Aku dan Nyonya Gubernur

Karena pekerjaan – persisnya jabatan sebagai Area Sales Manager – tanggal 23 Februari yang lalu aku diminta untuk membuka acara kelas kader posyandu se-Provinsi Jawa Barat. Seremonial adalah salah satu kegiatan yang tidak begitu aku sukai. Apalagi kalau melibatkan pejabat pemerintah (dan keluarganya …). Namun permintaan Kantor Pusat sebagai pihak yang mensponsori kegiatan ini agar aku berkenan hadir dan menyampaikan sambutan membuatku segan untuk menolaknya. Apalagi acaranya dilakukan di salah satu gedung pemerintahan yang memang sangat dekat dengan kantor kami – dan untuk pagi itu aku bisa meluangkan waktu – akupun menyampaikan kesediaanku untuk hadir.

Dijadualkan jam delapan pagi, aku pun hadir beberapa menit sebelum jam tersebut. Aku memarkirkan kendaraan di Bank Mandiri, lalu berjalan kaki ke gedung dimaksud. Di sana sudah banyak yang hadir, dan riuh rendah dengan suara kader kesehatan yang didominasi oleh kaum perempuan. Ternyata mereka lagi mempersiapkan penyambutan kedatangan Ibu Gubernur Provinsi Jawa Barat (maksudnya isteri dari Gubernur Provinsi Jawa Barat yang adalah bapak Ahmad Heryawan) dengan melatih dan memantapkan yel-yel dari kontingen masing-masing kabupaten yang ada di Jawa Barat.

Banyak sekali kesibukan yang aku lihat yang menurutku terasa “aneh”. Begitu tiba di depan ruangan di lantai dua, aku segera disongsong oleh Panitia yang adalah event organizer. Dipersilakan duduk di barisan paling depan (yang dipersiapkan untuk tamu VIP), aku pun menolak dengan mengatakan “nanti saja saat acara akan segera dimulai”. Aku pun duduk di luar ruangan mengamati orang-orang yang sibuk ke sana ke mari.

Tak lama kemudian, aku dengar rombongan PKK Pusat sudah datang. Lalu disambut, namun tidak segera duduk di barisan VIP. Ternyata masih menunggu kedatangan Nyonya Gubernur (mungkin ini bagian dari protokoler, entahlah …).

Hampir setengah jam kemudian, ada pemberitahuan bahwa Nyonya Gubernur sudah tiba di parkiran. Beberapa orang berhamburan menyambut ke lantai dasar. Aku masih menunggu dengan duduk di kursi di depan ruangan, yakni di bagian penerima tamu. Lalu rombongan Nyonya Gubernur naik ke lantai dua, namun tidak langsung masuk ke ruangan, melainkan masuk ke suatu ruangan. “Koq ‘nggak langsung masuk ke ruangan acara supaya segera dimulai, pak?”, tanyaku kepada salah seorang panitia yang kelihatannya ditunjuk sebagai penghubung untukku yang sedari dari berada di sampingku, yang dijawabnya, “Oh, ibu Gubernur harus ke ruangan tunggu dulu, pak. Barulah nanti memasuki ruangan”. Bagian protokoler juga, pikirku.

Lalu dia memberikan sebuah kertas yang ditempelkan di atas karton rapi dengan logo dan jadual acara. Ternyata pidato yang harus aku bacakan. Sudah dipersiapkan, ternyata, padahal sepanjang perjalanan tadi aku sudah merancang apa yang harus aku sampaikan. “Wah, panjang banget …”, kataku sambil melihat betapa banyaknya yang harus aku bacakan. “Itu dari Jakarta, pak …”.

Tak lama ada pemberitahuan bahwa acara akan dimulai. Rombongan Nyonya Gubernur dan PKK Pusat pun berjalan memasuki ruangan. Lalu aku menyalami satu per satu di depan pintu masuk ruangan, sambil diperkenalkan oleh Panitia. Lalu kami berbarengan duduk di kursi VIP di barisan paling depan. Kikuk juga aku karena ‘nggak biasa diperlakukan istimewa seperti itu. Dan juga tidak mau membiasakan diri untuk keistimewaan (bukankah di Injil diceritakan bahwa tamu yang baik duduknya di belakang sampai yang punya hajatan “memaksa” duduk di depan …?).

Duduk di sebelahku adalah Nyonya Gubernur. Beliau bertanya tentang perusahaan dan aku pun menjawab dengan sopan. Usai berpidato, giliran beliau kemudian yang menyampaikan sambutan. Tak lama, konsentrasi hadirin terpecah, sehingga beliau berulangkali harus menyampaikan, “Ibu-ibu masih bersama saya?” yang segera dijawab hadirin laksana koor di sekolah taman kanak-kanak, “Masiiihhh …”.

Aku tekun mendengar sambutan beliau. Bagus juga, karena kelihatannya beliau menguasai data dengan menyampaikan jumlah penduduk dengan detil. Berulangkali menyebutkan namaku – utamanya saat meminta dukungan untuk mensponsori kegiatan lainnya – meskipun beliau lebih banyak menyebutkan “Bapak Gubernur” yang adalah suami beliau sendiri, yakni saat menyampaikan bahwa pemerintah banyak melakukan kegiatan yang bertujuan untuk kesejahteraan rakyat. Hal ini segera mengingatkanku tentang sudah semakin dekatnya pemilihan gubernur di mana suaminya ikut kembali mencalonkan untuk periode kedua.

Ada lagi yang menurutku perlu dicatat: selama duduk di depan, ada saja orang-orang yang datang menjumpai Nyonya Gubernur sambil berbisik, “Bu, ada pesan dari bapak anu yang menjabat sebagai anu …”. Entah memang ingat, atau sekadar basa-basi, beliau selalu menjawab, “Oh ya, kirim salam kembali …”.

Antusiasme hadirin mendengarkan pidato beliau berbanding terbalik dengan semangat mereka ketika sesi foto bersama Nyonya Gubernur. Pembawa acara sampai kewalahan mengaturnya karena rombongan demi rombongan ‘nggak sabaran menunggu giliran untuk berfoto bersama.

Hanya beberapa jam, tak berapa lama disampaikan bahwa Nyonya Gubernur harus meninggalkan tempat acara. Karena apa? “Karena ada acara yang sangat penting”, demikian yang disampaikan oleh pembawa acara. Beliau pun berpamitan – dengan mendatangiku dengan salaman khas Sunda yang membuatku respek – dan orang-orang ramai mengerubungiku meminta bersalaman.

Nyonya Gubernur meninggalkan tempat acara, aku pun pamit kepada Panitia untuk melanjutkan kegiatanku satu hari itu dengan acara yang penting juga …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s