Nunga Lao Be … (Ny. St. Tobing boru Ritonga – 77 Taon)

Lewat subuh hari ini, kami mendapat kabar dukacita. Mamakku – Ny. St. Tobing Sitti Anny boru Ritonga gelar Ompu Rodri Mikail – sudah dipanggil Tuhan …

Satu dari tiga perempuan perkasa dalam hidupku telah pergi meninggalkanku, tapi semangat beliau tetap mengiringi perjalanan hidupku. Bersama Tuhan, tentunya …

Sian tano mulak ma tu tano …

Iklan

Salamat Ulang Taon, Auli, Boru Hasian!

Hari ini Auli berulang tahun. Tak terasa, sudah sepuluh tahun usia putri kami ini. Dan sudah sepuluh tahun pula kami merasakan sukacita dengan kehadirannya di tengah-tengah keluarga kami. Kami bersyukur atas kemurahan Tuhan ini, salah satu di antara keajaiban yang kami rasakan dalam hidup.

Aku masih di Medan hari ini. Mengambil cuti sejak kemarin. Untuk menengok Mamak yang sudah hampir seminggu tergeletak di ruang ICU Rumah Sakit Santa Elizabeth di Medan. Sejak ulang tahun beliau yang adalah 23 Maret. Jadi, bertepatan dengan hari ulang tahun, Mamak malah harus masuk rumah sakit karena stroke.

Tadi sebelum jam enam aku bertelepon ke Bandung. Diterima oleh Mak Auli yang mengabarkan bahwa Auli masih tidur, sambil menjanjikan akan me-missed call-ku nanti manakala Auli sudah bangun. ‘Nginap di rumah mertua yang nyaman, aku pun sengaja menunda ke kamar mandi (mencegah jangan sampai ada missed call ketika aku masih di kamar mandi …). Tak berapa lama ada SMS masuk yang mengabarkan bahwa “Auli siap menerima ucapan selamat ulang tahun”

Aku pun bertelepon yang berulangkali dijawab dengan “oek … oek …”. Semula terkejut – “permainan apa pula ini …”, pikirku – namun suara Mak Auli di belakang membuatku menjadi jelas. “Ada anak bayi yang baru lahir, pa …”. Sesuatu yang menyukacitakan setelah kelelahan mengurus orangtua yang sakit parah.

Sebelum menutup pembicaraan – karena Auli akan bersiap-siap mandi lalu berangkat ke sekolah – aku pun meminta mereka nanti menjemputku di Bandara Hussein Sastranegara untuk sama-sama menikmati malam di Bandung untuk merayakan ulangtahun Auli dengan sederhana. Aku berterima kasih pada Tuhan yang membuat Auli maklum bahwa perayaannya harus menunggu kepulanganku dari Medan. Aku berharap hal ini dapat memberikan pengajaran padanya tentang nilai kekeluargaan dan penghormatan pada orangtua yang seringkali memang membutuhkan pengorbanan daripada kesenangan diri sendiri.

Salamat ulang taon, Auli! Debata ma na sai tongtong mandongani saleleng ni ngolum …

Habang ma si anduhur, manortor si bunga jambu

Sai ganjang ma umur, sibahen las ni roha di tonga-tonga jabu.

Horas! Horas! Horas!

Andaliman-171 Khotbah 01 April 2012 Minggu Palmarum

Hosana! Jadilah Seorang Murid yang Patuh!

Nas Evangelium Markus 11:1-11

11:1 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem, dekat Betfage dan Betania yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya

11:2 dengan pesan: “Pergilah ke kampung yang di depanmu itu. Pada waktu kamu masuk di situ, kamu akan segera menemukan seekor keledai muda tertambat, yang belum pernah ditunggangi orang. Lepaskan keledai itu dan bawalah ke mari.

11:3 Dan jika ada orang mengatakan kepadamu: Mengapa kamu lakukan itu, jawablah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya ke sini.”

11:4 Merekapun pergi, dan menemukan seekor keledai muda tertambat di depan pintu di luar, di pinggir jalan, lalu melepaskannya.

11:5 Dan beberapa orang yang ada di situ berkata kepada mereka: “Apa maksudnya kamu melepaskan keledai itu?”

11:6 Lalu mereka menjawab seperti yang sudah dikatakan Yesus. Maka orang-orang itu membiarkan mereka.

11:7 Lalu mereka membawa keledai itu kepada Yesus, dan mengalasinya dengan pakaian mereka, kemudian Yesus naik ke atasnya.

11:8 Banyak orang yang menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang menyebarkan ranting-ranting hijau yang mereka ambil dari ladang.

11:9 Orang-orang yang berjalan di depan dan mereka yang mengikuti dari belakang berseru: “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan,

11:10 diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang maha tinggi!”

11:11 Sesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi sebab hari sudah hampir malam Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.

Nas Epistel Yesaya 50:4-9

50:4 Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

50:5 Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.

50:6 Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

50:7 Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.

50:8 Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku!

50:9 Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? Sesungguhnya, mereka semua akan memburuk seperti pakaian yang sudah usang; ngengat akan memakan mereka

Dua hal yang bisa segera aku tangkap manakala membaca nas Ep dan Ev Minggu ini. Pertama adalah tentang Yesus yang dielu-elukan oleh banyak orang, satunya lagi adalah tentang kepatuhan sebagai murid. Kepatuhan sebagai murid ini pulalah yang dapat aku tarik manakala membaca Ep yang dikutip dari kitab Yesaya.

Ibarat skenario – ada yang mengatakan konspirasi, rekayasa, dan adapula yang menganggapnya hanya sekadar kebetulan (sesuatu yang tidak aku sukai, apalagi menggunakan istilah “kebetulan” …) – Yesus “dengan begitu saja” memerintahkan dua orang murid-Nya untuk “meminjam-pakai” seekor kedelai betina. Dengan hanya membekali mereka dengan “mantera” (yang kemudian memang terbukti ampuh …) “Tuhan memerlukannya”, kedua murid patuh untuk melaksanakan apa yang dimaui oleh sang Guru. Aku terharu dengan kepatuhan yang ditunjukkan oleh kedua orang murid tersebut. Sama dengan terharunya pada sikap pemilik keledai dan orang-orang yang membiarkan keledai yang tertambat itu diambil oleh “dua orang yang tidak dikenal” (ini istilah yang sering dipakai belakangan hari ini di media nasional untuk menggantikan istilah orang-orang/pelaku kejahatan yang tidak bertanggung jawab …). Jika ditarik pada masa kini dan di sini, tentulah kedua murid itu akan diteriaki “Maling … Maling …!”. Dan mungkin juga teriakan yang sama akan terdengar pada masa itu, saat kejadian, apabila murid-murid tidak mengucapkan kalimat ajaib dari Yesus … Siapa yang mau hartanya diambil begitu saja, ya?

Itulah yang mau disampaikan oleh nas Ev Minggu ini. Selanjutnya adalah sorak-sorai orang-orang yang mengelu-elukan Yesus sebagai Mesias (yang sayangnya pemahaman mereka adalah Yesus sebagai mesias duniawi yang akan membebaskan bangsa Israel dari penjajahan Romawi, bukan secara rohani …). Kerendahan hati Yesus dengan hanya menunggangi seekor keledai betina muda – yang tentu saja sangat berbeda dengan kemuliaan seorang raja/penguasa duniawi yang mengendarai kereta kuda yang diiringi oleh bala tentara yang gagah perkasa – belum begitu mengganggu mereka. Yang penting seorang mesias, cukuplah. Demikian mungkin yang dipahami, dan itulah pula yang membuat kerumunan tersebut berubah menjadi kerumunan yang sama sebagai penuduh Yesus penghujat Allah dan meminta penguasa untuk menyalibkan-Nya …

Nas Ep mengisahkan nubuat Yesaya tentang penderitaan Yesus yang akan mengalami siksaan yang sangat dahsyat. Namun Dia tunduk dan patuh layaknya seorang murid dalam menyikapi perintah gurunya. Aku sangat yakin, bahwa hanya kepatuhan yang sungguh-sungguhlah dari seorang Yesus yang menguatkan-Nya dalam menjalani “prosesi kematian” yang sudah diketahui-Nya sejak awal dan siap menanggung derita dan siksa yang amat keji. Bukan menghindar, apalagi melawan …

Bekal/Tantangan/Ilustrasi bagi (Warga) Jemaat

Luar biasa Yesus ini! Dia sebenarnya punya kuasa untuk melawan takdir yang sudah sangat jelas diketahui-Nya, namun tidak memberontak dan melawannya. Karena apa? karena patuh pada perintah Sang Bapa, yang mengutus-Nya masuk ke dalam dunia untuk karya penyelamatan yang telah disiapkan Tuhan bagi umat manusia.

Apa yang bisa kita pelajari dari nas perikop yang menjadi Ev dan Ep Minggu Palmarum ini? Minggu sorak-sorai memuji Tuhan (berasal dari kata “palma” yang merujuk kepada daun-daunan dan ranting pohon palma yang diletakkan di sepanjang jalan yang akan dilalui oleh Yesus), kita diingatkan untuk:

(1) memiliki kepatuhan layaknya seorang murid pada gurunya, walaupun itu kadangkala harus mengalami penderitaan dan kepahitan (dan itu pula yang kita alami sebagai murid Yesus dalam kehidupan kita, ‘kan?)

(2) kerendahan hati pada saat memiliki kesempatan untuk bermegah diri. Godaan ini tentunya seringkali datang menghampiri kita.

(3) menjadi murid yang hanya memberikan hal-hal yang positif kepada orang-orang di sekitar kita, baik melalui ucapan maupun tindakan.

Sudah layakkah kita disebutkan sebagai murid Yesus? Selagi masih ada kesempatan, ayo lakukan dengan tidak menundanya lagi.

Nyepi di Bandung. Salamat Ulang Taon, da Inong …

Hari ini adalah hari libur nasional, karena perayaan Nyepi. Salah satu perayaan hari besar kaum Hindu Bali, salah satu agama yang diakui di negara Republik Indonesia ini. Jauh hari sebelumnya kami sudah merencanakan untuk berlibur di Garut. Waktu mencoba memesan hotel satu bulan yang lalu, aku terkejut: semua hotel yang aku hubungi mengatakan bahwa kamar mereka full booked. Ternyata Garut sudah menjadi salah satu kota tujuan wisata di Provinsi Jawa Barat, selain Bandung. Berkat bantuan seorang kawan seperusahaan yang ditempatkan di sana, akhirnya kami dipesankan dua kamar. Dua kamar? Ya, satu buat kami sekeluarga, satu lagi untuk pariban dan keluarganya yang tinggal di Bandung/Bekasi.

Beda dari yang biasanya, kali ini greget berlibur di Garut terkesan “dingin”. Bahkan sampai Minggu lalu tidak terdengar ada rencana persiapan keberangkatan. Ternyata cuma aku yang “heboh” dengan sampai mengambil cuti segala …

Nyepi tahun ini persis dengan hari ulang tahun mamakku. Salah seorang perempuan perkasa dalam hidupku. Aku sudah membiasakan diri untuk selalu bertelepon setiap Minggu sore. Interlokal dari Bandung ke Medan. Walau sekadar menanyakan apa kabarnya hari ini, apakah marminggu tadi, siapa yang berkhotbah di gereja dan apa pesan dari khotbah, dan tidak pernah selalu lupa menitipkan pesan untuk selalu mendoakan kami yang tinggal di perantauan, yang selalu dijawab dalam bahasa Batak oleh beliau: “Pastilah aku doakan kalian, Amang. Walaupun seringkali aku lupa mengucapkan ‘amen’ karena terlanjur tertidur …”. Dan jawabanku selalu adalah, “Nggak apa-apa itu, Mak. Pasti Yesus tersenyum melihat Mamak lupa mengatakan ‘amen’ itu. Perlu juga membuat Yesus tersenyum, jangan hanya membuat hati-Nya sedih dengan dosa-dosa kita…”. Kemudian terdengar tawa berderai-derai …

Ada kalanya juga pembicaraan telepon ditutup dengan nada sedih, “Kapannya aku ini dijemput Tuhan? Pintar kali bapakmu, meninggal dia duluan sehingga ditinggalkannya aku sendiri …“. Untuk kalimat ini, aku selalu punya jawaban, “Bukan suka-suka kita. ‘Nggak bisa keinginan kita saja, Mak. Tuhan masih menunggu kapan Mamak benar-benar siap untuk pergi. Jangan sia-siakan waktu yang masih ada …”. Beliau kemudian akan berkata, “Iya, ya … Banyak sekali dosa dan kesalahanku. Dulu aku juga sangat sombong pada orang-orang, apalagi kalau jorok dan bau …“. Lalu beliau akan bercerita tentang orang-orang yang jorok dan bau tersebut. Ternyata adalah kawan-kawan sapararikamisan yang biasanya langsung datang Kamis sore ke gereja setelah menutup jualan partiga-tigaan-nya di Pasar Simpang Limun. Zaman itu tentulah tidak semudah zaman sekarang yang mudah mendapatkan air bersih untuk selain sekadar membasuh wajah dan tangan. Juga minyak wangi untuk penghilang “bau pasar” …

Untuk menghibur hati beliau, selalu aku sampaikan, “Ah, yang belum perlunya saat ini pensiunan guru dan mantan ketua parari Kamis di surga. Sabarlah, Mak. Nanti kalau sudah tiba saatnya, dan diperlukan pasti Tuhan mengingat Mamak untuk dipanggil duluan …”. Lalu aku bisa merasakan ketenangan hatinya dengan membayangkan segurat wajah tua yang tersenyum sedikit dengan gurauanku itu. Begitulah yang sering terjadi. Berulang-ulang, karena beliau juga mungkin tidak selalu ingat karena daya ingat yang mulai menurun.

Kemarin dini hari Kamis, ada telepon dari Medan. Mengabarkan Mamak dibawa ke Rumah Sakit Santa Elizabeth karena serangan stroke. Beliau yang tinggal sendirian ditemani perawat jompo, dilarikan ke rumah sakit oleh ito yang tinggal tidak begitu jauh dari rumah orangtua kami itu. Sudah dalam keadaan tidak sadar. Sampai hari ini masih belum terlihat tanda-tanda kemajuan di ruang perawatan intensive care unit  (ICU). Semua yang aku telepon hari ini – ito-ku yang dokter spesialis, guru, dan guru yang semuanya tinggal di Medan – mengabarkan hal yang sama.

Pagi ini abangku dan ito-ku yang tinggal di Jakarta sudah terbang ke Medan. Aku masih terus berusaha mendapatkan tiket pesawat di sela kesibukan menerima tamu dari Kantor Pusat yang datang bertubi-tubi ke Bandung; dan juga persiapan mengurus perpindahan kantor karena kantor yang kami tempati saat ini kontraknya akan berakhir pada 31 Maret ini. Hanya penerbangan Air Asia yang ada dari Medan ke Bandung. Dan sejak kemarin sudah habis terjual karena long week-end.

Di Bandung, dalam kesunyian akan sepinya liburan Nyepi, aku hanya bisa berdoa pada Tuhan agar Mamak diberikan kekuatan menjalani dan melewati masa-masa yang harus dihadapinya saat ini. Sendirian bersama Tuhan …

Habang timbo si anduhur, songgop di ginjang ni punsu. 

Nunga ditambai Tuhan sada taon nai umur, anggiat ma manghorhon pasu-pasu …                                                 

Andaliman-170 Khotbah 25 Maret 2012 Minggu Judika

Muliakan Tuhan! Ditanam, bukan Dikubur!

Nas Evangelium Yohanes 12:20-33

12:20 Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani.

12:21 Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya: “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.”

12:22 Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; Andreas dan Filipus menyampaikannya pula kepada Yesus.

12:23 Tetapi Yesus menjawab mereka, kata-Nya: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan.

12:24 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

12:25 Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal.

12:26 Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situpun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.

12:27 Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini.

12:28 Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Maka terdengarlah suara dari sorga: “Aku telah memuliakan-Nya, dan Aku akan memuliakan-Nya lagi!”

12:29 Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata, bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata: “Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.”

12:30 Jawab Yesus: “Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu.

12:31 Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar;

12:32 dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.”

12:33 Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.

Nas Epistel Mazmur 51:1-12 (bahasa Batak Psalmen)

51:1 Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud,

(51-2) ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba.

(51-3) Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!

51:2 (51-4) Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! 51:3 (51-5) Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku.

51:4 (51-6) Terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan-Mu, bersih dalam penghukuman-Mu.

51:5 (51-7) Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

51:6 (51-8) Sesungguhnya, Engkau berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Engkau memberitahukan hikmat kepadaku.

51:7 (51-9) Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!

51:8 (51-10) Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!

51:9 (51-11) Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! 51:10 (51-12) Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!

51:11 (51-13) Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku!

51:12 (51-14) Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela!

Sekilas, jauh sekali antara nas Ep dan Ev Minggu ini. Bagaimana dan apa hubungan antara Yesus yang dipermuliakan dengan Daud yang bertobat dari selingkuhnya dengan Bersyeba? Berulangkali, bolak-balik, aku mencari hubungan antara keduanya, namun tetap ‘nggak ketemu … Memang pergi ke mana, hai engkau keterkaitan antara Ep dan Ev?

Jika harus “dipaksa”, jawabannya mungkin pada kata “kemuliaan”. Ya, pada kemuliaan. Kemuliaan Tuhan sematalah yang memungkinkan Daud pulih dari keterpurukannya setelah berzinah dengan Bersyeba dan melakukan pembunuhan terhadap suami Bersyeba dengan menyuruhnya pergi ke peperangan yang tidak berimbang agar terbunuh oleh lawan. Daud dengan penyesalannya yang amat sangat – setelah ditegur dengan sangat keras oleh nabi Natan – selanjutnya menyerahkan hidupnya hanya untuk kebaikan dan kemuliaan Allah. Tunduk pada perintah Allah. Hal yang sama dilakukan oleh Yesus dengan taat dan tunduk patuh pada rencana Allah. Bahkan sampai mati di kayu salib!

Apa beda antara dikubur dengan ditanam? Persamaannya: sama-sama masuk ke dalam tanah, menghadapi kegelapan yang amat sangat, rasa dingin yang sangat mencekam, dan hal-hal lain yang menakutkan. Bedanya: yang satu tidak akan hidup, sedangkan satunya lagi akan muncul dengan kehidupan yang baru. Orang matilah yang akan dikubur (dan tentunya tidak akan hidup kembali, dan akan menimbulkan kehebohan jika benar-benar ada orang mati yang bisa hidup kembali …), sedangkan yang ditanam adalah tumbuhan yang dari benihnya akan keluar tunas dan kehidupan yang baru.

Yesus menggunakan ilustrasi biji gandum yang ditanam, mati, lalu keluar dari dalam tanah dengan kehidupan baru yang akan memberikan kehidupan yang lebih banyak daripada hanya sekadar sebuah biji gandum. Dan Yesus mengumpamakan kejadian yang akan terjadi pada diri-Nya sendiri, yang akan mati namun hidup kembali untuk memberikan kehidupan bagi banyak orang.

Bekal/Tantangan/Ilustrasi bagi (Warga) Jemaat

Sudahkah pesan yang disampaikan Yesus tentang “kematian yang memuliakan” ini kita jadikan sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan kita sehari-hari? Apakah kita sudah pernah melakukannya: “mematikan” keinginan daging untuk memberikan “kehidupan” bagi orang-orang yang berada di sekitar kita?

Ilustrasi yang sederhana: pernahkah kita mengurungkan niat membelanjakan uang dalam jumlah tertentu untuk sekadar bersenang-senang, lalu memberikannya kepada orang lain yang lebih membutuhkan? Dan ingat, motivasinya untuk kemuliaan Tuhan. Bukan untuk kemuliaan diri sendiri dan memegahkan diri sebagaimana yang banyak dilakukan oleh orang-orang pada saat ini.

Minggu Judika yang dijadikan thema untuk kita semua adalah mengingatkan diri kita dengan bertanya pada diri sendiri, menyelidiki hati kita, tentang komitmen menggunakan hidup kita hanya untuk memuliakan nama-Nya semata.