Vertigo, Ndang Na Olo Sura Mago …

Minggu (10 Juni 2012) itu aku mendapat tugas pelayanan di Jakarta. Sebagaimana biasa, kami sudah melakukan persiapan untuk keberangkatan ke Jakarta agar tidak terlambat tiba di gereja. Di antaranya adalah tidur lebih awal malam sebelumnya karena Minggu besoknya kami harus bangun lebih awal untuk melakukan perjalanan jauh ke Jakarta. Artinya, bukanlah sesuatu yang luar biasa lagi karena kami sudah rutin melakukannya sejak tinggal di Bandung namun masih setia mengikatkan diri sebagai warga jemaat (dan pelayan tahbisan) di Jakarta.

Namun, subuh itu ada sesuatu yang luar biasa terjadi. Lewat jam lima mak Auli terbangun untuk bersiap-siap mempersiapkan keberangkatan kami ke Jakarta dengan seruan yang biasanya disampaikan, “Sudah jam lima lewat. Ayo bangun semua, kita mau ke Jakarta!“.  Tak ada sesuatu yang istimewa sampai ada teriakan dan keluhan, “Aduh, koq kepalaku tiba-tiba pusing dan sakit kali ya …“. Lalu beranjak ke ruang tamu, dan teriakannya makin keras sampai terdengar ke kamar tidur kami, “Pa, tolong … kepalaku koq pusing kali gini. Aduuhhh sakitnya …!!!”. Ini segera membuatku dengan sigap berlari ke ruang tamu.

Di situ aku melihatnya berteriak kesakitan dengan mimik dan nada yang sangat memprihatinkan. Tak jauh dari tempat mak Auli berbaring ada bekas muntahan. Ternyata teh manis hangat yang semula dibuat untuk menghangatkan diri dan menambah tenaga hanya bertahan sebentar karena segera saja dimuntahkan karena menahan pusing kepala yang sangat berat. “Ke rumah sakitlah kita, pa. Ayo, aku sudah tak tahan lagi sakitnya …”. ‘Nggak perlu memohon dua kali, segera aku bangunkan Auli dan mengajaknya beserta Aminah yang menjagai rumah kami untuk membawa mak Auli ke rumah sakit terdekat.

Pilihannya adalah Rumah Sakit Immanuel yang memang lumayan jauh dari rumah kontrakan kami di Batununggal. Menjadi pilihan karena pasti ada dokter jaga 24 jam. Kalau klinik yang ada lebih dekat, belum tentu punya dokter jaga sepagi itu. Padahal situasinya adalah darurat. “Buruanlah, pa. ‘Nyalakan aja lampu darurat supaya bisa lebih cepat sampai. Aduh Tuhan, tolong Tuhan … Aku sudah mau pingsan. Aduh sakitnya …”, adalah teriakan-teriakan yang aku dengar sepanjang perjalanan.

Sambil menyetir aku menelepon salah seorang anak buahku (yang ini sebenarnya dilarang sebagaimana seringkali aku sampaikan bilamana menjelaskan prinsip keselamatan mengemudi pada semua orang …) yang adalah orang Bandung yang aku yakini mengetahui lokasi dan jalan tercepat untuk sampai di rumah sakit dimaksud. Dengan komunikasi dua kali putus-nyambung akhirnya kami tiba juga di rumah sakit dimaksud. Mobil langsung aku arahkan ke unit gawat darurat. Arahan satpam yang melarangku untuk parkir di depan pintu UGD tidak ‘kuhiraukan. Yang penting, mak Auli ditangani dulu, baru urusan lain aku selesaikan, pikirku. Dan itu memang aku lakukan kemudian.

Setelah diinjeksi dokter dan meninggalkan mak Auli dengan dijaga Auli dan Aminah, aku pun keluar untuk merapikan parkir mobil lalu berurusan ke bagian pendaftaran. Ternyata di rumah sakit ini berlaku keanggotaan asuransi Aviva dari kantor sehingga aku hanya perlu membayar kelebihan biaya yang kurang dari seratus ribu rupiah saja. Lalu aku membeli roti tawar dan teh manis (sesuai permintaan mak Auli). Kantin belum buka, yang membuatku harus berjalan jauh ke luar komplek rumah sakit, ke minimarket di seberang jalan. Lumayan jugalah untuk sarapan tahap awal …

Lewat setengah jam, belum ada penanganan lagi. Mak Auli masih belum merasa nyaman dengan masih mengeluh pusing, meskipun tidak sesakit sebelumnya ketika belum sampai UGD. Aku pun mendatangi dokter jaga untuk menyarankan agar disuntikkan obat tidur saja supaya istirahat. Ini berdasarkan pengalamanku ketika mak Auli “berkenalan” dengan penyakit yang disebut vertigo ini. Pertama kali di Aceh lebih sepuluh tahun yang lalu. Saat itu dokter tentara di RS Korem “bingung” menangani pasien yang menjerit-jerit karena sakit kepala dan lidah kelu seperti itu. Dokternya masih muda, dan lebih bingung lagi ketika aku menyarankan untuk menyuntik mak Auli dengan obat tidur, yang kemudian aku yang menjadi bingung karena sadar malah sudah mengajari dokter untuk melakukan tindakan. Puji Tuhan, kemudian mak Auli tertidur lelap dan terbangun dalam kondisi yang jauh lebih baik.

Lebih lima tahun yang lalu terjadi hal yang sama. Pagi itu mak Auli mengeluh pusing berat, lalu muntah-muntah. Karena tinggal di Kelapa Gading, maka aku pun membawanya ke RS Gading Pluit. Dengan sigap dokter jaga menyuntikkan obat tidur yang segera membuat mak Auli tertidur. Melihatnya lelap, kami pun pulang ke rumah. Ketika kembali ke rumah sakit kurang sejam kemudian (rumah kami sangat dekat ke lokasi rumah sakit), mak Auli sudah segar dan sudah bisa tertawa-tawa. Lalu kami langsung pulang …

Kali ini di RS Immanuel di Bandung ini, lain ceritanya. “‘Nggak bisa sembarangan memberikan suntikan obat tidur, pak. Tadi ‘kan sudah disuntik obat anti mual, kita tunggu saja setengah jam reaksinya. Kalau memang perlu, barulah kita suntikkan lagi”, jawab dokter jaga ketika aku mencoba “mengingatkannya” sambil menceritakan pengalaman dua peristiwa yang sama sebelumnya. Tak lama kemudian, “ilmu” yang aku “ajarkan” itu dilaksanakan juga” mak Auli disuntik obat tidur. Dan segeralah mak Auli terlelap …

Mungkin dosisnya ‘nggak terlalu berat, setengah jam terlelap, mak Auli langsung terbangun (mungkin juga karena banyaknya pasien yang mengalami kecelakaan yang lumayan banyak dibawa ke UGD pada Minggu pagi itu). Setelah rada tenang dan enakan, dan menyelesaikan urusan administrasi, kami pun pulang ke rumah. Sampai di rumah, istirahatnya dilanjutkan. Aku melihat iPhone-ku dan menerima dua jawaban dari dua orang pendeta: dua-duanya menyampaikan ucapan semoga cepat sembuh, plus satu konfirmasi bahwa pelayan yang menggantikanku sudah dicari.

Karena bangun lebih awal, dan lumayan lelah mengurus ke rumah sakit, seharian itu kami bertiga tertidur di sofa panjang di ruang tamu di depan teve. Berbaris. Aku paling ujung, lalu mak Auli di kakiku, dan Auli di paling ujung. Ma’af, Minggu itu kami tidak mengikuti ibadah di gereja karena terbangun sudah jam tujuh malam …      

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s