Andaliman – 187 Khotbah 22 Juli 2012 Minggu VII Setelah Trinitatis

Pernah Naik Pesawat? Ilustrasi Kehidupan Bergereja Kita

Nas Evangelium Efesus 2:11-22

2:11 Karena itu ingatlah, bahwa dahulu kamu–sebagai orang-orang bukan Yahudi menurut daging, yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya “sunat”, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia, —

2:12 bahwa waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.

2:13 Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus kamu, yang dahulu “jauh”, sudah menjadi “dekat” oleh darah Kristus.

2:14 Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan,

2:15 sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera,

2:16 dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.

2:17 Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang “jauh” dan damai sejahtera kepada mereka yang “dekat”,

2:18 karena oleh Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.

2:19 Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah,

2:20 yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru.

2:21 Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapih tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.

2:22 Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.  

Nas Epistel Yeremia 23:1-8

23:1 “Celakalah para gembala yang membiarkan kambing domba gembalaan-Ku hilang dan terserak!” –demikianlah firman TUHAN.

23:2 Sebab itu beginilah firman TUHAN, Allah Israel, terhadap para gembala yang menggembalakan bangsaku: “Kamu telah membiarkan kambing domba-Ku terserak dan tercerai-berai, dan kamu tidak menjaganya. Maka ketahuilah, Aku akan membalaskan kepadamu perbuatan-perbuatanmu yang jahat, demikianlah firman TUHAN.

23:3 Dan Aku sendiri akan mengumpulkan sisa-sisa kambing domba-Ku dari segala negeri ke mana Aku menceraiberaikan mereka, dan Aku akan membawa mereka kembali ke padang mereka: mereka akan berkembang biak dan bertambah banyak.

23:4 Aku akan mengangkat atas mereka gembala-gembala yang akan menggembalakan mereka, sehingga mereka tidak takut lagi, tidak terkejut dan tidak hilang seekorpun, demikianlah firman TUHAN.

23:5 Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN, bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri.

23:6 Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: TUHAN–keadilan kita.

23:7 Sebab itu, demikianlah firman TUHAN, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa orang tidak lagi mengatakan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!,

23:8 melainkan: Demi TUHAN yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberaikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri.”  

Ketika mempersiapkan khotbah ini – yang rada kepepet karena permintaan membawakan firman ini baru aku terima kurang dari seminggu yang lalu dan “segan” untuk menolak setelah bulan lalu juga menolak karena permintaan yang mendadak seperti ini juga – aku tertuntun dengan bacaan yang sedang aku gemari, yakni meneladani karakter Kristus. Bisa menjadi unik, dan tentu saja menarik. Berikut ini adalah konsep yang aku bayangkan tentang penyampaiannya di mimbar.

Siapa yang belum pernah naik pesawat? Tidak ada? Oh, ma’af mungkin ada yang malu mengacungkan tangan. Aku ganti saja pertanyaannya: siapa yang sudah pernah naik pesawat? Nah, baru terlihat banyak yang menunjuk tangan … Aku beberapa kali naik pesawat. Dari kota kita ini langsung ke Medan. Ada penerbangan yang langsung, tanpa melalui Jakarta. Berita terakhir mengatakan bahwa sudah bertambah maskapai penerbangan yang menyediakan penerbangan langsung ke Medan. Aku pun baru mengetahuinya karena beberapa hari ini isteriku – mamak si Auli – rajin melakukan browsing mencari tiket pesawat murah untuk merencanakan pulang ke Medan menghadiri pesta adat keluarga besar di Medan bulan September yang akan datang. Sebagaimana kita ketahui, semakin cepat kita memesan tiket maka semakin murah harga yang harus kita bayar.

Sebelumnya hanya ada satu kali, namun beberapa bulan ini ditingkatkan menjadi dua penerbangan ke Medan setiap hari. Pertama subuh, lalu pagi jam 10. Dari Medan kembali jam enam sore. Jadi bagi yang marulaon adat, masih bias mengikutinya tanpa harus menginap di Medan. Dan pernah pada suatu kali penerbangan aku merasa di rumah sendiri karena banyaknya penumpang yang adalah orang Batak yang mau maradat di Medan.

Ada satu kerinduanku sampai sekarang, yakni masuk ke kokpit, bertemu pilot, dan berbincang-bincang sejenak sambil mengagumi betapa canggihnya instrument penerbangan di sana. Itu adalah kesempatan yang langka, apalagi zaman sekarang di mana keselamatan penerbangan sangat diperhatikan, utamanya dari gangguan teroris.

Menurut cerita, pada suatu kali, seorang anak naik ke pesawat. Di depan pintu dia setengah berteriak, “Apakah penerbangan kali ini aku diizinkan untuk masuk ke kokpit?”. Entah karena teriakannya yang kuat atau hal lain, akhirnya sang pilot mengundangnya masuk untuk melihat-lihat suasana di kokpit menjelang persiapan untuk lepas landas. Tak berapa lama kemudian, anak tersebut keluar dari kokpit dengan wajah yang sangat gembira. Sangat puas karena apa yang diidamkannya selama ini bisa terwujud. Wajahnya memancarkan sukacita yang sangat dalam …

Sekarang kita bayangkan kita duduk di dalam pesawat. Bukan di kokpit, karena pesawat sebentar lagi akan diterbangkan. Hampir semua menunjukkan wajah senang. Senang karena akhirnya berada di pesawat setelah lama menunggu di ruang tunggu. Senang karena tak berapa lama akan berangkat dan sampai di tujuan. Tentu saja semua penumpang tahu tujuan penerbangannya kali itu. Ada serombongan ibu-ibu muda yang berteriak girang dengan sesama temannya. Dari pakaiannya dan belanjaan yang dibawa besar kemungkinan mereka baru liburan dan berbelanja di factory outlet. Sangat ekspresif!

Ada juga seorang eksekutif muda yang dengan wajah murung sangat serius memandangi laptop yang terbuka (yang sebentar lagi harus dimatikan karena alasan keselamatan). Mungkin dia sedang melihat kinerja tim yang dipimpinnya yang masih belum mencapai target bulan ini … Ada juga pasangan setengah baya berpakaian hitam dengan wajah sendu. Melihat ulos yang disampirkan dan bentuk wajahnya, pastilah mereka saudara kita yang sedang menuju ulaon habot ni roha ..

Berbagai macam ekspresi. Dan berbagai macam harapan. Begitulah kehidupan bergereja kita. Tidak jauh berbeda dengan kegiatan peribadahan kita. Coba lihat wajah-wajah di sekitar kita saat ini. Ada yang ceria, ada yang tersenyum. Ada juga yang cemberut? Tapi sebagian besar tampak berseri-seri. Merasa puas. Puas untuk duduk dan memandang lurus ke depan. Lalu nanti pergi pulang setelah kebaktian usai. Puas dengan “kebaktian yang menyenangkan”. Janji Yesus pada Matius 7:7 “Carilah, maka engkau akan mendapatkan”. Karena kita mencari kebaktian yang menyenangkan, maka kita biasanya mendapatkan hal yang menyenangkan. Ada juga yang mencari lebih daripada sekadar menyenangkan seperti anak kecil tadi dengan antusiasme serta kekaguman karena telah berdiri di hadapan pilot itu sendiri.

Kalau dianalogikan, demikianlah kehidupan beribadah kita. Pilot adalah Yesus Kristus – yang adalah pusat peribadahan kita – menjadi juru mudi, yang akan membawa semuanya ke tujuan, yakni kehidupan yang kekal. Dalam nas Ev kita dijelaskan bahwa Kristus dan peristiwa salib yang mendekatkan kita kepada keselamatan.

Situasi jemaat mula-mula di Efesus itu ada dalam dua kubu, yakni orang Yahudi dan bukan Yahudi. Orang Yahudi merasa dirinya eksklusif sebagai bangsa pilihan Tuhan dan diikat oleh perjanjian sunat sehingga menganggap dirinya dekat dengan keselamatan. Mereka memandang rendah golongan non Yahudi yang tidak bersunat dan dianggap jauh dari karya keselamatan. Sikap yang kontradiktif ini sangat berpotensi menimbulkan perseteruan. Oleh sebab itu, Paulus menegaskan bahwa dengan darah Kristus semua orang percaya berhak akan janji keselamatan yang ditawarkan oleh Kristus. Tidak ada lagi tembok pemisah. Di dalam Kristus dengan darah-Nya yang tercurah di kayu salib, semua orang sama haknya. Tidak ada lagi bangsa Israel – yang sangat mengagungkan perjanjian nenek moyangnya dengan Allah yang diformalitaskan dalam bentuk Taurat – dan bangsa bukan Israel yang saat itu dianggap tidak layak karena tidak terikat perjanjian dengan Allah. Kita menjadi manusia yang baru: satu Roh dan satu tubuh dengan Kristus yang menjadi kepalanya. Itulah yang dikenal dengan Gereja atau persekutuan.

Di pesawat ada pramugari. Apa peranannya? Melayani penumpang agar merasakan kenyamanan selama penerbangan dan mempersiapkan penumpang sampai pada pendaratan di tempat tujuan. Apakah semua penumpang akan mendarat dengan selamat? Meskipun biasanya selamat, namun tetap ada kemungkinan mendarat dalam kondisi yang berbeda. Masih ingat aktivis hak azasi manusia yang bernama Munir, ‘kan? Ketika naik ke pesawat dalam keadaan sehat, namun mendarat sudah dalam keadaan menjadi mayat. Walau masih menjadi misteri tentang kematiannya, bisalah orang-orang menduga bahwa pelayanan di kabin pesawat yang besar kemungkinan juga melibatkan pramugari menjadi titik penentu yang menyebabkan kematiannya. Bolehlah kita bandingkan dengan para pelayan di gereja. Tugas utama sesuai panggilannya adalah melayani warga jemaat. Mengawasi warga jemaat agar tidak menyimpang, dan memastikan warga jemaat dalam kondisi yang siap untuk beroleh keselamatan. Itulah makanya para pelayan itu disebut parhalado, yang berasal dari kata parhal yang berarti penjaga dan ado yang berarti berjalan ke sana ke mari.

Namun, seringkali para pelayan ini malah yang menyesatkan umat. Kitab Yeremia yang menjadi nas Ep menceritakan tentang hal tersebut sehingga diancam dengan kata “celaka” dan “hukuman”. Bukan mempersatukan, malah menceraiberaikan. Memperkaya diri sendiri dan tidak menghiraukan umat dan masyarakat. Kalau zaman Yeremia saat itu yang dimaksudkan adalah para penguasa dan nabi-nabi palsu, pada masa kini juga masih terjadi. Kenapa terjadi perpecahan gereja? Apakah karena warga jemaat semata? Tidak ada faktor parhalado? Kita semua masing-masing punya jawabannya.

Para hamba Tuhan tersebut juga bias menjadi penyesat dengan ajaran-ajaran yang sesat. Kita harus waspadai hal ini. Ada kecenderungan beberapa gereja atau persekutuan yang sangat getol menarik umatnya untuk kembali ke masa Perjanjian Lama (PL). Menggunakan istilah-istilah yang berlaku pada zaman PL, misalnya mezbah doa, menghidupkan kembali ruang maha suci, penyebutan Yahweh sehingga mengesankan Tuhan itu berbeda, berdoa dengan sikap tubuh tertentu, mengharamkan makanan tertentu, dan banyak lagi.

Di ayat 15 ditegaskan bahwa Kristus telah membatalkan hokum Taurat. Dia telah merubah hukum Taurat yang isinya adalah hukuman, larangan, perintah, dan ketentuan menjadi pengampunan dan damai sejahtera. Dengan peristiwa kematian di kayu salib dan kebangkitan Yesus, Dia telah merobohkan tembok pemisah yang sebelumnya menjadi sekat yang sangat kuat memisahkan antara yang satu dengan yang lain. Antara Yahudi dengan bukan Yahudi, Israel dengan bukan Israel, imam dengan warga jemaat biasa. Dan Kristus menjadi jalan masuk bagi kita untuk dekat kepada Bapa. Yang sebelumnya beribadah harus memakai perantara imam dan ditentukan waktunya, sekarang kita bias langsung kepada Allah tanpa melalui perantaraan imam, dan bias melakukannya setiap saat melalui ibadah kita. Untunglah ada Yesus.

Apakah Yesus juga beribadah? Ayo kita lihat perikop Matius 17:1-5. Dan ini dapat kita jadikan panduan dalam melakukan ibadah kita:

(1)   Yesus melakukan persiapan, tidak dengan spontan mengajak murid-murid naik ke gunung untuk bertemu dengan Bapa-Nya. Bagaimana dengan kita? Apakah kita masih melakukannya dengan sambil lalu? Atau sekadar menjadikannya sebagai ritual? Bilamana suatu kali kita diundang untuk bertemu dengan presiden, apakah kita tidak mempersiapkan diri dengan baik?

(2)   Mencerminkan kemuliaan-Nya yang terlihat dari wajah-Nya yang berubah “terang seperti matahari (Matius 17:2). Apakah wajah kita juga berubah menjadi sukacita? Hubungan antara wajah dan ibadah lebih dari sekadar kebetulan. Bagian yang paling dikenal dan yang relatif tidak banyak tertutupi adalah wajah. Tidak lagi terselubung sebagaimana dimaksud Paulus dalam 2 Korintus 3:18. Allah mengundang kita untuk melihat wajah-Nya, sehingga Dia dapat mengubah wajah kita. Suasana hati tercermin pada wajah, dan Allah dapat mengubahnya dengan ibadah. Masuk ke dalam kokpit untuk bertemu dengan-Nya dan melihat wajah-Nya, dan mengetahui bagaimana Dia bekerja dalam mengendalikan hidup kita yang semuanya menyukacitakan kita. Bagaimana menyanyikan Buku Ende 213 Logu No. 115 Dung Sonang Rohangku dan wajah kita tidak berubah menjadi cerah?

(3)   Menjadi pekabaran Injil dengan menjadikan orang bersukacita karena merasakan sukacita kita. Sebagaimana disampaikan Paulus dalam 1 Korintus 14:24-25 dan Daud melalui Mazmur 40:4. Jangan yang sebaliknya terjadi: orang menjadi ikut bosan karena melihat kebosanan di wajah kita.  `

Masih ingat cerita anak yang masuk ke kokpit dan bertemu dengan pilot tadi? Oleh karena ia mencari pilot, dan bertemu, setelah melakukan persiapan (persisnya: “strategi”) dia kembali dengan wajah yang berubah takjub dan penuh sukacita karena kepuasan yang meluap-luap. Kenapa tidak mencoba menjadi seperti anak tersebut?

Iklan

Andaliman – 186 Khotbah 15 Juli 2012 Minggu-VI setelah Trinitatis

Sudah Ditentukan untuk Menjadi Anak-Nya, Apa Lagi? Awas si Penjilat (= si Penjahat) yang Bisa Jadi adalah Teman Sendiri!

Nas Epistel:  Efesus 1:3-14

1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,

1:6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

1:7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,

1:8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.

1:9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus

1:10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

1:11 Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya—

1:12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

1:13 Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.

1:14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Nas Evangelium: Amos 7:7-15

7:7 Inilah yang diperlihatkan-Nya kepadaku: Tampak Tuhan berdiri dekat sebuah tembok yang tegak lurus, dan di tangan-Nya ada tali sipat.

7:8 Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Apakah yang kaulihat, Amos?” Jawabku: “Tali sipat!” Berfirmanlah Tuhan: “Sesungguhnya, Aku akan menaruh tali sipat di tengah-tengah umat-Ku Israel; Aku tidak akan memaafkannya lagi.

7:9 Bukit-bukit pengorbanan dari pada Ishak akan dilicintandaskan dan tempat-tempat kudus Israel akan diruntuhkan, dan Aku akan bangkit melawan keluarga Yerobeam dengan pedang.”

Amos diusir

7:10 Lalu Amazia, imam di Betel, menyuruh orang menghadap Yerobeam, raja Israel, dengan pesan: “Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya.

7:11 Sebab beginilah dikatakan Amos: Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan.”

7:12 Lalu berkatalah Amazia kepada Amos: “Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana!

7:13 Tetapi jangan lagi bernubuat di Betel, sebab inilah tempat kudus raja, inilah bait suci kerajaan.”

7:14 Jawab Amos kepada Amazia: “Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. 7:15 Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel.

Belum berapa lama, seorang kawan lama menanyakan kepadaku tentang karya keselamatan: ditawarkan kepada semua orang, ataukah Allah yang memilih siapa saja yang akan diselamatkan? Dengan mengutip pendapat teolog dari kedua kubu, beliau bertanya yang mana yang dianut oleh HKBP. Aku tahu beliau relatif intens mencari tahu tentang firman Allah dan Gereja. Ada pernyataan ma’af agar aku jangan menganggapnya sedang menguji pengetahuanku, sesuatu yang aku anggap tidak terlalu perlu. Malah aku sangat menyukai diskusi yang semakin mengasahku untuk bergerak maju.

Aku jawab, menurut pemahamanku, semua orang ditawarkan Tuhan untuk menerima karya keselamatan. Tidak pandang bulu, tinggal tergantung pada respon masing-masing orang: bersedia menerima – setelah mengakui ketidakberdayaannya karena dosa yang sangat menjijikkan – atau malah menganggapnya sebagai angin lalu sehingga akan ikut rombongan orang-orang yang akan binasa.

Puji Tuhan! Nas perikop Ep ini sejalan dengan apa yang aku sudah sampaikan pada beliau. Roh Kudus sebagai eksistensi ketritunggalan membaharui setiap orang sehingga berhak menerima kasih karunia yang ditawarkan Allah tersebut.

Yang bebal – sebagaimana yang dikisahkan dalam nas perikop Ev Minggu ini sebagai bangsa Israel – tentu saja tidak akan mendapat apa-apa, selain hilangnya kesempatan beroleh kasih karunia, sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan saat kini dan di sini, dan juga di keabadian kelak. Tuhan sudah mengirim Amos untuk meluruskan cara hidup golongan elite – raja dan penasihat rohaninya – dengan menganalogikan sebagai tali sipat (tali berbandul timah yang sering dipakai oleh tukang batu dalam mengukur dan memastikan kelurusan konstruksi). Namun, apa yang terjadi? Raja menolaknya! Enggan untuk memperbaiki diri. Dan situasi ini lebih diperparah dengan sikap yang diambil oleh penasihat rohaninya yang mengusir nabi Amos dari “lingkaran satu” agar tidak lagi mengganggu kenyamanan raja. Yang lebih menyakitkan, alas an yang dipakai seakan-akan untuk kebaikan Amos sendiri. Duh!

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Bagaimana dengan kita? ‘Nggak usahlah menghabiskan energi dan waktu untuk membincangkan konsep teologi jalan keselamatan. Lebih baik merespon positif penawaran yang disampaikan kepada kita, yakni menerimanya dengan sepenuh hati dan menjadikannya sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

Selain untuk diri sendiri, lingkungan yang paling dekat dengan kita juga harus kita ajak untuk sama-sama menikmati penawaran yang sangat berharga tersebut. Keluarga adalah komunitas yang paling dekat yang harus menikmatinya. Pastikan mereka juga beroleh bagian dari karya keselamatan dari Juru Selamat kita.

Jangan malah menghalangi sebagaimana yang terjadi pada lingkungan istana raja pada Ev Minggu ini. Bahkan imam kepala yang seharusnya menjadi orang yang mendorong kepada kebaikan, malah menjauhkan seisi istana dengan mengusir nabi Amos yang mendapat tugas dari Allah untuk meluruskan jalan. Kontradiktif, memang! Tapi, jangan salah, hal yang sama mungkin juga masih terjadi saat ini: Gereja dan atau pelayannya – dengan berbagai tingkah laku dan pelayanannya – malah menjauhkan warga jemaat dari Sang Juru Selamat. Hampir di setiap jemaat aku pernah mendengar warga jemaat yang meninggalkan persekutuan karena ketidakcocokan dengan pelayanan dan pelayan di jemaat yang diikutinya.

Apakah kita itu? Yang adalah warga jemaat yang pergi meninggalkan persekutuan? Pulanglah, atau jangan pernah meninggalkan persekutuan dengan perasaan terluka dan tidak berdamai. Yang adalah pelayan yang menjauhkan warga jemaat dari persekutuan? Berbaliklah (artinya bertobat), mengaku salah pada Sang Kepala Gereja, menyesalinya, dan memohon ma’af untuk segala kesalahan sambil berjanji untuk melakukan yang sebaliknya: mengutamakan Kristus, bukan diri sendiri yang cenderung ambisius!

Andaliman – 185 Khotbah 08 Juli 2012 Minggu-V setelah Trinitatis

Siapa Mau Dianggap Bodoh? Biarkan Tuhan Memakai Dirimu!

Nas Epistel:  2 Korintus 11:16-17

11:16 Kuulangi lagi: jangan  hendaknya ada orang  yang menganggap  aku  bodoh. Dan  jika  kamu juga menganggap demikian, terimalah aku sebagai  orang bodoh  supaya  akupun  boleh bermegah  sedikit. 

11:17 Apa yang  aku katakan, aku mengatakannya  bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah

Nas Evangelium: Yehezkiel 2:1-5 (bahasa Batak Hesekiel)

2:1 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak  manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau.”

2:2 Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang berbicara  dengan aku.

2:3 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak  yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang  mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.

2:4 Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada  mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH.

2:5 Dan baik mereka mendengarkan atau tidak — sebab mereka adalah kaum pemberontak — mereka  akan mengetahui  bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah  mereka.

Siapa mau jadi orang bodoh? Siapa yang mau dianggap sebagai orang bodoh? Dalam kehidupan yang sangat menjunjung tinggi keegoan ini, tentu semua orang pengennya dianggap sebagai orang yang pintar, bijaksana, cerdas, dan banyak istilah yang menunjukkan keunggulan lainnya. Bodoh? Mana ada yang mau! Yang benar-benar bodoh aja masih selalu berusaha untuk tidak menunjukkan kebodohannya. Siapa mau?

 

Paulus mau! Dan itu dikatakan dalam nas perikop Ep Minggu ini. Kata yang diterjemahkan sebagai “bodoh” dalam Alkitab ini adalah berasal dari kata “aphron” yang artinya ialah “tanpa pikiran” – bertindak “tanpa dipikir atau direnungkan”. Spontan. Lantas? Paulus ingin mengatakan bahwa apa yang dia lakukan dan ucapkan adalah bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan Allah yang memakainya sebagai alat dalam menyampaikan pesan. “Aku semakin rendah dan Tuhan yang semakin ditinggikan”. Prinsipnya, adalah suatu kebodohan jika memegahkan diri sendiri.     

Tantangan untuk dianggap bodoh itulah yang dialami Yehezkiel ketika dipanggil pertama kali sebagai nabi di tengah-tengah bangsa Israel yang terkenal sebagai bangsa pemberontak, tegar tengkuk, mau menang sendiri, dan menganggap dirinya yang paling pintar sebagaimana dikisahkan dalam Ev Minggu ini. Pasti sangat sulit menghadapi situasi seperti itu.

 

Tuhan memanggilnya tidak dengan “tangan kosong” atau “cheque kosong”. Tuhan membekali Yehezkiel dengan kerendahan hati untuk dipimpin oleh Roh. Roh itulah yang memampukannya dalam menghadapi tantangan untuk menyadarkan orang Israel dan membawa mereka kembali kepada Allah. Dan keberhasilan Yehezkiel kemudian ditentukan oleh kebergantungannya pada pimpinan Allah. Bahkan berani menegur para penguasa bilamana jalannya menyimpang dari perintah Tuhan. 

Menjadi berbeda dengan lingkungan sekitar. Itu juga masih terjadi saat ini. Di kantor, aku adalah satu di antara orang yang sangat sedikit yang menjadi pengikut Kristus. Menjadi orang yang fanatik – sebagai bagian dari “kesaksian” – bukanlah prinsip yang pas menurutku. Bagaimana bisa hidup dan bekerja dengan tidak menghilangkan kecirian anak Tuhan, membuatku harus bisa bergaul dengan dinamis dengan kawan-kawan yang semakin banyak saja yang berhaji dari hari ke hari. Berbaur tanpa harus melebur, apalagi menjadi lebur, itulah prinsipku. Malah, dalam setiap kesempatan aku manfa’atkan untuk menyaksikan kekristenanku.

 

Di Kantor Bandung aku adalah pemimpin tertinggi secara hirarki. Dan aku sendiri yang beragama Kristen yang berkantor setiap hari di kantor yang disediakan oleh Perusahaan. Pada saat pertama kali memutuskan pindah ke kantor yang sekarang, salah satu bahan pertimbanganku adalah tempat sholat yang layak. “Bagaimana malaikat mau datang kalau ruang sholatmu hanya sekadar ada? Tidak bisa! Ruang sholat harus tempat yang dikhususkan …”, demikian yang aku sampaikan kepada anak buahku yang seringkali membuat mereka terpana. Aku juga selalu mendorong dan mengingatkan mereka untuk sholat, bahkan “mengusir” mereka dari kantor jika panggilan sholat Jum’at sudah terdengar. 

Apakah aku “berkhianat”? Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa jawabannya adalah “tidak”. Malah sebaliknya, dengan melakukan seperti itu, aku mempersaksikan imanku dan kebaikan Kristus. Mereka pasti berpikir: “Koq begitu baiknya boss kami ini? Padahal dia orang Kristen …”. Atau – ma’af, yang ini yang aku harapkan sebenarnya –  “Oh, memang orang Kristen yang seharusnya adalah yang baik seperti boss kami ini …”. Atau: “Boss kami baik karena dia adalah orang Kristen yang diajarkan untuk memperlakukan semua orang dengan baik …”  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jangan malu kalaupun dianggap orang sebagai orang yang bodoh. Apalagi karena menjalankan ketaatan kepada Tuhan sehingga dianggap sebagai suatu kebodohan. ‘Gimana ‘nggak dibilang bodoh kalau ada tawaran naik jabatan ‘nggak diambil karena ‘nggak mau pindah agama, misalnya? Atau meninggalkan posisi yang tinggi dan strategis di perusahaan untuk mengikuti Tuhan sebagai penginjil ke pelosok tanah air dan pulau-pulau terpencil?

Selain “ikhlas” dianggap sebagai orang bodoh karena ketaatan mengikuti jalan Tuhan, kita juga diminta untuk memberikan kesaksian di lingkungan kita. Supaya orang tahu bahwa ada seorang “nabi” di tengah-tengah lingkungan kita. Tetangga, atau lingkungan sekolah, atau pekerjaan. Berlaku, berpikir, berbicara sesuai yang Tuhan mau. Di kantor menjadi orang yang punya integritas. Di sekolah menjadi murid yang tidak curang alias ‘nyontek waktu ujian, misalnya.

Di gereja? Jangan-jangan kita malah ‘nggak bisa mempersaksikan iman kita pula di lingkungan yang homogen dan suci itu! Suci? Apakah masih perlu? Menurutku, tantangan terbesarnya adalah malah di gereja. Pertama, karena semua orangnya adalah kelihatannya suci (paling tidak, selama jam ibadah, kebanyakan orang-orang berbicara dan bertindak rohani …). Atau menganggap dirinya suci. Inilah yang menyebabkan sehingga orang-orang di gereja adalah salah satu golongan yang paling sulit untuk bertobat! Kedua, kalau memang benar-benar suci, menjadi lebih sulit menunjukkan “kelebihsucian” kita dibandingkan mereka. Repot, ‘kan?

Nah, daripada pusing-pusing, mendingan kita menjadi orang Kristen yang benar-benar menjadi anak Tuhan. Dalam artian: menjalankan kehidupan ini dengan mata dan hati yang tertuju kepada Kristus. Fokus pada Kristus, begitulah.

Andaliman – 184 Khotbah 01 Juli 2012 Minggu-IV setelah Trinitatis

Jangan Takut Memberi Karena Takut Kekurangan. Tuhan yang Penuh Kasih Setia yang Memelihara Kehidupan, koq …

Nas Epistel:  2 Korintus 8:7-15

8:7 Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, — dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami — demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.

8:8 Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu.

8:9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

8:10 Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah bagimu. Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga.

8:11 Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.

8:12 Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.

8:13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.

8:14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.

8:15 Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.”

Nas Evangelium: Ratapan 3:22-33 (bahasa Batak Andungandung)

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

3:27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.

3:28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya. 3:29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan.

3:30 Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan.

3:31 Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan.

3:32 Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya.

3:33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.

Membaca perikop ini – dan mencoba menghubungkan keduanya – aku ditarik untuk melihat pesan yang dibawanya tentang penyediaan Allah dalam kehidupan (Ev) dan kesediaan untuk berbagi dengan orang lain (Ep). Ma’af saja kalau ini berbeda dengan thema yang dicantumkan dalam Almanak HKBP.

Pada Ep dikisahkan betapa jemaat tersebut diberkati dengan beberapa karunia, namun sayangnya tidak dibarengi dengan kesediaan untuk memberi. Istilah yang dipakai Paulus dalam suratnya ini adalah epitage yang berarti “perintah” (jadi, bukan “anjuran”) yang harus dibarengi dengan semangat kesungguhan (spoude). Aku memahaminya sebagai “tindakan berbagi dan memberi adalah suatu keharusan yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh”.

Suatu keharusan, sebagai ekspresi dari pemberian yang sudah diterima dari Allah (bukankah orang-orang Kristen mengimani bahwa segala yang dimilikinya adalah datangnya dari Allah?). Yang tidak pantas sebenarnya menerima pengampunan karena dosa yang sangat menjijikkan, namun dilayakkan oleh Kristus karena belas kasihan semata. Bukan karena kekuatan maupun kemampuan. Ingat, ya: ini suatu perintah. Memberi karena mengakui bahwa sudah menerima terlebih dahulu (dari Tuhan). Jadi, bukan member karena berharap akan mendapat penggantian (dari Tuhan juga). Yang kedua ini, tidak ada bedanya dengan berdagang ‘kan, ya? Oleh sebab itu, jauhilah sikap seperti itu dalam memandang persembahan dan pemberian.

Dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, artinya dengan motivasi yang benar. Yaitu untuk Tuhan, bukan untuk kemuliaan diri sendiri. Ini godaan yang sering menggangguku: memberi persembahan atau bantuan atau atau sumbangan atau ucapan syukur harus diketahui oleh orang lain.  Masak sih ‘nggak bisa “numpang ‘ngetop” sedikit dengan pencantuman nama di warta jemaat? Masak cuma sekadar dituliskan “NN”? Kalau yang pertama tadi mirip dengan berdagang dengan Tuhan, maka sikap yang kedua ini mirip dengan iklan …

Jujur saja, nas perikop ini mengingatkanku kembali tentang semangat memberi (apapun bentuknya …). Dan juga kekuatiran yang seringkali “menggoda” bahwa dengan memberi maka akan merasa kekurangan. Godaan ini pulalah yang acapkali menggiring pada perlakuan bahwa memberi bilamana ada sisa. Bukan yang disisihkan sejak semula. Bahasa Batak memiliki istilah yang sangat pas untuk membedakan keduanya: teba untuk “menyisakan” dan teba-teba untuk sisa-sisa (yang masih tinggal setelah orang-orang menghabiskan). Padahal, tak berkesudahan kasih setia Tuhan dan tidak akan habis rahmad-Nya. Artinya, jangan takut menjadi miskin kalau banyak memberi. Dan jangan hanya “sekadar” memberi, melainkan memberilah dengan motivasi untuk Tuhan.  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Masih belum menjadikan memberi dan berbagi sebagai suatu “hobby”? Periksalah diri kita bilamana masih menjadikannya sebagai suatu beban yang menghantui, ataupun menjadikannya sebagai sarana penonjolan diri.

Ratapan dalam Ev ini mengingatkan kita untuk meratapi tindakan dan sikap kita selama ini yang lebih cenderung pada keinginan daging (yang mengarah kepada dosa) daripada keinginan rohani. Berdukacitalah akan segala kesalahan yang sudah terjadi dan dilakukan selama ini, dan berbaliklah kepada Tuhan yang penuh belas kasih dan anugerah keselamatan yang dengan setia memberkati kehidupan kita bilamana setia berada di jalan-Nya. Berkat yang sudah kita terima harus kita salurkan kepada yang membutuhkannya, agar terjadi keseimbangan.

Jangan takut menjadi miskin karena banyak memberi, karena ada jaminan tidak akan miskin orang banyak memberi asalkan semuanya dilakukan dengan sukacita. Jangan pula takut miskin, karena orang miskin belum tentu jauh dari sukacita sebagaimana pula orang kaya belum tentu sangat dekat dengan sukacita.