Andaliman – 179 Khotbah 27 Mei 2012 Minggu Pentakosta

Do’a dan Pengharapan. ‘Gimana dengan Bahasa Roh?

Nas Epistel:  Kisah Rasul 2:1-13 (bahasa Batak: Ulaon Apostel)

2:1 Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. 2:2 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;

2:3 dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.

2:4 Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

2:5 Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.

2:6 Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

2:7 Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?

2:8 Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita:

2:9 kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia,

2:10 Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma,

2:11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.”

2:12 Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?”

2:13 Tetapi orang lain menyindir: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”

Nas Evangelium: Roma 8:22-27

8:22 Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin.

8:23 Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita.

8:24 Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya?

8:25 Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun.

8:26 Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

8:27 Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

Selamat hari Pentakosta! Minggu ini aku mendapat kehormatan menyampaikan firman di Bandung. Topik yang menarik – dan sangat menantang bagiku, mengingat topiknya adalah pelimpahan Roh Kudus kepada murid-murid. Tentang Roh Kudus dari nas perikop yang menjadi Ep dan Ev (salah satu Minggu yang sangat ‘nyambung antara Ep dan Ev di tahun 2012 ini, menurutku …) pemahaman kunci yang ingin aku sampaikan adalah sebagai berikut:

(1)   Dipenuhi Roh Kudus lalu berbahasa dalam berbagai bahasa hanya satu kali ini saja tercatat dalam Alkitab, dan berbeda dengan glosolalia di mana pada satu kumpulan tersebut yang penuh dengan orang-orang berbahasa Roh memerlukan orang tertentu untuk “menerjemahkan” agar memahami apa yang sedang disampaikan oleh pengkhotbah. Pada perikop ini, para rasul yang biasanya banyak menggunakan bahasa Aram sebagai bahasa pengantar kehidupan sehari-hari, malah menggunakan bahasa-bahasa lain (yang sama sekali mereka sendiri belum pernah mempelajari, apalagi menggunakannya!) sehingga dipahami oleh bangsa-bangsa lain yang sedang berkumpul pada saat itu. Jadi, kalau ada yang sedang trend saat ini di mana dalam suatu ibadah yang diklaim penuh dengan Roh Kudus sehingga beberapa orang (biasanya pemimpin ibadah dan atau pengkhotbah) malah berbahasa yang tidak dimengerti oleh jemaat (dan bahkan mungkin dirinya sendiri …) karena dalam do’anya mengatakan “hararararararabababarararrarara …”, patutlah kita bertanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi …

(2)   Roh Kudus dalam eksistensinya selalu memberikan pencerahan dan hal-hal yang positif. Tidak pernah malah mengaburkan atau membuat orang yang dihinggapinya menjadi tidak sadarkan diri, mengigau, atau kesurupan. Tentulah kita semua sangat paham akan perbedaan antara yang sedang dirasuki Roh Kudus dengan yang sedang dirasuki oleh setan alias siar-siaron, ‘kan?

(3)   Dalam setiap orang percaya sudah di-install Tuhan apa yang menurut teologi Kristen sebagai Roh Kudus. Tinggal bagaimana setiap orang tersebut mengizinkan Roh tersebut bekerja dalam dirinya. Dan mendengarkan firman Tuhan serta terlibat dalam setiap persekutuan orang percaya yang sehat adalah cara untuk semakin menguatkan eksistensi-Nya dalam kehidupan.

(4)   Pekerjaan Roh Kudus adalah hal-hal yang supranatural, namun itu bukan berarti akal sehat menjadi tidak berguna, karena akal sehat adalah juga karunia Tuhan. Artinya akal sehat jangan sampai ‘nggak dipakai sehingga menjadi sesat karena terpana dengan pertunjukan yang sedang ditampilkan. Seperti itulah yang terjadi pada nas perikop Minggu ini di mana ada sebagian orang malah mengira para rasul sedang mengalami kemabukan karena minum anggur.

(5)   Berdoa harus tetap dilakukan oleh orang percaya, karena dengan doalah komunikasi yang intens dengan Tuhan tetap terjalin. Jangan ragu dengan kosa-kata, karena Roh Kudus yang akan menerjemahkan isi hati pendoa sehingga layak untuk diterima dan “dimengerti” oleh Allah Bapa di sorga (tanpa kutip sengaja aku pakai, karena tentu saja Allah Bapa mengerti semua bahasa dan isi hati …).

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Seringkali kita terkesima dengan pertunjukan yang sedang dilakukan oleh orang-orang yang mengklaim dirinya dipenuhi dengan Roh Kudus. Sebagai orang percaya, kita boleh saja berbangga dengan adanya orang-orang seperti itu, dengan syarat: jangan sampai menjauhkan kita dari ajaran yang sebenarnya alias yang alkitabiah. Sekarang ini mudah sekali ajaran sehat berubah menjadi ajaran sesat.

Waspadalah!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s