Empat Puluh Empat. Semoga Makin Berhikmat. Dan Tambah Berkat …

Hari ini aku berulang tahun. Ke-44. Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Belum banyak yang bisa aku perbuat.

Tadi malam menjelang menonton siaran langsung Piala Eropa (Euro Cup) antara Portugal dan Belanda, aku lihat anakku Auli dan anak paribanku yang sedang berlibur di Bandung dan menginap di rumah seperti biasanya, kasak-kusuk berbisik-bisik satu sama lain dan mak Auli. Belakangan – persisnya, besoknya – aku tahu bahwa mereka merencanakan membuat kejutan bagiku. Karena aku bilang akan tidur di sofa di depan teve, eh … mereka ‘ngotot ikut-ikutan tidur di depan teve dengan meminta agar kasur disiapkan buat mereka. Maksud mereka, tepat jam 00.00 mereka akan melakukan sesuatu kejutan buatku … Ternyata satu demi satu mereka pindah tidur ke kamar (karena kurang nyaman, tentunya …). Jadilah aku menonton pertandingan sepakbola sendirian, sama seperti malam-malam sebelumnya …

Tepat jam nol nol lewat nol nol – yang berarti sudah Selasa, 19 Juni 2012 – aku berdoa pendek menaikkan puji syukur dan terima kasih kepada Tuhan untuk penyertaannya sampai aku berumur “setua” ini, hehehe … Lalu mengirim surel alias surat elektronik alias e-mail pakai iPhone-ku ke teman seperusahaan yang menjadi Area Sales Manager di Palembang yang ulang tahunnya juga tepat pada hari itu. Beliau teman seperjuangan sejak sama-sama bertugas di Medan lebih sepuluh tahun yang lalu.  

Tiba-tiba mak Auli keluar kamar, lalu mendatangiku untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Terlihat wajahnya letih karena kurang tidur beberapa hari ini (dampak lanjutan kambuhnya vertigo-nya minggu lalu …) namun ada kegembiraan saat aku sampaikan rasa terima kasihku yang telah mendampingiku bertahun-tahun seiring berjalannya usia yang semakin bertambah. Tak lama, dia pun kembali masuk ke kamar untuk tidur.

Lewat dini hari, aku pun masuk ke kamar untuk tidur. Tentunya setelah berdoa khusus ulang tahun.

Lewat subuh, aku dengar mak Auli terbangun. Lalu berbisik mengatur rencana agar aku berpura-pura masih tidur nyenyak. Lalu dibangunkan Auli, dengan berbisik-bisik mengingatkan rencana membuat kejutan d ulang tahun. Aku tersenyum dalam hati dan semakin serius berpura-pura sedang tidur. Lalu mereka pergi sehingga tinggallah aku sendiri.

Tak lama, mereka masuk. Kali ini ada Elvis dan mamanya (paribanku yang kawin dengan marga Sinaga yang tinggal di Bekasi). Lalu ada nyanyian “selamat ulang tahun” dan usaha untuk membangunkanku. Pura-pura acuh, karena aku tahu kemudiannya pasti Auli akan mencium pipiku (ritual rahasia untuk membangunkan dari tidur …). Benar saja. Aku pun segera bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. Lalu … byur! Bedak bayi ditaburkan Auli ke atas kepalaku. Tentu saja aku (pura-pura) kaget, lalu memeluk dan menciumnya, dengan tulus menyampaikan terima kasih atas kejutan yang sudah dirancangnya …

Tak berapa lama, ada yang membawa masuk kue ulang tahun. Black forest! Dengan dua lilin angka empat, jadilah empat puluh empat. Auli menyalakan lilin dan memintaku untuk meniup. Dengan malu-malu – karena sadar masih bau hosa – aku pun meniup lilinnya. Saat itulah aku baru sadar bahwa sedari tadi sudah direkam oleh mak Elvis. Sampai sekarang aku belum melihat hasil rekamannya, tapi bisa aku bayangkan betapa “aslinya” aku saat itu …

Hari itu aku setengah cuti. Malam sebelumnya ketika pulang dari Cianjur mempersiapkan rapat wilayah yang akan dihadiri semua petugas penjualan dari Jabodetabek, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Kalimantan Barat, aku merasa lelah dan mengusulkan cuti sehari melalu SAP system sekalian dengan rencana cutiku untuk liburan dengan Auli di bulan depan. Aku tahu ada himbauan untuk tidak mengambil cuti Juni (ini biasa kalau situasi penjualan sedang “siaga satu”, apalagi bakal ada kenaikan harga bulan depan …). Cuti bulan Juli disetujui, terlihat dari notifikasi yang muncul di e-mail-ku kemudian. Yang untuk hari ini ‘nggak ada, tapi tak lama ada masuk pesan-pendek dari atasanku di Jakarta yang mengucapkan selamat ulang tahun. Bertahun-tahun jadi anak buah, baru kali ini aku mendapat ucapan selamat ulang tahun dari beliau.

Karena lama ‘nggak berenang, aku pun mengajak Elvis berenang ke sport club di komplek perumahan kami. Masih ada beberapa voucher sisa yang aku beli tahun lalu. Lebih satu bulan ‘nggak berenang, terutama didorong oleh cerita tentang seorang penatua di Bandung yang sangat tersiksa karena kena syaraf kejepit (sama sepertiku) aku pun tersadar untuk kembali setia berenang. Sejam kemudian, aku pun ke kantor berjalan kaki. Satu kemewahan dari Tuhan yang masih bisa aku nikmati sampai beberapa bulan kemudian sebelum kami pindah ke kota lain lagi …

Di kantor sudah disambut dengan office boy yang tadi sudah mengirim pesan-pendek mengucapkan selamat ulang tahun dengan masuk ke ruanganku mengantarkan teh tawar kebiasaanku. Di ruang depan teve aku melihat kue yang tadi aku pesankan ke mak Auli diantarkan ke kantor untuk dinikmati orang-orang yang ada di kantor. Buka notebook lalu melihat pencapaian target untuk hari itu. Puji Tuhan!

Sebelum meninggalkan kantor, ada yang datang menyalami untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Hari itu lumayan banyak yang mengucapkan selamat ulang tahun. Ada yang melalui telepon (setelah missed call beberapa kali karena kebiasaanku membuat ponsel dalam posisi silent). Dari mertuaku di Medan yang berulangkali kemudian menelepon karena beberapa kali terputus. Ada juga abangku tertua yang sedang bersiap-siap berangkat ke Australia untuk urusan pekerjaan. Ada lagi dari kawan penatua di Jakarta yang mengirim pesan-pendek setelah missed call. Dari seorang pendeta HKBP yang bertugas melayani di Sumatera Utara yang sampai sekarang komunikasi kami hanya melalui pesan-pendek. Masih ada lagi di yang di facebook. Banyaklah … Dan semua membuat gembira.

Usai makan siang, kami ke optik untuk mengambil kacamataku yang baru diganti lensanya. Sudah selesai sejak dua minggu lalu, tapi baru kali itu kami bisa mengambilnya (sibuk banget, ya kelihatannya?). Lalu ke toko buku Kristen Immanuel membeli buku wajib bulanan. Dilanjutkan dengan menonton ke Bandung Super Mall. Di Timur Matahari judulnya, film yang bagus sebagai bahan inspirasi. Habis nonton, lalu kami makan ke Punclut, dataran tinggi di pinggir kota Bandung.        

Hari yang melelahkan, sekaligus menyenangkan …

Iklan

2 comments on “Empat Puluh Empat. Semoga Makin Berhikmat. Dan Tambah Berkat …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s