereka sekalian lebih ringan dari pada angin.

62:10 (62-11) Janganlah percaya kepada pemerasan, janganlah menaruh harap yang sia-sia kepada perampasan; apabila harta makin bertambah, janganlah hatimu melekat padanya.

62:11 (62-12) Satu kali Allah berfirman, dua hal yang aku dengar: bahwa kuasa dari Allah asalnya,

62:12 (62-13) dan dari pada-Mu juga kasih setia, ya Tuhan; sebab Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya.

Ini masih tentang panggilan. Minggu lalu diceritakan tentang cara pemanggilan yang berbeda, dan kali ini adalah tentang perlunya menghargai panggilan tersebut.

Diceritakan tentang Yunus sebagai utusan Allah yang diberikan mandat untuk menyampaikan berita kepada bangsa Niniwe, bangsa yang jahat di mata Tuhan sehingga Tuhan bermaksud memusnahkan mereka. Dan Yunus menyampaikan hal tersebut (aku bisa membayangkan ada sedikit kesombongan saat dia menyampaikan hal tersebut kepada bangsa Niniwe, hal yang juga kadangkala menghinggapiku manakala ‘nggak mampu mengatasi rasa “kesombongan rohani” pada saat-saat tetentu …). Dan suatu kepastian dan keyakinan bahwa apa yang disampaikannya pasti terjadi (namanya juga “orang dalam” Tuhan, ‘kan? Hehehe …)

Tapi, apa yang terjadi? Raja Niniwe akhirnya menyadari kesalahannya dan menyerukan pertobatan missal kepada seluruh bangsanya. Bahkan hewan-hewan juga ikut diperintahkan untuk berpuasa. Gila! Luar biasa! Dan hasilnya memang luar biasa. Tuhan membatalkan maksudnya untuk memusnahkan bangsa Niniwe (dan Yunus kemudian kecewa, dan “menggugat” Tuhan …).

Sekali lagi, luar biasa Raja Niniwe dan bangsanya! Namun, yang lebih luar biasa adalah Tuhan kita. Betapa tidak! Hati Beliau segera berubah melunak melihat pertobatan yang sungguh-sungguh (taubat nasuha kata kawan-kawan muslim …) dari bangsa yang tadinya dibenci-Nya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Siapa bilang Tuhan “patuh” pada manusia? Dalam hal ini Yunus, yang merasa bahwa sebagai utusan Tuhan dialah yang paling pas menyampaikan firman. Sebagai nabi, Yunus memang mengagumkan. Bayangkan, Tuhan memberinya kuasa untuk menyampaikan kehendak-Nya. Sayangnya, Yunus hanya “sekadar” menyampaikan hukum tanpa menawarkan kemungkinan untuk pertobatan. Ini hampir sama dengan pengkhotbah yang “sekadar” menyampaikan ancaman tentang hukuman api neraka bagi yang berbuat jahat, tanpa sedikitpun memberitakan tentang pengampunan yang disediakan Tuhan bagi orang-orang yang mau berbalik percaya kepada-Nya.

Yunus akhirnya kecewa (sebagaimana bisa kita baca pada perikop selanjutnya) dan menggugat Tuhan tentang ketidakkonsistenan-Nya. Tapi – menurutku – sebenarnya bukan itu yang membuat Yunus marah, melainkan dia kehilangan muka pada bangsa Niniwe tersebut.

Dari sini kita belajar, bahwa:

(1)   Tidak ada kemutlakan pada penyampaian firman yang disampaikan oleh manusia. Pengkhotbah hanyalah sekadar “penyambung lidah” Allah, namun keputusan adalah mutlak di tangan Allah

(2)   Sebagai hamba Allah, kita harus melawan roh kesombongan yang sangat berpotensi menggoda kita (ingat, semakin kuat iman kita maka semakin kuat pula godaan iblis yang datang kepada kita …), utamanya adalah kesombongan rohani yang memosisikan diri kita lebih tinggi daripada orang-orang lain yang kita anggap sebagai biasa-biasa saja.

(3)   Tuhan sangat suka akan pertobatan. Hati-Nya segera luluh bilamana melihat orang-orang bertobat.

Ingatlah, kita sebagai manusia hanyalah alat Tuhan. Segala keputusan pada akhirnya adalah berada di tangan Tuhan.