Andaliman – 166 Khotbah 26 Februari 2012 Minggu Invocavit

Tidak Ada Lagi Air Bah yang Akan Memusnahkan Bumi. Itu Janji Tuhan yang Ya dan Amin

Nas Epistel:  Mazmur 25:8-14 (bahasa Batak: Psalmen)

25:8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

25:9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.

25:10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.

25:11 Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu.

25:12 Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.

25:13 Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi.

25:14 TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.

Nas Evangelium: Kejadian 9:8-17 (bahasa Batak: 1 Musa 9:8-17)

9:8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia:

9:9 “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu,

9:10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi.

9:11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.”

9:12 Dan Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya:

9:13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.

9:14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan,

9:15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup.

9:16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.”

9:17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.”

Pernah dengar Tuhan pernah lupa? Pertama kali membaca dalam Alkitab, aku terkejut juga: masa’ Tuhan yang aku sembah punya “penyakit” yang sama dengan manusia biasa? Apalagi bila dibandingkan dengan tersangka dan atau terdakwa yang sedang diproses hukum yang seringkali mendadak mengidap amnesia alias pelupa (walau kita juga ‘nggak tahu apakah sekadar pura-pura atau sejatinya memang pelupa sehingga tidak perlu berbohong lebih banyak lagi manakala dicecar kesaksiannya oleh para pemeriksa …).

Inilah yang menunjukkan betapa manusiawinya penulis Alkitab. Firman Tuhan mereka tuliskan sebagaimana pemahaman mereka bahwa Tuhan memang mempunyai sifat kemanusiaan. Maka jangan heran bila di Alkitab ada disebutkan Tuhan yang ingat kepada seseorang, naik, turun, berbicara, berjalan di depan, menyesal, dan banyak sifat-sifat manusiawi lainnya.

Begitulah dengan nas perikop Minggu ini. Dalam Ev disebutkan bahwa “maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku …” (ayat 15). Jadi, perlu ada pengingat bagi Tuhan. Bukan persis lupa sebagaimana manusia. Betapa banyak janji-janji Tuhan dalam Alkitab. Apakah Tuhan melupakannya sehingga ada yang tidak terkabul atau belum terkabul? Aku yakin dengan sepenuh hati: tidak! Janji-Nya pasti dipenuhi. Cuma, ada syaratnya. Bukan Cuma-cuma! Misalnya, aku adalah orang yang dijanjikan untuk memperoleh sesuatu. Nah, aku harus menjalani hidup dengan iman yang teguh. Tuhan juga punya dimensi waktu yang berbeda dengan manusia, maksudnya hanya Tuhan yang paling tahu kapan waktu yang paling tepat untuk memenuhi permohonanku (itulah yang sering membuat ‘nggak sabaran, karena waktu Tuhan seringkali dianggap terlambat …). Dalam masa penantian tersebutlah, aku perlu untuk “mengingatkan” Tuhan. Caranya? Dengan berdoa dan menyampaikan bahwa Tuhan pernah menjanjikan dan memberitahu bahwa aku masih setia pada-Nya dan masih melakukan apa yang harus aku lakukan, sehingga Tuhan “mengingatnya” … Bukan untuk menyombongkan diri dengan menyampaikan hal-hal baik yang pernah aku lakukan kepada Tuhan, melainkan untuk diriku sendiri supaya tetap fokus pada permohonan dan perbuatan baik tersebut. Sebab – ini penegasannya – Tuhan ‘nggak pernah lupa dengan apapun dan dengan siapapun!

Demikianlah yang bisa dilihat pada nas perikop Ep dan Ev Minggu ini. Apa yang dialami dan diserukan oleh Daud (dalam Mazmur) dan Nuh (dalam Kejadian) dalam hubungan mereka dengan Tuhan, dan bagaimana Tuhan menanggapinya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Janji bagaikan dua sisi mata uang. Dalam satu sisi, itu bisa berarti pengharapan. Mengharapkan sesuatu yang kita idamkan. Di sisi lainnya, janji juga dapat berarti hutang bila kita pernah menyampaikannya. Jika terpenuhi, janji akan sangat menyukacitakan. Sebaliknya, jika tidak terpenuhi, maka itu akan membawa pada kekecewaan dan frustrasi.

Bagaimana dengan Tuhan dan janji-janji-Nya? Tak usahlah diragukan lagi. Ada yang sempat meragukan: koq masih ada bencana alam seperti banjir? Padahal Tuhan ‘kan sudah berjanji? Menurutku, janji Tuhan adalah tentang pemusnahan bumi layaknya air bah berabad-abad yang lalu di mana bencana itu mengancam kepunahan semua makhluk. Dan sepanjang yang aku tahu, belum pernah ada bencana seperti itu di zaman kontemporer ini. Tsunami “hanya” menyerang Aceh, Nias, dan negeri tetangga. Jepang menyusul kemudian. Bukan seluruh permukaan bumi.  Jadi, sangat jauh berbeda dengan air bah zaman Nuh.

Sebagaimana Nuh yang dipilih Tuhan dalam karya penyelamatan, kita juga dapat dipakai Tuhan untuk menyelamatkan orang-orang. Syaratnya adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang jahat. Mohon kekuatan pada Tuhan sebagaimana yang dilakukan Daud dalam doanya sebagaimana yang bisa kita lihat dalam nas perikop Ep Minggu ini.

Diskusi Kesaksian: Bisakah Poligami?

Dalam doa pagiku, tak pernah aku lupa menyelipkan permohononan kepada Tuhan, “Jadikanlah aku sebagai alat-Mu untuk memberikan kesaksian dan kemuliaan bagi nama-Mu …” di antara permohonan lainnya. Dan setiap beraktivitas dengan kawan-kawan satu tim, aku seringkali memanfa’atkan momen berjalan bersama mereka dengan memberikan kesaksian di sela perbincangan kami. Saking seringnya, hal ini sudah hampir menjadi kebiasaan, dan seakan terjadi secara otomatis.

Kemarin aku berkunjung ke Sukabumi dan Cianjur. Pada perjalanan kembali ke Cianjur dari Sukabumi, di mobil terjadi percakapan. Yang menyetir adalah pemilik mobil, Rully – anak buahku yang menjadi penyelia di Sukabumi dan Cianjur, muslim, duda beranak satu seusia anakku Auli, dan bulan Mei berencana untuk kawin yang ketiga kalinya – di depan sebelah kirinya adalah Narto – Operation Manager Distributor kami di Cianjur, muslim dengan keluarga muallaf – sedangkan aku duduk sendirian di kursi belakang. Hari tersebut kondisiku kurang fit. Berolahraga di fitness center milik Hotel Cianjur tempatku menginap di Cipanas ternyata tidak secara langsung menyembuhkan flu yang sudah aku alami beberapa hari. Dalam situasi terkantuk-kantuk, tiba-tiba Narto membuka percakapan dengan bertanya: “Mohon ma’af, pak Tobing. Bisa bertanya tentang sesuatu yang serius?”.

Karena cara bertanya seperti ini bukanlah sesuatu yang biasa selama ini, aku pun sempat tertegun. Ini pasti sesuatu yang sangat pribadi, pikirku. Tapi bukan suatu kebiasaan bagiku untuk menolak permintaan seperti ini, maka aku pun menjawab, “Ah, silakan aja pak Narto. Memang aku pernah menolak, apalagi tentang hal yang kelihatannya serius banget ini. Silakan, pak”.

“Anu, pak … apakah di Injil atau di agama Kristen memang ada larangan poligami?”

Aku pun lega mengetahui pertanyaan yang ternyata tidak “berat-berat amat” (hehehe …), sekaligus tersenyum sambil bergumam dalam hati, “Aha! Ini dia kesempatan yang Tuhan berikan lagi bagiku untuk mempersaksikan imanku”. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dengan suara yang agak kuat untuk mengimbangi hujan lebat di luar kendaraan yang kami tumpangi dan berjalan perlahan-lahan (yang kemudian menyebabkan suaraku hilang sampai saat ini, apalagi harus menyampaikan sesuatu saat pelatihan penyegaran Kode Etik WHO pada semua tim lapangan menjelang malam harinya di kantor Distributor di Cianjur …).

Di Injil? Di Alkitab mungkin maksudnya? Karena banyak orang salah paham yang menyamakan Alkitab dengan Injil, padahal Injil adalah bagian dari kitab-kitab yang ada di Alkitab. Alkitab itu terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dan Injil itu bagian dari Perjanjian Baru yang terdiri dari kitab-kitab Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes …”. Aku berharap ini bisa menyegarkan ingatannya yang dulu mungkin pernah akrab dengan apa yang baru aku sampaikan sebelum kemudian beralih agama menjadi muslim.

“Poligami sudah pasti dilarang di agama Kristen. Mungkin pertanyaannya bisa dibuat lain, yakni: ‘bisakah orang Kristen bercerai”, ya?. Nah, untuk pertanyaan ini aku selalu balik bertanya kepada yang bertanya. Mau jawaban ‘boleh’, atau jawaban ‘tidak boleh’? Karena di Alkitab menyediakan kedua jawaban tersebut …”. Meskipun tidak melihat wajahnya secara langsung, namun aku bisa merasakan bahwa ada keheranan yang dirasakan oleh kedua orang kawanku semobil kali itu: yang muslim sejak lahir, dan yang muslim kemudian.

Bagi yang menginginkan jawaban boleh bercerai, maka aku akan sampaikan bahwa di Perjanjian Lama memang ada contoh tentang seseorang yang punya isteri ratusan yang sangat dikasihi Tuhan, yakni Daud yang menurut Islam adalah seorang nabi. Orang-orang akan mengatakan bahwa mereka meniru Daud yang berarti boleh punya isteri lebih dari satu. Sebaliknya, bagi yang menginginkan jawaban ‘tidak boleh’, dasarnya adalah Injil yang menceritakan perjalanan hidup Yesus selama berada di dunia ini. Di situ Yesus Kristus dengan tegas mengatakan bahwa hanya kematian yang bisa memisahkan orang yang sudah disatukan dalam perkawinan. Memang ada sanggahan dari orang-orang Yahudi saat itu. Ingat, Yahudi itu bukan Kristen, ya. Orang-orang Yahudi tersebut mengatakan, ‘Mengapakah nenek moyang kami Musa, Abraham, dan Yakub membolehkan memberikan surat cerai kepada isteri yang sudah tidak diingini lagi?’, yang dijawab oleh Yesus: ‘Karena kekerasan hati nenek moyangmulah makanya dibolehkan memberikan surat cerai kepada isteri untuk menikah dengan orang lain’. Itu berarti, Yesus sebenarnya tidak menyetujui perceraian, bahkan membenci perceraian. Begitulah yang terjadi sampai saat ini, bahwa ada saja orang-orang yang membenarkan tindakannya dengan mengutip firman Tuhan yang hanya menyenangkan hatinya. Bukan melihatnya secara utuh, dengan menyelidiki apa konteksnya hingga firman itu diturunkan. Bahkan Muhamad pun seperti yang aku ketahui sebenarnya tidak menyetujui pernikahan poligami dengan pernah suatu kali marah kepada seorang sahabatnya yang ingin memperisteri puterinya bukan sebagai isteri pertama. Tapi orang-orang sekarang mengatakan bahwa mereka berpoligami karena meniru nabi Muhammad. Padahal seharusnya mereka meniru karakter, bukan meniru semuanya dengan tidak mau memahami kondisi yang sedang dialami Muhammad saat itu sehingga berpoligami. Sama seperti keinginan untuk meniru Yesus Kristus, bukan menjadi tidak kawin karena Yesus tidak kawin. Yang ditiru adalah karakter Yesus yang sangat berbelas kasih, tidak mendendam, bahkan meminta untuk mengasihi musuh dengan memberikan pipi kanan kalau pipi kiri kita ditampar …”.    

Begitulah percakapan itu kemudian menjadi menarik. Harapanku, Yesus terberitakan kepada mereka yang juga berhak mendapatkan pengenalan akan Kristus. Walau kemudian ada percakapan yang mengarah kepada isu kontemporer – ormas Islam yang sering melakukan teror, kebebasan individu dalam beragama, dan lain-lain – itu semua menjadi kurang menarik bagiku, karena ‘nggak ada yang lebih utama daripada memberitakan tentang Yesus Kristus kepada orang-orang yang sebenarnya sangat membutuhkan pengenalan akan Dia.

Andaliman – 165 Khotbah 19 Februari 2012 Minggu Estomihi

Surga Itu Ada, lho … Tapi Ingat, Hanya Yesus yang Pernah Turun Dari Surga.

Nas Epistel:  2 Raja-raja 2:1- 12

2:1 Menjelang saatnya TUHAN hendak menaikkan Elia ke sorga dalam angin badai, Elia dan Elisa sedang berjalan dari Gilgal.

2:2 Berkatalah Elia kepada Elisa: “Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke Betel.” Tetapi Elisa menjawab: “Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.” Lalu pergilah mereka ke Betel.

2:3 Pada waktu itu keluarlah rombongan nabi yang ada di Betel mendapatkan Elisa, lalu berkatalah mereka kepadanya: “Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh TUHAN terangkat ke sorga?” Jawabnya: “Aku juga tahu, diamlah!”

2:4 Berkatalah Elia kepadanya: “Hai Elisa, baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke Yerikho.” Tetapi jawabnya: “Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.” Lalu sampailah mereka di Yerikho.

2:5 Pada waktu itu mendekatlah rombongan nabi yang ada di Yerikho kepada Elisa serta berkata kepadanya: “Sudahkah engkau tahu, bahwa pada hari ini tuanmu akan diambil dari padamu oleh TUHAN terangkat ke sorga?” Jawabnya: “Aku juga tahu, diamlah!”

2:6 Berkatalah Elia kepadanya: “Baiklah tinggal di sini, sebab TUHAN menyuruh aku ke sungai Yordan.” Jawabnya: “Demi TUHAN yang hidup dan demi hidupmu sendiri, sesungguhnya aku tidak akan meninggalkan engkau.” Lalu berjalanlah keduanya.

2:7 Lima puluh orang dari rombongan nabi itu ikut berjalan, tetapi mereka berdiri memandang dari jauh, ketika keduanya berdiri di tepi sungai Yordan.

2:8 Lalu Elia mengambil jubahnya, digulungnya, dipukulkannya ke atas air itu, maka terbagilah air itu ke sebelah sini dan ke sebelah sana, sehingga menyeberanglah keduanya dengan berjalan di tanah yang kering.

2:9 Dan sesudah mereka sampai di seberang, berkatalah Elia kepada Elisa: “Mintalah apa yang hendak kulakukan kepadamu, sebelum aku terangkat dari padamu.” Jawab Elisa: “Biarlah kiranya aku mendapat dua bagian dari rohmu.”

2:10 Berkatalah Elia: “Yang kauminta itu adalah sukar. Tetapi jika engkau dapat melihat aku terangkat dari padamu, akan terjadilah kepadamu seperti yang demikian, dan jika tidak, tidak akan terjadi.”

2:11 Sedang mereka berjalan terus sambil berkata-kata, tiba-tiba datanglah kereta berapi dengan kuda berapi memisahkan keduanya, lalu naiklah Elia ke sorga dalam angin badai.

2:12 Ketika Elisa melihat itu, maka berteriaklah ia: “Bapaku, bapaku! Kereta Israel dan orang-orangnya yang berkuda!” Kemudian tidak dilihatnya lagi, lalu direnggutkannya pakaiannya dan dikoyakkannya menjadi dua koyakan.

Nas Evangelium: Markus 9:2-9

9;2 Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka,

9:3 dan pakaian-Nya sangat putih berkilat-kilat. Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat mengelantang pakaian seperti itu.

9:4 Maka nampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus.

9:5 Kata Petrus kepada Yesus: “Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”

9:6 Ia berkata demikian, sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan.

9:7 Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: “Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia.”

9:8 Dan sekonyong-konyong waktu mereka memandang sekeliling mereka, mereka tidak melihat seorangpun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

9:9 Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka jangan menceriterakan kepada seorangpun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati.

Nas perikop Minggu ini menceritakan kejadian supranatural, alias adikodrati. Dan keduanya menghubungan antara Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Pada PL sebagaimana yang disampaikan pada nas perikop yang Ep Minggu ini adalah tentang Elia yang diundang Tuhan secara langsung (artinya: tanpa harus melalui kematian) ke sorga. Luar biasa! Tidak banyak manusia yang mengalami hal seperti itu. Disaksikan oleh Elisa – asistennya – dan rombongan yang terdiri dari lima puluh orang lainnya, nabi Elia naik ke surga.

Bagi yang suka “mempertentangkan” (ma’af, sebaiknya pakai istilah “membandingkan”, ya …) antara PL dan PB, kali ini bisa melihat ketersambungan keduanya, yakni melalui tokoh Elia. Elia yang di PL dipersaksikan naik ke sorga, berabad kemudian (persisnya dalam era PB) masih bisa dipersaksikan oleh murid-murid Yesus. Ini berarti bahwa apa yang disampaikan PL bukanlah “isapan jempol” belaka. Sebaliknya, zaman berikutnya membuktikan kebenaran yang disampaikan oleh PL.

Ada hal lain yang bisa aku lihat dari perikop Ev Minggu ini, yaitu: surga itu memang nyata (bukan hanya dongeng, apalagi cerita rekayasa orang-orang tertentu …). Dan di sana berdiam para pejuang iman. Sekali lagi, itu berarti bahwa pengharapan akan kehidupan kekal setelah kehidupan di dunia ini tidaklah sia-sia.

Melihat hal yang sangat menakjubkan tersebut – mungkin saja Petrus dan kawan-kawan sebelumnya tidak begitu memahami tentang konsep surgawi sehingga sangat kaget, sehingga tindakan yang diusulkannya kepada Yesus terkesan konyol. Bagaimana mungkin orang yang sudah berada di sorga (yang tentunya mengalami kehidupan yang sangat membahagiakan …) masih ditawari kehidupan di dunia yang fana dengan menyediakan tenda bagi masing-masing mereka. Begitulah yang acapkali aku lakukan: menawarkan sesuatu dengan kemampuanku yang sangat terbatas untuk memahami sesuatu yang jauh lebih besar.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Buku “Surga Itu Nyata” adalah salah satu buku yang masih digandrungi oleh banyak orang hingga saat ini. Aku belum pernah membacanya sampai tuntas – karena tidak tertarik sehingga tidak membelinya – namun aku bisa menduga isinya: ada orang yang berani mempersaksikan bahwa dia pernah naik ke surga. Ada lagi satu tokoh gereja (karena saking ajaibnya, nyaris dikultuskan di jemaatnya …) yang mengklaim bahwa dia sering naik ke sorga. Dan juga turun dari surga. Enak banget kalau memang bisa seperti ini …

Jangan mudah disesatkan. Dari nas perikop Minggu ini aku bisa menarik pelajaran sebagai berikut:

(1)   Surga itu memang ada, jadi tetaplah berpengharapan akan kehidupan kekal

(2)   Manusia yang masih hidup saat ini bisa saja melihatnya. Bahkan dapat merasakannya. Syaratnya? Hiduplah seturut dengan kehendak Allah. Bukankah kita juga dituntut untuk mewujudkan kerajaan Allah di bumi? Tanpa harus melakukan “hal-hal yang aneh”, kehidupan surgawi dapat kita rasakan dalam kehidupan kini dan di sini …

(3)   Ada beberapa orang yang pernah naik ke surga, tapi hanya Yesus seorang sajalah yang pernah turun dari surga. Karena Dia adalah Anak Allah, yang punya posisi yang sangat berbeda dari manusia siapapun yang pernah ada di bumi. Oleh sebab itu, kita harus menolak pernyataan dan pengakuan seseorang yang pernah naik ke surge dan turun dari surga.

Masih belum percaya? Masih belum melihat kebenaran?

Saya yang Paling Pantas!

Minggu kemarin adalah hari pelantikan pengurus yang terpilih menjadi pekerja sebagai perangkat pelayanan di jemaat, yakni yang tergabung dalam Dewan (Koinonia, Diakonia, Marturia), Seksi, Bendahara, dan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT). Mirip jabatan di legislatif, ya? Para ketua datang mengikuti ibadah dengan sesuatu yang special, paling tidak, dinyatakan dengan cara mereka berpakaian. Yang laki-laki pakai jas lengkap, sedangkan yang perempuan memakai kebaya.

Sebenarnya aku punya kesibukan di Bandung, yakni pelatihan tim penjualan Bandung yang berlangsung Sabtu dan Minggu di Ciwidey. Kegiatan yang sebenarnya akan memberikan banyak nilai tambah jika aku bisa hadir bersama semua peserta di lokasi yang dipilih oleh Distributor: suatu bangunan tua yang menurutku tetap menyenangkan bisa menghabiskan akhir pekan di udara yang sangat menyegarkan di daerah pegunungan tersebut. Namun keinginan tersebut harus aku batalkan, untuk mencegah salah paham dari orang-orang di gereja. Jangan sampai dikira aku tidak menghadiri pelantikan tersebut karena tidak jadi terpilih sebagai Ketua Dewan Koinona. Selain itu, di jadual pelayanan semesteran yang sudah aku terima sejak Januari lalu, Minggu tersebut aku bertugas sebagai kolektan.

Sebagai “jalan tengah”, Sabtu siang aku – ditemani Auli dan mamaknya yang pengen tahu tentang Ciwidey – aku menyempatkan diri untuk menyampaikan hal yang aku kira dapat menginspirasi peserta pelatihan tersebut. Dengan memakai bahan khotbah berupa video clip, aku pun berdialog dengan semua peserta. Sangat interaktif. Slot yang diberikan 30 menit bagiku, akhirnya lebih lama dari itu. Bukan untuk gagah-gagahan, aku manfaatkan kesempatan tersebut sebagai kesaksian dengan menyampaikan bahwa dengan sangat menyesal aku tidak bisa bersama mereka lebih lama lagi karena harus ke Jakarta untuk melayani Ibadah Minggu besoknya.

Begitulah. Saat Ibadah Minggu, ternyata kursi “tambahan” di belakang tidak tersedia. Aku menyadarinya setelah prosesi dan melihat bagian paling belakang menjadi lengang karena kursi tidak tersedia. Biasanya barisan paling belakang – yang menempel ke dinding bangunan belakang gereja – tersebut diisi oleh para penatua. Juga warga jemaat yang dating terlambat. Tidak bisa tidak, aku pun beranjak dengan setengah berlari menuju konsistori untuk mengambil kursi-kursi tersebut yang ternyata digeletakkan di dekat bangunan kamar mandi. Sebisaku (yang sesuai dengan kondisiku yang mengidap “penyakit” syaraf terjepit) aku tarik delapan kursi yang tertindih satu sama lain. Aku geser dari belakang sampai ke dalam bangunan gereja, sambil tak lupa meminta “bantuan” isteri koster gereja yang seharusnya bertanggung jawab dalam meletakkan kursi-kursi tersebut. “Karena koster baru”, demikianlah azas pembenaran yang aku dengar saat itu. Ternyata “cabinet baru” di gereja berdampak pula terhadap nasib koster yang harus berganti sesuai pilihan BURT yang baru dilantik hari itu …

Karena sudah ada yang mengurus – dan ingin konsentrasi mengikuti ibadah – aku pun duduk di belakang pilar bangunan paling belakang. Duduk dengan tenang sejenak sambil mengikuti liturgi, eh … warga jemaat yang duduk di sebelahku berceloteh, “”Nggak cocok ini pengurus yang terpilih ini semua. Asal-asalan. Tidak akan efektif karena tidak sesuai prinsip ‘the right man in the right place’. Kenapa si anu yang terpilih jadi ketua …”. Sebagai penatua, aku pun harus menjawabnya dengan bijaksana, “Amang, itu semua sudah mengalami proses yang panjang dan orang-orang yang dilantik di depan itu adalah yang terpilih saat ini”. Aku berharap jawaban tersebut mampu menenteramkannya untuk kembali fokus pada ibadah. Ternyata tidak. Masih berlanjut, dengan penggalan-penggalan kalimat sebagai berikut (yang masih aku ingat):

“Bagaimana orang ini bisa dipilih menjadi Sekretaris, lalu ketua seksi, lalu kordinator. Koq mesti merangkap jabatan seperti ‘nggak ada orang lain”

“Koq saya dibikin menjadi anggota seksi kemasyarakatan. Lebih cocok saya yang jadi ketua daripada orang ini. Sayalah tokoh masyarakat di lingkungan gereja ini. Saya yang dulu menyelesaikan masalah gereja dengan masyarakat di sini. Saya pengurus masyarakat yang membawahi semua ketua RW di Jakarta Utara ini yang dulu dilantik oleh Walikota”

“Saya dibikin jadi anggota seksi tanpa berkonsultasi. ‘Ngawur itu sintua …”

“Coba lihat ini, kenapa Tim Verifikasi ada dua orang yang berasal dari wilayah yang sama. Seharusnya itu berasal dari masing-masing wilayah seperti yang usulkan saat rapat jemaat yang lalu. Beginilah kerja auditor seperti saya ini yang langsung tahu ada yang salah. Sebentar aja saya langsung tahu ada yang ‘nggak pas. Saya ini dulu auditor logistic yang memeriksa uang sampai miliaran. Harusnya saya yang paing pantas dipilih …”.

Duh, pikirku. Tadinya mau konsentrasi mengikuti ibadah, malah salah memilih tempat dengan duduk di sebelah orang yang “serba bisa” ini. Karena pembicaraannya mengesankan aku ini “bukanlah siapa-siapa”, aku pun menukas, “Amang, kita harus berikan kepercayaan pada orang-orang yang terpilih. Proses ini juga sudah lama, seharusnya Amang datang kepada penatua atau pendeta meminta agar dipilih menjadi pengurus sesuai kemampuan Amang. Kami lama mencari orang-orang yang mau mempersembahkan dirinya sebagai pengurus di jemaat. Nah, nanti usai ibadah ‘kan ada acara ramah tamah di lantai dua. Di situlah nanti Amang sampaikan semuanya. Bila perlu dirombak lagi kalau memang alasan yang disampaikan Amang bisa meyakinkan orang-orang”.

Lalu masih ada jawaban, ternyata, “Mana bisa lagi dirubah kalau sudah dilantik. ‘Kan sudah ada SK-nya”. Mendengar jawaban yang bernada “setengah putus asa” itu, aku pun menjawab, “Yang namanya SK itu masih bisa dirubah kapanpun. Di SK itu ada klausul yang menyatakan bahwa itu dapat diubah sewaktu-waktu kalau dirasakan perlu. Silakan saja, Amang …”  

Diam. Puji Tuhan, pikirku. Syukurlah, ‘nggak lama kemudian tiba saatnya aku bertugas sebagai pengumpul persembahan. Aku pun berdiri, beranjak dari kursiku lalu bersama tiga orang penatua lainnya menuju ke altar untuk mengambil kantung persembahan …

Andaliman – 164 Khotbah 12 Februari 2012 Minggu Sexagesima

Tuhan yang (Berkenan) Menyembuhkan, Bukan yang Lain!

Nas Epistel:  Mazmur 30:1-13 (bahasa Batak: Psalmen)

30:1 Mazmur. Nyanyian untuk pentahbisan Bait Suci. Dari Daud. (30-2) Aku akan memuji Engkau, ya TUHAN, sebab Engkau telah menarik aku ke atas, dan tidak memberi musuh-musuhku bersukacita atas aku.

30:2 (30-3) TUHAN, Allahku, kepada-Mu aku berteriak minta tolong, dan Engkau telah menyembuhkan aku.

30:3 (30-4) TUHAN, Engkau mengangkat aku dari dunia orang mati, Engkau menghidupkan aku di antara mereka yang turun ke liang kubur.

30:4 (30-5) Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN, hai orang-orang yang dikasihi-Nya, dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus!

30:5 (30-6) Sebab sesaat saja Ia murka, tetapi seumur hidup Ia murah hati; sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai.

30:6 (30-7) Dalam kesenanganku aku berkata: “Aku takkan goyah untuk selama-lamanya!”

30:7 (30-8) TUHAN, oleh karena Engkau berkenan, Engkau telah menempatkan aku di atas gunung yang kokoh; ketika Engkau menyembunyikan wajah-Mu, aku terkejut.

30:8 (30-9) Kepada-Mu, ya TUHAN, aku berseru, dan kepada Tuhanku aku memohon:

30:9 (30-10) “Apakah untungnya kalau darahku tertumpah, kalau aku turun ke dalam lobang kubur? Dapatkah debu bersyukur kepada-Mu dan memberitakan kesetiaan-Mu?

30:10 (30-11) Dengarlah, TUHAN, dan kasihanilah aku, TUHAN, jadilah penolongku!”

30:11 (30-12) Aku yang meratap telah Kauubah menjadi orang yang menari-nari, kain kabungku telah Kaubuka, pinggangku Kauikat dengan sukacita,

30:12 (30-13) supaya jiwaku menyanyikan mazmur bagi-Mu dan jangan berdiam diri. TUHAN, Allahku, untuk selama-lamanya aku mau menyanyikan syukur bagi-Mu.  

Nas Evangelium: 2 Raja-raja 5:1-14

5:1 Naaman, panglima raja Aram, adalah seorang terpandang di hadapan tuannya dan sangat disayangi, sebab oleh dia TUHAN telah memberikan kemenangan kepada orang Aram. Tetapi orang itu, seorang pahlawan tentara, sakit kusta.

5:2 Orang Aram pernah keluar bergerombolan dan membawa tertawan seorang anak perempuan dari negeri Israel. Ia menjadi pelayan pada isteri Naaman.

5:3 Berkatalah gadis itu kepada nyonyanya: “Sekiranya tuanku menghadap nabi yang di Samaria itu, maka tentulah nabi itu akan menyembuhkan dia dari penyakitnya.”

5:4 Lalu pergilah Naaman memberitahukan kepada tuannya, katanya: “Begini-beginilah dikatakan oleh gadis yang dari negeri Israel itu.”

5:5 Maka jawab raja Aram: “Baik, pergilah dan aku akan mengirim surat kepada raja Israel.” Lalu pergilah Naaman dan membawa sebagai persembahan sepuluh talenta perak dan enam ribu syikal emas dan sepuluh potong pakaian.

5:6 Ia menyampaikan surat itu kepada raja Israel, yang berbunyi: “Sesampainya surat ini kepadamu, maklumlah kiranya, bahwa aku menyuruh kepadamu Naaman, pegawaiku, supaya engkau menyembuhkan dia dari penyakit kustanya.”

5:7 Segera sesudah raja Israel membaca surat itu, dikoyakkannyalah pakaiannya serta berkata: “Allahkah aku ini yang dapat mematikan dan menghidupkan, sehingga orang ini mengirim pesan kepadaku, supaya kusembuhkan seorang dari penyakit kustanya? Tetapi sesungguhnya, perhatikanlah dan lihatlah, ia mencari gara-gara terhadap aku.”

5:8 Segera sesudah didengar Elisa, abdi Allah itu, bahwa raja Israel mengoyakkan pakaiannya, dikirimnyalah pesan kepada raja, bunyinya: “Mengapa engkau mengoyakkan pakaianmu? Biarlah ia datang kepadaku, supaya ia tahu bahwa ada seorang nabi di Israel.”

5:9 Kemudian datanglah Naaman dengan kudanya dan keretanya, lalu berhenti di depan pintu rumah Elisa.

5:10 Elisa menyuruh seorang suruhan kepadanya mengatakan: “Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir.”

5:11 Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata: “Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang ke luar dan berdiri memanggil nama TUHAN, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku!

5:12 Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?” Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati.

5:13 Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: “Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Apalagi sekarang, ia hanya berkata kepadamu: Mandilah dan engkau akan menjadi tahir.”

5:14 Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.

Apa yang paling mencolok dari nas perikop yang menjadi Ep dan Ev Minggu ini? Kerendahan hati, menurutku. Ep menceritakan tentang Daud yang berseru meminta tolong kepada Tuhan, lalu menerima apa yang dimintanya, lalu memuji Tuhan dengan segenap hatinya. Siapa yang tidak kenal Daud, raja yang paling masyhur di Israel. Satunya lagi, Ev menceritakan tentang Naaman – panglima kerajaan – tunduk kepada perintah nabi Elisa.

Keduanya menceritakan tentang kesembuhan, hal yang menjadi thema Minggu ini. Penderitaan yang dialami Daud dan Naaman, akhirnya Tuhan mengabulkan permohonannya. Orang-orang besar ini menerima itu semua karena menyadari dirinya di hadapan Allah dengan merendahkan dirinya.

Mulanya Naaman merasa tersinggung dengan perlakuan Elisa. Dia yang merasa dirinya besar, kaget melihat bahwa yang datang menemuinya hanyalah sekadar asisten. Walau sebelumnya informasi tentang orang yang mampu menyembuhkannya diperolehnya dari seorang yang sangat rendah kedudukan sosialnya (karena seorang perempuan tawanan …), tokh Naaman masih kaget dengan perlakuan “direndahkan” oleh Elisa. Ada lagi, Elisa hanya menyuruhnya untuk mencelupkan diri sebanyak tujuh kali ke sungai Yordan. Cara penyembuhan yang dibayangkannya – mungkin dengan gerakan dinamis sambil menyampaikan jampi-jampi alias mantera kesembuhan sebagaimana penyembuh sakti pada saat itu, mungkin – ternyata hanya sekadar perintah untuk “mandi” ke sungai Yordan, sungai yang jorok. ‘Nggak ada yang menduga bahwa kesembuhan akan dating dari tempat yang tidak layak seperti itu.

Karena tersinggung, Naaman bersiap untuk beranjak pulang dengan gusar (kesal dan marah adalah kata yang paling pas, menurutku). Sekali lagi, orang yang “lemah” memberikannya anjuran untuk mematuhi. Lalu dia menuruti anjuran, dan sembuh!

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Kerendahan hati adalah sesuatu yang mulai hilang dari banyak orang untuk saat ini. Status social yang kita anggap tinggi (sehingga layak menerima perlakukan khusus) adalah godaan yang sering menghinggapi kita saat ini. “’Ngapain ikut perintah orang seperti itu? Ogah, ah. ‘nggak level!”, begitulah kiranya yang sering menghinggapi diri kita dalam menyikapi banyak hal. Cenderung “mempertentangkan kelas sosial”.

Perikop Minggu ini mengajarkan kita untuk:

(1)   Mengimani bahwa siapa pun – tidak peduli dengan status sosialnya – bisa Tuhan pakai sebagai alat-Nya untuk mewujudkan kehendak Tuhan

(2)  Tidak satu cara yang dipakai Tuhan dalam menyatakan kehendak-Nya. Termasuk dalam hal menyembuhkan anak-anak-Nya. Namun jangan pula “dipelintir” menjadi bahwa salah satu yang dipakai Tuhan dalam memberikan kesembuhan adalah dukun. Bukan! Jangan salah kaprah! Tidak semua cara dan tidak semua orang, kita harus melihat apakah orang dan atau cara yang kita jalani itu sejalan atau tidak dengan cara Tuhan. Sederhananya, alkitabiah atau tidak. Jika tidak alkitabiah, segeralah menolaknya.

(3)   Kerendahan hati akan membuka jalan bagi Tuhan untuk menyatakan kehendak-Nya. Artinya, menyadari bahwa kita “tidak ada apa-apanya” dibandingkan Tuhan adalah syarat mutlak dalam menerima kesembuhan, dan menerima jawaban doa dari Tuhan.

Di atas semuanya itu, kita harus mengimani bahwa kesembuhan – melalui siapapun itu, atau pakai apa pun itu – hanya Tuhan sajalah yang memberikan kesembuhan. Hanya dengan cara Tuhan, tentunya!