Kantor Lama dan Kantor Baru …

Akhir Maret lalu kami sudah menempati kantor baru. Kantor yang sebelumnya sudah semakin terasa kurang memenuhi kebutuhan kami. Tak terasa sudah dua tahun kami menempati kantor ini, dan selama itu pulalah aku sudah bertugas di Bandung, kota impian banyak orang (termasuk kawan-kawan seperusahaan yang sangat berkeinginan untuk ditempatkan di kota ini bertugas …).

Kantor Lama: Penuh Perjuangan …

Pertama kali sampai di Bandung – 05 Maret 2010 – dan menginjakkan kaki di kantor ketika serah-terima jabatan dengan orang yang aku gantikan, aku menghadapi kenyataan bahwa kantor disegel oleh warga. Aku melihat selembar kertas bersegel di tempel di pintu depan kantor yang berisi bahwa kami harus pindah sebelum 30 Maret 2010 karena warga (katanya …) keberatan dengan keberadaan kantor kami di lingkungan tersebut. Berbagai hal dijadikan alasan, misalnya parkir yang mengganggu, berisik karena banyak orang yang lelu-lalang, dan lain sebagainya. Itu yang aku dengar dari pihak yang tidak setuju kami berkantor di lingkungan yang memang adalah komplek permukiman.

Dari pihak lain, ada “pembelaan” bahwa yang memicu bukanlah itu semua. Tapi, bagiku itu semua sudah tidak ada gunanya lagi karena faktanya kami harus mencari kantor yang baru. Benar-benar sangat menantang bagiku yang sudah hampir lima tahun bertugas di Kantor Pusat yang tentu saja tidak lagi menghadapi hal-hal seperti ini karena sudah diurus oleh orang lain semuanya. Tinggal terima beres, hehehe …

Karyawan senior yang aku gantikan mengatakan memang ada salah satu calon kantor yang sudah dilihatnya dan menurutnya layak untuk dijadikan kantor. Sayangnya, ketika aku tinjau, sangat jauh dari kelayakan (ini membuktikan bahwa penilaian adalah obyek yang relatif dan subyektif …). Lokasinya ‘nggak jauh dari kantor sebelumnya (tentu saja masih beresiko tinggi terhadap penolakan warga), kondisi bangunannya sudah sangat tua dan tidak terawat (jangan lupa, ada juga yang tua namun tetap menarik karena dirawat dengan baik …), dan parkir kendaraan kantor akan menjadi masalah serius karena akan mengganggu tetangga.

“Pak, kalau boleh, nanti kantor kita yang berlokasi di tempat yang pantas. Masa’ perusahaan prinsipal sebesar kita ini kantornya ‘nggak representatif, masih lebih baik kantor Distributor yang notabene adalah tergantung pada kita juga”, kata salah seorang anggota tim yang aku pimpin dengan penuh harap. Jujur saja, begitu melihat kantor dengan kondisi yang “apa adanya” itu aku pun “miris” melihatnya. Ruang kerjanya ‘nggak nyaman. Bahkan ruang sholat pun sekadar memanfa’atkan spasi ruangan yang masih tersedia. “‘Gimana kalian mau sholat di tempat yang begini? Untuk menghadap Tuhan seharusnya disediakan tempat yang istimewa. Bukan mewah, tapi benar-benar yang disediakan untuk-Nya …”, kataku pada beberapa karyawan yang aku lihat baru saja selesai sholat setelah antri lumayan panjang karena sempitnya ruangan sholat yang terjepit di sudut ruangan. Pernyataanku yang membuat mereka aku lihat sekilas terhenyak, mungkin ‘nggak menyangka bakal muncul dari mulut seorang Kristen (Batak pula …).

Lalu aku tanyakan, di mana komplek perumahan yang menurutnya paling pantas dan berkelas. Aku pun melacak keberadaan komplek perumahan tersebut. Berhari-hari – bahkan dengan memanfa’atkan hari libur – aku mencari calon kantor. Yang semula masih mau menemani, akhirnya mundur dengan alasan punya kerjaan yang lebih penting. Padahal dia juga yang akan menempati kantor tersebut. Tapi, ya sudahlah … ‘nggak enak juga ditemani orang yang sebenarnya terpaksa menemani.

Di sela-sela ketegangan memikirkan tenggat waktu harus pindah, aku dituntun ke komplek perumahan (entah yang sudah ke berapa kali aku melacaknya …) yang sekarang menjadi lokasi kantor kami. Aku melihat rumah yang terkesan baru ditinggalkan oleh penghuninya. Tertarik, aku segera mencari tahu. Ke mana lagi kalau bukan ke satpam, lalu ke pak RT. “Saya memang dititipi kunci oleh pemiliknya yang tinggal di Surabaya, pak. Tapi saya ‘nggak dapat amanah untuk menyewakan karena pemilik sudah ‘nggak mau menyewakan rumah ini lagi karena kapok dengan penyewa sebelumnya”, kata pak RT padaku. Untungnya, masih mau memberi tahun nomor ponsel pemilik rumah karena aku “mendesak”.

“Benar, pak saya sudah ‘nggak mau mengontrakkan rumah itu lagi karena kapok dengan pengontrak sebelumnya. Saya keluar banyak uang untuk memperbaiki karena kondisi rumah yang rusak saat mereka tinggal pergi”, kata si ibu sang pemilik ketika pertama kali aku telepon untuk memperkenalkan diri. “Tapi karena bapak memaksa dan saya tahu perusahaan bapak, mungkin saya bisa percaya dengan apa yang Bapak ucapkan dan janjikan, bolehlah kita bicarakan lebih lanjut …”. Selanjutnya? Kami bisa menempati kantor tersebut satu hari sebelum batas waktu ultimatum yang kami terima pada kantor sebelumnya. Tidak mulus, memang karena masih ada masalah pembayaran yang hampir tiga bulan baru diterima oleh pemilik rumah karena hal administratif yang harus dipenuhi. Puji Tuhan, pemilk rumah adalah orang yang sabar dan penuh pengertian.

Eh … Ada Rumah Kontrakan!

Tiga bulan pertama aku masih kos (karena Auli juga masih harus menyelesaikan masa belajarnya sebelum pindah sekolah di tahun ajaran baru). Lokasinya tidak terlalu jauh dari kantor (buktinya aku masih bisa berjalan kaki setiap pagi ke kantor, meskipun rada keringatan dikit …). Suatu kali pada waktu senggang, pada blok yang tidak terlalu jauh dari kantor aku melihat ada orang yang memindahkan barang-barangnya. Walau ‘nggak ada terlihat pengumuman tentang rumah yang dikontrakkan, namun aku tetap berani menanyakan dan mendapat tanggapan positif.

Berkat bantuan satpam, akhirnya aku bisa bertemu dengan pemilik rumah (persisnya: anak laki-lakinya yang masih sangat muda dan lajang …). Tidak tinggal di Bandung, jadi membutuhkan “perjuangan” lagi. Singkat cerita, kami bisa mengontrak rumah tersebut sampai sekarang. Satu bulan menempati, kami pun mengundang kawan-kawan dari Jakarta untuk mengadakan partangiangan keluarga punguan koor ama di rumah yang kami kontrak tersebut. Di suatu hari Sabtu yang bertepatan dengan hari ulang tahunku. Itulah pertama kali dilakukan partangiangan menginap seperti ini yang dilaksanakan di luar kota Jakarta. Mungkin yang terjauh dari yang selama ini pernah terjadi.

Selanjutnya, wejk kami yang disebut wejk parserahan benar-benar terwujud dengan melakukan partangiangan antar provinsi di mana ketika giliran kami manjabui, kawan-kawan satu wejk pun datang dan menginap di rumah kontrakan kami ini. Luar biasa! Luar biasa indahnya persekutuan yang kami nikmati selama ini …

Kantor Baru: Sudah Saatnya …

Dengan berbagai pertimbangan akan kondisi kantor lama yang sudah kurang layak dan kebutuhan akan space yang lebih memadai, aku pun memutuskan untuk mencari kantor baru. Tidak jauh-jauh, dalam komplek yang sama (bahkan cluster yang sama dan jalan yang sama …), aku menemukan kantor yang layak.

“Saya mau mengontrakkan rumah saya itu, tapi bapak harus mendapat persetujuan dulu dari ketua RT“, kata pemilik rumah pertama kali aku menelepon, yang segera saja aku sanggupi karena memang punya hubungan baik dengan ketua RT. “Izin dari tetangga bapak yang mengurus, saya ‘nggak sanggup”, kata pemilik ketika aku menelepon lagi untuk mengabari bahwa pak RT ‘nggak keberatan untuk menjadikan rumah tinggal tersebut sebagai kantor dan proses administratif sudah berjalan dengan Kantor Pusat. Kunci akan segera diserahkan oleh pemilik rumah kalau aku menyanggupi mengurus izin pada tetangga. Tentu saja segera aku sanggupi, karena pekerjaan ini sudah aku lakukan dua tahun yang lalu ketika baru memasuki kantor lama yang juga adalah rumah tinggal.

Dua tahun yang lalu, aku mengundang tetangga melalui ibu-ibu pengajian majelis ta’lim untuk melakukan selamatan di kantor sekaligus memperkenalkan diri. Saat itu, beberapa ibu curhat karena pengontrak sebelumnya sangat tidak menyenangkan. Saat itu aku jawab, bahwa hal-hal yang buruk tidak akan kami lakukan. Sambil meminta mereka selalu “menjagai” kami, aku juga mempersilakan mereka untuk datang kapan saja melihat dan melaporkan, “Kalau ada orang-orang di kantor ini yang mengganggu, silakan beritahu aku ya, ibu-ibu. Aku orang Batak, jadi ‘nggak perlu segan-segan untuk menyampaikan keluhan padaku …”, kataku ketika diminta menyampaikan kata sambutan usai pengajian saat itu.

Pengajian? Iya, memang. Kenapa bukan kebaktian? Sempat berkecamuk “peperangan” dalam pikiranku saat itu. Aku yang seorang sintua dan dipercaya sebagai pemimpin perusahaan untuk wilayah kerja Bandung, koq malah melakukan pengajian ketika memasuki kantor baru. Aku punya alasan. Pertama, hanya aku yang Kristen yang berkantor di sini. Waktu aku ajak segelintir kawan yang masih punya hubungan bisnis untuk melakukan kebaktian di kantor tersebut, malah menyerahkannya kembali kepadaku. “Dari antara kita semua di sini, bapaklah yang paling tahu dan paling pantas yang memimpin ibadah …”. Tentu saja itu tidak sesuai dengan pemikiranku yang lebih cenderung meminta mereka untuk menyediakan pengerja yang akan melayankan ibadah karena mereka berjemaat di Bandung. Karena tidak ada tindak lanjutnya, sementara memasuki kantor ‘nggak bisa menunggu lebih lama lagi, maka ibadah memasuki kantor pun ditunda.

Itu yang terjadi dua tahun yang lalu. Tahun ini aku meminta salah seorang untuk meminta kesediaan pastor paroki mereka untuk memberkati kantor baru ini. Hasilnya, sama juga. Dengan alasan bahwa wilayah kami masuk wilayah pelayanan orang lain, maka aku harus melapor ke pengurus wilayah setempat. Karena sikapnya begitu, maka itupun ditunda. Saat itu aku sempat berpikir, bahwa Katolik juga bisa serumit HKBP dalam melayani umat, tidak seperti yang aku duga selama ini …

Alasan lainnya adalah, tetangga kami mayoritas beragama Islam. Kita perlu menyesuaikan dengan lingkungan juga, kan? Ingat: menyesuaikan, bukan malah menghilangkan identitas! Jangan lupa juga bahwa pengajian bisa juga menjadi sarana kesaksian iman kristiani kita. Aku mengalaminya dan tetap rindu untuk melakukannya kembali. Koq bisa?

Kawan-kawan sekantor heran ketika inisiatif melakukan pengajian aku sampaikan pertama kali. Dalam hatinya, “Lho, bapak ‘kan bukan muslim, koq mau-maunya melakukan syiar agama Islam …”, mungkin demikianlah yang ada di benak mereka. “Aku memang Kristen seperti yang kalian tahu dan lihat sehari-hari. Sebagai orang Kristen, aku harus menghormati sesama manusia yang beriman. Dan aku percaya, orang yang masih menyempatkan dirinya untuk kehidupan keimanan, tetap lebih baik daripada orang yang tidak melakukan kewajibannya. Jangan lupa, hal-hal yang baik biasanya mendatang kebaikan juga …”. Suatu kesaksian, bukan? Apalagi ketika mereka tahu, bahwa akulah yang repot menghubungi pihak-pihak pengajian, karena mereka sendiri mengatakan tidak sanggup melakukannya … Boss-ku yang muslim yang saat itu sedang berkunjung ke Bandung pun secara spontan geleng-geleng kepala manakala mengetahui bahwa di kantor yang dipimpin orang Kristen ternyata ada pengajian. Apalagi manakala mengetahui bahwa aku yang mengurus segala sesuatunya, “Kalian ini ‘gimana yang muslim dan asli orang Bandung ‘nggak bisa membantu. Lha, malah bang Tobing bisa melakukannya sendirian …”

Ketika hari pengajian, biasanya dilanjutkan dengan sholat maghrib berjemaah. Usai sholat, biasanya pak ustadz (dan sebagian tetangga yang hadir …) bertanya, koq malah tuan rumah (sahibul hajat, istilahnya …) ‘nggak ikut sholat? Sedang “halangan”? Yang ini biasanya segera dijawab oleh orang yang berada di sebelah pak ustadz, “Oh, ma’af pak … boss kami itu Kristen, jadi memang ‘nggak bakalan ikut sholat”. Biasanya jawaban seperti ini membuat pendengarnya terkesima karena ‘nggak menyangka sedang berurusan dengan orang Kristen, sesuatu yang (mungkin) tidak biasa … Luar biasa! Karena Tuhan kita memang luar biasa, ‘kan?

Nah, setelah pengajian tersebutlah kami kemudian meminta izin tetangga. Karena harus secara tertulis (dan dilampiri fotocopy KTP tetangga), pekerjaan ini memakan waktu berhari-hari. Dua tahun lalu aku dibantu oleh satpam dan berhasil mendapatkan izin tertulis tersebut. Satpam yang baik tersebut sudah pindah ke tempat lain, sehingga peran tersebut diambil alih oleh seorang satpam yang lain. Ternyata kualitasnya jauh berbeda. Pak satpam kali ini (mungkin lebih didorong oleh keinginan untuk mendapatkan uang tip …) segera mendatangi tetangga dan meminta tanda tangan dan fotocopy KTP mereka. Bahkan pada formulir yang belum terisi sama sekali dengan identitas kami.

Aku sudah sampaikan ke pak satpam bahwa sama seperti dua tahun lalu, kami akan mengadakan pengajian sekaligus perkenalan dengan mengundang tetangga hadir pada acara selamatan. Namun, begitulah … inisiatif pak satpam ternyata malah mengakibatkan penolakan tetangga. Bahkan ada yang menolak mentah-mentah karena tersinggung dengan cara pak satpam seperti itu. Ketika melapor tentang hambatan yang dihadapinya, akupun mencoba membuatnya mengerti. Lalu kami bareng ke tetangga. Cuma sehari, karena aku melihat caranya memang ‘nggak simpatik. “Selanjutnya, biar aku ajalah yang mengurus, pak. Lagian, surat tersebut tidak terlalu penting untuk kami punya, asalkan tetangga sudah tidak keberatan. Aku akan datangi mereka satu per satu dengan cara bertamu”.

Ketika ada libur Nyepi, itulah aku sempatkan mendatangi tetangga. Bersama mak Auli, tentu saja. Puji Tuhan, sampai hari hasilnya menunjukkan hal positif. Sudah hampir satu bulan berkantor di tempat yang kondisinya jauh lebih baik sekarang ini, tidak ada hambatan sama sekali yang kami hadapi. Dengan harga kontrak yang lebih murah, kami mendapatkan yang lebih baik: rumah yang lebih luas, kamar yang lebih banyak, kondisi bangunan yang lebih baik, dan juga hal-hal baik lainnya. Aku pun semakin bersyukur kepada Tuhan untuk semuanya.

Bulan Maret lalu aku sudah diberitahu boss-ku untuk bersiap pindah. Dan April ditetapkan sebagai masa serah-terima kepada penggantiku yang datang dari Makassar. Itulah salah satu yang mendorongku untuk segera menyelesaikan perpindahan kantor karena aku ‘nggak mau penggantiku nanti mengalami hal yang sulit seperti yang dulu aku hadapi ketika menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk memastikan kami mendapat kantor yang layak …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s