Andaliman – 167 Khotbah 04 Maret 2012 Minggu Reminiscere

Pikullah Salib!

Nas Epistel:  Mazmur 22:23-31 (bahasa Batak: Psalmen)
22:23 (22-24) kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel!
22:24 (22-25) Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.
22:25 (22-26) Karena Engkau aku memuji-muji dalam jemaah yang besar; nazarku akan kubayar di depan mereka yang takut akan Dia.
22:26 (22-27) Orang yang rendah hati akan makan dan kenyang, orang yang mencari TUHAN akan memuji-muji Dia; biarlah hatimu hidup untuk selamanya!
22:27 (22-28) Segala ujung bumi akan mengingatnya dan berbalik kepada TUHAN; dan segala kaum dari bangsa-bangsa akan sujud menyembah di hadapan-Nya.
22:28 (22-29) Sebab Tuhanlah yang empunya kerajaan, Dialah yang memerintah atas bangsa-bangsa.
22:29 (22-30) Ya, kepada-Nya akan sujud menyembah semua orang sombong di bumi, di hadapan-Nya akan berlutut semua orang yang turun ke dalam debu, dan orang yang tidak dapat menyambung hidup.
22:30 (22-31) Anak-anak cucu akan beribadah kepada-Nya, dan akan menceritakan tentang TUHAN kepada angkatan yang akan datang.
22:31 (22-32) Mereka akan memberitakan keadilan-Nya kepada bangsa yang akan lahir nanti, sebab Ia telah melakukannya.

Nas Evangelium: Markus 8: 31-38
8:31 Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari.
8:32 Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia.
8:33 Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
8:34 Lalu Yesus memanggil orang banyak dan murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.
8:35 Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.
8:36 Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya.
8:37 Karena apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?
8:38 Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusiapun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”

Beberapa kali aku mendengar cerita anekdot tentang seseorang yang diminta untuk memikul salib. Salib yang memang berat terasa semakin berat seiring dengan perjalanan yang semakin jauh. Tenaga juga semakin berkurang karena sudah terkuras habis sejak awal perjalanan. Kenakalan timbul dari pemikul salib, “Ah, ‘ngapain repot-repot memikul salib yang sangat berat ini. Mendingan aku potong saja sebagian supaya lebih ringan …”. Lalu dia memotong salib sepanjang perkiraannya dapat meringankannya dan memampukannya untuk memikul dalam sisa perjalanan.

Mula-mula memang terasa ringan, namun tak lama kemudian dia mulai merasa berat. Lalu dia memotong lagi. Dan mengangkat lagi. Lalu merasa berat lagi. Begitu berlangsung berulang-ulang, hingga tidak berapa lama kemudian, panjang yang tadinya panjang sekarang hanya tinggal separuh dari ukurannya semula. Kelegaannya yang sejenak, tiba-tiba berubah menjadi penyesalan manakala diperhadapkan pada ujung perjalanan berubah jurang yang sangat dalam. Untuk melanjutkan perjalanan, diharuskan menyeberang ke daratan lainnya. Untuk itu dibutuhkan media yang bisa dijadikan sebagai jembatan penghubung antara dataran tempatnya berpijak dengan dataran di seberang. Hanya kayu salib itu yang ada dan yang bisa dipakai. Sayangnya, ukurannya sudah menjadi pendek karena sudah berulangkali dipotong, sehingga tidak cukup panjang untuk dipakai menyeberang ke seberang …

Ilustrasi tersebut sangat dekat dengan sikap Petrus yang dikecam keras oleh Yesus. Mungkin dia berniat yang bagus, yakni menunjukkan kasihnya kepada Yesus dan menunjukkan betapa dia sangat peduli dengan keadaan Yesus. Namun, dia tidak mengetahui bahwa rencana Tuhan adalah hal yang harus terjadi. Dan pikiran manusia sangat jauh dengan keinginan Tuhan!  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi
Sikap pemikul salib seperti ilustrasi di atas dan sikap Petrus mungkin sering menghinggapi kita. Cara berpikir kita – yang cenderung hanya untuk kepraktisan dan tujuan sesaat dan cenderung menunjukkan kehebatan – tentu saja tidak selalu efektif. Karena memang masih ada kekuatan lain yang lebih menentukan, yaitu kehendak Tuhan.

Perikop Minggu ini mengingatkan kita semua untuk:
(1)    Bersedia memikul salib, seberat apapun itu!
(2)    Mengalahkan diri sendiri, lalu mengutamakan Yesus dalam hidup
Janji Tuhan yang disampaikan Yesus yang sangat layak kita amini dan imani yang pasti sanggup menguatkan kita, yaitu upah yang dijanjikan-Nya bagi yang mengikut-Nya, yaitu keselamatan. Jika jatuh, pasti ada selalu suatu kekuatan yang mampu mengangkat kita sehingga mampu untuk bangkit kembali. Tidak menjadi terpuruk dan tidak mampu melakukan apa-apa layaknya orang yang tidak mengenal Tuhan …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s