Andaliman – 166 Khotbah 26 Februari 2012 Minggu Invocavit

Tidak Ada Lagi Air Bah yang Akan Memusnahkan Bumi. Itu Janji Tuhan yang Ya dan Amin

Nas Epistel:  Mazmur 25:8-14 (bahasa Batak: Psalmen)

25:8 TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.

25:9 Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati.

25:10 Segala jalan TUHAN adalah kasih setia dan kebenaran bagi orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan peringatan-peringatan-Nya.

25:11 Oleh karena nama-Mu, ya TUHAN, ampunilah kesalahanku, sebab besar kesalahan itu.

25:12 Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.

25:13 Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi.

25:14 TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.

Nas Evangelium: Kejadian 9:8-17 (bahasa Batak: 1 Musa 9:8-17)

9:8 Berfirmanlah Allah kepada Nuh dan kepada anak-anaknya yang bersama-sama dengan dia:

9:9 “Sesungguhnya Aku mengadakan perjanjian-Ku dengan kamu dan dengan keturunanmu,

9:10 dan dengan segala makhluk hidup yang bersama-sama dengan kamu: burung-burung, ternak dan binatang-binatang liar di bumi yang bersama-sama dengan kamu, segala yang keluar dari bahtera itu, segala binatang di bumi.

9:11 Maka Kuadakan perjanjian-Ku dengan kamu, bahwa sejak ini tidak ada yang hidup yang akan dilenyapkan oleh air bah lagi, dan tidak akan ada lagi air bah untuk memusnahkan bumi.”

9:12 Dan Allah berfirman: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, yang bersama-sama dengan kamu, turun-temurun, untuk selama-lamanya:

9:13 Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.

9:14 Apabila kemudian Kudatangkan awan di atas bumi dan busur itu tampak di awan,

9:15 maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku yang telah ada antara Aku dan kamu serta segala makhluk yang hidup, segala yang bernyawa, sehingga segenap air tidak lagi menjadi air bah untuk memusnahkan segala yang hidup.

9:16 Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi.”

9:17 Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Inilah tanda perjanjian yang Kuadakan antara Aku dan segala makhluk yang ada di bumi.”

Pernah dengar Tuhan pernah lupa? Pertama kali membaca dalam Alkitab, aku terkejut juga: masa’ Tuhan yang aku sembah punya “penyakit” yang sama dengan manusia biasa? Apalagi bila dibandingkan dengan tersangka dan atau terdakwa yang sedang diproses hukum yang seringkali mendadak mengidap amnesia alias pelupa (walau kita juga ‘nggak tahu apakah sekadar pura-pura atau sejatinya memang pelupa sehingga tidak perlu berbohong lebih banyak lagi manakala dicecar kesaksiannya oleh para pemeriksa …).

Inilah yang menunjukkan betapa manusiawinya penulis Alkitab. Firman Tuhan mereka tuliskan sebagaimana pemahaman mereka bahwa Tuhan memang mempunyai sifat kemanusiaan. Maka jangan heran bila di Alkitab ada disebutkan Tuhan yang ingat kepada seseorang, naik, turun, berbicara, berjalan di depan, menyesal, dan banyak sifat-sifat manusiawi lainnya.

Begitulah dengan nas perikop Minggu ini. Dalam Ev disebutkan bahwa “maka Aku akan mengingat perjanjian-Ku …” (ayat 15). Jadi, perlu ada pengingat bagi Tuhan. Bukan persis lupa sebagaimana manusia. Betapa banyak janji-janji Tuhan dalam Alkitab. Apakah Tuhan melupakannya sehingga ada yang tidak terkabul atau belum terkabul? Aku yakin dengan sepenuh hati: tidak! Janji-Nya pasti dipenuhi. Cuma, ada syaratnya. Bukan Cuma-cuma! Misalnya, aku adalah orang yang dijanjikan untuk memperoleh sesuatu. Nah, aku harus menjalani hidup dengan iman yang teguh. Tuhan juga punya dimensi waktu yang berbeda dengan manusia, maksudnya hanya Tuhan yang paling tahu kapan waktu yang paling tepat untuk memenuhi permohonanku (itulah yang sering membuat ‘nggak sabaran, karena waktu Tuhan seringkali dianggap terlambat …). Dalam masa penantian tersebutlah, aku perlu untuk “mengingatkan” Tuhan. Caranya? Dengan berdoa dan menyampaikan bahwa Tuhan pernah menjanjikan dan memberitahu bahwa aku masih setia pada-Nya dan masih melakukan apa yang harus aku lakukan, sehingga Tuhan “mengingatnya” … Bukan untuk menyombongkan diri dengan menyampaikan hal-hal baik yang pernah aku lakukan kepada Tuhan, melainkan untuk diriku sendiri supaya tetap fokus pada permohonan dan perbuatan baik tersebut. Sebab – ini penegasannya – Tuhan ‘nggak pernah lupa dengan apapun dan dengan siapapun!

Demikianlah yang bisa dilihat pada nas perikop Ep dan Ev Minggu ini. Apa yang dialami dan diserukan oleh Daud (dalam Mazmur) dan Nuh (dalam Kejadian) dalam hubungan mereka dengan Tuhan, dan bagaimana Tuhan menanggapinya.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Janji bagaikan dua sisi mata uang. Dalam satu sisi, itu bisa berarti pengharapan. Mengharapkan sesuatu yang kita idamkan. Di sisi lainnya, janji juga dapat berarti hutang bila kita pernah menyampaikannya. Jika terpenuhi, janji akan sangat menyukacitakan. Sebaliknya, jika tidak terpenuhi, maka itu akan membawa pada kekecewaan dan frustrasi.

Bagaimana dengan Tuhan dan janji-janji-Nya? Tak usahlah diragukan lagi. Ada yang sempat meragukan: koq masih ada bencana alam seperti banjir? Padahal Tuhan ‘kan sudah berjanji? Menurutku, janji Tuhan adalah tentang pemusnahan bumi layaknya air bah berabad-abad yang lalu di mana bencana itu mengancam kepunahan semua makhluk. Dan sepanjang yang aku tahu, belum pernah ada bencana seperti itu di zaman kontemporer ini. Tsunami “hanya” menyerang Aceh, Nias, dan negeri tetangga. Jepang menyusul kemudian. Bukan seluruh permukaan bumi.  Jadi, sangat jauh berbeda dengan air bah zaman Nuh.

Sebagaimana Nuh yang dipilih Tuhan dalam karya penyelamatan, kita juga dapat dipakai Tuhan untuk menyelamatkan orang-orang. Syaratnya adalah menjauhkan diri dari hal-hal yang jahat. Mohon kekuatan pada Tuhan sebagaimana yang dilakukan Daud dalam doanya sebagaimana yang bisa kita lihat dalam nas perikop Ep Minggu ini.

Iklan

One comment on “Andaliman – 166 Khotbah 26 Februari 2012 Minggu Invocavit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s