Andaliman – 185 Khotbah 08 Juli 2012 Minggu-V setelah Trinitatis

Siapa Mau Dianggap Bodoh? Biarkan Tuhan Memakai Dirimu!

Nas Epistel:  2 Korintus 11:16-17

11:16 Kuulangi lagi: jangan  hendaknya ada orang  yang menganggap  aku  bodoh. Dan  jika  kamu juga menganggap demikian, terimalah aku sebagai  orang bodoh  supaya  akupun  boleh bermegah  sedikit. 

11:17 Apa yang  aku katakan, aku mengatakannya  bukan sebagai seorang yang berkata menurut firman Tuhan, melainkan sebagai seorang bodoh yang berkeyakinan, bahwa ia boleh bermegah

Nas Evangelium: Yehezkiel 2:1-5 (bahasa Batak Hesekiel)

2:1 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak  manusia, bangunlah dan berdiri, karena Aku hendak berbicara dengan engkau.”

2:2 Sementara Ia berbicara dengan aku, kembalilah rohku ke dalam aku dan ditegakkannyalah aku. Kemudian aku mendengar Dia yang berbicara  dengan aku.

2:3 Firman-Nya kepadaku: “Hai anak manusia, Aku mengutus engkau kepada orang Israel, kepada bangsa pemberontak  yang telah memberontak melawan Aku. Mereka dan nenek moyang  mereka telah mendurhaka terhadap Aku sampai hari ini juga.

2:4 Kepada keturunan inilah, yang keras kepala dan tegar hati, Aku mengutus engkau dan harus kaukatakan kepada  mereka: Beginilah firman Tuhan ALLAH.

2:5 Dan baik mereka mendengarkan atau tidak — sebab mereka adalah kaum pemberontak — mereka  akan mengetahui  bahwa seorang nabi ada di tengah-tengah  mereka.

Siapa mau jadi orang bodoh? Siapa yang mau dianggap sebagai orang bodoh? Dalam kehidupan yang sangat menjunjung tinggi keegoan ini, tentu semua orang pengennya dianggap sebagai orang yang pintar, bijaksana, cerdas, dan banyak istilah yang menunjukkan keunggulan lainnya. Bodoh? Mana ada yang mau! Yang benar-benar bodoh aja masih selalu berusaha untuk tidak menunjukkan kebodohannya. Siapa mau?

 

Paulus mau! Dan itu dikatakan dalam nas perikop Ep Minggu ini. Kata yang diterjemahkan sebagai “bodoh” dalam Alkitab ini adalah berasal dari kata “aphron” yang artinya ialah “tanpa pikiran” – bertindak “tanpa dipikir atau direnungkan”. Spontan. Lantas? Paulus ingin mengatakan bahwa apa yang dia lakukan dan ucapkan adalah bukan berasal dari dirinya sendiri, melainkan Allah yang memakainya sebagai alat dalam menyampaikan pesan. “Aku semakin rendah dan Tuhan yang semakin ditinggikan”. Prinsipnya, adalah suatu kebodohan jika memegahkan diri sendiri.     

Tantangan untuk dianggap bodoh itulah yang dialami Yehezkiel ketika dipanggil pertama kali sebagai nabi di tengah-tengah bangsa Israel yang terkenal sebagai bangsa pemberontak, tegar tengkuk, mau menang sendiri, dan menganggap dirinya yang paling pintar sebagaimana dikisahkan dalam Ev Minggu ini. Pasti sangat sulit menghadapi situasi seperti itu.

 

Tuhan memanggilnya tidak dengan “tangan kosong” atau “cheque kosong”. Tuhan membekali Yehezkiel dengan kerendahan hati untuk dipimpin oleh Roh. Roh itulah yang memampukannya dalam menghadapi tantangan untuk menyadarkan orang Israel dan membawa mereka kembali kepada Allah. Dan keberhasilan Yehezkiel kemudian ditentukan oleh kebergantungannya pada pimpinan Allah. Bahkan berani menegur para penguasa bilamana jalannya menyimpang dari perintah Tuhan. 

Menjadi berbeda dengan lingkungan sekitar. Itu juga masih terjadi saat ini. Di kantor, aku adalah satu di antara orang yang sangat sedikit yang menjadi pengikut Kristus. Menjadi orang yang fanatik – sebagai bagian dari “kesaksian” – bukanlah prinsip yang pas menurutku. Bagaimana bisa hidup dan bekerja dengan tidak menghilangkan kecirian anak Tuhan, membuatku harus bisa bergaul dengan dinamis dengan kawan-kawan yang semakin banyak saja yang berhaji dari hari ke hari. Berbaur tanpa harus melebur, apalagi menjadi lebur, itulah prinsipku. Malah, dalam setiap kesempatan aku manfa’atkan untuk menyaksikan kekristenanku.

 

Di Kantor Bandung aku adalah pemimpin tertinggi secara hirarki. Dan aku sendiri yang beragama Kristen yang berkantor setiap hari di kantor yang disediakan oleh Perusahaan. Pada saat pertama kali memutuskan pindah ke kantor yang sekarang, salah satu bahan pertimbanganku adalah tempat sholat yang layak. “Bagaimana malaikat mau datang kalau ruang sholatmu hanya sekadar ada? Tidak bisa! Ruang sholat harus tempat yang dikhususkan …”, demikian yang aku sampaikan kepada anak buahku yang seringkali membuat mereka terpana. Aku juga selalu mendorong dan mengingatkan mereka untuk sholat, bahkan “mengusir” mereka dari kantor jika panggilan sholat Jum’at sudah terdengar. 

Apakah aku “berkhianat”? Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa jawabannya adalah “tidak”. Malah sebaliknya, dengan melakukan seperti itu, aku mempersaksikan imanku dan kebaikan Kristus. Mereka pasti berpikir: “Koq begitu baiknya boss kami ini? Padahal dia orang Kristen …”. Atau – ma’af, yang ini yang aku harapkan sebenarnya –  “Oh, memang orang Kristen yang seharusnya adalah yang baik seperti boss kami ini …”. Atau: “Boss kami baik karena dia adalah orang Kristen yang diajarkan untuk memperlakukan semua orang dengan baik …”  

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jangan malu kalaupun dianggap orang sebagai orang yang bodoh. Apalagi karena menjalankan ketaatan kepada Tuhan sehingga dianggap sebagai suatu kebodohan. ‘Gimana ‘nggak dibilang bodoh kalau ada tawaran naik jabatan ‘nggak diambil karena ‘nggak mau pindah agama, misalnya? Atau meninggalkan posisi yang tinggi dan strategis di perusahaan untuk mengikuti Tuhan sebagai penginjil ke pelosok tanah air dan pulau-pulau terpencil?

Selain “ikhlas” dianggap sebagai orang bodoh karena ketaatan mengikuti jalan Tuhan, kita juga diminta untuk memberikan kesaksian di lingkungan kita. Supaya orang tahu bahwa ada seorang “nabi” di tengah-tengah lingkungan kita. Tetangga, atau lingkungan sekolah, atau pekerjaan. Berlaku, berpikir, berbicara sesuai yang Tuhan mau. Di kantor menjadi orang yang punya integritas. Di sekolah menjadi murid yang tidak curang alias ‘nyontek waktu ujian, misalnya.

Di gereja? Jangan-jangan kita malah ‘nggak bisa mempersaksikan iman kita pula di lingkungan yang homogen dan suci itu! Suci? Apakah masih perlu? Menurutku, tantangan terbesarnya adalah malah di gereja. Pertama, karena semua orangnya adalah kelihatannya suci (paling tidak, selama jam ibadah, kebanyakan orang-orang berbicara dan bertindak rohani …). Atau menganggap dirinya suci. Inilah yang menyebabkan sehingga orang-orang di gereja adalah salah satu golongan yang paling sulit untuk bertobat! Kedua, kalau memang benar-benar suci, menjadi lebih sulit menunjukkan “kelebihsucian” kita dibandingkan mereka. Repot, ‘kan?

Nah, daripada pusing-pusing, mendingan kita menjadi orang Kristen yang benar-benar menjadi anak Tuhan. Dalam artian: menjalankan kehidupan ini dengan mata dan hati yang tertuju kepada Kristus. Fokus pada Kristus, begitulah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s