Andaliman – 174 Khotbah 22 April 2012 Minggu Miserikordias Domini

Tuhan, bukan Hantu! Anak Tuhan, bukan Anak Hantu!

Nas Epistel:  Lukas 24: 36-48  

24:36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!”

24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. 24:38 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu?

24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.”

24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.

24:41 Dan ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka: “Adakah padamu makanan di sini?”

24:42 Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng.

24:43 Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka.

24:44 Ia berkata kepada mereka: “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.”

24:45 Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. 24:46 Kata-Nya kepada mereka: “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga,

24:47 dan lagi: dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem.

24:48 Kamu adalah saksi dari semuanya ini.

Nas Evangelium: Roma 8: 14-18

8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah.

8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.

8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Coba katakan berulang-ulang: ‘Tuhan … Tuhan … Tuhan …’”, ajak seorang pendeta pada kami saat berkhotbah tentang keimanan dan ketakutan. Kalau diucapkan berulang-ulang dan dengan cepat, maka perkataan “Tuhan …” akan segera terdengar layaknya “Hantu …”. Kemudian, beliau menimpali, “Maka, oleh sebab itu, sangat mudah kita terkecoh. Begitulah kehidupan kita, yang semula memuji-muji Tuhan dengan iman, dengan cepat pula kita tergoda untuk beralih kepada hantu manakala ketakutan sangat menguasai kehidupan kita.”

Ilustrasi tersebut membawaku ketika mencoba memahami suasana emosional para murid pasca peristiwa penyaliban yang sangat dikuasai rasa takut dan kecemasan akan nasib mereka selanjutnya. Yang dibayangkan lebih banyak tentang hal-hal yang buruk. Ancaman permusuhan, tersisihkan, dan bahkan ancaman kematian pastilah menggelayuti pikiran mereka. Yesus yang sebelumnya sangat diandalkan – dengan berbagai motivasi dan pemahaman yang melatarbelakanginya – secara “mendadak” harus meninggalkan mereka karena wafat di kayu salib.

Rasa takut yang luar biasa itu berpotensi mampu membuat mereka lupa dengan ucapan yang disampaikan Yesus tentang peristiwa yang akan dialami-Nya, yaitu wafat di kayu salib, lalu bangkit pada hari yang ketiga. Menerima kenyataan bahwa Yesus sebagai manusia saja harus wafat (“dengan mudah” pada pikiran sebagian orang, mungkin …) sudah sangat sulit diterima pikiran, apalagi harus menerima kenyataan bahwa Yesus sebagai Tuhan juga mengalami kematian layaknya sebagai manusia pada umumnya. ‘Gimana pula harus menerima kenyataan bahwa ternyata Yesus hidup kembali! Menerima mati-Nya saja susah, bagaimana pula menerima kenyataan Dia hidup kembali? Alamakkk … susah kalilah menghadapi kenyataan ini. Hehehe …

Dan itulah yang terjadi … Datang dengan salam damai, menunjukkan fisiknya yang penuh bekas siksa penyaliban, bahkan dengan demo makan ikan goreng (layaknya manusia pada umumnya) tetap juga belum meyakinkan para murid. Akhirnya Yesus membuka pikiran mereka (ayat-45, dan ini sangat menarik bagiku sehingga menimbulkan pertanyaan: koq membuka pikiran yang dilakukan Yesus, bukan membuka mata rohani para murid?). Yesus yang beberapa hari sebelumnya disaksikan oleh murid-murid sudah wafat di kayu salib, hari itu menunjukkan bahwa Dia sudah mengalahkan maut (kematian). Kembali berada bersama mereka, tidak sebagai hantu (dalam bahasa aslinya, Lukas menggunakan pneuma yang berarti adalah roh, sebagaimana juga diterjemahkan dalam Bibel sebagai tondi bukan begu …). Setelah itu, Yesus mencoba menyegarkan ingatan mereka, menguatkan mereka, dan meminta murid-murid menjadi saksi …

Demikianlah yang disampaikan oleh nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini.   

Bertautan dengan Ep tersebut, Ev Minggu ini memberi penekanan bahwa orang-orang beriman (yang menjadi pengikut Kristus sebagai buah dari penyebaran Injil oleh para rasul yang menjadi saksi kebangkitan Kristus dahulu) adalah jadi anak-Nya karena sudah menerima kasih karunia keselamatan atas kebangkitan Kristus. Dipimpin oleh Roh Kristus dalam kehidupannya, tidak lagi dipimpin oleh roh perbudakan yang cenderung membuat takut. Lebih dikuasai ketakutan, daripada ketaatan.

Sebagai anak, maka berhak menjadi ahli waris. Anak Tuhan, bukan anak hantu. Menurut pemahamanku, perbedaan antara keduanya dapat dilihat dari motivasi kepatuhan. Anak Tuhan tunduk karena patuh dan pengharapan pada kehidupan kekal, sedangkan anak hantu tunduk karena takut pada kehidupan walaupun tidak punya pengharapan pada kehidupan kekal.

Sekarang tinggal pilih, mau jadi anak Tuhan atau malah jadi anak hantu? Jadi anak Tuhan salah, ya …

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Peristiwa salib banyak mengandung misteri. Mengundang banyak pertanyaan. Apalagi kalau banyak bersandar pada pikiran. Banyak yang mengatakan” “jangan gunakan pikiranmu, tapi pakailah hatimu!”. Di konsistori, seorang pendeta berulangkali mengingatkan kepada penatua, “Yang lebih penting bukan intelektualitas dan penguasaan teologi, melainkan penyerahan diri pada pimpinan Tuhan”. Pernyataan yang, terus terang saja – karena kalimat berikutnya mengesankan bahwa pak pendeta yang masih muda yang idealnya masih punya banyak waktu untuk menambah pengetahuannya tersebut adalah “anti-intelektualitas” – membuatku malah menjadi bertanya-tanya. Karena aku selalu berprinsip untuk jangan pernah membenturkan antara intelektualitas dan iman. Mungkin maksudnya untuk memotivasi penatua yang “rendah diri” karena merasa tidak punya kemampuan pengetahuan yang memadai, tetapi berpotensi malah memadamkan semangat belajar …

Bagiku, intelektualitas adalah hal yang dibutuhkan. Bahkan dalam kehidupan iman. Mengetahui dibutuhkan untuk mengerti. Jika tidak tahu bagaimana pula bisa mengerti, ‘kan? Untuk apa pak pendeta belajar bertahun-tahun di sekolah tinggi teologi kalau bukan untuk membekali diri dalam pelayanan jemaat?

Menurut pemahamanku, pengetahuan tidaklah bertentangan dengan iman, melainkan iman mengatasi pengetahuan. Keduanya dibutuhkan untuk saling melengkapi. Tidak boleh saling meniadakan, malah seharusnya saling beriringan. Kapan dibutuhkan, kita tanyakanlah kepada Tuhan …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s