Andaliman – 184 Khotbah 01 Juli 2012 Minggu-IV setelah Trinitatis

Jangan Takut Memberi Karena Takut Kekurangan. Tuhan yang Penuh Kasih Setia yang Memelihara Kehidupan, koq …

Nas Epistel:  2 Korintus 8:7-15

8:7 Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, — dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami — demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini.

8:8 Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu.

8:9 Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.

8:10 Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah bagimu. Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga.

8:11 Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu.

8:12 Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.

8:13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan.

8:14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.

8:15 Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.”

Nas Evangelium: Ratapan 3:22-33 (bahasa Batak Andungandung)

3:22 Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya,

3:23 selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!

3:24 “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya.

3:25 TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.

3:26 Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN.

3:27 Adalah baik bagi seorang pria memikul kuk pada masa mudanya.

3:28 Biarlah ia duduk sendirian dan berdiam diri kalau TUHAN membebankannya. 3:29 Biarlah ia merebahkan diri dengan mukanya dalam debu, mungkin ada harapan.

3:30 Biarlah ia memberikan pipi kepada yang menamparnya, biarlah ia kenyang dengan cercaan.

3:31 Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan.

3:32 Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya.

3:33 Karena tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia.

Membaca perikop ini – dan mencoba menghubungkan keduanya – aku ditarik untuk melihat pesan yang dibawanya tentang penyediaan Allah dalam kehidupan (Ev) dan kesediaan untuk berbagi dengan orang lain (Ep). Ma’af saja kalau ini berbeda dengan thema yang dicantumkan dalam Almanak HKBP.

Pada Ep dikisahkan betapa jemaat tersebut diberkati dengan beberapa karunia, namun sayangnya tidak dibarengi dengan kesediaan untuk memberi. Istilah yang dipakai Paulus dalam suratnya ini adalah epitage yang berarti “perintah” (jadi, bukan “anjuran”) yang harus dibarengi dengan semangat kesungguhan (spoude). Aku memahaminya sebagai “tindakan berbagi dan memberi adalah suatu keharusan yang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh”.

Suatu keharusan, sebagai ekspresi dari pemberian yang sudah diterima dari Allah (bukankah orang-orang Kristen mengimani bahwa segala yang dimilikinya adalah datangnya dari Allah?). Yang tidak pantas sebenarnya menerima pengampunan karena dosa yang sangat menjijikkan, namun dilayakkan oleh Kristus karena belas kasihan semata. Bukan karena kekuatan maupun kemampuan. Ingat, ya: ini suatu perintah. Memberi karena mengakui bahwa sudah menerima terlebih dahulu (dari Tuhan). Jadi, bukan member karena berharap akan mendapat penggantian (dari Tuhan juga). Yang kedua ini, tidak ada bedanya dengan berdagang ‘kan, ya? Oleh sebab itu, jauhilah sikap seperti itu dalam memandang persembahan dan pemberian.

Dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, artinya dengan motivasi yang benar. Yaitu untuk Tuhan, bukan untuk kemuliaan diri sendiri. Ini godaan yang sering menggangguku: memberi persembahan atau bantuan atau atau sumbangan atau ucapan syukur harus diketahui oleh orang lain.  Masak sih ‘nggak bisa “numpang ‘ngetop” sedikit dengan pencantuman nama di warta jemaat? Masak cuma sekadar dituliskan “NN”? Kalau yang pertama tadi mirip dengan berdagang dengan Tuhan, maka sikap yang kedua ini mirip dengan iklan …

Jujur saja, nas perikop ini mengingatkanku kembali tentang semangat memberi (apapun bentuknya …). Dan juga kekuatiran yang seringkali “menggoda” bahwa dengan memberi maka akan merasa kekurangan. Godaan ini pulalah yang acapkali menggiring pada perlakuan bahwa memberi bilamana ada sisa. Bukan yang disisihkan sejak semula. Bahasa Batak memiliki istilah yang sangat pas untuk membedakan keduanya: teba untuk “menyisakan” dan teba-teba untuk sisa-sisa (yang masih tinggal setelah orang-orang menghabiskan). Padahal, tak berkesudahan kasih setia Tuhan dan tidak akan habis rahmad-Nya. Artinya, jangan takut menjadi miskin kalau banyak memberi. Dan jangan hanya “sekadar” memberi, melainkan memberilah dengan motivasi untuk Tuhan.  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Masih belum menjadikan memberi dan berbagi sebagai suatu “hobby”? Periksalah diri kita bilamana masih menjadikannya sebagai suatu beban yang menghantui, ataupun menjadikannya sebagai sarana penonjolan diri.

Ratapan dalam Ev ini mengingatkan kita untuk meratapi tindakan dan sikap kita selama ini yang lebih cenderung pada keinginan daging (yang mengarah kepada dosa) daripada keinginan rohani. Berdukacitalah akan segala kesalahan yang sudah terjadi dan dilakukan selama ini, dan berbaliklah kepada Tuhan yang penuh belas kasih dan anugerah keselamatan yang dengan setia memberkati kehidupan kita bilamana setia berada di jalan-Nya. Berkat yang sudah kita terima harus kita salurkan kepada yang membutuhkannya, agar terjadi keseimbangan.

Jangan takut menjadi miskin karena banyak memberi, karena ada jaminan tidak akan miskin orang banyak memberi asalkan semuanya dilakukan dengan sukacita. Jangan pula takut miskin, karena orang miskin belum tentu jauh dari sukacita sebagaimana pula orang kaya belum tentu sangat dekat dengan sukacita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s