Diskusi Kesaksian: Bisakah Poligami?

Dalam doa pagiku, tak pernah aku lupa menyelipkan permohononan kepada Tuhan, “Jadikanlah aku sebagai alat-Mu untuk memberikan kesaksian dan kemuliaan bagi nama-Mu …” di antara permohonan lainnya. Dan setiap beraktivitas dengan kawan-kawan satu tim, aku seringkali memanfa’atkan momen berjalan bersama mereka dengan memberikan kesaksian di sela perbincangan kami. Saking seringnya, hal ini sudah hampir menjadi kebiasaan, dan seakan terjadi secara otomatis.

Kemarin aku berkunjung ke Sukabumi dan Cianjur. Pada perjalanan kembali ke Cianjur dari Sukabumi, di mobil terjadi percakapan. Yang menyetir adalah pemilik mobil, Rully – anak buahku yang menjadi penyelia di Sukabumi dan Cianjur, muslim, duda beranak satu seusia anakku Auli, dan bulan Mei berencana untuk kawin yang ketiga kalinya – di depan sebelah kirinya adalah Narto – Operation Manager Distributor kami di Cianjur, muslim dengan keluarga muallaf – sedangkan aku duduk sendirian di kursi belakang. Hari tersebut kondisiku kurang fit. Berolahraga di fitness center milik Hotel Cianjur tempatku menginap di Cipanas ternyata tidak secara langsung menyembuhkan flu yang sudah aku alami beberapa hari. Dalam situasi terkantuk-kantuk, tiba-tiba Narto membuka percakapan dengan bertanya: “Mohon ma’af, pak Tobing. Bisa bertanya tentang sesuatu yang serius?”.

Karena cara bertanya seperti ini bukanlah sesuatu yang biasa selama ini, aku pun sempat tertegun. Ini pasti sesuatu yang sangat pribadi, pikirku. Tapi bukan suatu kebiasaan bagiku untuk menolak permintaan seperti ini, maka aku pun menjawab, “Ah, silakan aja pak Narto. Memang aku pernah menolak, apalagi tentang hal yang kelihatannya serius banget ini. Silakan, pak”.

“Anu, pak … apakah di Injil atau di agama Kristen memang ada larangan poligami?”

Aku pun lega mengetahui pertanyaan yang ternyata tidak “berat-berat amat” (hehehe …), sekaligus tersenyum sambil bergumam dalam hati, “Aha! Ini dia kesempatan yang Tuhan berikan lagi bagiku untuk mempersaksikan imanku”. Aku pun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Dengan suara yang agak kuat untuk mengimbangi hujan lebat di luar kendaraan yang kami tumpangi dan berjalan perlahan-lahan (yang kemudian menyebabkan suaraku hilang sampai saat ini, apalagi harus menyampaikan sesuatu saat pelatihan penyegaran Kode Etik WHO pada semua tim lapangan menjelang malam harinya di kantor Distributor di Cianjur …).

Di Injil? Di Alkitab mungkin maksudnya? Karena banyak orang salah paham yang menyamakan Alkitab dengan Injil, padahal Injil adalah bagian dari kitab-kitab yang ada di Alkitab. Alkitab itu terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dan Injil itu bagian dari Perjanjian Baru yang terdiri dari kitab-kitab Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes …”. Aku berharap ini bisa menyegarkan ingatannya yang dulu mungkin pernah akrab dengan apa yang baru aku sampaikan sebelum kemudian beralih agama menjadi muslim.

“Poligami sudah pasti dilarang di agama Kristen. Mungkin pertanyaannya bisa dibuat lain, yakni: ‘bisakah orang Kristen bercerai”, ya?. Nah, untuk pertanyaan ini aku selalu balik bertanya kepada yang bertanya. Mau jawaban ‘boleh’, atau jawaban ‘tidak boleh’? Karena di Alkitab menyediakan kedua jawaban tersebut …”. Meskipun tidak melihat wajahnya secara langsung, namun aku bisa merasakan bahwa ada keheranan yang dirasakan oleh kedua orang kawanku semobil kali itu: yang muslim sejak lahir, dan yang muslim kemudian.

Bagi yang menginginkan jawaban boleh bercerai, maka aku akan sampaikan bahwa di Perjanjian Lama memang ada contoh tentang seseorang yang punya isteri ratusan yang sangat dikasihi Tuhan, yakni Daud yang menurut Islam adalah seorang nabi. Orang-orang akan mengatakan bahwa mereka meniru Daud yang berarti boleh punya isteri lebih dari satu. Sebaliknya, bagi yang menginginkan jawaban ‘tidak boleh’, dasarnya adalah Injil yang menceritakan perjalanan hidup Yesus selama berada di dunia ini. Di situ Yesus Kristus dengan tegas mengatakan bahwa hanya kematian yang bisa memisahkan orang yang sudah disatukan dalam perkawinan. Memang ada sanggahan dari orang-orang Yahudi saat itu. Ingat, Yahudi itu bukan Kristen, ya. Orang-orang Yahudi tersebut mengatakan, ‘Mengapakah nenek moyang kami Musa, Abraham, dan Yakub membolehkan memberikan surat cerai kepada isteri yang sudah tidak diingini lagi?’, yang dijawab oleh Yesus: ‘Karena kekerasan hati nenek moyangmulah makanya dibolehkan memberikan surat cerai kepada isteri untuk menikah dengan orang lain’. Itu berarti, Yesus sebenarnya tidak menyetujui perceraian, bahkan membenci perceraian. Begitulah yang terjadi sampai saat ini, bahwa ada saja orang-orang yang membenarkan tindakannya dengan mengutip firman Tuhan yang hanya menyenangkan hatinya. Bukan melihatnya secara utuh, dengan menyelidiki apa konteksnya hingga firman itu diturunkan. Bahkan Muhamad pun seperti yang aku ketahui sebenarnya tidak menyetujui pernikahan poligami dengan pernah suatu kali marah kepada seorang sahabatnya yang ingin memperisteri puterinya bukan sebagai isteri pertama. Tapi orang-orang sekarang mengatakan bahwa mereka berpoligami karena meniru nabi Muhammad. Padahal seharusnya mereka meniru karakter, bukan meniru semuanya dengan tidak mau memahami kondisi yang sedang dialami Muhammad saat itu sehingga berpoligami. Sama seperti keinginan untuk meniru Yesus Kristus, bukan menjadi tidak kawin karena Yesus tidak kawin. Yang ditiru adalah karakter Yesus yang sangat berbelas kasih, tidak mendendam, bahkan meminta untuk mengasihi musuh dengan memberikan pipi kanan kalau pipi kiri kita ditampar …”.    

Begitulah percakapan itu kemudian menjadi menarik. Harapanku, Yesus terberitakan kepada mereka yang juga berhak mendapatkan pengenalan akan Kristus. Walau kemudian ada percakapan yang mengarah kepada isu kontemporer – ormas Islam yang sering melakukan teror, kebebasan individu dalam beragama, dan lain-lain – itu semua menjadi kurang menarik bagiku, karena ‘nggak ada yang lebih utama daripada memberitakan tentang Yesus Kristus kepada orang-orang yang sebenarnya sangat membutuhkan pengenalan akan Dia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s