Sudah Nonton “Soegija”? Mengingatkanku Pada “Nasib” HKBP

Ada satu tradisi yang berlaku di tengah keluarga kami yang kecil (dan bahagia, hehehe …), yaitu nonton bersama ke bioskop. Sebelum ada Auli kami melakukannya secara lebih teratur. Apalagi masa-masa ketika kami dipisahkan oleh jarak yang sangat jauh: enam jam perjalanan darat dari Medan. Biasanya aku sampai di Medan sudah menjelang malam Minggu, sehingga aku berjanji dengan mak Auli ketemuan di satu bioskop jaringan nasional yang letaknya berdekatan dengan terminal bis yang membawaku dari Lhokseumawe, Aceh Utara. Bertahun-tahun …

Sekarang setelah ada Auli menjadi bagian dari keluarga kami, maka ada kewajiban untuk lebih selektif dalam memilih judul film. Selain untuk semua umur kategorinya, tentu saja setelah aku yakin dengan membaca sinopsisnya bahwa film tersebut memang menginspirasi (utamanya bagi Auli yang aku harapkan lebih memiliki hati nurani daripada sekadar mengejar intelektualitas yang membabi buta …). Jadi, beberapa film sudah kami tonton bersama. Dengan bareng datang ke studio bioskop, tentunya. Meskipun di rumah sudah ada teve kabel berlangganan yang setiap hari menayangkan film-film bagus (yang sayangnya kebanyakan tidak untuk semua usia) bila menonton ke bioskop tetap saja suasananya akan menjadi sangat jauh berbeda.

Ada prosesnya. Dimulai dengan pencarian judul yang pas, membaca sinopsis, lalu menentukan jadual yang kami bisa nikmati bersama. Di bioskop juga ada “ritualnya”: aku dan Auli ikut antrian membeli tiket, setelah menerima tiket biasanya Auli yang memegang tiket sampai nanti di depan pintu masuk studio, mak Auli yang bagian membeli makanan (biasanya pop corn) dan minuman (ini sangat jarang karena biasanya membawa termos minumannya sendiri dari rumah dan atau membawa Milo UHT yang siap untuk diminum).

Soegija yang Lumayan Menghebohkan 

Ketika dalam suatu acara talk show di teve swasta yang menampilkan beberapa pemain film Soegija ini dengan sedikit penampilan proses pembuatannya, aku sudah langsung berjanji untuk mengajak Auli dan mamaknya untuk menonton di bioskop nantinya. Beberapa judul buku dengan expose yang kuat di toko buku Gramedia juga semakin membuatku penasaran tentang film ini. Ditambahkan lagi kisahnya tentang nasionalisme (hal yang sangat menggugahku …) dengan latar belakang kehidupan seorang uskup (imam, yang sebenarnya ‘nggak perlu dekat-dekat amat dengan kehidupan sekular …) membuatku semakin yakin untuk mengajak tim (ini istilah yang mulai populer bagi kami bertiga, yakni “tim” …).

Datang setelah film diputar lebih dari sepuluh menit, namun esensi ceritanya tetaplah dapat aku tangkap. Bagaimana seorang uskup yang “dibesarkan” dalam masa kolonial Belanda harus menghadapi perlakuan yang sangat sulit dengan masuknya Jepang sebagai penjajah yang baru. Ketegasan sikapnya terhadap prinsip hidup berbangsa (100% Katolik, 100% Indonesia …), kewibawaan gereja (mengusir panglima tentara Jepang dari gereja dengan menegaskan bahwa Jepang harus menghormati gereja …), cinta kasihnya (dengan memberi semangat kepada rakyat yang menderita untuk tetap bertahan dalam Tuhan …), dan satu lagi: kewibawaan imam karena kerendahhatian (panglima gerilyawan selalu berkordinasi dengan Uskup Sugiya tentang situasi terakhir dan selalu datang dengan hormat …) dan kesederhanaan hidupnya, bagiku sangat inspiratif. Dan membuatku rindu, yakni rindu pada apa yang ada padaku (betapa jauhnya karakterku dan pelayanan yang sudah aku buat dibandingkan dengan teladan yang sudah ditunjuukan oleh Uskup Sugija) dan rindu pada pemimpinku. 

Uskup dan Eforus: Ada di Mana?

“Jangan membanding-bandingkan antara Uskup dengan Eforus”, adalah pernyataan yang bisa dibenarkan. Dengan berbagai alasan dan sudut pandang, memang ‘nggak terbandingkan antara kedua pejabat gereja dimaksud. Keduanya adalah pemimpin tertinggi, Uskup bagi umat Katolik (seluruh Indonesia untuk semua latar belakang suku bangsa) sedangkan Eforus bagi umat Kristen (seluruh Indonesia namun hanya bagi yang berlatar belakang Batak Toba pada umumnya …). Tak terbandingkan? Yah, mungkin saja …

Tapi bagiku, keduanya adalah pemimpin umat. Dalam jumlah yang banyak, tentu saja. Pertanyaannya: apakah kita memiliki pemimpin gereja (Eforus hanyalah “sekadar” representasi alias mewakili pemangku jabatan keimaman di gereja yang sebenarnya memiliki beberapa tingkatan …) saat itu dan saat ini? Saat itu, karena sejarah nasional dan situasi kontemporer yang dialami oleh umumnya bangsa ini pada masa itu adalah tidak jauh berbeda, misalnya antara Jawa dan Sumatera. Saat ini, karena kita sangat minim memiliki pemimpin dengan karakter yang layak dijadikan teladan …

Nama-nama besar – ada Garin Nugroho sebagai sutradara dan Butet Kertarajasa – di balik pembuatan filem ini dan cerita romantika yang di dalamnya (romansa Mariyem dengan wartawan foto Belanda dan seorang anak remaja buta huruf yang sangat terobsesi dengan perjuangan melawan penjajah dengan membawa pistol genggam ke mana-mana) menjadi kurang penting bagiku karena alam pikiranku segera membawa kerinduanku tentang kepemimpinan yang berkarakter yang ditampilkan oleh seorang Uskup Soegija ini berpuluh-puluh tahun yang lalu di bumi nusantara yang kita cintai ini …

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s