Ma’af, Bukan Menghakimi, tapi Aku Harus Katakan Hal Ini …

Minggu sore itu aku bertugas sebagai liturgis. Datang dari Bandung, aku orang yang pertama tiba di konsistori. Sudah ‘kuduga, karena ibadah sore belum sesuatu yang menjadi favorit di jemaat kami yang berada di tengah keramaian kota Jakarta yang banyak memiliki lokasi persekutuan yang (dirasakan oleh banyak orang) lebih menarik. Jumlah umat yang hadir rata-rata tidak melebihi 75 orang setiap Minggu-nya. “Kalau dilihat dari sisi ‘bisnis’, rugi menyelenggarakan ibadah seperti ini”, ucapku saat berdiskusi serius dengan segelintir penatua yang berpikiran “progresif”. Aku berani mendiskusikan hal ini karena tahu bahwa teman diskusiku sama-sama punya kerinduan untuk membuat ibadah Minggu sore menjadi lebih banyak dihadiri oleh umat.

Beda halnya dengan penatua “rata-rata” di jemaat kami, yang pasti akan segera menyahut: “Gereja bukan tempat bisnis. Ada saja yang datang beribadah, itu sudah bagus”. Jawaban yang kerap kali membuatku tersenyum kecut, apalagi bilamana mengetahui bahwa ada beberapa orang penatua yang menolak untuk ditugaskan melayani ibadah sore. Masing-masing punya alasan yang membuatku merasa aneh karena ‘nggak menyangka bahwa masih ada penatua yang sanggup menolak melayani ibadah di jemaat sendiri …  “Bukan kuantitas yang penting, tapi kualitas“, jawaban yang membuatku melongo karena menyadari tentang kualitas yang masih jauh panggang dari api. “Biarkan Roh Kudus yang bekerja …”. Alamakkk …

Wah, Kita Satu Alumni

Ketika kembali ke konsistori setelah memastikan perlengkapan ibadah sudah tertata dengan baik di gedung gereja, aku melihat sepasang manusia yang belum pernah aku lihat. Yang perempuan – ternyata yang akan berkhotbah pada ibadah sore itu – adalah mahasiswa pasca sarjana di STT Jakarta. Satunya lagi – yang laki-laki, yang belakangan aku mudah menduga bahwa mereka adalah sepasang kekasih … – adalah lulusan STT Jakarta. Wah, senangnya ketemu dengan satu alumni. Lalu kami pun berbincang tentang kampus. Selain melepas rindu, juga memutakhirkan situasi perkuliahan di kampus tempatku dulu mengenal semakin banyak hal tentang kehidupan. Hingga suatu kali yang laki-laki ‘nyeletuk sambil menunjuk ke Alkitab Edisi Studi yang kerap aku bawa ke gereja, “Wah, harus hati-hati nih berkhotbah, karena ada lulusan sekolah teologi, pakai Alkitab Edisi Studi lagi“.  Langsung saja aku jawab, “Bukan malah yang pakai Alkitab Edisi Studi ini berarti orangnya masih dalam tahap belajar? Kalau pakai Alkitab yang lain yang bukan edisi seperti ini, tentunya adalah orang yang sudah tamat belajarnya …”. Itu adalah jawaban standar yang selalu aku berikan menanggapi pernyataan sejenis.

Khotbah: “Tuhan ‘Nggak Mungkin Memakai”?

Sebagai liturgis, Minggu itu aku tekun melayankan ibadah. Ketika saat penyampaian firman, aku duduk di depan, di pelataran. Aku merasa lega karena bisa istirahat sejenak setelah berdiri sedari tadi maragenda. Pengkhotbah – sang pendeta yang adalah perempuan muda mahasiswa pasca sarjana – membuka khotbah dengan manis dengan ilustrasi ringan. Seperti biasa, aku selalu berusaha menyimak (‘nggak pantas ‘kan kalau duduk di depan, berjubah, ternyata tertidur …?).

Sejenak aku tersentak mendengar ucapan inang pandita, “Tuhan ‘nggak mungkin memakai penderitaan orang untuk kemuliaan-Nya. Misalnya ada satu rumah yang tidak ikut terbakar di anatar lima puluh rumah yang mengalami musibah kebakaran. ‘Nggak boleh pemilik rumah yang satu itu bilang ke orang-orang bahwa dia dikasihi Tuhan sehingga rumahnya ‘nggak terbakar. Itu suatu kesombongan!”. Berulang-ulang aku coba memahami apa maksudnya, supaya pernyataan tersebut bisa benar. Namun tetap ‘nggak mampu aku mendapatkannya.

Usai ibadah, di konsistori aku bertanya kepada beliau. Itupun setelah cukup lama berusaha mencari kalimat yang pas agar tidak tersinggung dan situasinya juga tetap kondusif (dan “rohani”?), yang langsung dijawab: “Itu konteksnya kesaksian, Amang”, lalu aku sahuti, “Setahuku, malah Tuhan seringkali memakai penderitaan orang sebagai alat menunjukkan kemuliaan-Nya. Yang satu orang yang rumahnya terhindar dari malapetaka kebakaran itu pun bisa bersaksi bahwa Tuhan mengasihinya sehingga dia diselamatkan dari kebakaran itu. Yang salah adalah kalau dia mengatakan hanya dia yang dikasihi Tuhan, yang lain tidak maka dibiarkan rumah mereka habis terbakar …”. Dengan enteng, beliau menjawab, “Bisa juga gitu, Amang.”.   Jujur saja, bukan jawaban seperti itu yang aku harapkan.

Sambil merapikan uang persembahan yang terkumpul sore itu, aku bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang terjadi dan apa yang salah. Apakah aku yang salah menangkap (karena usai ibadah, di pintu gereja ada nyonya penatua yang berujar, “Bagus banget khotbahnya, Inang …” dengan senyum penuh arti yang aku tahu inang tersebut adalah aktivis gereja dan cenderung bersikap kritis mengoreksi pelayanan), ataukah aku terlalu banyak berharap. Entahlah … Bukan perfeksionis (karena hanya Tuhan sematalah yang sempurna, bahkan maha sempurna …), tapi kalau mendapat kehormatan menyampaikan firman biasanya satu bulan sebelumnya sudah aku persiapkan dengan mencari berbagai bahan untuk memastikan bahwa khotbah menjadi menarik dan membawa orang-orang kepada Tuhan dan perubahan.

“Oh, ya … kita ketemu di Mall Kelapa Gading? Wah, enaknya … Tenang saja, sebentar lagi aku ke sana ya ….”. Terdengar ucapan sang pendeta menyahuti ajakan di seberang sana melalui ponselnya. Lalu bergegas dengan pasangannya ke jalan raya di depan komplek gereja untuk menghabiskan waktu sore itu di mall dimaksud yang memang ‘nggak jauh dari bangunan gereja (kalau sedang semangat untuk sehat, aku beberapa kali berjalan kaki dari komplek gereja ke mal dimaksud, apalagi ketika kami masih tinggal di daerah tersebut).

Kami sekeluarga pun memasuki keramaian lalu lintas Jakarta. Masuk ke jalan tol untuk kembali ke Bandung. Dalam hati aku berdo’a agar jangan ada yang tersinggung dan disalahpahami sehingga aku pun jadi berbuat salah. Sekaligus aku berharap, biarlah pelayananku hari itu menjadi kemulian-Nya semata karena aku pun belum tentu selalu bisa lebih baik daripada orang-orang …

Iklan

One comment on “Ma’af, Bukan Menghakimi, tapi Aku Harus Katakan Hal Ini …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s