Andaliman – 174 Khotbah 22 April 2012 Minggu Miserikordias Domini

Tuhan, bukan Hantu! Anak Tuhan, bukan Anak Hantu!

Nas Epistel:  Lukas 24: 36-48  

24:36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!”

24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. 24:38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?

24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.”

24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.

24:41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?”

24:42 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.

24:43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.

24:44 Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”

24:45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. 24:46 Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,

24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.

24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Nas Evangelium: Roma 8: 14-18

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Coba katakan berulang-ulang: ‘Tuhan … Tuhan … Tuhan …’”, ajak seorang pendeta pada kami saat berkhotbah tentang keimanan dan ketakutan. Kalau diucapkan berulang-ulang dan dengan cepat, maka perkataan “Tuhan …” akan segera terdengar layaknya “Hantu …”. Kemudian, beliau menimpali, “Maka, oleh sebab itu, sangat mudah kita terkecoh. Begitulah kehidupan kita, yang semula memuji-muji Tuhan dengan iman, dengan cepat pula kita tergoda untuk beralih kepada hantu manakala ketakutan sangat menguasai kehidupan kita.”

Ilustrasi tersebut membawaku ketika mencoba memahami suasana emosional para murid pasca peristiwa penyaliban yang sangat dikuasai rasa takut dan kecemasan akan nasib mereka selanjutnya. Yang dibayangkan lebih banyak tentang hal-hal yang buruk. Ancaman permusuhan, tersisihkan, dan bahkan ancaman kematian pastilah menggelayuti pikiran mereka. Yesus yang sebelumnya sangat diandalkan – dengan berbagai motivasi dan pemahaman yang melatarbelakanginya – secara “mendadak” harus meninggalkan mereka karena wafat di kayu salib.

Rasa takut yang luar biasa itu berpotensi mampu membuat mereka lupa dengan ucapan yang disampaikan Yesus tentang peristiwa yang akan dialami-Nya, yaitu wafat di kayu salib, lalu bangkit pada hari yang ketiga. Menerima kenyataan bahwa Yesus sebagai manusia saja harus wafat (“dengan mudah” pada pikiran sebagian orang, mungkin …) sudah sangat sulit diterima pikiran, apalagi harus menerima kenyataan bahwa Yesus sebagai Tuhan juga mengalami kematian layaknya sebagai manusia pada umumnya. ‘Gimana pula harus menerima kenyataan bahwa ternyata Yesus hidup kembali! Menerima mati-Nya saja susah, bagaimana pula menerima kenyataan Dia hidup kembali? Alamakkk … susah kalilah menghadapi kenyataan ini. Hehehe …

Dan itulah yang terjadi … Datang dengan salam damai, menunjukkan fisiknya yang penuh bekas siksa penyaliban, bahkan dengan demo makan ikan goreng (layaknya manusia pada umumnya) tetap juga belum meyakinkan para murid. Akhirnya Yesus membuka pikiran mereka (ayat-45, dan ini sangat menarik bagiku sehingga menimbulkan pertanyaan: koq membuka pikiran yang dilakukan Yesus, bukan membuka mata rohani para murid?). Yesus yang beberapa hari sebelumnya disaksikan oleh murid-murid sudah wafat di kayu salib, hari itu menunjukkan bahwa Dia sudah mengalahkan maut (kematian). Kembali berada bersama mereka, tidak sebagai hantu (dalam bahasa aslinya, Lukas menggunakan pneuma yang berarti adalah roh, sebagaimana juga diterjemahkan dalam Bibel sebagai tondi bukan begu …). Setelah itu, Yesus mencoba menyegarkan ingatan mereka, menguatkan mereka, dan meminta murid-murid menjadi saksi …

Demikianlah yang disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini.   

Bertautan dengan Ep tersebut, Ev Minggu ini memberi penekanan bahwa orang-orang beriman (yang menjadi pengikut Kristus sebagai buah dari penyebaran Injil oleh para rasul yang menjadi saksi kebangkitan Kristus dahulu) adalah jadi anak-Nya karena sudah menerima kasih karunia keselamatan atas kebangkitan Kristus. Dipimpin oleh Roh Kristus dalam kehidupannya, tidak lagi dipimpin oleh roh perbudakan yang cenderung membuat takut. Lebih dikuasai ketakutan, daripada ketaatan.

Sebagai anak, maka berhak menjadi ahli waris. Anak Tuhan, bukan anak hantu. Menurut pemahamanku, perbedaan antara keduanya dapat dilihat dari motivasi kepatuhan. Anak Tuhan tunduk karena patuh dan pengharapan pada kehidupan kekal, sedangkan anak hantu tunduk karena takut pada kehidupan walaupun tidak punya pengharapan pada kehidupan kekal.

Sekarang tinggal pilih, mau jadi anak Tuhan atau malah jadi anak hantu? Jadi anak Tuhan salah, ya …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Peristiwa salib banyak mengandung misteri. Mengundang banyak pertanyaan. Apalagi kalau banyak bersandar pada pikiran. Banyak yang mengatakan” “jangan gunakan pikiranmu, tapi pakailah hatimu!”. Di konsistori, seorang pendeta berulangkali mengingatkan kepada penatua, “Yang lebih penting bukan intelektualitas dan penguasaan teologi, melainkan penyerahan diri pada pimpinan Tuhan”. Pernyataan yang, terus terang saja – karena kalimat berikutnya mengesankan bahwa pak pendeta yang masih muda yang idealnya masih punya banyak waktu untuk menambah pengetahuannya tersebut adalah “anti-intelektualitas” – membuatku malah menjadi bertanya-tanya. Karena aku selalu berprinsip untuk jangan pernah membenturkan antara intelektualitas dan iman. Mungkin maksudnya untuk memotivasi penatua yang “rendah diri” karena merasa tidak punya kemampuan pengetahuan yang memadai, tetapi berpotensi malah memadamkan semangat belajar …

Bagiku, intelektualitas adalah hal yang dibutuhkan. Bahkan dalam kehidupan iman. Mengetahui dibutuhkan untuk mengerti. Jika tidak tahu bagaimana pula bisa mengerti, ‘kan? Untuk apa pak pendeta belajar bertahun-tahun di sekolah tinggi teologi kalau bukan untuk membekali diri dalam pelayanan jemaat?

Menurut pemahamanku, pengetahuan tidaklah bertentangan dengan iman, melainkan iman mengatasi pengetahuan. Keduanya dibutuhkan untuk saling melengkapi. Tidak boleh saling meniadakan, malah seharusnya saling beriringan. Kapan dibutuhkan, kita tanyakanlah kepada Tuhan …

Kantor Lama dan Kantor Baru …

Akhir Maret lalu kami sudah menempati kantor baru. Kantor yang sebelumnya sudah semakin terasa kurang memenuhi kebutuhan kami. Tak terasa sudah dua tahun kami menempati kantor ini, dan selama itu pulalah aku sudah bertugas di Bandung, kota impian banyak orang (termasuk kawan-kawan seperusahaan yang sangat berkeinginan untuk ditempatkan di kota ini bertugas …).

Kantor Lama: Penuh Perjuangan …

Pertama kali sampai di Bandung – 05 Maret 2010 – dan menginjakkan kaki di kantor ketika serah-terima jabatan dengan orang yang aku gantikan, aku menghadapi kenyataan bahwa kantor disegel oleh warga. Aku melihat selembar kertas bersegel di tempel di pintu depan kantor yang berisi bahwa kami harus pindah sebelum 30 Maret 2010 karena warga (katanya …) keberatan dengan keberadaan kantor kami di lingkungan tersebut. Berbagai hal dijadikan alasan, misalnya parkir yang mengganggu, berisik karena banyak orang yang lelu-lalang, dan lain sebagainya. Itu yang aku dengar dari pihak yang tidak setuju kami berkantor di lingkungan yang memang adalah komplek permukiman.

Dari pihak lain, ada “pembelaan” bahwa yang memicu bukanlah itu semua. Tapi, bagiku itu semua sudah tidak ada gunanya lagi karena faktanya kami harus mencari kantor yang baru. Benar-benar sangat menantang bagiku yang sudah hampir lima tahun bertugas di Kantor Pusat yang tentu saja tidak lagi menghadapi hal-hal seperti ini karena sudah diurus oleh orang lain semuanya. Tinggal terima beres, hehehe …

Karyawan senior yang aku gantikan mengatakan memang ada salah satu calon kantor yang sudah dilihatnya dan menurutnya layak untuk dijadikan kantor. Sayangnya, ketika aku tinjau, sangat jauh dari kelayakan (ini membuktikan bahwa penilaian adalah obyek yang relatif dan subyektif …). Lokasinya ‘nggak jauh dari kantor sebelumnya (tentu saja masih beresiko tinggi terhadap penolakan warga), kondisi bangunannya sudah sangat tua dan tidak terawat (jangan lupa, ada juga yang tua namun tetap menarik karena dirawat dengan baik …), dan parkir kendaraan kantor akan menjadi masalah serius karena akan mengganggu tetangga.

“Pak, kalau boleh, nanti kantor kita yang berlokasi di tempat yang pantas. Masa’ perusahaan prinsipal sebesar kita ini kantornya ‘nggak representatif, masih lebih baik kantor Distributor yang notabene adalah tergantung pada kita juga”, kata salah seorang anggota tim yang aku pimpin dengan penuh harap. Jujur saja, begitu melihat kantor dengan kondisi yang “apa adanya” itu aku pun “miris” melihatnya. Ruang kerjanya ‘nggak nyaman. Bahkan ruang sholat pun sekadar memanfa’atkan spasi ruangan yang masih tersedia. “‘Gimana kalian mau sholat di tempat yang begini? Untuk menghadap Tuhan seharusnya disediakan tempat yang istimewa. Bukan mewah, tapi benar-benar yang disediakan untuk-Nya …”, kataku pada beberapa karyawan yang aku lihat baru saja selesai sholat setelah antri lumayan panjang karena sempitnya ruangan sholat yang terjepit di sudut ruangan. Pernyataanku yang membuat mereka aku lihat sekilas terhenyak, mungkin ‘nggak menyangka bakal muncul dari mulut seorang Kristen (Batak pula …).

Lalu aku tanyakan, di mana komplek perumahan yang menurutnya paling pantas dan berkelas. Aku pun melacak keberadaan komplek perumahan tersebut. Berhari-hari – bahkan dengan memanfa’atkan hari libur – aku mencari calon kantor. Yang semula masih mau menemani, akhirnya mundur dengan alasan punya kerjaan yang lebih penting. Padahal dia juga yang akan menempati kantor tersebut. Tapi, ya sudahlah … ‘nggak enak juga ditemani orang yang sebenarnya terpaksa menemani.

Di sela-sela ketegangan memikirkan tenggat waktu harus pindah, aku dituntun ke komplek perumahan (entah yang sudah ke berapa kali aku melacaknya …) yang sekarang menjadi lokasi kantor kami. Aku melihat rumah yang terkesan baru ditinggalkan oleh penghuninya. Tertarik, aku segera mencari tahu. Ke mana lagi kalau bukan ke satpam, lalu ke pak RT. “Saya memang dititipi kunci oleh pemiliknya yang tinggal di Surabaya, pak. Tapi saya ‘nggak dapat amanah untuk menyewakan karena pemilik sudah ‘nggak mau menyewakan rumah ini lagi karena kapok dengan penyewa sebelumnya”, kata pak RT padaku. Untungnya, masih mau memberi tahun nomor ponsel pemilik rumah karena aku “mendesak”.

“Benar, pak saya sudah ‘nggak mau mengontrakkan rumah itu lagi karena kapok dengan pengontrak sebelumnya. Saya keluar banyak uang untuk memperbaiki karena kondisi rumah yang rusak saat mereka tinggal pergi”, kata si ibu sang pemilik ketika pertama kali aku telepon untuk memperkenalkan diri. “Tapi karena bapak memaksa dan saya tahu perusahaan bapak, mungkin saya bisa percaya dengan apa yang Bapak ucapkan dan janjikan, bolehlah kita bicarakan lebih lanjut …”. Selanjutnya? Kami bisa menempati kantor tersebut satu hari sebelum batas waktu ultimatum yang kami terima pada kantor sebelumnya. Tidak mulus, memang karena masih ada masalah pembayaran yang hampir tiga bulan baru diterima oleh pemilik rumah karena hal administratif yang harus dipenuhi. Puji Tuhan, pemilk rumah adalah orang yang sabar dan penuh pengertian.

Eh … Ada Rumah Kontrakan!

Tiga bulan pertama aku masih kos (karena Auli juga masih harus menyelesaikan masa belajarnya sebelum pindah sekolah di tahun ajaran baru). Lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor (buktinya aku masih bisa berjalan kaki setiap pagi ke kantor, meskipun rada keringatan dikit …). Suatu kali pada waktu senggang, pada blok yang tidak terlalu jauh dari kantor aku melihat ada orang yang memindahkan barang-barangnya. Walau ‘nggak ada terlihat pengumuman tentang rumah yang dikontrakkan, namun aku tetap berani menanyakan dan mendapat tanggapan positif.

Berkat bantuan satpam, akhirnya aku bisa bertemu dengan pemilik rumah (persisnya: anak laki-lakinya yang masih sangat muda dan lajang …). Tidak tinggal di Bandung, jadi membutuhkan “perjuangan” lagi. Singkat cerita, kami bisa mengontrak rumah tersebut sampai sekarang. Satu bulan menempati, kami pun mengundang kawan-kawan dari Jakarta untuk mengadakan partangiangan keluarga punguan koor ama di rumah yang kami kontrak tersebut. Di suatu hari Sabtu yang bertepatan dengan hari ulang tahunku. Itulah pertama kali dilakukan partangiangan menginap seperti ini yang dilaksanakan di luar kota Jakarta. Mungkin yang terjauh dari yang selama ini pernah terjadi.

Selanjutnya, wejk kami yang disebut wejk parserahan benar-benar terwujud dengan melakukan partangiangan antar provinsi di mana ketika giliran kami manjabui, kawan-kawan satu wejk pun datang dan menginap di rumah kontrakan kami ini. Luar biasa! Luar biasa indahnya persekutuan yang kami nikmati selama ini …

Kantor Baru: Sudah Saatnya …

Dengan berbagai pertimbangan akan kondisi kantor lama yang sudah kurang layak dan kebutuhan akan space yang lebih memadai, aku pun memutuskan untuk mencari kantor baru. Tidak jauh-jauh, dalam komplek yang sama (bahkan cluster yang sama dan jalan yang sama …), aku menemukan kantor yang layak.

“Saya mau mengontrakkan rumah saya itu, tapi bapak harus mendapat persetujuan dulu dari ketua RT“, kata pemilik rumah pertama kali aku menelepon, yang segera saja aku sanggupi karena memang punya hubungan baik dengan ketua RT. “Izin dari tetangga bapak yang mengurus, saya ‘nggak sanggup”, kata pemilik ketika aku menelepon lagi untuk mengabari bahwa pak RT ‘nggak keberatan untuk menjadikan rumah tinggal tersebut sebagai kantor dan proses administratif sudah berjalan dengan Kantor Pusat. Kunci akan segera diserahkan oleh pemilik rumah kalau aku menyanggupi mengurus izin pada tetangga. Tentu saja segera aku sanggupi, karena pekerjaan ini sudah aku lakukan dua tahun yang lalu ketika baru memasuki kantor lama yang juga adalah rumah tinggal.

Dua tahun yang lalu, aku mengundang tetangga melalui ibu-ibu pengajian majelis ta’lim untuk melakukan selamatan di kantor sekaligus memperkenalkan diri. Saat itu, beberapa ibu curhat karena pengontrak sebelumnya sangat tidak menyenangkan. Saat itu aku jawab, bahwa hal-hal yang buruk tidak akan kami lakukan. Sambil meminta mereka selalu “menjagai” kami, aku juga mempersilakan mereka untuk datang kapan saja melihat dan melaporkan, “Kalau ada orang-orang di kantor ini yang mengganggu, silakan beritahu aku ya, ibu-ibu. Aku orang Batak, jadi ‘nggak perlu segan-segan untuk menyampaikan keluhan padaku …”, kataku ketika diminta menyampaikan kata sambutan usai pengajian saat itu.

Pengajian? Iya, memang. Kenapa bukan kebaktian? Sempat berkecamuk “peperangan” dalam pikiranku saat itu. Aku yang seorang sintua dan dipercaya sebagai pemimpin perusahaan untuk wilayah kerja Bandung, koq malah melakukan pengajian ketika memasuki kantor baru. Aku punya alasan. Pertama, hanya aku yang Kristen yang berkantor di sini. Waktu aku ajak segelintir kawan yang masih punya hubungan bisnis untuk melakukan kebaktian di kantor tersebut, malah menyerahkannya kembali kepadaku. “Dari antara kita semua di sini, bapaklah yang paling tahu dan paling pantas yang memimpin ibadah …”. Tentu saja itu tidak sesuai dengan pemikiranku yang lebih cenderung meminta mereka untuk menyediakan pengerja yang akan melayankan ibadah karena mereka berjemaat di Bandung. Karena tidak ada tindak lanjutnya, sementara memasuki kantor ‘nggak bisa menunggu lebih lama lagi, maka ibadah memasuki kantor pun ditunda.

Itu yang terjadi dua tahun yang lalu. Tahun ini aku meminta salah seorang untuk meminta kesediaan pastor paroki mereka untuk memberkati kantor baru ini. Hasilnya, sama juga. Dengan alasan bahwa wilayah kami masuk wilayah pelayanan orang lain, maka aku harus melapor ke pengurus wilayah setempat. Karena sikapnya begitu, maka itupun ditunda. Saat itu aku sempat berpikir, bahwa Katolik juga bisa serumit HKBP dalam melayani umat, tidak seperti yang aku duga selama ini …

Alasan lainnya adalah, tetangga kami mayoritas beragama Islam. Kita perlu menyesuaikan dengan lingkungan juga, kan? Ingat: menyesuaikan, bukan malah menghilangkan identitas! Jangan lupa juga bahwa pengajian bisa juga menjadi sarana kesaksian iman kristiani kita. Aku mengalaminya dan tetap rindu untuk melakukannya kembali. Koq bisa?

Kawan-kawan sekantor heran ketika inisiatif melakukan pengajian aku sampaikan pertama kali. Dalam hatinya, “Lho, bapak ‘kan bukan muslim, koq mau-maunya melakukan syiar agama Islam …”, mungkin demikianlah yang ada di benak mereka. “Aku memang Kristen seperti yang kalian tahu dan lihat sehari-hari. Sebagai orang Kristen, aku harus menghormati sesama manusia yang beriman. Dan aku percaya, orang yang masih menyempatkan dirinya untuk kehidupan keimanan, tetap lebih baik daripada orang yang tidak melakukan kewajibannya. Jangan lupa, hal-hal yang baik biasanya mendatang kebaikan juga …”. Suatu kesaksian, bukan? Apalagi ketika mereka tahu, bahwa akulah yang repot menghubungi pihak-pihak pengajian, karena mereka sendiri mengatakan tidak sanggup melakukannya … Boss-ku yang muslim yang saat itu sedang berkunjung ke Bandung pun secara spontan geleng-geleng kepala manakala mengetahui bahwa di kantor yang dipimpin orang Kristen ternyata ada pengajian. Apalagi manakala mengetahui bahwa aku yang mengurus segala sesuatunya, “Kalian ini ‘gimana yang muslim dan asli orang Bandung ‘nggak bisa membantu. Lha, malah bang Tobing bisa melakukannya sendirian …”

Ketika hari pengajian, biasanya dilanjutkan dengan sholat maghrib berjemaah. Usai sholat, biasanya pak ustadz (dan sebagian tetangga yang hadir …) bertanya, koq malah tuan rumah (sahibul hajat, istilahnya …) ‘nggak ikut sholat? Sedang “halangan”? Yang ini biasanya segera dijawab oleh orang yang berada di sebelah pak ustadz, “Oh, ma’af pak … boss kami itu Kristen, jadi memang ‘nggak bakalan ikut sholat”. Biasanya jawaban seperti ini membuat pendengarnya terkesima karena ‘nggak menyangka sedang berurusan dengan orang Kristen, sesuatu yang (mungkin) tidak biasa … Luar biasa! Karena Tuhan kita memang luar biasa, ‘kan?

Nah, setelah pengajian tersebutlah kami kemudian meminta izin tetangga. Karena harus secara tertulis (dan dilampiri fotocopy KTP tetangga), pekerjaan ini memakan waktu berhari-hari. Dua tahun lalu aku dibantu oleh satpam dan berhasil mendapatkan izin tertulis tersebut. Satpam yang baik tersebut sudah pindah ke tempat lain, sehingga peran tersebut diambil alih oleh seorang satpam yang lain. Ternyata kualitasnya jauh berbeda. Pak satpam kali ini (mungkin lebih didorong oleh keinginan untuk mendapatkan uang tip …) segera mendatangi tetangga dan meminta tanda tangan dan fotocopy KTP mereka. Bahkan pada formulir yang belum terisi sama sekali dengan identitas kami.

Aku sudah sampaikan ke pak satpam bahwa sama seperti dua tahun lalu, kami akan mengadakan pengajian sekaligus perkenalan dengan mengundang tetangga hadir pada acara selamatan. Namun, begitulah … inisiatif pak satpam ternyata malah mengakibatkan penolakan tetangga. Bahkan ada yang menolak mentah-mentah karena tersinggung dengan cara pak satpam seperti itu. Ketika melapor tentang hambatan yang dihadapinya, akupun mencoba membuatnya mengerti. Lalu kami bareng ke tetangga. Cuma sehari, karena aku melihat caranya memang ‘nggak simpatik. “Selanjutnya, biar aku ajalah yang mengurus, pak. Lagian, surat tersebut tidak terlalu penting untuk kami punya, asalkan tetangga sudah tidak keberatan. Aku akan datangi mereka satu per satu dengan cara bertamu”.

Ketika ada libur Nyepi, itulah aku sempatkan mendatangi tetangga. Bersama mak Auli, tentu saja. Puji Tuhan, sampai hari hasilnya menunjukkan hal positif. Sudah hampir satu bulan berkantor di tempat yang kondisinya jauh lebih baik sekarang ini, tidak ada hambatan sama sekali yang kami hadapi. Dengan harga kontrak yang lebih murah, kami mendapatkan yang lebih baik: rumah yang lebih luas, kamar yang lebih banyak, kondisi bangunan yang lebih baik, dan juga hal-hal baik lainnya. Aku pun semakin bersyukur kepada Tuhan untuk semuanya.

Bulan Maret lalu aku sudah diberitahu boss-ku untuk bersiap pindah. Dan April ditetapkan sebagai masa serah-terima kepada penggantiku yang datang dari Makassar. Itulah salah satu yang mendorongku untuk segera menyelesaikan perpindahan kantor karena aku ‘nggak mau penggantiku nanti mengalami hal yang sulit seperti yang dulu aku hadapi ketika menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk memastikan kami mendapat kantor yang layak …

Andaliman – 173 Khotbah 15 April 2012 Minggu Quasimodogeniti

Penuh Sukacita Orang yang Hidup dalam Terang dan Beroleh Kasih Karunia

Nas Epistel: Mazmur 89: 20-28 (bahasa Batak Psalmen)

89:20 (89-21) Aku telah mendapat Daud, hamba-Ku; Aku telah mengurapinya dengan minyak-Ku yang kudus,

89:21 (89-22) maka tangan-Ku tetap dengan dia, bahkan lengan-Ku meneguhkan dia.

89:22 (89-23) Musuh tidak akan menyergapnya, dan orang curang tidak akan menindasnya.

89:23 (89-24) Aku akan menghancurkan lawannya dari hadapannya, dan orang-orang yang membencinya akan Kubunuh.

89:24 (89-25) Kesetiaan-Ku dan kasih-Ku menyertai dia, dan oleh karena nama-Ku tanduknya akan meninggi.

89:25 (89-26) Aku akan membuat tangannya menguasai laut, dan tangan kanannya menguasai sungai-sungai.

89:26 (89-27) Diapun akan berseru kepada-Ku: ‘Bapaku Engkau, Allahku dan gunung batu keselamatanku.’

89:27 (89-28) Akupun juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung, menjadi yang mahatinggi di antara raja-raja bumi.

89:28 (89-29) Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia untuk selama-lamanya, dan perjanjian-Ku teguh bagi dia.

Nas Evangelium: 1 Yohanes 1:1-7

1:1 Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu.

1:2 Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami.

1:3 Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.

1:4 Dan semuanya ini kami tuliskan kepada kamu, supaya sukacita kami menjadi sempurna.

1:5 Dan inilah berita, yang telah kami dengar dari Dia, dan yang kami sampaikan kepada kamu: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan.

1:6 Jika kita katakan, bahwa kita beroleh persekutuan dengan Dia, namun kita hidup di dalam kegelapan, kita berdusta dan kita tidak melakukan kebenaran.

1:7 Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa

Berapa banyak tokoh besar dalam Alkitab? Salah satunya adalah Daud, orang yang diperkenan oleh Allah. Sepak-terjangnya dan jatuh-bangun kehidupan imannya tidak jauh berbeda denganku, dan kebanyakan orang lain, tentunya. Banyak melakukan kesalahan (aku juga demikian), mudah menyesali dosa (aku juga …) mudah pula kemudian melakukannya kembali (apalagi aku …). Kenapa Daud istimewa, karena Daud langsung memohon pengampunan kepada Tuhan sebagaimana menyadari kesalahannya.

Mazmur yang menjadi nas perikop Ep Minggu ini adalah doa yang berkenaan dengan kebinasaan Yerusalem dan jatuhnya keturunan Daud, dan dengan janji Allah bahwa anak cucu Daud tetap ada untuk selama-lamanya Penggubah (yang diyakini adalah Daud) bertanya apakah Allah telah gagal untuk menepati janji-Nya. Sekalipun Allah telah menghukum Israel karena dosa-dosa mereka, Ia akan menggenapi janji-Nya melalui Yesus Kristus, yang berasal dari keturunan Daud, dan kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Alangkah indahnya janji Tuhan pada perikop tersebut (mendengarnya saja sudah sangat menyukacitakan, apalagi bila mampu benar-benar menikmatinya dalam kehidupan …). Tuhan menjanjikan untuk memberikan berkat yang berkelimpahan kepada Daud dan keturunannya. Sukacita yang sama yang akan didapatkan bilamana selalu hidup dalam terang. Bukan gelap, ataupun “sekadar” remang-remang. Tidak! Harus dalam hidup yang benar-benar terang.

Ke-terang-an dalam hidup (yang menjadi pengalaman pribadi) harus dipersaksikan dalam hidup dengan cara hidup dalam kebenaran di dalam persekutuan. Mengaku sebagai anak Allah? Jadilah terang, hiduplah dalam terang, dan selalu berjalan dalam kebenaran.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Tidak mudah untuk hidup dalam terang. Sebentar saja pun susah, apalagi terus menerus. Itulah ungkapan yang sering kita dengar. Kebenaran sekarang cenderung menjadi semakin relatif, artinya kebenaran yang dianut oleh seseorang akan berbeda dengan kebenaran yang dianut oleh orang lain. Lebih repotnya lagi, bilamana semuanya mengklaim bahwa kebenaran yang diakuinya itulah kebenaran yang paling benar. Pemandangan seperti ini yang semakin sering dipertontonkan dalam kehidupan keseharian kita saat ini.

Lihatlah orang yang sedang berperkara. Lihatlah orang yang sedang bertengkar. Bahkan di pengadilan – yang notabene semua yang terlibat di dalamnya sudah diambil sumpah/janjinya – tetap saja bersikeras bahwa dialah yang benar. Padahal kebenaran antara orang yang satu berbeda dengan kebenaran yang dipersaksikan oleh lawan perkaranya. Tinggallah orang-orang di luar keduanya yang bingung karena menjadi semakin ‘nggak tahu lagi mana yang benar-benar kebenaran …

Lantas, bagaimana kita?

Tidak ada yang lain, selain mengacu kepada kebenaran yang hakiki yang datangnya dari Tuhan semata. Segala perkara dalam kehidupan ini dapat dicarikan solusinya pada firman Tuhan yang memang sudah seharusnya menjadi panutan dalam kehidupan kita. Ketahuilah tentang firman, ikuti, lakukan dalam hidup secara sungguh-sungguh, itulah yang paling patut kita lakukan. Layaknya seorang bayi yang sangat merindukan air susu yang murni – itulah arti dari Quasimodogeniti, nama Minggu kita kali ini – demikianlah kita seharusnya dalam hidup ini.

Jadilah orang yang selalu rindu akan persekutuan dengan Tuhan dan meyaniki bahwa hanya dengan firman Tuhan-lah kehidupan kita akan tumbuh dan berkembang. Kehidupan jasmani, apalagi kehidupan rohani!

Pak Pendeta, Ma’afkanlah Aku …

Tidak mudah ternyata menyampaikan sesuatu dengan benar, dan dipahami dengan benar pula. Selalu ada kemungkinan terjadi bias yang disebabkan berbagai faktor, antara lain persepsi yang berbeda. Dan terbuktilah, bahwa kita hanya lebih mengingat apa yang sangat menarik bagi kita. Sayangnya, jika sudah mendapatkan “hal yang menarik” tersebut, kita cenderung lupa tentang hal-hal lainnya sehingga gagal mendapatkan pemahaman yang utuh.

Hal ini aku sadari dengan pengalamanku dengan dua orang pendeta resort. Yang satu sudah mengenal hampir lima tahun. Satunya lagi belum mengenal sama sekali, dan baru satu kali jumpa. Yang baru pertama kali jumpa adalah pendeta resort yang sudah menerima surat keputusan perpindahan ke jemaat kami. Yang sudah lima tahun? Coba tebak. Ya, tepat … beliau adalah pendeta di jemaat kami saat ini yang juga sudah menerima surat keputusan untuk pindah ke jemaat lain. Percakapan yang akan aku sampaikan ini terjadi pada rentang waktu kurang dari seminggu. Dan baru terjadi beberapa hari yang lalu.

Pendeta Resort Satu Hari

Pertama kali mendengar namanya manakala mengetahui bahwa akan terjadi perpindahan pendeta resort, dan beliau adalah yang akan masuk ke jemaat kami sebagaimana tertera pada surat keputusan yang dibacakan dalam salah satu sermon majelis tahbisan. Dan segera saja beredar info yang kurang sedap tentang pelayanan beliau. Di kalangan parhalado, pun dari warga jemaat biasa. Beberapa sintua mendengar info tersebut dari kalangan pelayan jemaat, baik sintua maupun pendeta yang mengenal beliau. Warga jemaat biasa? Ternyata beberapa warga jemaat senior masih mengingat ketika beliau berkhotbah di jemaat kami, baik di mimbar saat Ibadah Minggu, maupun saat partangiangan wejk. Tentu saja sebagai “pendeta tamu”, sesuai yang biasa berlangsung di banyak gereja. “Pergantian mimbar”, istilahnya.

Berita minor tersebut tentu saja mengganggu beberapa kawan penatua, sehingga melakukan beberapa pertemuan dengan nara sumber (yang layak dipercaya …) untuk mendapatkan rujukan yang lebih banyak. Dari sekadar ingin mengenal pendeta yang mau masuk tersebut, ternyata kemudian bergeser menjadi “penentuan sikap” sebagai reaksi atas informasi yang diterima. Selama ini aku ‘nggak pernah peduli dengan pendeta-pendeta yang mau bertugas di jemaat di mana pun aku berjemaat. Dalam artian, tidak terlibat kasak-kusuk. Namun, kali ini lain …

Dalam berbagai pertemuan dengan narasumber, aku seringkali diikutkan. Karena punya sedikit bakat menulis – dan sudah mengawal blog sederhana ini bertahun-tahun – dan sebagai dokumentasi (paling tidak, untuk pribadiku) akupun menuliskannya dalam blog ini. Dan tidak mencantumkan nama orang-orang sebagaimana sudah menjadi kebiasaanku. Oh ya, sekadar info, aku pun baru sejak beberapa bulan yang lalu mencantumkan namaku dalam blog ini setelah anonim bertahun-tahun. Itupun karena “dipaksa” oleh beberapa orang yang sekaligus memintaku untuk mencantumkan gelar secara lengkap. Sesuatu yang tidak biasa, karena di tempatku bekerja juga tidak mengenal penulisan gelar pada nama setiap orang karena lebih mengapresiasi hasil karya daripada gelar yang disandang oleh seseorang.

Maka jadilah tulisan berseri sebagaimana yang sempat terbit pada blog sederhana ini. Berseri, untuk memudahkan pembaca memahami proses yang terjadi. Oleh sebab itu, sifatnya adalah reportase, bukan investigasi. Jadi, apa yang aku lihat dan aku dengar dalam berbagai pertemuan, itulah yang aku tuliskan. Dan aku pastikan sangat sedikit mencantumkan opini pribadiku.

Dalam perkembangan selanjutnya ada tanggapan yang berbeda-beda. Ada yang gerah dan terganggu. Sebagai orang yang pernah mendapat pengetahuan jurnalistik, prinsip cover both side tentu saja aku junjung tinggi. Berharap mendapatkan informasi yang berbeda – tidak yang negatif melulu, maksudnya – ternyata ‘nggak kesampaian. Semakin banyak informan, semakin banyak pula yang mengonfirmasi kabar bernada minor tentang pendeta dimaksud. Dan secara institusi HKBP, keinginan untuk mendapatkan klarifikasi dari sumber utama, ternyata tidak terakomodasi. Sampailah suatu hari aku bertemu dengan orang yang prihatin dengan keadaan tersebut, lalu bertemu pula dengan seorang lainnya yang sekaligus mengajakku untuk bertemu dengan sang pendeta.

Puji Tuhan! Pada Jum’at Agung pertemuan itu terjadi. Tidak tanggung-tanggung, di rumah sang pendeta pertemuan itu berlangsung. Aku mendengarkan semua uneg-uneg yang disampaikan. Sangat panjang, dan sangat memakan waktu (aku jadi teringat pembacaan pledoi yang halamannya beratus-ratus …). Aku lebih banyak diam, hanya sesekali menyela untuk mendapatkan penjelasan bilamana aku perlukan. Nah, informasi yang aku terima ternyata sangat jauh berbeda. Aku teguk kopi yang dihidangkan inang pandita yang sudah berkurang hangatnya, dan mulai bicara serius:

“Sudah semuanya Amang sampaikan? Sebelum menjelaskan tentang tulisanku di blog itu, ada yang mau aku tanyakan: apakah Amang sudah membaca semuanya? Karena membaca semua tulisan itu akan mendapatkan pemahaman yang utuh.”

“Sudah, sintuanami, tapi tidak semuanya …

Jawaban yang membuatku mengernyitkan kening sedikit walau tetap berusaha memahami maksud dari jawaban tersebut.

“Begini, Amang. Tulisan itu lebih cenderung kepada penyampaian apa yang aku dengar dari berbagai pertemuan yang sempat aku ikuti. Jadi, bukan informasi yang datang dari aku, karena memang aku ‘nggak punya pengetahuan tentang hal ini. Ketemu sama Amang saja baru hari ini dan belum pernah pula menjadi jemaat di tempat Amang pernah melayani. Hampir ‘nggak ada pendapatku yang aku cantumkan di situ. Dan tidak ada pula nama-nama yang aku sebutkan. Selain praeses, bahkan tempat pertemuan juga ‘nggak pernah aku sebutkan. Tujuannya satu: untuk melindungi orang-orang yang terlibat dalam hal yang sedang kita bicarakan ini. Dan juga akurasi informasi yang tentunya masih perlu mendapatkan pembanding …” 

Kemudian pak pendeta menanggapi. Dengan argumentasi yang lebih panjang. Dan tantangan yang ditujukan kepada orang-orang yang meragukan beliau (yang menurutku kurang pantaslah dicantumkan di sini …). Dengan berbagai ekspresi tentu saja, hingga suatu kali beliau menyampaikan kalimat-kalimat dengan tercekat. Yang ini segera saja membuatku cepat tanggap, dan berkata:

“Walau tadi sudah aku sampaikan penjelasan yang bisa aku sampaikan tentang hal ini, namun demikian aku tetap harus meminta ma’af kepada Amang yang sudah merasa terganggu dengan tulisan pada blog itu. Apa yang Amang harapkan untuk aku lakukan supaya keadaannya menjadi baik?”

“Ada dua. Pertama, hapus semua tulisan yang menghujat pada blog itu. Yang kedua, adakan pertemuan antara parhalado di sana dengan saya. Saya siap datang kapan saja untuk menjelaskan hal yang sebenarnya. Jika masih kurang puas, boleh tanyakan langsung kepada orang-orang yang menjadi saksi pelaku yang saya siap untuk dikonfrontir. Bila perlu, kirim beberapa orang ke jemaat kami di sini untuk mendapatkan fakta”.

“Baiklah, Amang. Akan aku penuhi. Tapi sebelum menghapus tulisan pada blog itu, aku akan tuliskan terlebih dahulu tentang pertemuan kita ini supaya berimbang. Lalu, tentang pertemuan klarifikasi dengan parhalado, aku akan mintakan pada sermon parhalado hari Selasa yang akan datang dengan meminta kesediaan pendeta resort untuk memfasilitasi …”.

Pertemuan tersebut kemudian berlangsung dalam suasana yang mencair. Diselingi dengan canda sambil menikmati kue hasil masakan inang pandita yang masih hangat, obrolan ringan selanjutnya harus terhenti karena kami harus kembali ke gereja untuk latihan koor dan bersiap-siap ke rumah duka.

Pendeta Resort Lima Tahun
Janjiku kepada pendeta resort yang baru satu hari ketemu tersebut segera aku penuhi. Malam setelah “pertemuan bersejarah” tersebut aku segera terbitkan tulisan baru yang memutakhirkan info yang aku dapat sebelumnya. Beberapa hari kemudian, aku hapus tulisan-tulisan yang mengganggu kenyamanan sebagaimana dimaksudkan oleh beliau. Satu lagi: menyampaikan kerinduan beliau untuk bertemu dan memberikan penjelasan kepada kawan-kawan parhalado yang selama ini lebih banyak dicekoki dengan informasi minor tentang beliau.

Tentang yang terakhir ini boleh dikatakan aku gagal. Sudah aku sampaikan di sermon parhalado: “Susah pikiranku beberapa hari inikarena mendengar info yang tidak baik tentang pendeta resort yang mau bertugas di jemaat kita ini. Dan beberapa hari yang lalu aku mendapat informasi yang sangat jauh berbeda dibandingkan yang kita sudah dengar selama ini. Jadi, supaya kita jangan salah, malah menghakimi, aku sarankan untuk mengundang beliau bertemu dengan kita semua. Kalau kita masih menghargai kewibawaan konsistori ini, di sinilah kita adakan pertemuan itu. Berdasarkan itulah kita pertimbangkan langkah selanjutnya …”.  Ternyata pak pendeta resort tidak setuju mengundang beliau pada sermon parhalado kami, dengan alasan, “Jangan menjadi preseden di jemaat ini ke depannya. Jangan sampai menjadi kebiasaan setiap ada pendeta yang mau pindah ke mari harus dipertimbangkan terlebih dahulu oleh penatua di sini. Tidak ada ketentuannya penatua mempertimbangkan pendeta. Pendeta hanya bisa dipertimbangkan oleh sesama pendeta, bukan penatua. Sebaiknya diterima saja pendeta yang mau pindah ke sini itu. Setelah itulah baru sama-sama membicarakan bagaimana supaya pelayanannya menjadi baik kemudian. Apa yang selama ini didengar kurang baik, itulah yang harus dibicarakan supaya jangan terjadi di kemudian hari di jemaat ini …”.

 Lalu pembicaraan malah “memanas”. Beberapa penatua menyampaikan pendapat yang berbeda, bahkan ada yang dengan nada yang tinggi. Karena emosional, sempat pembicaraan melantur pada hal yang lain …

Dengan bijaksana, pendeta resort menengahi pembicaraan sambil curhat tentang adanya sikap dan pernyataan penatua yang menyampaikan hal yang tidak baik. Seharusnya hanya menyampaikan hal-hal yang baik tentang seseorang, bukan malah menjelek-jelekkan pendetanya. “Seperti yang saya alami di sini …”, lalu berlanjut yang mengarah kepada tulisanku di blog. Oh ya, beberapa menit sebelumnya ada penatua yang menyampaikan kepadaku bahwa pak pendeta keberatan dan tersinggung dengan tulisanku di blog. “Kenapa menyampaikannya kepada orang lain, ya? Kenapa ‘nggak langsung saja disampaikan kepadaku supaya aku tahu. Kalau ‘gitu, aku perlu berbicara dengan pak pendeta untuk menjelaskan apa yang membuat beliau tersinggung …”.

Kesempatan untuk menjelaskan aku dapatkan setelah usai sermon parhalado. Sebelum pulang ke Bandung, kembali aku mendatangi pak pendeta dan berbicara di konsistori. “Amang, perkataan “manimbangi” tadi bukanlah bermaksud menghakimi pendeta resort yang mau datang ke jemaat kita ini. Karena saat tadi itu belum ada pengakuan tentang surat yang ditandatangani oleh hampir semua penatua yang rencananya akan dikirim ke Kantor Pusat maka aku ‘nggak sampaikan secara terbuka. Yang aku maksudkan adalah supaya mengundang pendeta tersebut untuk memberikan penjelasan di sini lalu berdasarkan penjelasan tersebut kami penatua kemudian mempertimbangkan apakah masih perlu melanjutkan rencana mengirim surat tersebut atau tidak”.

Lalu pembicaraan berlanjut ke tulisan pada blog-ku yang menurut beliau kurang pantas karena menuduh beliau melakukan hal yang tidak baik. Pertanyaanku sama dengan pendeta resort sebelumnya, “Apakah Amang sudah membaca semua tulisan tersebut secara utuh?”. Dan jawabannya juga tidak jauh berbeda, sehingga aku juga harus memberikan penjelasan karena menurutku juga sudah terjadi kesalahpahaman …

Pembelot?

Lewat tengah malam tersebut, dalam perjalanan menuju pulang ke Bandung, masih mobil baru keluar dari komplek gereja, seorang penatua menelepon, “Barusan ada seorang penatua melaporkan bahwa katanya ada seorang penatua kita yang datang ke rumah pendeta yang tadi kita bahas di sermon untuk meminta ma’af  atas isi blog-nya yang sudah menyinggung pendeta resort yang mau pindah ke jemaat kita itu. Siapa yang dimaksud itu, Amang?”

“Aku-nya itu, Amang. Jum’at Agung yang lalu aku ke rumah beliau karena mendapat info yang berbeda dari yang kita dapatkan sebelumnya. Untuk klarifikasi supaya kita jangan salah malah menghakimi, aku pun ketemu dan berbicara dengan baliu. Itulah yang aku sampaikan saat malam itu kita ‘ngobrol di rumah duka kalau Amang masih ingat. Dan itu pulalah sebabnya aku bersikeras menyampaikan di sermon parhalado tadi. Kenapa rupanya, Amang? Salahnya yang aku lakukan dengan menjumpai beliau itu?”

“Begitulah di tempat kita ini, sebentar saja langsung sampai berita-berita seperti ini. Bagusnya Amang ‘ngobrol dulu samaku. Kalau begini, nanti kawan-kawan menganggap Amang sebagai pembelot …”

Bah, kaget pula aku mendengar kalimat itu. Pembelot? Pembelot apa pula maksudnya? Karena di konsistori tadi pun aku sudah jelaskan, bahwa diperlukan kemantapan sikap atas informasi yang berimbang yang didapatkan. Hal ini mencegah jangan terjadi keputusan yang salah dan menyesatkan. Tapi, ya sudahlah, pikirku. Kalaupun harus dikatakan pembelot, bagiku itu adalah resiko yang harus aku tanggung karena prinsipku adalah harus menempatkan segala sesuatunya itu pada proporsi yang sebenarnya. Dan selagi hal-hal yang baik masih tergantung pada apa yang bisa aku lakukan, tentu saja aku harus melakukannya dan mewujudkannya dalam setiap persoalan …

“Itulah, pa … Tidak semua orang sependapat dan mempunyai pemahaman yang sama. Apa yang papa maksudkan belum tentu itu pula yang dipahami kawan-kawan penatua di jemaat kita. Papa bilang bersikap keras, namun orang lain menganggap apa yang papa lakukan malah sudah kasar. Masih banyak orang yang mungkin juga penatua kita lebih menginginkan menerima apa adanya daripada mengambil resiko berbeda pendapat”, kata mak Auli di kursi belakang mobil yang gelap. Malam itu mereka – Auli dan mamaknya – ikut ke Jakarta karena sekalian mau melayat nantulang yang baru saja dikabari meninggal.

Aku tercenung. Lalu terngiang ucapan pak pendeta malam itu yang mengingatkan supaya hanya yang baik-baik saja yang perlu disampaikan tentang seseorang. Memang pernyataan tersebut pernah aku baca karena ada tercantum pada penjelasan hukum taurat, namun dalam konteks ini tidaklah bisa diadopsi seluruhnya. Menurutku, harus berani menyampaikan segala sesuatu dengan yang sebenar-benarnya, asalkan dalam koridor yang mengarah kepada hal yang lebih baik. Jadi, bukan menjurus kepada menghakimi. Sikap kritis tidak perlu harus diharamkan …

Situasi yang terjadi saat itu jadi mengingatkanku saat masih belajar ilmu berkhotbah tentang pernyataan, bahwa orang-orang sekarang lebih cenderung mendengarkan apa yang mau mereka dengar daripada apa yang seharusnya mereka dengar. Dua hal yang sangat jauh berbeda. Itulah sebabnya pengkhotbah yang disukai adalah yang menyampaikan hal-hal yang menyenangkan bagi jemaat, bukan yang seharusnya menegur jemaat untuk memperbaiki diri.

Andaliman-172 Khotbah 08 April 2012 Minggu Paskah

Yesus Sudah Bangkit!

Nas Evangelium Markus 16:1-8

16:1 Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.

16:2 Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur.

16:3 Mereka berkata seorang kepada yang lain: “Siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita dari pintu kubur?”

16:4 Tetapi ketika mereka melihat dari dekat, tampaklah, batu yang memang sangat besar itu sudah terguling.

16:5 Lalu mereka masuk ke dalam kubur dan mereka melihat seorang muda yang memakai jubah putih duduk di sebelah kanan. Merekapun sangat terkejut,

16:6 tetapi orang muda itu berkata kepada mereka: “Jangan takut! Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia.

16:7 Tetapi sekarang pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan kepada Petrus: Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia, seperti yang sudah dikatakan-Nya kepada kamu.”

16:8 Lalu mereka keluar dan lari meninggalkan kubur itu, sebab gentar dan dahsyat menimpa mereka. Mereka tidak mengatakan apa-apa kepada siapapun juga karena takut. Dengan singkat mereka sampaikan semua pesan itu kepada Petrus dan teman-temannya. Sesudah itu Yesus sendiri dengan perantaraan murid-murid-Nya memberitakan dari Timur ke Barat berita yang kudus dan tak terbinasakan tentang keselamatan yang kekal itu. 

Nas Epistel Kisah Rasul 10:34-43 (bahasa Batak Ulaon ni Apostel)

10:34 Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang.

10:35 Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.

10:36 Itulah firman yang Ia suruh sampaikan kepada orang-orang Israel, yaitu firman yang memberitakan damai sejahtera oleh Yesus Kristus, yang adalah Tuhan dari semua orang.

10:37 Kamu tahu tentang segala sesuatu yang terjadi di seluruh tanah Yudea, mulai dari Galilea, sesudah baptisan yang diberitakan oleh Yohanes,

10:38 yaitu tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia.

10:39 Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem; dan mereka telah membunuh Dia dan menggantung Dia pada kayu salib.

10:40 Yesus itu telah dibangkitkan Allah pada hari yang ketiga, dan Allah berkenan, bahwa Ia menampakkan diri,

10:41 bukan kepada seluruh bangsa, tetapi kepada saksi-saksi, yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Allah, yaitu kepada kami yang telah makan dan minum bersama-sama dengan Dia, setelah Ia bangkit dari antara orang mati.

10:42 Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati.

10:43 Tentang Dialah semua nabi bersaksi, bahwa barangsiapa percaya kepada-Nya, ia akan mendapat pengampunan dosa oleh karena nama-Nya.”

Selamat Paskah!