Andaliman – 159 Khotbah 08 Januari 2012 Minggu I Setelah Epifani

Dibaptis. Bukan Karena Cara dan Usia, melainkan Terpanggil kepada Hidup yang Baru

Nas Epistel:  Kisah Rasul 19:1-7  (bahasa Batak Ulaon ni Parapostel)

19:1 Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid.

19:2 Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.”

19:3 Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.”

19:4 Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.”

19:5 Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.

19:6 Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.

19:7 Jumlah mereka adalah kira-kira dua belas orang.

Nas Evangelium: Markus 1:4-11

1:4 demikianlah Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dan menyerukan: “Bertobatlah dan berilah dirimu dibaptis dan Allah akan mengampuni dosamu.”

1:5 Lalu datanglah kepadanya orang-orang dari seluruh daerah Yudea dan semua penduduk Yerusalem, dan sambil mengaku dosanya mereka dibaptis di sungai Yordan.

1:6 Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.

1:7 Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.

1:8 Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

1:9 Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes.

1:10 Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya.

1:11 Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

Hal baptis masih menjadi perdebatan (bagi orang-orang yang senang memperdebatkan sesuatu dengan motivasi yang belum tentu positif, walaupun sering dibungkus dengan dalih “mencari kebenaran” …). Usia berapa seseorang mestinya dibaptis: bayi, anak-anak, atau malah setelah dewasa (dengan alasan setelah memiliki pengertian sendiri tentang firman Tuhan). Dengan cara bagaimana: dipercik, disiram, atau diselamkan ke dalam air?

Pada umumnya, tradisi HKBP-lah yang menjadi sasaran tembaknya. Dan bagaimana Yesus dibaptis, itulah yang coba dijadikan alasan pembenaran bagi orang-orang yang “menentang” tradisi HKBP yang membaptis anak – umumnya disarankan ketika masih bayi – dengan memercikkan air dengan ucapan doa dan berkat dari pendeta yang membaptis di dalam nama Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus.

Secara etimologis, istilah baptis yang dikenal dalam bahasa Indonesia saat ini berasal dari bahasa asing yang bisa berarti “dipercikkan” dan ada lagi yang lain yang bisa berarti “dicelupkan ke dalam air”. Bagiku, pembaptisan sudah menjadi tradisi gereja dan tradisi jemaat yang menyesuaikan diri dengan situasi yang sedang berkembang pada jemaat tersebut. Bukan jumlah airnya dan usianya yang penting, melainkan sepanjang pembaptisan dilakukan dalam suasana ibadah dan di dalam nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus, menurutku sih oke-oke saja … Bukankah keimanan seorang Kristen harus berorientasi pada Tritunggal tersebut?

Supaya sama seperti Kristus sehingga harus dibaptis setelah dewasa? Menurutku, yang diinginkan Yesus adalah serupa secara karakter, bukan serupa secara tradisi dan ritual. Kehidupan Yesus dengan tradisi Yahudi berabad-abad yang lalu, sudah tentu tidak semua relevan dengan zaman sekarang ini. Malah hal tersebut – “memaksa” serupa dengan zaman Kristus – malah membatasi penyebaran iman kristiani pada zaman berikutnya. Misalnya, karena Yesus dibaptis di sungai Yordan, kenapa ‘nggak sekalian saja diharuskan semua yang mau dibaptis harus pergi ke sungai Yordan? Pemahaman yang sangat keliru tersebutlah sehingga ada suatu kewajiban bagi beberapa orang (mungkin juga terpengaruh oleh ajaran-ajaran “baru” yang berkembang saat ini yang sangat jauh dari semangat pembaptisan, yakni manakala di Yerusalem minta dibaptis-ulang. Jelas-jelas ini sangat salah, karena pembaptisan cukup satu kali! Banyak yang tidak menyadari, karena sebenarnya ada unsure komersialisasi yang dilakukan bilamana menjual sertifikat pembaptisan oleh petugas di Sungai Yordan tersebut …   

Supaya jangan salah dalam memahami kedua perikop ini, yakni Ep dan Ev, yang ingin disampaikan adalah:

(1)   baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan, selanjutnya baptisan dilakukan di dalam nama Tritunggal

(2)   Yesus bersedia dibaptis bukan untuk menunjukkan pertobatan (karena Yesus tidak berdosa seperti manusia lainnya), melainkan untuk menunjukkan kerendahan hati-Nya, dan lihatlah kemudian Allah Bapa berseru menyatakan bahwa Yesus adalah Anak yang dikasihi-Nya. Ini menyatakan bahwa sesungguhnya Yesus adalah anak Allah

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jangan mau menghabiskan energi dan waktu untuk berdebat tentang pembaptisan. Sekali lagi, yang utama adalah bahwa tindakan tersebut dilakukan di dalam nama Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Jangan tertipu dengan “ingin serupa dengan Yesus” sehingga memahami bahwa baptisan harus dilakukan setelah dewasa dan harus dicelupkan ke dalam air.

Upacara pembaptisan adalah tradisi gereja, dan akan mengikuti situasi dan kondisi yang berkembang saat tindakan tersebut dilakukan oleh Gereja. Jangan mau terkecoh dengan ajaran-ajaran yang malah akan membuat hati kita hambar yang berpotensi menjauhkan diri kita dari keimanan yang sungguh-sungguh. Perikop ini juga mengajarkan kepada kita tentang kerendahan hati. Yesus dan Yohanes yang adalah tokoh besar dalam Perjanjian Baru menunjukkan keteladanan tentang hal kerendahan hati, suatu sifat yang sangat dituntut sebagai anak-anak Tuhan. Itulah indikator bahwa kita sudah hidup baru …

Iklan

One comment on “Andaliman – 159 Khotbah 08 Januari 2012 Minggu I Setelah Epifani

  1. Secara etimologis, istilah baptis yang dikenal dalam bahasa Indonesia saat ini berasal dari bahasa asing yang bisa berarti “dipercikkan” dan ada lagi yang lain yang bisa berarti “dicelupkan ke dalam air”. Sebenarnya saya tdk tertarik dgn pokok bahasan ini, tapi sedikit kurang mengena di hati tentang pengertian secara etimologis istilah baptis yang dijelaskan di atas. Bolehkah dijelaskan lebih rinci arti sesungguhnya kata “baptis” itu? Misalnya berasal dari bahasa apa, dasar katanya n artinya apa dll termasuk refrensinya. Sehingga pembaca dapat lebih mengerti n memahami dengan sendirinya. Terima kasih, Stay Blessed!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s