Andaliman – 162 Khotbah 29 Januari 2012 Minggu IV Setelah Epifani

Hanya Tuhan Sajalah yang Layak Dipercaya. Berhikmatlah, Jangan Jadikan Makanan sebagai Batu Sandungan

Nas Epistel:   Mazmur 111:1-10  (bahasa Batak Psalmen)

111:1 Haleluya! Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hati, dalam lingkungan orang-orang benar dan dalam jemaah.

111:2 Besar perbuatan-perbuatan TUHAN, layak diselidiki oleh semua orang yang menyukainya.

111:3 Agung dan bersemarak pekerjaan-Nya, dan keadilan-Nya tetap untuk selamanya.

111:4 Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang.

111:5 Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya.

111:6 Kekuatan perbuatan-Nya diberitakan-Nya kepada umat-Nya, dengan memberikan kepada mereka milik pusaka bangsa-bangsa.

111:7 Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titah-Nya teguh,

111:8 kokoh untuk seterusnya dan selamanya, dilakukan dalam kebenaran dan kejujuran.

111:9 Dikirim-Nya kebebasan kepada umat-Nya, diperintahkan-Nya supaya perjanjian-Nya itu untuk selama-lamanya; nama-Nya kudus dan dahsyat.

111:10 Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya.

Nas Evangelium: 1 Korintus 8: 1-13

8:1 Tentang daging persembahan berhala kita tahu: “kita semua mempunyai pengetahuan.” Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun.

8:2 Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu “pengetahuan”, maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya.

8:3 Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah.

8:4 Tentang hal makan daging persembahan berhala kita tahu: “tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa.”

8:5 Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah”, baik di sorga, maupun di bumi–dan memang benar ada banyak “allah” dan banyak “tuhan” yang demikian–

8:6 namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup.

8:7 Tetapi bukan semua orang yang mempunyai pengetahuan itu. Ada orang, yang karena masih terus terikat pada berhala-berhala, makan daging itu sebagai daging persembahan berhala. Dan oleh karena hati nurani mereka lemah, hati nurani mereka itu dinodai olehnya.

8:8 “Makanan tidak membawa kita lebih dekat kepada Allah. Kita tidak rugi apa-apa, kalau tidak kita makan dan kita tidak untung apa-apa, kalau kita makan.”

8:9 Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.

8:10 Karena apabila orang melihat engkau yang mempunyai “pengetahuan”, sedang duduk makan di dalam kuil berhala, bukankah orang yang lemah hati nuraninya itu dikuatkan untuk makan daging persembahan berhala?

8:11 Dengan jalan demikian orang yang lemah, yaitu saudaramu, yang untuknya Kristus telah mati, menjadi binasa karena “pengetahuan” mu.

8:12 Jika engkau secara demikian berdosa terhadap saudara-saudaramu dan melukai hati nurani mereka yang lemah, engkau pada hakekatnya berdosa terhadap Kristus.

8:13 Karena itu apabila makanan menjadi batu sandungan bagi saudaraku, aku untuk selama-lamanya tidak akan mau makan daging lagi, supaya aku jangan menjadi batu sandungan bagi saudaraku.

Hal yang dibicarakan dalam nas yang menjadi perikop Ev Minggu ini adalah hal yang masih sangat relevan saat ini. Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat mula-mula tentang perlunya berhikmat. Janganlah pengetahuan yang sudah dimiliki membawa kepada kesombongan (sesuatu yang terjadi hingga saat ini …). Ini menunjukkan bahwa pengetahuan masih perlu harus dibarengi dengan hikmat agar membawa kepada kebaikan. Itulah sebabnya bisa terjadi bahwa orang pintar malah membawa kepada kerusakan. Karena tidak adanya hikmat dari Tuhan.

Ayat 10 pada nas perikop Ep ini mengingatkan bahwa perlunya hikmat dalam menjalani kehidupan, dan hikmat itu adalah berasal dari Tuhan. Dan itu semua membawa kepada tindakan yang menghasilkan puji-pujian kepada Tuhan saja.

Perbedaan latar belakang orang-orang percaya – yang dalam hal ini adalah budaya makanan – menghasilkan ketegangan pada jemaat mula-mula sebagaimana tercantum dalam nas perikop Ev Minggu ini. Jika tidak bijaksana dalam mengelolanya, maka akan berpotensi menjadi penghalang bagi orang-orang untuk lebih mengenal Tuhan.

Tidak jauh berbeda dengan situasi keberagaman orang-orang percaya saat ini, ‘kan? Semakin banyak saja orang yang “sombong rohani” dengan mengklaim bahwa dirinya sudah hidup baru dan menyatakan bahwa haram hukumnya darah dan rokok, misalnya. Lebih menyedihkan bilamana sampai-sampai menyatakan bahwa orang yang masih merokok adalah orang-orang yang sesat dan ‘nggak bakalan diselamatkan. Apalagi orang-orang pemakan darah, karena menyamakan darah dengan nyawa, sehingga orang-orang yang memakan darah (meskipun sudah dimasak dalam suhu yang sangat memadai …) disamakan dengan tindakan pembunuhan. Duh!

Aku sangat kagum dengan pernyataan seorang pendeta “hidup baru” (baca: bukan HKBP meskipun beliau adalah Batak) yang menyatakan dalam siaran radionya yang termasuk menjadi favorit pendengar Kristen, bahwa dia berhenti merokok dan tidak memakan darah adalah dengan alasan kesehatan. Dengan pemahaman bahwa menghisap tembakau dan mengonsumsi darah tidak baik bagi kesehatan. Suatu pemahaman yang berbeda dengan para pengikutnya yang malah lebih cenderung menghakimi bahwa perokok dan pemakan makanan yang berasal dari darah hewan adalah pendosa!

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Di kalangan jemaat HKBP pun mulai “terjangkiti”  pemahaman yang (menurutku, berdasarkan pemahamanku tentang firman Tuhan yang seringkali dijadikan bahan perbantahan …) mengatakan bahwa merokok dan memakan darah adalah dosa. Bagiku, keduanya tidak baik karena berpotensi merusak kesehatan. Bukan karena melanggar firman Tuhan.

Bukankah semua yang disediakan Tuhan di dunia ini adalah (harus) dimanfaatkan untuk kesenangan dan kebahagiaan manusia. Termasuk merokok dan memakan makanan olahan dari darah hewan. Namun, Tuhan juga mengingatkan untuk lebih berhikmat dalam memanfaatkan semua hal di dunia ini. Hal yang seharusnya mendatangkan sukacita, malah (jika berlebihan) akan dapat menimbulkan penderitaan dan dukacita. Semua hal yang dilakukan berlebihan, tentunya akan membawa kepada kerusakan.

Jangankan merokok dan memakan darah, memahami firman Tuhan yang berlebihan pun (sehingga menjadikan orang tersebut fanatik semu …) akan berakibat penyesatan!

Berhikmatlah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s