Tampilan Baru yang Lebih Semangat dan Menyemangati …

Dipicu oleh tampilan yang mulai ‘nggak enak dipandang mata –  utamanya daftar Halaman dengan bertambahnya BETA yang membuatnya “sesak” – dan tersedianya waktu yang rada lowong, maka hari ini aku mengubah tampilan blog yang sangat sederhana ini menjadi lebih “hidup”. Diilhami dengan semangat kebangsaan (yang sejak lama aku yakini sebagai salah satu modal dasar untuk kemajuan bangsa) saat memperingati HUT Proklamasi Kemedekaan yang lalu dan ada koleksi foto yang bagus yang aku punya yang relevan, maka jadilah demikian … seperti yang bisa kita lihat bersama sejak hari ini.

Setelah setia hadir rutin sejak empat tahun yang lalu – ‘nggak terasa ternyata blog ini lumayan lama juga berjuang untuk selalu hadir dengan setia (pada idealisme yang menjunjung tinggi kebenaran yang tidak memihak, bahkan kepada diri sendiri …) baru kali ini aku melakukan perubaham tampilannya. Masih mengandalkan sumber daya yang ada saat ini, sih.

Harapanku, dengan tampilan yang baru akan memberikan semangat yang baru untuk menjadi lebih baik. Kiranya Tuhan masih selalu setia mendampingi untuk kemuliaan nama-Nya semata, bukan kemuliaanku yang tidak ada apa-apanya ini.

Salam.   

Iklan
By tanobato Posted in Umum

Andaliman – 193 Khotbah 02 September 2012 Minggu-XIII Setelah Trinitatis

Jadilah Pelaku Firman yang Taat yang Tidak Terganggu oleh si Jahat! Dan Sampaikan Kepada Keturunanmu!

Nas Epistel:  Ulangan 4:1-2; 6-9 (bahasa Batak: 5 Musa)

4:1 “Maka sekarang, hai orang Israel, dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu untuk dilakukan, supaya kamu hidup dan memasuki serta menduduki negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu.

4:2 Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu.

4:6 Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.

4:7 Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya?

4:8 Dan bangsa besar manakah yang  mempunyai ketetapan dan peraturan demikian adil seperti seluruh hukum ini, yang kubentangkan kepadamu pada hari ini?

4:9 Tetapi waspadalah dan berhati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan hal-hal  yang  dilihat oleh matamu sendiri itu, dan supaya jangan semuanya itu hilang dari ingatanmu seumur hidupmu. Beritahukanlah kepada anak-anakmu dan kepada cucu cicitmu  semuanya itu,

Nas Evangelium: Yakobus 1:16-27

1:16 Saudara-saudara  yang kukasihi, janganlah sesat!

1:17 Setiap pemberian yang baik dan setiap  anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

1:18 Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung  di antara semua ciptaan-Nya.

Pendengar atau pelaku firman

1:19 Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat  untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk  marah

1:20 sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

1:21 Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

1:22 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.

1:23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya,ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.

1:24 Baru saja ia memandang dirinya ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya .

1:26 Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.

1:27 Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan  janda-janda dalam kesusahan  mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh  dunia.

Gila! Pesan yang disampaikan oleh nas perikop Minggu ini koq bisa kena dengan apa yang aku alami. Menegur dan aku tertegur! Bukan mau menyombongkan diri, tapi memang aku belakangan mulai lagi dengan sungguh-sungguh dan sangat disiplin dalam membaca (sambil berharap bisa mengingat dengan baik …) Alkitab. Kitab demi Kitab, secara berurutan. Jadi, bukan dipandu oleh buku renungan harian. Puji Tuhan, aku merasakan banyak berkat yang bisa aku dapatkan. Harapanku, dengan membaca secara disiplin – setiap pagi begitu bangun tidur dan atau malam sebelum beranjak tidur – di rumah, anakku akan melihat, dan tertanam dalam ingatannya sehingga suatu hari dia akan mengikuti apa yang aku lakukan. Tentunya tidak dengan mudah begitu saja: dengan melihat langsung melakukan, ‘kan? Tentu saja harus dilakukan oleh sang “model”, hehehe … Bagaimana anakku akan mengikuti langkahku kalau langkahku saja tidak dengan mantap diayunkan dan membawa kebaikan … Artinya, jangan berharap dia akan mengikuti kalau aku pun hanya sekadar pembaca firman, bukan pelaku firman. Analogi yang sering disampaikan orang-orang bijak: “Bagaimana kamu mau melarang anakmu merokok kalau di depannya kau masih merokok setiap hari seakan menjadikan andalan dalam hidupmu?”. Atau, bagaimana mau mengajari anak untuk ke gereja kalau bapaknya sendiri berdoa pun tidak?

Nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini mengingatkan untuk yakin pada kebenaran, kekuatan, dan kuasa yang ada pada firman Allah, Allah yang selalu dekat dengan umat-Nya. Setia mendengar panggilan anak-anak-Nya. Tidak perlu ditambahi atau dikurangi, jalankan saja karena perintah dan hukum itu sudah jadi ketetapan dan sangat cukup dijadikan pedoman. Di dalamnya sudah sangat lengkap, dan kebijaksanaan yang ada di dalamnya dapat dijadikan sumber hikmat dalam menghadapi kehidupan. 

Jangan ragukan! Lakukan saja! Supaya jangan sesat, ikuti saja perintah yang ada pada firman Tuhan, demikian pesan yang ingin disampaikan oleh nas perikop Ev Minggu ini.

Pada libur Lebaran yang panjang minggu lalu, beberapa kawan aktivis gereja menghabiskan hari-harinya dengan berlibur di Bandung. Setelah MInggu-nya kami beribadah di salah satu gereja yang sangat membutuhkan dukungan perjuangan untuk mendapatkan “pengakuan”, kami pun berdiskusi setelah malam sebelumnya sudah ‘ngobrol lumayan panjang lebar. Apalagi yang dibicarakan kalau bukan pelayanan? Ke mana lagi arah pembicaraan kalau kemudian tidak kepada pelayan yang adalah hamba Tuhan? 

Nah, di sinilah aku merasa tidak nyaman. Banyak sekali hamba Tuhan (baca: pendeta) yang “dibedah” saat itu ternyata berkelakuan yang tidak pantas sebagai hamba Tuhan. Sedangkan warga jemaat “biasa” saja ‘nggak pantas melakukannya, ini koq malah para pendeta?

“Begitulah, semakin banyak yang saya kenal dekat dengan para pendeta ini, semakin ketahuan kelakuannya yang tidak pantas. Padahal dulu sebelum saya jadi aktivis di gereja saya sangat kagum dengan mereka, para pendeta yang selalu kelihatannya baik, ramah, suka berbicara tentang firman Tuhan. Dan itu malah yang membuat saya tertarik untuk jadi pelayan Tuhan. Ternyata …” 

“Yah … pendeta juga manusia. Mereka juga butuh uang, bahkan banyak juga yang rakus pada uang atau tamak. Juga yang berwatak kasar dan berpikiran jorok sehingga semakin banyak saja yang terdengar melanggar susila.”, kata kawan yang satu lagi menanggapi, yang ini tentu saja aku tidak setuju, karena walaupun (memang) seorang manusia, tapi – bagiku – pendeta tetaplah berbeda dengan yang bukan pendeta karena mereka memiliki “keistimewaan” yang tidak dimiliki oleh warga jemaat biasa. Artinya, jangan dijadikan ke-manusia-annya menjadi alasan pembenaran tindakannya yang jahat.

Masih banyak lagi – ini makanya membuatku kecewa dan sedih serta marah: koq yang dibicarakan banyak hal-hal yang buruk? – dan membuat malu mengetahui hal-hal yang jahat dan jelek yang sudah dilakukan sehingga secara spontan aku berujar, “Apakah para pendeta tersebut sudah tidak melakukan doa dan introspeksi pada dirinya lagi? Bagaimana mereka bisa berkhotbah kalau kelakuannya ternyata jauh dari pesan yang harus disampaikan? Dan kalau sudah seperti itu banyaknya pendeta yang jahat, apa yang bisa diharapkan? Jangan-jangan kita hanya menunggu saatnya saja kapan Yesus sang Kepala Gereja benar-benar marah …”    

Dan aku mengalami sendiri, betapa dengan mudahnya pendeta berdusta di konsistori. Di hadapan penatua, dan atau di hadapan rekannya sesama pendeta. (Tentang hal ini, aku akan menuliskannya pada tulisan berseri: “Jempek do Pat ni Gabus, Pendeta!”).

Untunglah hari ini aku kembali diingatkan dengan nas yang sangat pas. “Jangan sesat!”, kata ayat di atas. Dan aku memahaminya begini:

(1)   Kalau banyak pelayan Tuhan yang jahat, jangan mau ikut-ikutan jahat. Bahkan sebisanya tunjukkan selalu hal yang baik

(2)   Jangan menjadi lemah, jangan jadi mengorbankan pelayanan, karena jemaat membutuhkan pelayanan yang tidak pantas harus dikurbankan karena semangat yang menjadi lemah karena ada si jahat

(3)   Nyatakan kebenaran, walaupun seringkali harus menghadapi tantangan dan tentangan (karena orang jahat selalu punya kawan sesama si jahat, dan jumlahnya bisa jadi lebih banyak daripada yang baik …). Menyatakan kebenaran adalah bagian dari pelaku firman juga, ‘kan?    

Oh ya, melihatku sering membaca firman Tuhan setiap ada kesempatan (dengan berguyon aku sering bilang: “Ma’af ya, aku lagi mau ‘Bibel-bibelon’ …” yang mengacu kepada orang-orang dewasa saat zaman kami anak-anak dulu untuk menyebutkan orang yang “kesurupan” dalam menyampaikan firman Tuhan: di segala tempat, di setiap saat, bahkan seringkali tidak pas dan tidak pantas karena motivasinya melenceng menjadi tontonan, bukan tuntunan …) yang dijawab mak Auli isteriku, “Yang penting kelakuan, pa. Banyak itu orang-orang yang setiap hari membaca firman dan berkhotbah di mana-mana, tapi kelakuannya malah lebih parah dan lebih jahat dibanding aku yang jarang banyak Alkitab …”. Ya, teguran dan himbauan yang selalu kujadikan peringatan untuk diriku sendiri.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Apakah engkau merasakan seperti yang aku rasakan dengan para pelayan di sekitar kita? Dan merasakan seperti yang aku rasakan juga? 

Pesanku: jangan terlalu fokus pada mereka sehingga mengganggu fokus kita kepada Kristus. Just focus on Jesus, it’s enough!

Batak! Kita Sudah Satu Abad Ternyata …

Batak, Satu Abad Perjalanan Anak Bangsa

Dr. Ir. Bisuk Siahaan

Kempala Foundation, Jakarta, 2011

468 halaman

Jujur saja, ini buku bagus. Bagus banget! Pertama kali melihatnya di toko buku jaringan nasional di Jakarta aku langsung jatuh hati. Mau beli, harganya “mahal banget” … Memang masih masuk dalam anggaran bulananku untuk beli buku, namun saat itu masih ada beberapa buku yang sudah aku pegang yang sudah membuatku jatuh hati terlebih dahulu. Ketika menimbang-nimbang dan akan memutuskan untuk membeli, ketika membuka halaman demi halamannya lebih perlahan … aku ketemu halaman 164 yang langsung membuatku kehilangan semangat untuk membelinya saat itu.

“Sabar saja, nanti pasti ada saatnya. Beli yang paling penting saja dulu …”, kata mak Auli isteriku menyabarkanku karena melihatku penuh pertimbangan saat itu.

“Tapi aku belum pernah melihat buku ini dijual di Bandung“, kataku mencoba mempertimbangkan untuk membeli. Namun, hasilnya tetap tidak membeli. Sampai beberapa lama, bahkan ketika sudah kembali ke Bandung, aku masih mengidamkan buku bagus tersebut.

Bukunya bagus dari luar dan sangat tebal. Isinya meneceritakan fase-fase kehidupan orang Batak sejak zaman prasejarah sampai dengan masa terkini. Juga dilengkapi pengetahuan tentang asal muasal Danau Toba sebagai “sentral” kehidupan masyarakat Batak. Bagi yang menyukai sejarah (seperti aku ini) pasti akan terpuaskan, apalagi dilengkapi penuh dengan gambar-gambar.

Aku sangat menyukai gambar-gambar orang Batak zaman dahulu. Di antara kesukaan pada gambar-gambar tersebut, aku melihat ada satu hal yang memprihatinkan: tidak satupun foto zaman baheula yang masih hitam putih tersebut menampilkan orang-orang Batak yang tersenyum. Selain bersedih, yang menonjol adalah tampilan kekerasan hidup yang tergambar di wajah mereka. Dan sangat kontras dengan orang-orang bule di sebelahnya. Lihatlah salah satu contohnya di bawah ini …

Meskipun demikian, ada satu foto yang membuatku bangga sehingga menjadikannya foto sampul di facebook-ku. Mudah-mudahan tidak masalah dengan izinnya …

Puji Tuhan, pada periode berikutnya – tepatnya setelah disentuh oleh kekristenan – wajah-wajah nenek moyang kita mulai terlihat tersenyum. Ada yang tertawa. Apalagi orang-orang Batak “kontemporer”,  sudah banyak yang terlihat sukacita.

Bagiku – yang sangat bangga menjadi orang Batak dan (puji Tuhan!) Kristen pula – buku ini semakin memperlengkapi pengetahuanku tentang berbagai istilah yang beberapa di antaranya mengalami pergeseran arti. Bukan hanya dalam hidup keseharian, melainkan juga berhubungan dengan kehidupan gereja. Misalnya joro yang sebelumnya diperuntukkan sebagai media untuk berhubungan dengan arwah orang yang sudah mati, kemudian bergeser menjadi bagas joro yang berarti gereja. Ada juga pengetahuan yang baru, ternyata orang Batak zaman dulu sudah mengenal konsep tritunggal, yakni Debata na Tolu,  yakni adanya tiga “oknum” ketuhanan.

Banyak lagi hal-hal lain. Aku sarankan untuk mengoleksi buku ini. Bagus untuk pengetahuan pribadi, dan juga dibagikan dan atau diwariskan kepada anak cucu (sebagaimana disampaikan penulis pada halaman iii: “untuk anak dan cucu di Parserahan“). Putriku si Auli juga aku persilahkan membaca buku ini untuk mengenal Batak yang sudah “terlanjur” melekat pada dirinya.

Bagaimana akhirnya buku ini bisa aku peroleh? Saat ulang tahunku yang lalu! Sudah aku jadikan tradisi sejak dipercayakan jadi pemimpin kantor di Bandung di sini untuk menghadiahkan buku pada setiap momen penting, misalnya ulang tahun, perpindahan tugas, dan lain-lain. Nah, ketika ulang tahunku yang lalu, ternyata anak buahku menghadiahkan buku ini kepadaku. Dan itu membuatku terharu manakala menerimanya, dan aku sampaikan rasa terima kasih dan penghargaanku pada mereka yang tahu apa yang menjadi kerinduanku.

Di rumah, mak Auli kaget dan tersenyum gembira manakala aku membawa buku hadiah tersebut ke rumah (sekaligus memintanya untuk menyampul rapi …): “Benar. ‘kan pa yang aku bilang, sabar saja. Pasti ada saja jalan untuk mendapatkannya. Tuhan mendengar permohonan papa dan mendapat buku yang bagus ini …”. Aku hanya tersenyum dan mengamini ucapannya.

Oh, ya … apa sebenarnya isi halaman 164 yang sempat membuatku “kehilangan gairah” tersebut? Begini, pada halaman tersebut dicantumkan beberapa pejabat HKBP, persisnya Eforus dan Sekjen, dan di antaranya tertulis “Pdt. Dr. J. R. Hutauruk Ephorus HKBP 2004-2012” dengan wajah tersenyum di sebelah foto Dr. SAE Nababan yang terlihat sangat semangat berpidato (atau berkhotbah?). Saking ‘nggak percayanya aku dengan yang tertulis, aku sempat bertanya kepada mak Auli: “Sekarang tahun 2012, ‘kan? Siapa Eforus HKBP sekarang? Bukan lagi Dr. J. R. Hutauruk, ‘kan?”

Sayang sekali … Semoga tidak membuat orang-orang mengurungkan niat untuk membelinya karena kesalahan “kecil” ini. Rugi juga sih sebenarnya kalau sampai tidak mengoleksi buku yang bagus seperti ini. “Gangguan” foto-foto berwarna yang lumayan banyak menyita isi buku yang menampilkan “keluarga-keluarga yang belum tentu dikenal oleh banyak orang” tanpa penjelasan yang memadai menjelang akhir buku, dan urutan yang kadangkala tidak ‘nyambung, masih bisalah tergantikan dengan hal-hal yang bagus lainnya di halaman-halaman sebelumnya …

Horas ma halak hita! Nunga saratus taon hape hita on, bo …!

Andaliman – 192 Khotbah 26 Agustus 2012 Minggu-XII Setelah Trinitatis

Dengan Perlengkapan Allah sebagai Senjata dan Perlindungan Penuh-Nya, Apalagi yang Bisa Mengalahkan?

Nas Epistel:  Efesus 6:10-20

6:10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.

6:11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis;

6:12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.

6:13 Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu.

6:14 Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan,

6:15 kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera;

6:16 dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat,

6:17 dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,

6:18 dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang Kudus,

6:19 juga untuk aku, supaya kepadaku, jika aku membuka mulutku, dikaruniakan perkataan yang benar, agar dengan keberanian aku memberitakan rahasia Injil,

6:20 yang kulayani sebagai utusan yang dipenjarakan. Berdoalah supaya dengan keberanian aku menyatakannya, sebagaimana seharusnya aku berbicara.

Nas Evangelium: Mazmur 34:15-22 (bahasa Batak: Psalmen)

34:15 (34-16) Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;

34:16 (34-17) wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.

34:17 (34-18) Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.

34:18 (34-19) TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

34:19 (34-20) Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;

34:20 (34-21) Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah.

34:21 (34-22) Kemalangan akan mematikan orang fasik, dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman.

34:22 (34-23) TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.   

Judul tulisan ini “begitu saja hadir”. Setelah membaca nas perikop Minggu ini, suatu kombinasi yang sangat pas antara Ep dan Ev, timbul pertanyaan (yang sebenarnya lebih condong pada pernyataan) tersebut di atas: “Apa dan siapa lagi yang sanggup mengalahkan kita?” Berulang-ulang aku baca – juga commentaries-nya, tentunya – hanya ada satu yang timbul kemudian menjadi faktor penyebab kenapa bisa kalah: keraguan!   

Cobalah baca dan pikirkan: sebegitu lengkapnya persenjataan, tanpa harus susah-susah mencoba memahami satu per satu, aku bisa meyakinkan diriku bahwa semuanya sudah disediakan Tuhan untuk mengalahkan musuh. Musuh orang-orang percaya adalah bukan yang bersifat jasmani semata (kelaparan, keamanan, dan lain-lain), melainkan juga (dan ini yang utama) adalah yang bersifat rohani. Perang rohani, kawan! Baik berperang melawan penguasa, pemerintah, penghulu dunia – yang kesemuanya mengesankan peperangan fisik “semata” – dan roh-roh jahat di udara (yang ini mengingatkan tentang perang rohani dimaksud), tapi menurutku kesemuanya mengarah kepada satu hal: perang “dunia roh”. Jika secara rohani (keimanan, maksudnya …) sudah kalah, maka janganlah berharap banyak akan bisa memenangkan pertempuran secara jasmani tadi. Aku pernah mengalami, dengan mental yang sudah kalah karena ragu maka aku pun sudah ‘nggak berharap akan menang. Sebaliknya, saat usai berdo’a dengan sungguh-sungguh, persoalan sesulit apapun yang aku hadapi, aku dengan tenang menghadapinya. Karena apa? Karena aku tahu pasti bahwa aku yang akan memenangkan “pertempuran”. Karena apa lagi? Karena Tuhan besertaku!

Dan dari segalanya itu, do’alah yang utama. Karena pada doa-lah – menurut pemahamanku – pertemuan kita dengan Allah Bapa dapat terwujud pada alam roh. Dan Yesus yang menjadi perantara-Nya dengan Roh Kudus sebagai penerjemahnya (karena bahasa yang aku pakai belum lagi memenuhi standar ilahi untuk dipahami oleh penghuni sorga).

Aku memahaminya seperti itu. Dan itu alkitabiah. Aku memahaminya, namun seringkali godaan membuatku meragukannya. Itulah yang menjadi penghalang keefektifan doa yang aku panjatkan sehingga membuatnya gagal memenangkan pertempuran. Berdoa setiap saat dan di dalam Roh, itulah yang menjadi tantanganku setiap kali berdoa. Tidak di dalam Roh, membuat doa menjadi sekadar ritual. Tidak punya kuasa. Dan juga tidak didengarkan, apalagi dikabulkan …

Itulah yang disampaikan oleh Rasul Paulus pada nas perikop yang menjadi Ep Minggu ini. Sekalian mengingatkan tentang persenjataan yang lengkap, beliau juga tetap memohon agar didoakan karena membutuhkan dukungan untuk menghadapi situasi sulit yang sedang dihadapi: dipenjara, namun tetap punya keinginan yang kuat untuk menyampaikan berita keselamatan, sehingga memohon agar segala ucapan yang disampaikan adalah tetap yang datangnya dari Tuhan. Bukan ekspresi dari penderitaan pribadi yang punya kecenderungan emosional pribadi daripada ilahi.

Klop! Klop? Ya, klop dengan doaku yang seringkali aku naikkan ke hadirat Tuhan.   

Dan Mazmur yang menjadi nas perikop Ev Minggu ini sangat menguatkanku. Lihatlah, betapa penuhnya perlindungan yang ditawarkan-Nya: matanya selalu tertuju (artinya menjagai dan mengawasi) dan telinga-Nya peka akan teriak minta tolong dari anak-anak-Nya. Pemazmur mengekspresikan kelepasannya dari kesulitan yang amat sangat, dengan menaikkan pujian kepada Tuhan.

Artinya, orang-orang benar akan mendapatkan kepastian pertolongan Tuhan dalam menghadapi kesesakan dan kesulitan dalam hidup. Perlu diingat, percaya kepada Tuhan tidak selalu membebaskan secara otomatis dari kesulitan dan kesesakan. Tapi, orang percaya akan mendapatkan pertolongan Tuhan untuk menghadapinya dan melewatinya dengan tidak kehilangan keimanan kepada Tuhan.

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Keraguan yang membuat hidup kita kehilangan damai sejahtera dan sukacita. Limbung. Berapa sering kita mengalaminya dalam hidup ini? Sudah berdoa namun masih meragukan pertolongan dari Tuhan. Akibatnya, menyandarkan diri pada pertolongan orang lain, bahkan yang menyedihkan bilamana mengharapkan pertolongan dari “kuasa lain”.

Persenjataan kita sudah sangat lengkap. Dan doa adalah sarana dalam memintanya. Syaratnya: dilakukan dengan terus menerus (setiap saat) dan dalam Roh yang bersungguh-sungguh. Jangan takut pada ujian yang membuat hidup tertekan dan sangat tidak nyaman, sebaliknya kita harus mengimani bahwa kita pasti lulus atas ujian karena pertolongan Tuhan sehingga keimanan kita akan semakin bertambah dan meningkat.

Masih ragu juga?

“Boan Sada Nari”, Lho Koq Ini Malah Dibiarkan “Sendiri”?

Begitu tahu pindah tugas ke Bandung tahun 2010 yang lalu, ada permintaan seorang kawan di Jakarta agar aku melayani jemaat “khusus” di Bandung ini. “Khusus”, karena sampai sekarang belum terdaftar di Almanak HKBP walau mereka sudah berjuang sangat lama untuk mendapat pengakuan dari Kantor Pusat HKBP. Ini adalah salah satu ekses kekisruhan di HKBP yang terjadi lebih 20 tahun yang lalu, yakni konfrontasi antara dua kelompok besar yang menamakan dirinya Setia Sampai Akhir (loyalis Eforus SAE Nababan) dan Sinode Agung Istimewa (loyalis Eforus PWT Simanjuntak). Kisah sedih dekade yang lalu, namun masih menyisakan keprihatinan sampai sekarang.

Beribadah setiap Minggu di komplek militer di Bandung (kecuali ada kegiatan tentara yang memakai gedung dimaksud, maka jemaat harus mengalah ke bangunan lain yang juga milik tentara di Bandung sebagaimana pernah aku alami ketika pelantikan penatua saat itu …) selalu ada lebih dari 50 orang yang menghadiri ibadah Minggu. Terdiri dari anak-anak (kategori Sekolah Minggu kalau di gereja yang “normal”) sampai ompung-ompung, dengan jenjang pendidikan yang sangat lengkap: anak SD sampai profesor emeritus.

Semua orang harus kita layani kalau mereka membutuhkan kita. Apalagi ini yang masih setia dengan HKBP”, kata seorang penatua yang sering menjadi teman diskusi di Jakarta ketika aku menanyakan pandangan beliau tentang keberadaan jemaat seperti ini. “Saya pun bersedia melayani di sana kalau ada kesempatan”, imbuhnya lagi. Maka jadilah beliau sebagai penyampai firman setiap Minggu ketiga pada bulan genap di persekutuan tersebut sejak tahun 2012 ini.

“Boleh saja Amang melayani di sana, tapi jangan meninggalkan pelayanan di jemaat kita di sini. Dan jangan mau terlibat dalam persoalan mereka …”, kata pendeta resort tempatku berjemaat di Jakarta saat aku “meminta izin” untuk melayani di jemaat “khusus” ini beberapa tahun yang lalu. Maka jadilah aku melayani, berselang-seling bilamana tidak sedang bertugas sebagai pelayan di Jakarta sesuai roster. Semula sering menjadi liturgis, namun kemudian hanya berkhotbah karena mereka sudah punya tambahan sintua yang baru ditahbiskan tahun lalu.

Jadual berkhotbahku di jemaat “khusus” ini sebenarnya sudah aku sampaikan, namun tidak jarang pula ada permintaan mendadak. Kalau kurang seminggu – ini yang membuatku benar-benar “tertantang” – aku segera maklum: “pasti ada yang sedang berhalangan”. Berhalangan? Ya, karena hanya “orang-orang khusus” yang bisa berkhotbah di sini. Artinya, kalau ‘nggak punya ‘nyali – maksudnya ‘nggak berani mengambil resiko ditegur Kantor Pusat HKBP – alias “pencari posisi aman” sudah pasti takkan pernah melayani di jemaat “khusus” ini.

Selama ini ada pendeta yang berani yang mempersembahkan diri sebagai pelayan tetap di jemaat “khusus” ini. Tinggal di Jakarta – dan masih resmi bertugas sebagai pendeta aktif HKBP –  namun beliau bersedia melayani sesuai jadual yang teratur di jemaat “khusus” di Bandung ini. Itulah sebabnya, dulu masih bisa menyelenggarakan baptisan kudus, perjamuan kudus, pengebumian, dan penahibsan penatua sebagaimana di jemaat-jemaat “normal” lainnya. Dari sisi ini, aku sangat salut kepada beliau. Sayangnya, beberapa bulan yang lalu beliau terserang stroke lumayan berat sehingga harus dirawat di rumah sakit. Karena kondisi kesehatan paska-stroke tersebut, sampai sekarang beliau belum pernah lagi melayani di jemaat “khusus” ini.

Setelah berkhotbah Minggu sebelumnya, Minggu yang lalu aku bersama beberapa kawan aktivis gereja HKBP dari Jakarta datang beribadah di jemaat “khusus” ini. Satu penatua (yang sesuai jadual sekali dua bulanannnya) berkhotbah, satunya lagi pengacara yang selama ini memperjuangkan nasib mereka, dan sepasang suami-istri aktivis jemaat kami (penatua dan suaminya) sebagai peninjau.

Rencana semula adalah, kami mengadakan pertemuan informal para pelayan dari Jakarta di Bandung. Agenda utamanya: “penyatuan kembali semangat pelayanan setelah dipimpin pendeta resort yang baru”, cuma sayangnya hanya sedikit yang benar-benar hadir walau sudah mengonfirmasi kehadirannya sebelumnya. Apa boleh buat …

Setelah ibadah Minggu, lalu ada perjamuan kasih (menghormati tamu yang datang dari Jakarta), maka diadakan ramah-tamah. Persisnya adalah curhat jemaat. Ternyata jemaat “khusus” ini baru melakukan rapat jemaat dua minggu lalu. Intinya adalah bagaimana antisipasi setelah pendeta yang sakit belum pulih kembali dalam pelayanan. Ada kekuatiran di kalangan jemaat bagaimana perjalanan selanjutnya. “Kalau ‘nggak ada pendeta yang melayani kita, apa lagi yang harus membuat kita bertahan di sini? Kalau besok-besok ada yang meninggal, misalnya, siapa yang akan menguburkannya?“, begitulah kira-kira ungkapan yang terdengar walau pak profesor dengan tegas menyanggah pada Minggu yang lalu dalam bahasa Batak yang fasih, “Holan sada pangidoanku tu Debata: manang andigan ahu marujung ngolu, unang ma sanga mago haporseaonku. Manang ise na mananom ahu haduan, ndang pala porlu di ahu. Nang so adong pandita. Haru Jesus ise do huroa na mananom? Ndang adong pandita, manang tulang rorobot-Na …”.

Sebelum kembali ke Jakarta, kami pun par-Jakarta ini berdiskusi tentang apa yang bisa dan harus kami perbuat. Masak dibiarkan jemaat ini “gaung-gaung” (istilah yang disampaikan salah seorang warga jemaat ketika mandok hata). Ada dua hal yang patut kami lakukan yang disepakati saat itu untuk direncanakan:

(1) menghubungi dan meminta kesediaan seorang pendeta yang terdaftar di jemaat kami di Jakarta yang sedang tugas belajar atas biaya sendiri di STT Jakarta dan tidak melayani pada jemaat secara permanen

(2) menjadikan jemaat “khusus” ini sebagai bagian pelayanan diakonia dari beberapa warga jemaat di Jakarta yang terpanggil untuk membantu.

“Dulu kita diminta untuk menjalankan boan sada nari, koq malah yang seperti ini sudah di depan mata dibiarkan sendiri dan tidak dilayani? Kita jadikan saja mereka seperti pola Pekabaran Injil sampai ada keputusan yang lebih baik nantinya. Mudah-mudahan Eforus yang baru nanti lebih punya hati dalam melihat masalah ini …”, demikianlah rangkuman pembicaraan kami saat itu. Benar juga, pikirku. ‘Ngapain jauh-jauh berzending ke pulau-pulau terpencil kalau yang jelas-jelas di depan mata saja ‘nggak bisa terlayani dengan baik? Harusnya keduanya – yang jauh di seberang pulau, apalagi yang di depan mata seperti ini – benar-benar terlayani dengan baik.

Betul?