Nyepi di Bandung. Salamat Ulang Taon, da Inong …

Hari ini adalah hari libur nasional, karena perayaan Nyepi. Salah satu perayaan hari besar kaum Hindu Bali, salah satu agama yang diakui di negara Republik Indonesia ini. Jauh hari sebelumnya kami sudah merencanakan untuk berlibur di Garut. Waktu mencoba memesan hotel satu bulan yang lalu, aku terkejut: semua hotel yang aku hubungi mengatakan bahwa kamar mereka full booked. Ternyata Garut sudah menjadi salah satu kota tujuan wisata di Provinsi Jawa Barat, selain Bandung. Berkat bantuan seorang kawan seperusahaan yang ditempatkan di sana, akhirnya kami dipesankan dua kamar. Dua kamar? Ya, satu buat kami sekeluarga, satu lagi untuk pariban dan keluarganya yang tinggal di Bandung/Bekasi.

Beda dari yang biasanya, kali ini greget berlibur di Garut terkesan “dingin”. Bahkan sampai Minggu lalu tidak terdengar ada rencana persiapan keberangkatan. Ternyata cuma aku yang “heboh” dengan sampai mengambil cuti segala …

Nyepi tahun ini persis dengan hari ulang tahun mamakku. Salah seorang perempuan perkasa dalam hidupku. Aku sudah membiasakan diri untuk selalu bertelepon setiap Minggu sore. Interlokal dari Bandung ke Medan. Walau sekadar menanyakan apa kabarnya hari ini, apakah marminggu tadi, siapa yang berkhotbah di gereja dan apa pesan dari khotbah, dan tidak pernah selalu lupa menitipkan pesan untuk selalu mendoakan kami yang tinggal di perantauan, yang selalu dijawab dalam bahasa Batak oleh beliau: “Pastilah aku doakan kalian, Amang. Walaupun seringkali aku lupa mengucapkan ‘amen’ karena terlanjur tertidur …”. Dan jawabanku selalu adalah, “Nggak apa-apa itu, Mak. Pasti Yesus tersenyum melihat Mamak lupa mengatakan ‘amen’ itu. Perlu juga membuat Yesus tersenyum, jangan hanya membuat hati-Nya sedih dengan dosa-dosa kita…”. Kemudian terdengar tawa berderai-derai …

Ada kalanya juga pembicaraan telepon ditutup dengan nada sedih, “Kapannya aku ini dijemput Tuhan? Pintar kali bapakmu, meninggal dia duluan sehingga ditinggalkannya aku sendiri …“. Untuk kalimat ini, aku selalu punya jawaban, “Bukan suka-suka kita. ‘Nggak bisa keinginan kita saja, Mak. Tuhan masih menunggu kapan Mamak benar-benar siap untuk pergi. Jangan sia-siakan waktu yang masih ada …”. Beliau kemudian akan berkata, “Iya, ya … Banyak sekali dosa dan kesalahanku. Dulu aku juga sangat sombong pada orang-orang, apalagi kalau jorok dan bau …“. Lalu beliau akan bercerita tentang orang-orang yang jorok dan bau tersebut. Ternyata adalah kawan-kawan sapararikamisan yang biasanya langsung datang Kamis sore ke gereja setelah menutup jualan partiga-tigaan-nya di Pasar Simpang Limun. Zaman itu tentulah tidak semudah zaman sekarang yang mudah mendapatkan air bersih untuk selain sekadar membasuh wajah dan tangan. Juga minyak wangi untuk penghilang “bau pasar” …

Untuk menghibur hati beliau, selalu aku sampaikan, “Ah, yang belum perlunya saat ini pensiunan guru dan mantan ketua parari Kamis di surga. Sabarlah, Mak. Nanti kalau sudah tiba saatnya, dan diperlukan pasti Tuhan mengingat Mamak untuk dipanggil duluan …”. Lalu aku bisa merasakan ketenangan hatinya dengan membayangkan segurat wajah tua yang tersenyum sedikit dengan gurauanku itu. Begitulah yang sering terjadi. Berulang-ulang, karena beliau juga mungkin tidak selalu ingat karena daya ingat yang mulai menurun.

Kemarin dini hari Kamis, ada telepon dari Medan. Mengabarkan Mamak dibawa ke Rumah Sakit Santa Elizabeth karena serangan stroke. Beliau yang tinggal sendirian ditemani perawat jompo, dilarikan ke rumah sakit oleh ito yang tinggal tidak begitu jauh dari rumah orangtua kami itu. Sudah dalam keadaan tidak sadar. Sampai hari ini masih belum terlihat tanda-tanda kemajuan di ruang perawatan intensive care unit  (ICU). Semua yang aku telepon hari ini – ito-ku yang dokter spesialis, guru, dan guru yang semuanya tinggal di Medan – mengabarkan hal yang sama.

Pagi ini abangku dan ito-ku yang tinggal di Jakarta sudah terbang ke Medan. Aku masih terus berusaha mendapatkan tiket pesawat di sela kesibukan menerima tamu dari Kantor Pusat yang datang bertubi-tubi ke Bandung; dan juga persiapan mengurus perpindahan kantor karena kantor yang kami tempati saat ini kontraknya akan berakhir pada 31 Maret ini. Hanya penerbangan Air Asia yang ada dari Medan ke Bandung. Dan sejak kemarin sudah habis terjual karena long week-end.

Di Bandung, dalam kesunyian akan sepinya liburan Nyepi, aku hanya bisa berdoa pada Tuhan agar Mamak diberikan kekuatan menjalani dan melewati masa-masa yang harus dihadapinya saat ini. Sendirian bersama Tuhan …

Habang timbo si anduhur, songgop di ginjang ni punsu. 

Nunga ditambai Tuhan sada taon nai umur, anggiat ma manghorhon pasu-pasu …                                                 

Iklan

3 comments on “Nyepi di Bandung. Salamat Ulang Taon, da Inong …

  1. Sai tumibu lam tu hipas na halak nantulang…. jala dipargogoi Tuhanta ma hamu na sekeluarga laho mangadopi situasi na sisongon on.

    Tabe mardongan tangiang,

    St. HS Panggabean/E. br. Lumbantobing – Batam

  2. Terima kasih, Amang Pdt. RPP untuk doanya. Di mana bertugas sekarang?

    Mauliate, Amang St. Panggabean. Marpanangi ma Debata di tangiangta saluhutna.

    Salamat ari Miinggu.

    Horas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s