Bahan Sermon Minggu Exaudi

  

Nas yang Tepat dan Pas

Nas yang menjadi perikop yang ditetapkan oleh Almanak HKBP sebagai MInggu Exaudi (yang dipahami sebagai “Tangihon ma Soaranghu, ale Jahowa!”) sangat tepat dan pas bagi kita warga HKBP jemaat IKG ini. Keduanya, baik nas Epistel maupun nas Evangelium. Tepat, karena nas ini dapat dijadikan sebagai bekal dalam menghadapi perubahan kepemimpinan pelayan. Pas, karena sangat cocok dengan suasana emosional jemaat saat ini. Apalagi, perikop ini disampaikan saat ibadah Minggu, 20 Mei 2012 yang akan datang, bertepatan dengan serah-terima pemimpin pelayanan jemaat.

Rencana Tuhan? Atau suatu kebetulan? Tentulah kita harus mengimaninya sebagai bagian dari rencana Tuhan. Bagiku, tidak ada suatu kebetulan bagi orang yang beriman.

Karena tidak untuk dikhotbahkan – sesuai dengan ketentuan yang berlaku saat ini di HKBP IKG – diskusi sermon parhalado kali ini lebih banyak membahas tentang pesan yang ingin disampaikan oleh nas Ep yaitu dari Kisah Rasul 1:15-26. Berikut ini adalah hal-hal pokok yang perlu kita pahami terlebih dahulu:

(1)   Kata “saudara” dalam Kitab Suci tidak hanya berarti saudara seayah-seibu (atau seayah, seibu), tetapi juga dipakai sehubungan dengan kaum kerabat lainnya. Kata itu dikenakan pula pada persekutuan lebih mendalam yang berurat berakar dalam perjanjian. Dalam Perjanjian Baru orang-orang Kristen sebagai murid Yesus disebut saudara, yaitu mereka yang sama seperti Yesus melakukan kehendak Bapa, mereka semua anak Bapa sedangkan Yesus adalah anak sulung-Nya. Di antara semua saudara itu berada kasih persaudaraan

(2)   “Pemimpin”. Petrus kini dengan sendirinya muncul sebagai pemimpin dari 120 orang percaya, yang disebut saudara-saudara

(3)   “Dua belas”. Sebagian orang menganggap bahwa Alkitab menarik karena penuh dengan angka-angka. Bagi mereka angka-angka tersebut dapat diolah sehingga menghasilkan angka baru, misalnya tanggal kedatangan Yesus dan lain-lain. Padahal, angka-angka Alkitab, selain memberikan informasi jumlah, sering bersifat simbolis, bukan untuk diutak-atik seenaknya.

Setelah pengkhianatan yang diikuti dengan peristiwa bunuh dirinya Yudas, komposisi rasul yang semula ditetapkan Yesus dengan duabelas orang pilihan-Nya, menurut mereka patut untuk dicari penggantinya. Perikop ini menceritakan tentang proses pemilihan pengganti Yudas. Dari dua calon, setelah berdoa dan membuang undi, akhirnya pilihan jatuh kepada Matias.

Orang Fasik Menurut Ev

Dihubungkan dengan nas perikop Ev, kita diminta untuk tidak mengikuti jalan orang fasik (menurut salah satu referensi, berarti “yang mewakili jalan dan nasihat dunia, yang tidak tinggal dalam firman Allah“). Firman Allah-lah yang selalu dijadikan pedoman dalam setiap pengambilan keputusan dan menentukan langkah dalam kehidupan.

Teladan seperti ini diberikan oleh tindakan para rasul dalam menentukan pengganti teman sepelayanan mereka. Dengan berdoa secara sungguh-sungguh kepada Tuhan, lalu mengambil tindakan dalam penentuan keputusan.

Refleksi/Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Dari pembacaan dan pembahasan paragraf-paragraf tersebut di atas, kita mendapatkan pesan yang layak dijadikan panduan, antara lain:

(1)   Dalam kehidupan, selalulah libatkan Tuhan dalam pengambilan keputusan. Bahkan untuk hal-hal yang secara logika sudah tepat menurut kita.

(2)   Berdoa, itulah jalan berkomunikasi dengan Tuhan yang paling patut kita lakukan dalam meminta pedoman/petunjuk. Bukan cara-cara lain yang kadangkala dengan mudah kita tertipu seolah-olah cara lain tersebutlah yang paling tepat. Dalam kehidupan modern – di mana sarana komunikasi sangat banyak tersedia dengan mudah dan murah – mendapatkan informasi yang lengkap (dan terpercaya) adalah relatif mudah sehingga sangat membantu dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan. Di atas semuanya itu, agar jangan mudah disesatkan dan menyesatkan, meminta petunjuk dari Tuhan mutlak juga dilakukan.

(3)   Bukan hanya fasilitas yang lengkap dan memadai, kehidupan modern saat ini juga menawarkan kepalsuan sehingga menjadi relatif tidak mudah menentukan sesuatu itu fasik atau sebaliknya adalah benar-benar merupakan jalan yang benar. Banyak orang yang berbicara dan berlaku seolah-olah orang benar, namun waktu kemudian membuktikan bahwa semuanya itu adalah kepalsuan belaka. Oleh sebab itu, meminta petunjuk dari Tuhan adalah suatu kemutlakan. Dalam menilai seseorang atau suatu tindakan, sebaiknya jangan mudah percaya, jangan pula mudah terperdaya.

Nas perikop ini juga mengajak kita berfikir dan menarik isinya (= content) untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan saat ini (= context) dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

(1)   Apakah penggantian rasul harus dilakukan?

(2)   Melihat prosedur yang dilakukan para rasul saat itu, mengapa model yang seharusnya patut diteladani tersebut tidak dilakukan lagi saat ini? Dalam tradisi Batak dikenal manjomput na sinurat yang sebenarnya sangat layak dilakukan (karena dilakukan juga oleh para rasul), misalnya dalam pemilihan Eforus. Kenapa? Mungkinkah doa sinodistan (yang sebagian besar diyakini sebagai “penerus rasul-rasul Kristus”) tidak sedahsyat doa rasul-rasul Kristus zaman dulu?

(3)   Bagaimana meyakini bahwa yang terpilih itu adalah benar-benar datang dari Tuhan? Pilihan Tuhan, dan bukan yang dibiarkan Tuhan terpilih?

Sebagai referensi, pada tahun 2009 ada film yang menjadi The Best Movies yang berjudul Angels and Demons. Film ini menceritakan proses pemilihan Paus di Vatikan. Sangat menarik dan sangat relevan dengan kehidupan dan kepemimpinan modern saat ini. Selain penuh intrik (sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan organisasi, bahkan di kehidupan gereja …), juga mengajarkan kepada kita betapa Tuhan yang pada akhirnya paling berkuasa dalam menentukan dan menunjuk siapa yang paling pantas sebagai pemimpin dalam gereja-Nya. Hal yang masih sangat relevan dalam kehidupan kita saat ini yang masih selalu merindukan pemimpin yang bisa kita yakini sebagai pilihan Tuhan dan yang terbaik datangnya dari Tuhan …

Bandung, 14 Mei 2012

St. Rodlany A. Lbn. Tobing, SE, MBA, MMin.

Tulisan ini dibuat dengan mengandalkan sebagian besar bahannya dari www.sabda.org yang dapat dilihat dan dibaca di www.tanobato.wordpress.com. Silakan diakses, dan diunduh untuk melihat tulisan lainnya. Diedit oleh penulis sedemikian rupa agar cocok untuk kebutuhan Sermon Parhalado HKBP Immanuel Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Selasa, 15 Mei 2012.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s