Ma’af, Aku ‘Nggak Pernah Menolak Tugas Pelayanan …

Minggu lalu aku bertugas sebagai penyambut jemaat di ibadah pagi di Jakarta. Menurut jadual sebenarnya aku “bebas tugas”, namun saat sermon parhalado Selasa sore sebelumnya secara spontan ditunjuk oleh pendeta untuk menggantikan penatua yang berhalangan. Dan aku menerima saja (walau semula ‘nggak ada rencana datang ke Jakarta pada Minggu itu …), karena berprinsip, tokh ‘nggak ada sesuatu yang menjadi penghalang.
Saat bertugas – menyalam warga jemaat di depan pintu bangunan gereja sambil mengucapkan “selamat hari Minggu”, memberikan selebaran yang berisi warta jemaat dan acara ibadah, dan tambahan lain yang sesuai dengan situasi dan kondisi (misalnya mencari dan atau mengantarkan ke tempat duduk yang masih tersedia) – aku juga menyempatkan berbicara beberapa kalimat sesuai keperluannya. Sesuai keperluan, maksudnya jika yang datang adalah warga jemaat yang ingin menanyakan sesuatu atau perlu bertanya, maka aku akan manfa’atkan untuk mengobrol sejenak sambil tetap melanjutkan tugas sebagai penyambut jemaat.
Suatu kali datang seorang ibu aktivis pelayan jemaat. Tokoh di jemaat kami tersebut, yang juga aktif di aras lainnya. Oh ya, ketika di TVRI ada acara persiapan perayaan jubileum HKBP dengan menampilkan artis penyanyi dan orang-orang besar (yang menurut info harus “membeli” meja agar mendapat undangan …) aku melihat beliau yang duduk tidak jauh dari “ring satu”. Dan dalam beberapa hal – sekali lagi, ini menurut info yang pernah aku dengar … – beliau termasuk penentu di jemaat ini. Hal yang menjadi semakin biasa di jemaat HKBP, ‘kan? Hehehe …
“Amang, kenapa ‘nggak jadi Ketua Dewan Koinonia?”, katanya membuka percakapan
“Aku ‘nggak terpilih, Inang …”, jawabku sekenanya
“Harusnya Amang yang mau kami pilih. Tapi karena ‘nggak datang, akhirnya kami pilih yang lain. Itupun dengan catatan, bahwa itu adalah sementara karena akan ada rapat lagi untuk pemilihan pengurus yang definitif. Koq Amang ‘nggak datang, sih waktu rapat yang penting itu?”
“Aku jadualnya hari itu sedang tugas di luar kota. Lagian, aku ‘nggak menerima undangan untuk menghadiri rapat. Aku tahunya ada rapat karena ada penatua yang mengirim SMS yang memberi tahu ada rapat itu, padahal aku sudah di luar kota. Sebelumnya aku ‘nggak pernah mendengar tentang rencana tersebut karena di roster tertulis kebaktikan awal tahun untuk pelayan tahbisan”.
“Masak bisa begitu, sih … Aneh banget gereja kita ini”, kata beliau mulai penasaran.
“Yah, masih begitulah situasinya, Inang. Percaya saja bahwa yang terpilih sekarang ini adalah yang terbaik yang datang dari Tuhan”, kataku berusaha bijak.
“’Nggak bisa begitu, dong. Lagian, harus dilihat siapa yang lebih pantas, jangan sekadar asal ada yang dipilih. Apalagi yang tidak punya kemampuan. Bukan Amang memang yang ‘nggak bersedia dipilih karena ‘nggak mau? Itu yang saya dengar dari orang”.
“Wah, Inang. Yang namanya pelayanan di jemaat ‘nggak pernah aku menolak. Jadi apapun itu. Paling pantang bagiku, karena aku sudah berjanji untuk mengabdikan diriku sebagai hamba Tuhan. Karena sudah dilantik Minggu lalu, yah kita dukung sajalah Inang supaya pelayanan berjalan lebih baik”, kataku mencoba menjelaskan sikapku.
“Kita harus rapat dan membicarakan hal ini untuk kejelasannya. ‘Nggak boleh seperti ini dibiarkan di gereja. Rusak nanti jadinya …”
Sebenarnya aku sudah ‘nggak pingin membahas-ulang tentang hal ini. Buang-buang energi yang sia-sia, menurutku. Tapi karena ada pernyataan yang tidak terduga seperti itu, maka akupun perlu menjelaskan sikapku yang mudah-mudahan juga membawa kebaikan. Bukan malah menimbulkan kekeruhan …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s