Empat Puluh Empat. Semoga Makin Berhikmat. Dan Tambah Berkat …

Hari ini aku berulang tahun. Ke-44. Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Belum banyak yang bisa aku perbuat.

Tadi malam menjelang menonton siaran langsung Piala Eropa (Euro Cup) antara Portugal dan Belanda, aku lihat anakku Auli dan anak paribanku yang sedang berlibur di Bandung dan menginap di rumah seperti biasanya, kasak-kusuk berbisik-bisik satu sama lain dan mak Auli. Belakangan – persisnya, besoknya – aku tahu bahwa mereka merencanakan membuat kejutan bagiku. Karena aku bilang akan tidur di sofa di depan teve, eh … mereka ‘ngotot ikut-ikutan tidur di depan teve dengan meminta agar kasur disiapkan buat mereka. Maksud mereka, tepat jam 00.00 mereka akan melakukan sesuatu kejutan buatku … Ternyata satu demi satu mereka pindah tidur ke kamar (karena kurang nyaman, tentunya …). Jadilah aku menonton pertandingan sepakbola sendirian, sama seperti malam-malam sebelumnya …

Tepat jam nol nol lewat nol nol – yang berarti sudah Selasa, 19 Juni 2012 – aku berdoa pendek menaikkan puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan untuk penyertaannya sampai aku berumur “setua” ini, hehehe … Lalu mengirim surel alias surat elektronik alias e-mail pakai iPhone-ku ke teman seperusahaan yang menjadi Area Sales Manager di Palembang yang ulang tahunnya juga tepat pada hari itu. Beliau teman seperjuangan sejak sama-sama bertugas di Medan lebih sepuluh tahun yang lalu.  

Tiba-tiba mak Auli keluar kamar, lalu mendatangiku untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Terlihat wajahnya letih karena kurang tidur beberapa hari ini (dampak lanjutan kambuhnya vertigo-nya minggu lalu …) namun ada kegembiraan saat aku sampaikan rasa terima kasihku yang telah mendampingiku bertahun-tahun seiring berjalannya usia yang semakin bertambah. Tak lama, dia pun kembali masuk ke kamar untuk tidur.

Lewat dini hari, aku pun masuk ke kamar untuk tidur. Tentunya setelah berdoa khusus ulang tahun.

Lewat subuh, aku dengar mak Auli terbangun. Lalu berbisik mengatur rencana agar aku berpura-pura masih tidur nyenyak. Lalu dibangunkan Auli, dengan berbisik-bisik mengingatkan rencana membuat kejutan d ulang tahun. Aku tersenyum dalam hati dan semakin serius berpura-pura sedang tidur. Lalu mereka pergi sehingga tinggallah aku sendiri.

Tak lama, mereka masuk. Kali ini ada Elvis dan mamanya (paribanku yang kawin dengan marga Sinaga yang tinggal di Bekasi). Lalu ada nyanyian “selamat ulang tahun” dan usaha untuk membangunkanku. Pura-pura acuh, karena aku tahu kemudiannya pasti Auli akan mencium pipiku (ritual rahasia untuk membangunkan dari tidur …). Benar saja. Aku pun segera bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Lalu … byur! Bedak bayi ditaburkan Auli ke atas kepalaku. Tentu saja aku (pura-pura) kaget, lalu memeluk dan menciumnya, dengan tulus menyampaikan terima kasih atas kejutan yang sudah dirancangnya …

Tak berapa lama, ada yang membawa masuk kue ulang tahun. Black forest! Dengan dua lilin angka empat, jadilah empat puluh empat. Auli menyalakan lilin dan memintaku untuk meniup. Dengan malu-malu – karena sadar masih bau hosa – aku pun meniup lilinnya. Saat itulah aku baru sadar bahwa sedari tadi sudah direkam oleh mak Elvis. Sampai sekarang aku belum melihat hasil rekamannya, tapi bisa aku bayangkan betapa “aslinya” aku saat itu …

Hari itu aku setengah cuti. Malam sebelumnya ketika pulang dari Cianjur mempersiapkan rapat wilayah yang akan dihadiri semua petugas penjualan dari Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Kalimantan Barat, aku merasa lelah dan mengusulkan cuti sehari melalu SAP system sekalian dengan rencana cutiku untuk liburan dengan Auli di bulan depan. Aku tahu ada himbauan untuk tidak mengambil cuti Juni (ini biasa kalau situasi penjualan sedang “siaga satu”, apalagi bakal ada kenaikan harga bulan depan …). Cuti bulan Juli disetujui, terlihat dari notifikasi yang muncul di e-mail-ku kemudian. Yang untuk hari ini ‘nggak ada, tapi tak lama ada masuk pesan-pendek dari atasanku di Jakarta yang mengucapkan selamat ulang tahun. Bertahun-tahun jadi anak buah, baru kali ini aku mendapat ucapan selamat ulang tahun dari beliau.

Karena lama ‘nggak berenang, aku pun mengajak Elvis berenang ke sport club di komplek perumahan kami. Masih ada beberapa voucher sisa yang aku beli tahun lalu. Lebih satu bulan ‘nggak berenang, terutama didorong oleh cerita tentang seorang penatua di Bandung yang sangat tersiksa karena kena syaraf kejepit (sama sepertiku) aku pun tersadar untuk kembali setia berenang. Sejam kemudian, aku pun ke kantor berjalan kaki. Satu kemewahan dari Tuhan yang masih bisa aku nikmati sampai beberapa bulan kemudian sebelum kami pindah ke kota lain lagi …

Di kantor sudah disambut dengan office boy yang tadi sudah mengirim pesan-pendek mengucapkan selamat ulang tahun dengan masuk ke ruanganku mengantarkan teh tawar kebiasaanku. Di ruang depan teve aku melihat kue yang tadi aku pesankan ke mak Auli diantarkan ke kantor untuk dinikmati orang-orang yang ada di kantor. Buka notebook lalu melihat pencapaian target untuk hari itu. Puji Tuhan!

Sebelum meninggalkan kantor, ada yang datang menyalami untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Hari itu lumayan banyak yang mengucapkan selamat ulang tahun. Ada yang melalui telepon (setelah missed call beberapa kali karena kebiasaanku membuat ponsel dalam posisi silent). Dari mertuaku di Medan yang berulangkali kemudian menelepon karena beberapa kali terputus. Ada juga abangku tertua yang sedang bersiap-siap berangkat ke Australia untuk urusan pekerjaan. Ada lagi dari kawan penatua di Jakarta yang mengirim pesan-pendek setelah missed call. Dari seorang pendeta HKBP yang bertugas melayani di Sumatera Utara yang sampai sekarang komunikasi kami hanya melalui pesan-pendek. Masih ada lagi di yang di facebook. Banyaklah … Dan semua membuat gembira.

Usai makan siang, kami ke optik untuk mengambil kacamataku yang baru diganti lensanya. Sudah selesai sejak dua minggu lalu, tapi baru kali itu kami bisa mengambilnya (sibuk banget, ya kelihatannya?). Lalu ke toko buku Kristen Immanuel membeli buku wajib bulanan. Dilanjutkan dengan menonton ke Bandung Super Mall. Di Timur Matahari judulnya, film yang bagus sebagai bahan inspirasi. Habis nonton, lalu kami makan ke Punclut, dataran tinggi di pinggir kota Bandung.        

Hari yang melelahkan, sekaligus menyenangkan …

Iklan

Sudah Nonton “Soegija”? Mengingatkanku Pada “Nasib” HKBP

Ada satu tradisi yang berlaku di tengah keluarga kami yang kecil (dan bahagia, hehehe …), yaitu nonton bersama ke bioskop. Sebelum ada Auli kami melakukannya secara lebih teratur. Apalagi masa-masa ketika kami dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh: enam jam perjalanan darat dari Medan. Biasanya aku sampai di Medan sudah menjelang malam Minggu, sehingga aku berjanji dengan mak Auli ketemuan di satu bioskop jaringan nasional yang letaknya berdekatan dengan terminal bis yang membawaku dari Lhokseumawe, Aceh Utara. Bertahun-tahun …

Sekarang setelah ada Auli menjadi bagian dari keluarga kami, maka ada kewajiban untuk lebih selektif dalam memilih judul film. Selain untuk semua umur kategorinya, tentu saja setelah aku yakin dengan membaca sinopsisnya bahwa film tersebut memang menginspirasi (utamanya bagi Auli yang aku harapkan lebih memiliki hati nurani daripada sekadar mengejar intelektualitas yang membabi buta …). Jadi, beberapa film sudah kami tonton bersama. Dengan bareng datang ke studio bioskop, tentunya. Meskipun di rumah sudah ada teve kabel berlangganan yang setiap hari menayangkan film-film bagus (yang sayangnya kebanyakan tidak untuk semua usia) bila menonton ke bioskop tetap saja suasananya akan menjadi sangat jauh berbeda.

Ada prosesnya. Dimulai dengan pencarian judul yang pas, membaca sinopsis, lalu menentukan jadual yang kami bisa nikmati bersama. Di bioskop juga ada “ritualnya”: aku dan Auli ikut antrian membeli tiket, setelah menerima tiket biasanya Auli yang memegang tiket sampai nanti di depan pintu masuk studio, mak Auli yang bagian membeli makanan (biasanya pop corn) dan minuman (ini sangat jarang karena biasanya membawa termos minumannya sendiri dari rumah dan atau membawa Milo UHT yang siap untuk diminum).

Soegija yang Lumayan Menghebohkan 

Ketika dalam suatu acara talk show di teve swasta yang menampilkan beberapa pemain film Soegija ini dengan sedikit penampilan proses pembuatannya, aku sudah langsung berjanji untuk mengajak Auli dan mamaknya untuk menonton di bioskop nantinya. Beberapa judul buku dengan expose yang kuat di toko buku Gramedia juga semakin membuatku penasaran tentang film ini. Ditambahkan lagi kisahnya tentang nasionalisme (hal yang sangat menggugahku …) dengan latar belakang kehidupan seorang uskup (imam, yang sebenarnya ‘nggak perlu dekat-dekat amat dengan kehidupan sekular …) membuatku semakin yakin untuk mengajak tim (ini istilah yang mulai populer bagi kami bertiga, yakni “tim” …).

Datang setelah film diputar lebih dari sepuluh menit, namun esensi ceritanya tetaplah dapat aku tangkap. Bagaimana seorang uskup yang “dibesarkan” dalam masa kolonial Belanda harus menghadapi perlakuan yang sangat sulit dengan masuknya Jepang sebagai penjajah yang baru. Ketegasan sikapnya terhadap prinsip hidup berbangsa (100% Katolik, 100% Indonesia …), kewibawaan gereja (mengusir panglima tentara Jepang dari gereja dengan menegaskan bahwa Jepang harus menghormati gereja …), cinta kasihnya (dengan memberi semangat kepada rakyat yang menderita untuk tetap bertahan dalam Tuhan …), dan satu lagi: kewibawaan imam karena kerendahhatian (panglima gerilyawan selalu berkordinasi dengan Uskup Sugiya tentang situasi terakhir dan selalu datang dengan hormat …) dan kesederhanaan hidupnya, bagiku sangat inspiratif. Dan membuatku rindu, yakni rindu pada apa yang ada padaku (betapa jauhnya karakterku dan pelayanan yang sudah aku buat dibandingkan dengan teladan yang sudah ditunjuukan oleh Uskup Sugija) dan rindu pada pemimpinku. 

Uskup dan Eforus: Ada di Mana?

“Jangan membanding-bandingkan antara Uskup dengan Eforus”, adalah pernyataan yang bisa dibenarkan. Dengan berbagai alasan dan sudut pandang, memang ‘nggak terbandingkan antara kedua pejabat gereja dimaksud. Keduanya adalah pemimpin tertinggi, Uskup bagi umat Katolik (seluruh Indonesia untuk semua latar belakang suku bangsa) sedangkan Eforus bagi umat Kristen (seluruh Indonesia namun hanya bagi yang berlatar belakang Batak Toba pada umumnya …). Tak terbandingkan? Yah, mungkin saja …

Tapi bagiku, keduanya adalah pemimpin umat. Dalam jumlah yang banyak, tentu saja. Pertanyaannya: apakah kita memiliki pemimpin gereja (Eforus hanyalah “sekadar” representasi alias mewakili pemangku jabatan keimaman di gereja yang sebenarnya memiliki beberapa tingkatan …) saat itu dan saat ini? Saat itu, karena sejarah nasional dan situasi kontemporer yang dialami oleh umumnya bangsa ini pada masa itu adalah tidak jauh berbeda, misalnya antara Jawa dan Sumatera. Saat ini, karena kita sangat minim memiliki pemimpin dengan karakter yang layak dijadikan teladan …

Nama-nama besar – ada Garin Nugroho sebagai sutradara dan Butet Kertarajasa – di balik pembuatan filem ini dan cerita romantika yang di dalamnya (romansa Mariyem dengan wartawan foto Belanda dan seorang anak remaja buta huruf yang sangat terobsesi dengan perjuangan melawan penjajah dengan membawa pistol genggam ke mana-mana) menjadi kurang penting bagiku karena alam pikiranku segera membawa kerinduanku tentang kepemimpinan yang berkarakter yang ditampilkan oleh seorang Uskup Soegija ini berpuluh-puluh tahun yang lalu di bumi nusantara yang kita cintai ini …

Andaliman – 181 Khotbah 10 Juni 2012 Minggu Pertama Setelah Pentakosta

Tuhan Pengasih dan Penyelamat. Carilah yang Kekal! Eh, Ada Parhalado

Nas Epistel:  Mazmur 130:1-8 (bahasa Batak Psalmen)

130:1 Nyanyian ziarah. Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya TUHAN!

130:2 Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.

130:3 Jika Engkau, ya TUHAN, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan, Tuhan, siapakah yang dapat tahan?

130:4 Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.

130:5 Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya.

130:6 Jiwaku mengharapkan Tuhan lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi, lebih dari pada pengawal mengharapkan pagi.

130:7 Berharaplah kepada TUHAN, hai Israel! Sebab pada TUHAN ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan.

130:8 Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.

Nas Evangelium: 2 Korintus 4:16-18

4:16 Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibaharui dari sehari ke sehari. 4:17 Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.

4:18 Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal.

Mazmur yang menjadi nas perikop Ep Minggu ini menceritakan tentang seruan umat yang menderita dan menyadari dosanya. Beberapa rujukan menjelaskan tentang hal ini. “Orang yang menuai kesengsaraan dan siksaan dari dosa-dosa mereka sendiri dapat berseru kepada Allah dengan kepastian bahwa Dia akan mengampuni, menyembuhkan,dan mengembalikan mereka ke dalam persekutuan dengan diri-Nya. Allah ingin menunjukkan kasih setia-Nya kepada semua orang yang dalam kesulitan, menyelamatkan mereka dari perbudakan dosa supaya mereka dapat mengenal kasih, perhatian, dan kebaikan-Nya

 

Ini ratapan dan doa tobat, terutama mengungkapkan pengharapan pendoa pada Allah, Penyayang dan Pengampunan. Pemazmur insaf akan dosanya, namun tetap menaruh percaya pada Tuhan yang berbelas kasih. Berdasarkan kepercayaan itu pemazmur mengajak umat supaya juga tetap percaya, kendati dosanya.”. 

Alangkah indahnya, dan menyenangkannya manakala meyakini bahwa Tuhan pasti akan menerima kehadiran anak-Nya kembali setelah insyaf dari dosa-dosa. Hal ini yang membuatku semakin bersyukur pada Tuhan atas pengampunan yang selalu disediakan bagiku. Dengan syarat: ada kesadaran tentang perlakuan dan kelakuan yang salah yang telah diperbuat, dan kembali ke jalan yang benar.

 

Bagaimana hubungannya dengan apa yang disampaikan oleh Paulus dalam nas Ev Minggu ini? 

Tubuh semakin lama semakin tua (pastilah ini, ya …) dan kekuatannya juga akan semakin menurun dan mengarah kepada kematian. Melemahnya fisik (jasmani) cenderung diikuti oleh semakin melemahnya rohani. Berdasarkan pengalamanku, seringkali orang-orang percaya pada masa tuanya mengalami anti-klimaks karena situasi yang dihadapi pada masa tuanya. Sakit penyakit, penghasilan yang jauh menurun (gaji pensiunan sudah pasti ‘nggak sama dengan ketika masih pegawai aktif di instansi yang sama, ‘kan?), perasaan tidak bermanfaat dan tidak berguna (orang-orang yang lebih muda punya kesibukan sendiri sehingga merasa ditinggalkan …), adalah beberapa kondisi yang mampu menjauhkan orang percaya dari Tuhan.  

 

Paulus mengingatkan agar tubuh rohani jangan ikut-ikutan merosot. Bahkan dalam situasi dan kondisi yang bagaimanapun – bahkan dalam hidup yang “teraniaya” sekalipun – jangan sampai menjauhkan diri dari Kristus. “Sekalipun tubuh kita semakin tua dan merosot, kita mengalami pembaharuan yang terus-menerus melalui pemberian hidup dan kuasa Kristus yang terus berlangsung; pengaruh-Nya memungkinkan pikiran, perasaan, dan kehendak kita disesuaikan dan menjadi serupa dengan Dia dan tujuan kekal-Nya”, demikian disampaikan salah satu penafsir. 

Dengan berharap akan kehidupan yang kekal yang penuh dengan kemuliaan (‘yang tidak kelihatan”) maka penderitaan yang dialami oleh kehidupan di dunia ini menjadi “tidak ada apa-apanya”. Dan pengharapan seperti itulah yang menguatkan setiap orang percaya supaya tahan menderita dalam hidup yang “hanya” kurang dari seratus tahun. Bandingkan: menderita hidup 100 tahun di dunia dengan hidup dalam kemuliaan selama-lamanya di surga.

Sudah tentu hidup di dunia akan selalu diiringi oleh tantangan dan penderitaan yang adakalanya membuat jatuh. Nah, perikop Mazmur tadi mengingatkan untuk selalulah segera berseru meminta pertolongan kepada Tuhan dan kembali ke jalan-Nya setiap melakukan dosa.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Pemazmur menganalogikan harapan pertolongan dan keselamatan dengan pengawal kota yang selalu berharap malam segera berganti dengan pagi. Berganti dari gelap menjadi terang. Dari sesuatu yang menakutkan menjadi sukacita. Dalam Bibel kata “pengawal” diterjemahkan dengan parhal. Nah, dari kata tersebutlah kemudian ada parhalado, yakni parhal + ado. Artinya penjaga yang berjalan ke sana ke mari, yang berarti orang yang menjaga umat dengan cara mendatangi dan melayani warga jemaat. Pengetahuan yang tidak aku dapatkan bahkan saat masih menjadi calon penatua … 

Jadilah sebagaimana yang diajarkan pemazmur dan Paulus dalam perjumpaan kali ini.

Vertigo, Ndang Na Olo Sura Mago …

Minggu (10 Juni 2012) itu aku mendapat tugas pelayanan di Jakarta. Sebagaimana biasa, kami sudah melakukan persiapan untuk keberangkatan ke Jakarta agar tidak terlambat tiba di gereja. Di antaranya adalah tidur lebih awal malam sebelumnya karena Minggu besoknya kami harus bangun lebih awal untuk melakukan perjalanan jauh ke Jakarta. Artinya, bukanlah sesuatu yang luar biasa lagi karena kami sudah rutin melakukannya sejak tinggal di Bandung namun masih setia mengikatkan diri sebagai warga jemaat (dan pelayan tahbisan) di Jakarta.

Namun, subuh itu ada sesuatu yang luar biasa terjadi. Lewat jam lima mak Auli terbangun untuk bersiap-siap mempersiapkan keberangkatan kami ke Jakarta dengan seruan yang biasanya disampaikan, “Sudah jam lima lewat. Ayo bangun semua, kita mau ke Jakarta!“.  Tak ada sesuatu yang istimewa sampai ada teriakan dan keluhan, “Aduh, koq kepalaku tiba-tiba pusing dan sakit kali ya …“. Lalu beranjak ke ruang tamu, dan teriakannya makin keras sampai terdengar ke kamar tidur kami, “Pa, tolong … kepalaku koq pusing kali gini. Aduuhhh sakitnya …!!!”. Ini segera membuatku dengan sigap berlari ke ruang tamu.

Di situ aku melihatnya berteriak kesakitan dengan mimik dan nada yang sangat memprihatinkan. Tak jauh dari tempat mak Auli berbaring ada bekas muntahan. Ternyata teh manis hangat yang semula dibuat untuk menghangatkan diri dan menambah tenaga hanya bertahan sebentar karena segera saja dimuntahkan karena menahan pusing kepala yang sangat berat. “Ke rumah sakitlah kita, pa. Ayo, aku sudah tak tahan lagi sakitnya …”. ‘Nggak perlu memohon dua kali, segera aku bangunkan Auli dan mengajaknya beserta Aminah yang menjagai rumah kami untuk membawa mak Auli ke rumah sakit terdekat.

Pilihannya adalah Rumah Sakit Immanuel yang memang lumayan jauh dari rumah kontrakan kami di Batununggal. Menjadi pilihan karena pasti ada dokter jaga 24 jam. Kalau klinik yang ada lebih dekat, belum tentu punya dokter jaga sepagi itu. Padahal situasinya adalah darurat. “Buruanlah, pa. ‘Nyalakan aja lampu darurat supaya bisa lebih cepat sampai. Aduh Tuhan, tolong Tuhan … Aku sudah mau pingsan. Aduh sakitnya …”, adalah teriakan-teriakan yang aku dengar sepanjang perjalanan.

Sambil menyetir aku menelepon salah seorang anak buahku (yang ini sebenarnya dilarang sebagaimana seringkali aku sampaikan bilamana menjelaskan prinsip keselamatan mengemudi pada semua orang …) yang adalah orang Bandung yang aku yakini mengetahui lokasi dan jalan tercepat untuk sampai di rumah sakit dimaksud. Dengan komunikasi dua kali putus-nyambung akhirnya kami tiba juga di rumah sakit dimaksud. Mobil langsung aku arahkan ke unit gawat darurat. Arahan satpam yang melarangku untuk parkir di depan pintu UGD tidak ‘kuhiraukan. Yang penting, mak Auli ditangani dulu, baru urusan lain aku selesaikan, pikirku. Dan itu memang aku lakukan kemudian.

Setelah diinjeksi dokter dan meninggalkan mak Auli dengan dijaga Auli dan Aminah, aku pun keluar untuk merapikan parkir mobil lalu berurusan ke bagian pendaftaran. Ternyata di rumah sakit ini berlaku keanggotaan asuransi Aviva dari kantor sehingga aku hanya perlu membayar kelebihan biaya yang kurang dari seratus ribu rupiah saja. Lalu aku membeli roti tawar dan teh manis (sesuai permintaan mak Auli). Kantin belum buka, yang membuatku harus berjalan jauh ke luar komplek rumah sakit, ke minimarket di seberang jalan. Lumayan jugalah untuk sarapan tahap awal …

Lewat setengah jam, belum ada penanganan lagi. Mak Auli masih belum merasa nyaman dengan masih mengeluh pusing, meskipun tidak sesakit sebelumnya ketika belum sampai UGD. Aku pun mendatangi dokter jaga untuk menyarankan agar disuntikkan obat tidur saja supaya istirahat. Ini berdasarkan pengalamanku ketika mak Auli “berkenalan” dengan penyakit yang disebut vertigo ini. Pertama kali di Aceh lebih sepuluh tahun yang lalu. Saat itu dokter tentara di RS Korem “bingung” menangani pasien yang menjerit-jerit karena sakit kepala dan lidah kelu seperti itu. Dokternya masih muda, dan lebih bingung lagi ketika aku menyarankan untuk menyuntik mak Auli dengan obat tidur, yang kemudian aku yang menjadi bingung karena sadar malah sudah mengajari dokter untuk melakukan tindakan. Puji Tuhan, kemudian mak Auli tertidur lelap dan terbangun dalam kondisi yang jauh lebih baik.

Lebih lima tahun yang lalu terjadi hal yang sama. Pagi itu mak Auli mengeluh pusing berat, lalu muntah-muntah. Karena tinggal di Kelapa Gading, maka aku pun membawanya ke RS Gading Pluit. Dengan sigap dokter jaga menyuntikkan obat tidur yang segera membuat mak Auli tertidur. Melihatnya lelap, kami pun pulang ke rumah. Ketika kembali ke rumah sakit kurang sejam kemudian (rumah kami sangat dekat ke lokasi rumah sakit), mak Auli sudah segar dan sudah bisa tertawa-tawa. Lalu kami langsung pulang …

Kali ini di RS Immanuel di Bandung ini, lain ceritanya. “‘Nggak bisa sembarangan memberikan suntikan obat tidur, pak. Tadi ‘kan sudah disuntik obat anti mual, kita tunggu saja setengah jam reaksinya. Kalau memang perlu, barulah kita suntikkan lagi”, jawab dokter jaga ketika aku mencoba “mengingatkannya” sambil menceritakan pengalaman dua peristiwa yang sama sebelumnya. Tak lama kemudian, “ilmu” yang aku “ajarkan” itu dilaksanakan juga” mak Auli disuntik obat tidur. Dan segeralah mak Auli terlelap …

Mungkin dosisnya ‘nggak terlalu berat, setengah jam terlelap, mak Auli langsung terbangun (mungkin juga karena banyaknya pasien yang mengalami kecelakaan yang lumayan banyak dibawa ke UGD pada Minggu pagi itu). Setelah rada tenang dan enakan, dan menyelesaikan urusan administrasi, kami pun pulang ke rumah. Sampai di rumah, istirahatnya dilanjutkan. Aku melihat iPhone-ku dan menerima dua jawaban dari dua orang pendeta: dua-duanya menyampaikan ucapan semoga cepat sembuh, plus satu konfirmasi bahwa pelayan yang menggantikanku sudah dicari.

Karena bangun lebih awal, dan lumayan lelah mengurus ke rumah sakit, seharian itu kami bertiga tertidur di sofa panjang di ruang tamu di depan teve. Berbaris. Aku paling ujung, lalu mak Auli di kakiku, dan Auli di paling ujung. Ma’af, Minggu itu kami tidak mengikuti ibadah di gereja karena terbangun sudah jam tujuh malam …