Andaliman – 190 Khotbah 12 Agustus 2012 Minggu-X Setelah Trinitatis

Awas Nabi Palsu! Eh, Jangan-Jangan Kita Juga Orang Kristen Palsu?

Nas Epistel:  1 Raja-raja 19:4-8

19:4 Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”

19:5 Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!” 19:6 Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula. 19:7 Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.”

19:8 Maka bangunlah ia, lalu makan dan minum, dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.

Nas Evangelium: Matius 7:15-23

7:15 “Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas. 7:16 Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri?

7:17 Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik.

7:18 Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik.

7:19 Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.

7:20 Jadi dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka.

7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.

7:22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?

7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”  

Dunia kita sekarang dilanda kepalsuan. Coba sebutkan apa yang palsu yang ada di sekitar kita. Banyak. Uang, KTP, paspor, gigi, mata (ada pula alis mata), tangan dan kaki (untuk membantu yang cacat …), rambut (banyak dipakai artis untuk menutupi keasliannya …), janji (makanya ada lagu “Si Ose Padan”, dan “Batu Gantung”, atau “Tinggi Gunung Seribu Janji” …).  Sekarang ada lagi: nabi palsu!

Itulah yang diingatkan Yesus kepada murid-murid-Nya sebagaimana dikisahkan dalam nas perikop yang menjadi Ev Minggu ini. Kenapa ada nabi palsu? Karena ada nabi asli, hehehe … Menurut pemahamanku, nabi palsu umumnya terjadi disebabkan oleh dorongan ketamakan. Dan semua mengarah kepada kedagingan: gila harta dan gila kekuasaan.

Nabi palsu bisa digolongkan kepada dua jenis, yaitu nabi yang mengajarkan ajaran yang palsu, dan mengajarkan ajaran yang benar tapi dengan kepalsuan (artinya tidak dengan motivasi yang benar yang seharusnya menyampaikan kabar baik untuk memuliakan Allah malah untuk kemuliaan diri sendiri). Berpakaian necis dengan jubah yang menunjukkan kealiman dan kesucian, namun di baliknya adalah segala kejahatan (bagai serigala berbulu domba). Menggunakan Gereja sebagai tameng untuk meraup harta dan kuasa sebanyak-banyaknya! Apakah ada di gereja kita yang seperti ini? “Bah, mudah sekali menemukannya sekarang ini, Amang. ‘Nggak usah dicari, sudah banyak ruas yang tahu dan punya daftarnya …”, kata salah seorang warga ketika aku usai menyampaikan khotbah ini pada suatu ibadah Minggu. “Semakin banyak mengenal pendeta sekarang ini, malah semakin banyak yang saya tahu kebobrokannya dan semakin banyak pula yang membuat tidak simpatik dengan kelakuannya yang semakin tidak mencerminkan hamba Tuhan lagi …”, timpal salah seorang penatua pada kesempatan yang lain.

Takut miskin, malah menjadikannya tamak. Begitulah agaknya faktor pencipta nabi-nabi palsu pada zaman sekarang ini juga. Padahal, pasti Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya berkekurangan dan jadi peminta-minta. Jangan-jangan, kepercayaan “nabi-nabi palsu” tersebut pada firman Tuhan semakin jauh merosot. Hanya bisa mengkhotbahkan, tapi ragu mempercayainya. Sangat menyedihkan!

Perikop yang menjadi Ep Minggu ini mengisahkan pemeliharaan Tuhan pada nabi Elia yang nyaris putus asa melihat jemaat gembalaan-Nya yang ‘nggak juga bertobat. Elia meminta agar Tuhan mencabut saja nyawanya (ck … ck … ck …, masih adakah pelayan Tuhan yang seperti ini dedikasinya pada zaman sekarang ini?). Walau putus asa, Tuhan tetap memelihara hidupnya karena Tuhan tahu apa dan bagaimana situasinya. Begitulah, kalau nabi yang sejati, pastilah selalu ditolong Tuhan. Sebaliknya, nabi palsu pasti meragukan pertolongan Tuhan. Hanya mengandalkan dirinya sendiri dan orang-orang yang dianggapnya bisa diandalkan untuk mencapai ambisi dirinya sendiri.

Dari buahnyalah akan ketahuan pokoknya. “Buah semangka berdaun sirih”, hanya ada pada lagu pop tahun-tahun yang lalu. Nabi palsu hanya akan menghasilkan kepalsuan, alias derita. Pengkhotbah palsu pasti juga hanya akan menghasilkan malapetaka dan bencana. Dan Yesus tegas mengatakan bahwa tidak semua orang yang menyerukan nama-Nya, membuat mukjizat dan nubuat, akan masuk dalam kerajaan sorga. Tidak! Belum tentu semua perbuatan yang kelihatan baik tersebut – dan sangat rohani dan “berkuasa” – itu datangnya dari Tuhan. Bisa saja mukjizat terjadi dari seorang pengkhotbah palsu, karena firman yang disampaikannyalah yang benar-benar berkuasa. Bukankah kita mengimani bahwa firman Allah punya kuasa? Ini adalah jawaban atas pertanyaan pribadiku pada seorang gembala yang dengan kasat mata seringkali melakukan perbuatan tercela (ma’af, aku tidak bermaksud menghakimi karena aku tahu bukanlah hakku untuk menghakimi …) namun pelayanannya semakin berkembang dengan seringkali menampilkan pertunjukan penyembuhan yang ajaib sehingga menarik orang-orang untuk datang berbondong-bondong …     

Tantangan/Bekal untuk (Warga) Jemaat/Referensi

Jangan terkecoh dengan tampilan lahiriah. Jangan terkecoh pada mukjizat dan kuasa penyembuhan. Semuanya harus dilihat dalam terang alkitabiah. Dan waktu yang akan menunjukkan apakah semuanya itu memang benar ataukah hanya “sekadar” palsu. Dari buahnyalah akan terlihat kemudian …

Itu tentang nabi atau rasul palsu. ‘Gimana dengan kita? Apakah kita sudah menunjukkan buah yang baik? Ataukah pelayanan dan atau penyembahan kita selama ini yang sangat intens pada Tuhan bukanlah suatu kepalsuan? Jika pelayanan dan penyembahan yang kita lakukan kepada Tuhan hanya membuahkan kelelahan (fisik dan psikis) dan bukan sukacita, itu berarti sudah saatnya mengoreksi diri dengan bertanya kepada Tuhan.

Oh, ya ada satu lagi yang sangat aku tekankan pada saat mengkhotbahkan perikop ini: “Jangan pernah berpikir bahwa pohon yang jelek akan selalu menghasilkan buah yang jelek. Itu bergantung pada proses selanjutnya. Bisa saja sejak bibit memang pohonnya kerdil dan tidak subur, namun dalam proses selanjutnya mengalami pemeliharaan yang sangat bagus sampai menjelang masa berbuah, tentu saja akan menghasilkan buah yang baik. Artinya, jangan terpaku pada awalnya saja. Itulah sebabnya tidak terlalu mengherankan saat ini bila ada anak pendeta yang malah menjadi muallaf, atau sebaliknya anak penjahat yang kemudian menjadi pendeta karena bertobat pada suatu fasa kehidupannya …”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s