Saya yang Paling Pantas!

Minggu kemarin adalah hari pelantikan pengurus yang terpilih menjadi pekerja sebagai perangkat pelayanan di jemaat, yakni yang tergabung dalam Dewan (Koinonia, Diakonia, Marturia), Seksi, Bendahara, dan Badan Urusan Rumah Tangga (BURT). Mirip jabatan di legislatif, ya? Para ketua datang mengikuti ibadah dengan sesuatu yang special, paling tidak, dinyatakan dengan cara mereka berpakaian. Yang laki-laki pakai jas lengkap, sedangkan yang perempuan memakai kebaya.

Sebenarnya aku punya kesibukan di Bandung, yakni pelatihan tim penjualan Bandung yang berlangsung Sabtu dan Minggu di Ciwidey. Kegiatan yang sebenarnya akan memberikan banyak nilai tambah jika aku bisa hadir bersama semua peserta di lokasi yang dipilih oleh Distributor: suatu bangunan tua yang menurutku tetap menyenangkan bisa menghabiskan akhir pekan di udara yang sangat menyegarkan di daerah pegunungan tersebut. Namun keinginan tersebut harus aku batalkan, untuk mencegah salah paham dari orang-orang di gereja. Jangan sampai dikira aku tidak menghadiri pelantikan tersebut karena tidak jadi terpilih sebagai Ketua Dewan Koinona. Selain itu, di jadual pelayanan semesteran yang sudah aku terima sejak Januari lalu, Minggu tersebut aku bertugas sebagai kolektan.

Sebagai “jalan tengah”, Sabtu siang aku – ditemani Auli dan mamaknya yang pengen tahu tentang Ciwidey – aku menyempatkan diri untuk menyampaikan hal yang aku kira dapat menginspirasi peserta pelatihan tersebut. Dengan memakai bahan khotbah berupa video clip, aku pun berdialog dengan semua peserta. Sangat interaktif. Slot yang diberikan 30 menit bagiku, akhirnya lebih lama dari itu. Bukan untuk gagah-gagahan, aku manfaatkan kesempatan tersebut sebagai kesaksian dengan menyampaikan bahwa dengan sangat menyesal aku tidak bisa bersama mereka lebih lama lagi karena harus ke Jakarta untuk melayani Ibadah Minggu besoknya.

Begitulah. Saat Ibadah Minggu, ternyata kursi “tambahan” di belakang tidak tersedia. Aku menyadarinya setelah prosesi dan melihat bagian paling belakang menjadi lengang karena kursi tidak tersedia. Biasanya barisan paling belakang – yang menempel ke dinding bangunan belakang gereja – tersebut diisi oleh para penatua. Juga warga jemaat yang dating terlambat. Tidak bisa tidak, aku pun beranjak dengan setengah berlari menuju konsistori untuk mengambil kursi-kursi tersebut yang ternyata digeletakkan di dekat bangunan kamar mandi. Sebisaku (yang sesuai dengan kondisiku yang mengidap “penyakit” syaraf terjepit) aku tarik delapan kursi yang tertindih satu sama lain. Aku geser dari belakang sampai ke dalam bangunan gereja, sambil tak lupa meminta “bantuan” isteri koster gereja yang seharusnya bertanggung jawab dalam meletakkan kursi-kursi tersebut. “Karena koster baru”, demikianlah azas pembenaran yang aku dengar saat itu. Ternyata “cabinet baru” di gereja berdampak pula terhadap nasib koster yang harus berganti sesuai pilihan BURT yang baru dilantik hari itu …

Karena sudah ada yang mengurus – dan ingin konsentrasi mengikuti ibadah – aku pun duduk di belakang pilar bangunan paling belakang. Duduk dengan tenang sejenak sambil mengikuti liturgi, eh … warga jemaat yang duduk di sebelahku berceloteh, “”Nggak cocok ini pengurus yang terpilih ini semua. Asal-asalan. Tidak akan efektif karena tidak sesuai prinsip ‘the right man in the right place’. Kenapa si anu yang terpilih jadi ketua …”. Sebagai penatua, aku pun harus menjawabnya dengan bijaksana, “Amang, itu semua sudah mengalami proses yang panjang dan orang-orang yang dilantik di depan itu adalah yang terpilih saat ini”. Aku berharap jawaban tersebut mampu menenteramkannya untuk kembali fokus pada ibadah. Ternyata tidak. Masih berlanjut, dengan penggalan-penggalan kalimat sebagai berikut (yang masih aku ingat):

“Bagaimana orang ini bisa dipilih menjadi Sekretaris, lalu ketua seksi, lalu kordinator. Koq mesti merangkap jabatan seperti ‘nggak ada orang lain”

“Koq saya dibikin menjadi anggota seksi kemasyarakatan. Lebih cocok saya yang jadi ketua daripada orang ini. Sayalah tokoh masyarakat di lingkungan gereja ini. Saya yang dulu menyelesaikan masalah gereja dengan masyarakat di sini. Saya pengurus masyarakat yang membawahi semua ketua RW di Jakarta Utara ini yang dulu dilantik oleh Walikota”

“Saya dibikin jadi anggota seksi tanpa berkonsultasi. ‘Ngawur itu sintua …”

“Coba lihat ini, kenapa Tim Verifikasi ada dua orang yang berasal dari wilayah yang sama. Seharusnya itu berasal dari masing-masing wilayah seperti yang usulkan saat rapat jemaat yang lalu. Beginilah kerja auditor seperti saya ini yang langsung tahu ada yang salah. Sebentar aja saya langsung tahu ada yang ‘nggak pas. Saya ini dulu auditor logistic yang memeriksa uang sampai miliaran. Harusnya saya yang paing pantas dipilih …”.

Duh, pikirku. Tadinya mau konsentrasi mengikuti ibadah, malah salah memilih tempat dengan duduk di sebelah orang yang “serba bisa” ini. Karena pembicaraannya mengesankan aku ini “bukanlah siapa-siapa”, aku pun menukas, “Amang, kita harus berikan kepercayaan pada orang-orang yang terpilih. Proses ini juga sudah lama, seharusnya Amang datang kepada penatua atau pendeta meminta agar dipilih menjadi pengurus sesuai kemampuan Amang. Kami lama mencari orang-orang yang mau mempersembahkan dirinya sebagai pengurus di jemaat. Nah, nanti usai ibadah ‘kan ada acara ramah tamah di lantai dua. Di situlah nanti Amang sampaikan semuanya. Bila perlu dirombak lagi kalau memang alasan yang disampaikan Amang bisa meyakinkan orang-orang”.

Lalu masih ada jawaban, ternyata, “Mana bisa lagi dirubah kalau sudah dilantik. ‘Kan sudah ada SK-nya”. Mendengar jawaban yang bernada “setengah putus asa” itu, aku pun menjawab, “Yang namanya SK itu masih bisa dirubah kapanpun. Di SK itu ada klausul yang menyatakan bahwa itu dapat diubah sewaktu-waktu kalau dirasakan perlu. Silakan saja, Amang …”  

Diam. Puji Tuhan, pikirku. Syukurlah, ‘nggak lama kemudian tiba saatnya aku bertugas sebagai pengumpul persembahan. Aku pun berdiri, beranjak dari kursiku lalu bersama tiga orang penatua lainnya menuju ke altar untuk mengambil kantung persembahan …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s