Andaliman – 186 Khotbah 15 Juli 2012 Minggu-VI setelah Trinitatis

Sudah Ditentukan untuk Menjadi Anak-Nya, Apa Lagi? Awas si Penjilat (= si Penjahat) yang Bisa Jadi adalah Teman Sendiri!

Nas Epistel:  Efesus 1:3-14

1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.

1:4 Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.

1:5 Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,

1:6 supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

1:7 Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,

1:8 yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian.

1:9 Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus

1:10 sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di sorga maupun yang di bumi.

1:11 Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami mendapat bagian yang dijanjikan–kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya—

1:12 supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya.

1:13 Di dalam Dia kamu juga–karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu–di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.

1:14 Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.

Nas Evangelium: Amos 7:7-15

7:7 Inilah yang diperlihatkan-Nya kepadaku: Tampak Tuhan berdiri dekat sebuah tembok yang tegak lurus, dan di tangan-Nya ada tali sipat.

7:8 Lalu berfirmanlah TUHAN kepadaku: “Apakah yang kaulihat, Amos?” Jawabku: “Tali sipat!” Berfirmanlah Tuhan: “Sesungguhnya, Aku akan menaruh tali sipat di tengah-tengah umat-Ku Israel; Aku tidak akan memaafkannya lagi.

7:9 Bukit-bukit pengorbanan dari pada Ishak akan dilicintandaskan dan tempat-tempat kudus Israel akan diruntuhkan, dan Aku akan bangkit melawan keluarga Yerobeam dengan pedang.”

Amos diusir

7:10 Lalu Amazia, imam di Betel, menyuruh orang menghadap Yerobeam, raja Israel, dengan pesan: “Amos telah mengadakan persepakatan melawan tuanku di tengah-tengah kaum Israel; negeri ini tidak dapat lagi menahan segala perkataannya.

7:11 Sebab beginilah dikatakan Amos: Yerobeam akan mati terbunuh oleh pedang dan Israel pasti pergi dari tanahnya sebagai orang buangan.”

7:12 Lalu berkatalah Amazia kepada Amos: “Pelihat, pergilah, enyahlah ke tanah Yehuda! Carilah makananmu di sana dan bernubuatlah di sana!

7:13 Tetapi jangan lagi bernubuat di Betel, sebab inilah tempat kudus raja, inilah bait suci kerajaan.”

7:14 Jawab Amos kepada Amazia: “Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi, melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. 7:15 Tetapi TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan TUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel.

Belum berapa lama, seorang kawan lama menanyakan kepadaku tentang karya keselamatan: ditawarkan kepada semua orang, ataukah Allah yang memilih siapa saja yang akan diselamatkan? Dengan mengutip pendapat teolog dari kedua kubu, beliau bertanya yang mana yang dianut oleh HKBP. Aku tahu beliau relatif intens mencari tahu tentang firman Allah dan Gereja. Ada pernyataan ma’af agar aku jangan menganggapnya sedang menguji pengetahuanku, sesuatu yang aku anggap tidak terlalu perlu. Malah aku sangat menyukai diskusi yang semakin mengasahku untuk bergerak maju.

Aku jawab, menurut pemahamanku, semua orang ditawarkan Tuhan untuk menerima karya keselamatan. Tidak pandang bulu, tinggal tergantung pada respon masing-masing orang: bersedia menerima – setelah mengakui ketidakberdayaannya karena dosa yang sangat menjijikkan – atau malah menganggapnya sebagai angin lalu sehingga akan ikut rombongan orang-orang yang akan binasa.

Puji Tuhan! Nas perikop Ep ini sejalan dengan apa yang aku sudah sampaikan pada beliau. Roh Kudus sebagai eksistensi ketritunggalan membaharui setiap orang sehingga berhak menerima kasih karunia yang ditawarkan Allah tersebut.

Yang bebal – sebagaimana yang dikisahkan dalam nas perikop Ev Minggu ini sebagai bangsa Israel – tentu saja tidak akan mendapat apa-apa, selain hilangnya kesempatan beroleh kasih karunia, sesuatu yang sangat berharga bagi kehidupan saat kini dan di sini, dan juga di keabadian kelak. Tuhan sudah mengirim Amos untuk meluruskan cara hidup golongan elite – raja dan penasihat rohaninya – dengan menganalogikan sebagai tali sipat (tali berbandul timah yang sering dipakai oleh tukang batu dalam mengukur dan memastikan kelurusan konstruksi). Namun, apa yang terjadi? Raja menolaknya! Enggan untuk memperbaiki diri. Dan situasi ini lebih diperparah dengan sikap yang diambil oleh penasihat rohaninya yang mengusir nabi Amos dari “lingkaran satu” agar tidak lagi mengganggu kenyamanan raja. Yang lebih menyakitkan, alas an yang dipakai seakan-akan untuk kebaikan Amos sendiri. Duh!

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Bagaimana dengan kita? ‘Nggak usahlah menghabiskan energi dan waktu untuk membincangkan konsep teologi jalan keselamatan. Lebih baik merespon positif penawaran yang disampaikan kepada kita, yakni menerimanya dengan sepenuh hati dan menjadikannya sebagai satu-satunya jalan keselamatan.

Selain untuk diri sendiri, lingkungan yang paling dekat dengan kita juga harus kita ajak untuk sama-sama menikmati penawaran yang sangat berharga tersebut. Keluarga adalah komunitas yang paling dekat yang harus menikmatinya. Pastikan mereka juga beroleh bagian dari karya keselamatan dari Juru Selamat kita.

Jangan malah menghalangi sebagaimana yang terjadi pada lingkungan istana raja pada Ev Minggu ini. Bahkan imam kepala yang seharusnya menjadi orang yang mendorong kepada kebaikan, malah menjauhkan seisi istana dengan mengusir nabi Amos yang mendapat tugas dari Allah untuk meluruskan jalan. Kontradiktif, memang! Tapi, jangan salah, hal yang sama mungkin juga masih terjadi saat ini: Gereja dan atau pelayannya – dengan berbagai tingkah laku dan pelayanannya – malah menjauhkan warga jemaat dari Sang Juru Selamat. Hampir di setiap jemaat aku pernah mendengar warga jemaat yang meninggalkan persekutuan karena ketidakcocokan dengan pelayanan dan pelayan di jemaat yang diikutinya.

Apakah kita itu? Yang adalah warga jemaat yang pergi meninggalkan persekutuan? Pulanglah, atau jangan pernah meninggalkan persekutuan dengan perasaan terluka dan tidak berdamai. Yang adalah pelayan yang menjauhkan warga jemaat dari persekutuan? Berbaliklah (artinya bertobat), mengaku salah pada Sang Kepala Gereja, menyesalinya, dan memohon ma’af untuk segala kesalahan sambil berjanji untuk melakukan yang sebaliknya: mengutamakan Kristus, bukan diri sendiri yang cenderung ambisius!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s